Tag Archives: ulang tahun

The Most Hilarious of 27th

Hanya bisa ketawa, beneran ketawa lepas sampe nangis berderai-derai *kenyataan, bukan lebay* dari jam 2 dini hari tadi sampe sekarang. Bener-bener hadiah paling kocak, gokil, norak, manis sepanjang 27 tahun usia saya. Yess, hari ini, tepatnya subuh tadi 27 tahun lalu, dengan perjuangan seorang Mamah luar biasa, lahirlah saya ke dunia ini. Entah semenjak kapan, udah jadi tradisi kalau ada yang milad (ulang tahun) di keluarga, suka diadain kejutan kecil-kecilan. Tengah malem, yang lagi ulang tahun dibangunin dengan kue dan hiasan lilin yang menyala. Lalu salam-salaman, cipika-cipiki, dan berdoa.

Sama halnya dengan saya tahun ini, di bulan ini. Awalnya saya ngerasa biasa aja menjelang tanggal kelahiran. Makin lama, makin kerasa biasa aja. Mengulang hari kelahiran, sebagai refleksi diri udah ngapain aja di usia yang dikasih ini, lalu ya udah. Hari berjalan seperti biasa. Makin nambah usia yang harus dipertanggungjawabkan kelak. Bedanya tahun ini, dari jauh-jauh hari, ada yang nanya ‘kalo ultah nanti mau dikasih hadiah apa?’ hihihi..

Dengan suasana weekend di rumah yang adem ayem, saya pun keluar berkunjung kesana-kemari dengan adem ayem, sampe malem tanggal 11 pun masih adem ayem aja, saya juga ga ngarep apa-apa, dan dengan badan lelah karena kurang tidur dan pergi-pergi aja, jadinya saya tidur lebih awal. Tengah malem, sekitar jam 12an saya kebangun untuk ke toilet. Suasana di rumah udah sepi. Lagian saya ngantuk banget, mata berat banget. Sempet buka hape cek whatsapp, ada beberapa chattingan yang menyapa saya tapi saya udah tidur. Ga berharap ada kejutan lagi karena udah tengah malem tapi ga ada yang ngasih kejutan. Yaudah, saya biarin aja, dan melanjutkan tidur.

Taunya sekitar jam 2an, adik kecil saya, Boti, bawa kue dan lilin yang menyala, lalu ada Bea, Mamah, dan Ayah di belakang Boti sambil nyanyi-nyanyi selamat ulang tahun. Tiup lilin, salaman cipika-cipiki, dan berdoa sama sekeluarga. Oke, sampe sini adegan menyambut ultah di rumah masih biasa aja. Sampe Boti kasih hadiah berupa video.
cakey

Ternyata adik-adik saya belum tidur sampe jam 2 itu, dan telat ngasih kejutan kue (yang biasanya jam 12 malem) karena mengedit-edit video. Waktu video-nya dinyalain, ada backsound lagu ‘Happy’-nya Pharrell Williams. Isinya masih biasa, kata-kata doa dari Ayah, lalu ada video Mamah, dilanjut Bea (dan Cimba), lalu Boti.. setelah ini yang bikin kaget.. karena ada video dari Mbak (kok bisaa?), lalu yang paling epic dan bikin melek ketawa-ketawa guling-guling di kasur adalah video terakhir. Video seseorang yang pake jas dengan latar suatu tempat yang menjadi cita-cita saya pergi kesana. Udah ga bisa liat video-nya, hanya bisa ketawa sambil denger kata-kata yang disampaikan, dan doa termanis yang segera saya Aamin-kan. Dan video pun ditutup dengan foto-foto pose Cimba.

Udah jadi heboh aja jam 2 dini hari ini. Saya segera menyampaikan terima kasih untuk Mbak, yang ternyata belum tidur juga. Lalu dia yang bikin video paling niat. Ternyata dikirim lagi video versi pertama yang lebih panjang, gokil, norak, kocak, bodor, niat banget, dan manis banget, yang sampe bikin nangis-nangis ketawa. Sebuah syuting pribadi lagu favorit dari Band terfavorit.. Super Hilarious! *terima kasih untuk hadiahnya* Tahun ini dapet pengalaman ulang tahun yang berbeda, menyenangkan, dan paling ngakak.

