Dua Puluh Enam

Tepat Dua Puluh Enam tahun lalu, saya dilahirkan. Dari seorang ibu yang sangat luar biasa. Dua Puluh Enam Tahun sudah saya lewati dengan berbagai pengalaman luar biasa. Hari ini, genap Dua Puluh Enam Tahun akhirnya saya bisa melewatinya bersama keluarga dan kawan-kawan. Tidak ada surprise party atau birthday cake and gifts, hanya ada mamah, ayah, dan kedua adik saya, bersama saya di Jawa Timur ini. Setelah sudah tiga tahun saya lewati dua belas mei tanpa mereka.

Semakin saya tersadar. Bersama dengan keluarga adalah tempat saya bebas menjadi diri saya sendiri. Bebas kentut, bebas sendawa, bebas ngorok, bebas ongkang-ongkang kaki, bebas ngupil, bebas garuk sana-sani, bebas cerita, bebas ngeluarin duit, bebas mau berat badan berapa pun, bebas semuanya.
Family is the most precious gift ever.

Dua Puluh Enam tahun bagi seorang wanita di mata masyarakat Indonesia umum, sepertinya bukan usia yang muda lagi.
Sedikit ironis, di saat ngobrol dengan kawan laki-laki dengan tanggal kelahiran yang berdekatan, tapi dia merasa di usia yang dua puluh enam ini masih muda. Sedangkan dia bilang bagi wanita itu sudah tua. Bisa ya masyarakat sini mempunyai perbedaan perspektif yang signifikan begitu.
Yaa ga jauh-jauh dengan bahasan tentang menikah. Banyak yang mendoakan untuk bisa segera menikah, ketemu jodoh yang paling tepat. Tentu saja semuanya saya Aminkan dengan sungguh-sungguh.
Rencana menikah saya sudah terlewati dua tahun lalu, disaat usia saya Dua Puluh Empat tahun.
Begitu inginnya saya menikah di usia itu, tetapi ternyata belum saatnya masuk ke cerita tersebut menurut sang Novelis hidup saya.
Usia Dua Puluh Lima pun berlalu tanpa ada kisah tentang saya jatuh cinta, pendekatan/ta’arufan, lamaran, momen mempersiapkan akad, dan resepsi nikah,

Mencari, tentu saja. Yang menjodohkan atau mendekati juga ada saja. Tapi mungkin memang belum saatnya masuk ke babak cerita cinta. Masih ditulis dengan kisah petualangan hidup saya sebagai single woman fighter.

Mengulang momen kelahiran bagi saya sekarang sudah hal yang biasa saja. Nothing special at all.
Mau dapet ucapan atau enggak, mau dapet hadiah atau enggak, mau traktiran atau enggak, biasa aja.
Sama saja seperti hari-hari lainnya, dilalui dengan berbagai kisahnya, Ada yang monoton, ada juga yang politron (loh, hehe).

Merasa tua? Ya, tentu saja. Di saat banyak kawan saya di usia yang sama sudah berkeluarga, punya anak, bahkan ada yang sudah dua atau tiga anak.
Tapi itu sudah jalan hidup mereka. Saya pun punya jalan hidup sendiri yang harus dilalui.
Tetap bersabar untuk percaya bahwa ada saatnya saya bisa merasakan jatuh cinta lagi, merasakan keyakinan untuk hidup berkeluarga dengan jodoh terbaik saya, merasakan ketenangan untuk melalui sisa hidup dengan pendamping nanti.
Di usia yang paling tepat  telah Allah rencanakan dan akan ditulis sangat epic.

Saatnya terus bersungguh-sungguh dan bersabar menjalani setiap waktu. Mengambil hikmah demi hikmah yang tidak henti Allah berikan. Mendewasakan pola pikir dan menguatkan hati. Meluruskan niat untuk segalanya. Mempersiapkan untuk bekal berkeluarga. Memahami makna kehidupan di dunia untuk kehidupan di akhirat.

Kenapa jadi curcol masalah beginian??
Memang sudah saatnya sik, haghag.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s