Category Archives: kisah jumat

Meninggal dengan Tersenyum :)

Apa rahasia bisa tersenyum ketika maut menghampiri kelak?

Itu adalah salah satu tema pengajian rutin 2 mingguan Ibu-Ibu komplek sini. Alhamdulillah, selama 4 bulan tinggal di komplek baru ini, udah 5 kali saya ikutan pengajiannya. Diisi oleh Ustadz-ustadz berbeda tiap kali pertemuan dan bagus-bagus penyampaiannya. Lumayan, sebagai recharge ruhiyah supaya ga turun terus :”)

さて、nerusin isi ceramahnya. Sering kejadian mayat yang tersenyum ketika baru meninggal. Sebaliknya, lebih banyak lagi yang ekspresinya mengerikan. Saya sendiri belum pernah melihat mayat secara langsung. Kalau pun datang takziah, hanya ikut pengajian, menyolatkan, atau mengiringi hingga kubur. Ga pernah buka cadar penutup mukanya untuk liat langsung.

Menurut Ustadz Hasyim Adnan, yang ngisi ceramah pekan ini, beliau udah sering membuka cadar orang meninggal. Berbagai ekspresi sudah beliau temui. Kata beliau, kalau mau tersenyum ketika meninggal itu adalah dengan Istiqomah. Apa sih yang bisa bikin tersenyumnya?

Beliau kasih contoh, kalau misalnya nanti suami pulang lalu kasih hadiah perhiasan berlian asli. Gimana ekspresi Ibu-ibu? tentu aja sumringah kan. Ga hanya itu, selain perhiasan, ngeluarin amplop juga buat Ibu-ibu isinya uang ratusan juta buat belanja. Gimana lagi ekspresi Ibu-ibu? pastinya lebih sumringah. (Saya sih langsung tanya suami, itu dapetnya darimana? halal ga tuh? heuheu.. Ok, kita asumsikan hadiah dari suami tersebut adalah halalan thoyyiban, Aaamiin semoga kesampean, mwihihhi).

Itulah yang terjadi pada Orang yang bertaqwa (Muttaqiin) ketika meninggal. Pada saat sakaratul maut, Malaikat Izrail akan mencabut nyawa Muttaqiin tersebut dengan perlahan dan lembut. Lalu ia akan bilang, “Selamat sejahtera padamu wahai fulan”. Maka tersenyumlah Muttaqiin tersebut. Tidak hanya itu, Malaikat Izrail menyampaikan juga, “Engkau akan masuk Surga”. Duuhh, gimana ga tersenyum bahagia si Fulan Muttaqiin itu. Makanya, orang yang bertaqwa akan meninggal dengan tersenyum.

MaasyaAllah, merinding dengernya. Disampaikan kalau bakalan masuk Surga. The Greatest gift of life and hereafter. Huhuhu, merasa rendah sekali karena ibadah masih terlalu biasa untuk dikategorikan (jangankan Muttaqiin) Mu’min aja.

Gimana bisa jadi orang yang bertaqwa? kuncinya adalah Istiqomah. Allah SWT suka dengan ibadah yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit. Sholat subuh tepat waktu, lalu Ma’tsurat pagi, lalu Dhuha, lalu sedekah, Tilawah, dll. Ga perlu banyak-banyak, yang penting rutin dikerjakan setiap hari.

Pengalaman saya, ngerjain ibadah itu awalnya harus dipaksa. Bukan berdasarkan kemauan aja. Kalau moodnya lagi males, bisa-bisa ga ngerjain, tapi kalau dipaksa, mau ga mau harus dikerjain. Selanjutnya meluruskan niat dan tinggal ikutin ritme kebiasaan ibadah tersebut. Yang paling penting, recharge terus esensi dari ibadah yang dilakukan. Biar semakin semangat dan tetep Istiqomah.

Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua agar menjadi hamba yang Istiqomah beribadah. Aamiin.

(Sebenernya masih banyak isi ceramahnya, tapi intinya adalah yang diatas :D)

 

Leave a comment

Filed under kisah jumat, tausyiyah

Last Day as Office-Working Mom

PhotoGrid_1461640327538

Akhirnya, hari terakhir duduk di hadapan komputer kantor. Setelah berstatus pensiunan dini per-29 Februari 2016, lalu karyawan kontraktor selama 2 bulan, perjalanan karir saya sebagai buruh pabrik lampu ini berakhir. Antara senang dan sedih, tentu saja..

Senang, karena bisa fokus di rumah sama Miza dan saatnya melatih kemampuan pekerjaan rumah tangga yang sekarang masih sekedarnya. Nanti bisa capek sendiri liatin Miza main yang ga mau diem, kasih makan MPASI Miza langsung, nenenin langsung (ga perlu pompa-pompa lagi), uwel-uwel Miza yang makin emeeesshh, nyuci baju, nyuci piring, nyetrika, nyapu, beberes, masak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Sedih, karena pisah dengan aktivitas rutin setiap hari kerjanya dan temen-temen di kantor. Berpisah dengan internet kencang di PC kantor dan makan siang sambil rumpi dengan ibu-ibu, terutama, berpisah dengan transferan rutin gaji di akhir bulan yang selalu dinanti, ahaghaghaghag. Tapi, inilah keputusan yang sudah saya ambil. Memilih pensiun dini dan mulai bekerja di rumah saja.

Total bekerja di pabrik lampu ini baru 2 tahun 5 bulan. Masih balita kalau dibanding senior-senior yang udah belasan dan puluhan tahun. Walau baru sebentar waktu yang sudah terlewati itu, banyak sekali pengalaman yang saya dapat. Sebagai seorang yang punya jobdesk jalan-jalan dan ngurusin hubungan internasional, saya banyak berkenalan dengan orang-orang baru di luar kantor, menikmati fasilitas penerbangan GA dan hotel -hotel kece dari kantor, hohoho. Tapi hal yang paling saya syukuri berada di kantor ini adalah saya jadi pribadi yang lebih terbuka, supel, dan percaya diri.

(pernah saya bahas nih) Kan sewaktu di Pasuruan, saya sempat jadi wanita yang pemalu dan memilih diam di belakang komputer. Kalau disuruh keluar kantor ketemu klien, yang ada saya panas dingin dan cari beribu alasan supaya diem aja di kantor (kalau keluar kemping mah, saya paling semangat). Saya ga pede dengan kemampuan yang dipunyai. Tapi semenjak diutus ke Cikarang ini, dengan bos yang lebih high profile menendang saya keluar kantor muluk, lambat laun, mau ga mau, saya harus menarik-mengeluarkan nafas, dan mendobrak diri supaya percaya diri ketemu orang-orang baru. Sebenarnya, ini pekerjaan yang menyenangkan karena lebih ke aktivitas bergerak, banyak sekali pengetahuan baru di bidang komunikasi/relasi/ekonomi/sosial/politik/ hukum/budaya/bahasa dan ga sekedar memutar otak menghitung Profit/Loss/cost produksi/sales di excel.

Alhamdulillah, terima kasih untuk pabrik lampu cabang Cikarang Selatan yang sudah mau mempekerjakan saya, yang sebagian besar kerjaannya numpang ngadem AC dan internetan, hehehe *hampuraa*. Terima kasih untuk pakbos besar yang luar biasa bisa bikin saya semakin percaya diri dan enjoy kerja di luar kantor, sampe harus sabar mengelus dada dengan permintaan shocking-me yang suka di last minutes. Terima kasih untuk pakbos kecil yang suka berbagi ilmu dunia kerja, dunia kosmetik (yuk cyiin), dan salad sarapannya. Terima kasih untuk teman-teman dengan berbagai karakter ajaib (asli ajaib2 semua) yang setiap hari kita kulineran selalu, will be missing you gals. Terima kasih para relasi di luaran sana yang selalu memberikan akses kemudahan berkunjung dan oleh-oleh luar negerinya.  Terima kasih sudah banyak memberikan memori indah dalam hidup saya. Terima kasih semuanya!!!

PhotoGrid_1461640222915

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, kerja, kisah jumat, Uncategorized

2 Bulan Lagi

Sudah banyak yang mengingatkan kalau mulai malam ini sudah masuk 1 Rajab.. yang artinya semakin dekat dengan bulan Ramadhan. Rajab-Sya’ban-Ramadhan…

Tahun lalu, saya lagi hamil 6 bulan, Alhamdulillah bisa shaum full tanpa bolong. Jadi ga ada utang shaum Qadha.. ayoo, yang masih ada utang shaum qadha, segera dilunasi,, hihihi.

Tahun ini, udah ga berdua lagi sama cuami, karena udah ada Miza. InsyaAllah berniat untuk berpuasa dan berdoa ASI-nya tetap mengalir sesuai kebutuhan Miza nanti.

Cuami bilang tahun lalu was his best Ramadhan since he had through it with me.. Saya pun pertama kali berpuasa yang sahur dan berbuka bingung masak apa dan nyiapin gimana buat cuami, hohoho.

Ramadhan selalu excited dinanti.. bulan penuh kenikmatan beribadah. Semoga Allah SWT sampaikan umur kami hingga bulan Ramadhan nanti, Aamiin.

Leave a comment

Filed under kisah jumat

Hijrah

Berpindah itu bukan hanya tentang fisik ini bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Berpindah butuh kemampuan adaptasi dan toleransi yang luar biasa besar. Penyesuain di tempat baru dengan atmosfer baru, bertemu orang-orang baru, melakukan kegiatan baru, dll. Kembali menge-set otak untuk bisa mencerna keadaan sekitar, dan terutama hati. Ada orang yang bisa langsung menyesuaikan, ada juga yang butuh waktu untuk bisa paham dengan keadaan barunya. Semoga tidak perlu sampai stress.

Tidak mudah meninggalkan tempat lama yang sudah menjadi kebiasaan, apalagi kalau lingkungan sudah nyaman, orang-orangnya sudah dekat, kegiatannya sudah terbiasa. Sudah bisa berbagi tawa dan sedih bersama. Perpisahan selalu menyedihkan…

Tapi terkadang ada faktor-faktor yang mengharuskan seseorang berpindah. Entah itu untuk alasan pribadi atau professional. Apalagi kalau sudah berkeluarga, harus ada yang ‘mengalah’ meredam ego-nya untuk mau mendukung kemajuan pasangannya. Tentu saja, pengertian dan empati pasangan pun diperlukan ketika pasangan lainnya sudah mau ‘berkorban’ demi kebaikan keluarga.

Teringat saya yang pernah beberapa mengalami perpindahan. Antar kota dan antar negara. Lintas budaya dan lintas bahasa. Dari kota ke desa, dari negara maju ke berkembang. Mengakhiri memang berat dan tidak jarang berderai tangis. Mengawali juga memang berat dan tidak jarang juga berderai tangis. Ah, tapi manusia diciptakan dengan kemampuan adaptasi yang tinggi, lama kelamaan juga akan terbiasa. Asalkan mau ada usaha untuk menjadi terbiasa. Senang dan tawa selalu hadir mendampingi untuk menguatkan.

Memang semua perihal yang dihadapi bisa cukup dipermudah jika logika yang bekerja. Melihat positifnya dan jalani saja. Selama mau terus bergerak, toh lama-lama juga terbiasa dan tidak selamanya roda berada di bawah kan. Hanya saja, kadang hati ingin ikut campur. Banyak pertimbangan ini itu yang bikin berat untuk bergerak.

Kembali ke kitab Al-Hikam yang pernah seseorang selalu tekankan, bahwa semuanya di Dunia ini, bahkan di akhirat, sudah diatur oleh Allah SWT. Tugas kita sebagai manusia hanay berusaha semaksimal mungkin, berdoa, lalu berpasrah saja. Pun ketika ada sesuatu yang membuat rencana awal tidak bisa terwujud. Mungkin dengan berpindah bisa mendapat yang lebih baik (itu yang selalu saya doakan). Dan berpisah bukan berarti tidak bersilaturahim lagi kan. Aturan Allah pasti selalu yang terbaik. Jadi yaa dicoba jalani saja (lagi)..

Leave a comment

Filed under kisah jumat

Kisah Jumat Dan Tema Keputrian

Udah lama nih saya ga berkisah di hari Jumat. Biasanya kalau udah Jumat, saya akan menceritakan kejadian-kejadian yang dialamin. Kenapa Jumat? udah sering saya sebutin, kalau Jumat (apalagi kalau hujan) itu adalah salah satu terfavorit saya. Karena keberkahannya berdobel-dobel lipat. Dan biasanya di hari Jumat pun saya suka dapat banyak hikmah sebagai pengingat diri.

Kisah Jumat kali ini, dimulai dari pagi hari saya beraktivitas di kantor. Biasanya, kalau saya ga ikutan sarapan di kantin, maka saya akan sarapan di pantry setelah apèl pagi. Sarapan praktis aja, roti dan kopi susu. Sama temen-temen yang suka sarapan di pantry juga, sarapan saya ini tergolong aneh, bukan rotinya, tapi karena susu yang digunakan pada kopi saya adalah susu kedelai. Tiap pagi saya suka beli 1-2 plastik (± 200 ml kali ya) susu kedelai di kantin. Susu kedelainya masih anget dan fresh. Nah, biasanya saya suka sedia kopi instan item (no sugar, no cream). Tiap pagi, saya seduh kopi instan dengan sedikit air panas, lalu saya campur susu kedelai. Jadilah kopi susu (kedelai). Menurut saya sih oke aja rasanya, tapi temen-temen yang liat malah mengernyit aneh.

Siangnya, ketika saya makan bareng di kantin sama temen-temen, mereka aneh juga. Kali ini karena cara makan saya yang mencampur semua lauk jadi satu. Emang saya suka campur sayur, lauk, dan nasi jadi satu. Biar ga ribet harus ambil satu-satu; nasi dulu, baru pilih lauk 1, ambil lauk 2, lalu sayurnya. Kalau modelnya nasi campur gitu, ya sekalian aja dicampur semuanya. Jadi dalam satu sendok udah semua ada 😀 Tapi ada temen yang liat malah kayak jijik ;( ditanya, “kamu beneran mau makan kayak gitu? kirain saya itu untuk dibuang”. Padahal kan di dalam perut semua makanan akan bercampur juga. Biarlah.. saya memang ga mainstream tuh :p

Setelah makan siang, saya dateng ke kajian keputrian yang diadain rutin setiap Jumat siang, dengan mengundang Ustadzah-ustadzah. Biasanya beberapa Jumat lalu, saya selalu datang telat. Ditengah-tengah ulasan baru dateng, karena kelamaan makan dan ngobrol di kantin. Untuk Jumat ini saya dateng on time ketika kajian dibuka. Karena pas makan, bareng sama ibu yang jadi kordinator keputriannya sih, ehehe. Hnah, pas sampai di Training Room, tempat kajian biasanya, karena baru dibuka sekalian dikasih tau tema kajian siang ini. Guess What? temanya: Persiapan Menikah. Saya dan temen-temen yang belum nikah langsung nyengir-nyengir (karena dikisruhin sama ibu-ibunya juga siih). Berikut notulensinya (disimak yaa mbakbro-mbakbro, hihi):

Bercita-citalah untuk menikah. Karena itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Ketika bercita-cita untuk menikah, harus dilandasi hal-hal berikut:
1. Niat. Ketika menikah, bukan karena dasar suka sama suka. Tapi karena dasar ingin beribadah. Jadi, luruskan niat agar dari awal berkah jalannya. Bercita-citalah yang baik, dengan memohon yang terbaik. Menikah bukan sekedar status, tapi akan membangun peradaban islam dengan generasi penerus yang sholeh-sholehah.
2. Setelah dari niat, gambarkan ingin pasangan seperti apa dan membangun keluarga yang bagaimana. Ga ada salahnya kita punya kriteria. Ingin yang fisiknya gimana, ingin yang pekerjaannya apa, ingin nanti punya anak berapa, rumah dimana, kendaraan apa. Pokoknya coba dibayangkan akan seperti apa nanti pasangan yang akan membangun rumah tangga bersama.
3. Memiliki strategi untuk memilih suami. Sama halnya dengan seorang pria ketika akan memilih istri; dari parasnya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Utamakan dengan memilih agamanya. Begitu juga dengan wanita, pilihlah dari rupanya, kaya-nya, kesehatannya, dan agamanya. Lebih utamakan memilih agamanya. Untuk harta disini, bukan terlihat dari memadainya ia dari rumah, mobil, tabungan. Tetapi, kesiapan ia untuk bekerja dan mampu menafkahi keluarga.
4. Setelah bertemu dengan calon suami, milikilah visi bersama ketika menikah. Visi paling akhir, yaitu ingin kembali berkumpul sekeluarga di surga kelak. Jika memiliki visi akhirat ini, maka segala hal yang dilakukan di dunia akan selalu mendukung pencapaian visi tersebut.
Kecocokan bahasa, kesamaan tingkah laku yang baik, dan keselarasan aktivitas sehari-hari. Suami yang sholeh, tidak akan menyia-nyiakan istrinya. Istri yang sholehah, tidak akan membantah suaminya. Anak-anak yang sholeh-sholehah, tidak akan menyakiti hati orangtuanya. Apapun yang dilakukan di dunia, adalah bertujuan untuk berkumpul kembali di surga nanti.
5. Setelah menikah, desainlah keluarga yang ideal bersama-sama suami. Komunikasikan semuanya, dan capai kesepakatan yang sama-sama bikin nyaman dan bahagia. Lalu ingat, “Istrimu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian baginya” [QS. Al-Baqarah:187] Jadi, haram bagi istri untuk menceritakan aib suaminya pada orang lain, begitupun sebaliknya.
6. Tambahan. Ketaatan istri pada suami menjadi nomor satu, dan ketaatan pada orangtua menjadi setelahnya. Apapun yang orangtua katakan/minta, tetap harus melalui persetujuan suami.
7. Untuk memahami hal-hal diatas, memiliki visi yang baik tersebut, maka perbanyaklah ilmu mengenai menikah dan berumahtangga. Banyak baca, cari pengetahuannya.

Semoga bermanfaat. Dan menjadi pengingat lagi bagi kita agar mempersiapkan diri. Karena Allah masih memberi waktu untuk kita bisa lebih siap menjadi istri dan ibu yang baik di dunia, demi berkumpul kembali di surga nanti. Aamin.

Terima kasih ya Allah, diingatkan lagi melalui kajian Jumat siang ini 🙂

Oke, berlanjut setelah kajian dan sholat dzuhur, masih ada waktu sebelum bel mulai kerja lagi. Lalu saya menuju tempat koran-koran berada, dan mengambil salah satu koran berbahasa Inggris. Bukan sok bisa bahasa Inggris, tapi sekalian untuk belajar kata dan tenses bahasa Inggrisnya. Saya ambil duduk di kursi lobi, dan menggelar koran di meja. Ga lama, berdatangan juga temen-temen lain sambil bawa koran. Sambil ngobrol, sambil buka-buka lembaran koran. Tiba pada topik tentang nuklir, karena seorang senior bertanya latar belakang pendidikan saya dulu. Lalu saya bilang dulu spesifikasinya tentang nuklir, reaktor dan aplikasinya. Dibahaslah sedikit tentang dasar-dasar tentang nuklir yang masih saya inget (dan selalu bikin saya semangat bicara tentang dunia nuklir itu). Kebetulan pas ada bahasan tentang nuklir juga di koran yang saya baca-baca. what a nuclear day 😀 Tapi hanya saya yang excited, yang mendengarkan malah berkerut ga ngerti dan jadi ngeri -,-‘

Masuk kerja lagi, hingga sore, saya hanya merangkum apa yang saya dapatkan hasil obrolan sebelum istirahat siang tentang produksi barang. Sesekali ngobrol tentang sepeda sama bapak-bapak yang hobi gowes juga. Lalu saya ke tempat temen-temen lain. Ada satu temen yang pake sepatu high heels. Ga tinggi sih, paling sekitar 3 cm. Dia lagi copot sepatunya, lalu saya iseng nyoba sepatu dia. Ada temen lain yang liat, lalu dia berkomentar, “Saya ga bisa bayangin Teh Dita pake sepatu kayak gitu. Sekarang pake sepatu yang teplek gitu aja, kurang pantes. Pantesnya pake sepatu kets”. Dunia seakan runtuh diatas kepala saya.. why oh why? saya kan udah mencoba lebih anggun, tapi masih terlihat macho? *pundung,langsung-ke-sudut-kantor-main-debu-dilantainya*

Begitulah kisah Jumat saya kali ini. Selalu penuh hikmah dari setiap kejadian dan pertemuan yang dialami. Dan Jumat ini saya ga pulang ke Bandung (maaf ya mamah sayang). Kangen akut, ingin gowes wiken ini disini 😀

Leave a comment

Filed under buku, kisah jumat, sharing, tausyiyah