Alhamdulillah.. 27 tahun dikasih usia dengan berbagai pengalaman dan ilmu dari takdir yang sudah ditetapkan-Nya. Semuanya bermakna, setiap detiknya berhikmah, setiap momennya berharga. Sama sekali ga ngerasa tua (yaiyalaah), udah ga ngerasa ‘takut’ (atau belum?) dengan bilangan usia yang semakin bertambah dan masih ikhtiar untuk menggenapkan agama, menyempurnakan ibadah. Semakin menikmati setiap saatnya, setiap tempat, setiap kegiatan, setiap pertemuan dengan orang, setiap kalimat yang terdengar, semuanya menjadi hal-hal yang membuat saya harus lebih baik lagi. Semakin belajar untuk tidak membanding-bandingkan dengan orang lain, karena setiap orang punya takdir dan rezekinya masing-masing. Tidak menyalahkan masa lalu, tidak memperumit masa depan, menjalani yang terbaik di masa sekarang. Harus terus belajar jadi wanita yang baik, yang memahami setiap yang dilakukan adalah bekal untuk kehidupan di akhirat, dan mempersiapkan diri untuk kelak jadi madrasah keluarga.

2 Comments

Filed under cerita-cerita, keluarga, saya

Dua Puluh Enam

Tepat Dua Puluh Enam tahun lalu, saya dilahirkan. Dari seorang ibu yang sangat luar biasa. Dua Puluh Enam Tahun sudah saya lewati dengan berbagai pengalaman luar biasa. Hari ini, genap Dua Puluh Enam Tahun akhirnya saya bisa melewatinya bersama keluarga dan kawan-kawan. Tidak ada surprise party atau birthday cake and gifts, hanya ada mamah, ayah, dan kedua adik saya, bersama saya di Jawa Timur ini. Setelah sudah tiga tahun saya lewati dua belas mei tanpa mereka.

Semakin saya tersadar. Bersama dengan keluarga adalah tempat saya bebas menjadi diri saya sendiri. Bebas kentut, bebas sendawa, bebas ngorok, bebas ongkang-ongkang kaki, bebas ngupil, bebas garuk sana-sani, bebas cerita, bebas ngeluarin duit, bebas mau berat badan berapa pun, bebas semuanya.
Family is the most precious gift ever.

Dua Puluh Enam tahun bagi seorang wanita di mata masyarakat Indonesia umum, sepertinya bukan usia yang muda lagi.
Sedikit ironis, di saat ngobrol dengan kawan laki-laki dengan tanggal kelahiran yang berdekatan, tapi dia merasa di usia yang dua puluh enam ini masih muda. Sedangkan dia bilang bagi wanita itu sudah tua. Bisa ya masyarakat sini mempunyai perbedaan perspektif yang signifikan begitu.
Yaa ga jauh-jauh dengan bahasan tentang menikah. Banyak yang mendoakan untuk bisa segera menikah, ketemu jodoh yang paling tepat. Tentu saja semuanya saya Aminkan dengan sungguh-sungguh.
Rencana menikah saya sudah terlewati dua tahun lalu, disaat usia saya Dua Puluh Empat tahun.
Begitu inginnya saya menikah di usia itu, tetapi ternyata belum saatnya masuk ke cerita tersebut menurut sang Novelis hidup saya.
Usia Dua Puluh Lima pun berlalu tanpa ada kisah tentang saya jatuh cinta, pendekatan/ta’arufan, lamaran, momen mempersiapkan akad, dan resepsi nikah,

Mencari, tentu saja. Yang menjodohkan atau mendekati juga ada saja. Tapi mungkin memang belum saatnya masuk ke babak cerita cinta. Masih ditulis dengan kisah petualangan hidup saya sebagai single woman fighter.

Mengulang momen kelahiran bagi saya sekarang sudah hal yang biasa saja. Nothing special at all.
Mau dapet ucapan atau enggak, mau dapet hadiah atau enggak, mau traktiran atau enggak, biasa aja.
Sama saja seperti hari-hari lainnya, dilalui dengan berbagai kisahnya, Ada yang monoton, ada juga yang politron (loh, hehe).

Merasa tua? Ya, tentu saja. Di saat banyak kawan saya di usia yang sama sudah berkeluarga, punya anak, bahkan ada yang sudah dua atau tiga anak.
Tapi itu sudah jalan hidup mereka. Saya pun punya jalan hidup sendiri yang harus dilalui.
Tetap bersabar untuk percaya bahwa ada saatnya saya bisa merasakan jatuh cinta lagi, merasakan keyakinan untuk hidup berkeluarga dengan jodoh terbaik saya, merasakan ketenangan untuk melalui sisa hidup dengan pendamping nanti.
Di usia yang paling tepat  telah Allah rencanakan dan akan ditulis sangat epic.

Saatnya terus bersungguh-sungguh dan bersabar menjalani setiap waktu. Mengambil hikmah demi hikmah yang tidak henti Allah berikan. Mendewasakan pola pikir dan menguatkan hati. Meluruskan niat untuk segalanya. Mempersiapkan untuk bekal berkeluarga. Memahami makna kehidupan di dunia untuk kehidupan di akhirat.

Kenapa jadi curcol masalah beginian??
Memang sudah saatnya sik, haghag.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita