Category Archives: pantai

Work to Karimun Jawa (4)

Menjelang maghrib sehabis liat sunset, saya dan Gatot-kun ga langsung ke homestay. Kami diajak Pak Qosim (leader electric construction) untuk liat bintang di salah satu bukit. Katanya disana bagus banget kalau liat bintang. Pas juga malam ini cerah, bintang udah banyak bermunculan. Kebayang indahnya langit malam dipenuhi bintang dari tempat tinggi (jadi inget waktu kemping di Ranu Kumbolo tahun lalu, malem harinya dipenuhi bintang dan serasa deket banget). Pemandangan bintang di malam hari memang hanya puas dinikmati oleh mata tanpa lewat kamera apapun. Tapi kami harus menunggu Pak Taqim yang mengantar para japanis ke hotel masing-masing. Katanya jam 8 sudah selesai. Jadi kami dinner ikan segar bakar, cumi bakar, dan kelapa bakar di Alun-alun Karimun dulu. Beralaskan terpal, beratapkan langit. Pastinya jauuuuh lebih nikmat dan enaakks daripada ikutan dinner dengan japanis di resto.
IMG_8159

Nunggu Pak Taqim lama banget ga dateng-dateng. Kami pindah ke sofa depan SD untuk duduk dan ngobrol. Gatot-kun udah senderan dan ngilang tidur. Ga lama, saya juga ikutan nyender dan akhirnya tidur juga. Parah ngantuk dan capeknya. Pak Qosim dan anaknya balik ke homestay duluan. Pas saya bangun, tetep aja Pak Taqim belum dateng juga. Karena udah malem, saya ajak Gatot-kun balik ke homestay aja. Sampe disana, kami langsung masuk kamar masing-masing. Saya bersih-bersih dan langsung rebahan di kasur, badan serasa remuk ingin segera tidur. Jam 10 malem, Pak Qosim ketuk-ketuk pintu kamar ngajak ke bukit liat bintang karena Pak Taqim udah dateng. Oh no way, ga kuat mata untuk melek. Jadinya saya harus skip liat bintang dari bukit kali ini, hiks. Maybe next time, insyaaAllah.

Minggu, 22 Juni 2014
Diwanti-wanti pak Taqim kalau kami semua harus berada di dermaga jam 5 subuh. Pasalnya, kapal Feri bakalan berangkat lebih awal. Yang biasanya jam 8, jadinya jam 6. Karena banyak turis yang harus diangkut hari itu, efek dari hari kemarin kapal cepat ga bisa beroperasi meninggalkan banyak turis di Karimun. Jam 5 subuh, saya dan Gatot-kun udah keluar homestay, jalan menuju dermaga. Pak Qosim dan crew-nya malah udah dari jam 3:30 keluar dari homestay. Sesampainya di dermaga, udah banyaakk orang yang dateng dan Menuhin Feri. Rombongan Japanis pun ternyata udah semua ada di dalam Feri. Kami cari tempat untuk duduk bareng dengan turis lainnya. Ga ada special seats untuk VIP japanis. Semua udah full. Jadinya harus mau ikutan mindang di dalam Feri.
IMG_8162

Tepat jam 6 pagi kapal Feri berangkat. Lebih enak daripada kapal Express Bahari, apalagi kapal nelayan, karena guncangan ombaknya hampir ga kerasa. Awalnya saya dan Gatot-kun duduk bareng japanis di bawah feri, tapi Kobayashi san dan Kikuchi san bilang kalo di dek Feri lebih kosong dan pemandangannya lagi bagus. Yasudahlah, jadinya saya dan Gatot-kun gabung mereka ke dek kapal. Indeed, pagi hari sisa-sisa sunrise di laut memang masih terlihat bagus banget. Langit super cerah pula. Kami foto-foto sebentar, lalu duduk di dek dan ngobrol. Ga lama, bertumbanganlah Kobayashi san dan Gatot-kun. Disusul Kikuchi san, kemudian terakhir saya ikutan juga tiduran di dek kapal. Sampai panas matahari bikin kami semua terbangun.
IMG20140622003

1 jam menuju sampainya kami di dermaga Jepara, kami turun ke bawah kapal untuk siap-siap ambil barang dan mengantri depan pintu keluar Feri. Total perjalanan 4,5 jam, Alhamdulillah lancar. Jam 11 siang kami sudah di dermaga dan dijemput oleh 5 mobil sewa. Kami bagi-bagi mobil. Saya kebagian semobil dengan Mochida san dan Yoshii san, karena harus duluan berangkat ke Semarang ngejar flight mereka yang jam 15:30. Padahal saya sendiri baru flight jam 17:45 bareng Yao san, dll. Ada beberapa rombongan Iida san dan Kawahara san yang tinggal di Jepara sehari lagi untuk meeting dengan pemda Jepara. Sisanya, pulang hari itu. Mobil Yao san, Tanaka san, dan Urakawa san menyusul ke Semarang dengan sebelumnya lunch di Jepara. Mobil Gatot-kun, Kikuchi san, dan Matsushita san, setelah lunch mampir ke tempat pengiriman barang untuk kirim barang-barang ke Jakarta. Saya yang berangkat duluan belum sempet lunch. Tapi perjalanan ternyata lancar jaya. Kami sampai semarang lebih cepat, jadinya bisa lunch dulu.

Di bandara, saya ngurus check in Mochida san dan Yoshii san. Lalu menyusullah Yao san, Tanaka san, dan Urakawa san. Karena masih ada waktu jadinya tiket Tanaka san dan Urakawa san diganti lagi jadi ikutan jam 15:30. Berangkatlah mereka ber-4 duluan ke Jakarta dan langsung flight Jepang malam harinya. Saya dan Yao san, sudah lega dan duduk di café beli minum dingin. Ga lama rombongan Gatot-kun, Kikuchi san, dan Matsushita san datang bergabung dan pesan minuman. Selagi menunggu boarding, kami ngobrol-ngobrol becandaan dan Yao san bilang kalau mau acara bebas sendiri-sendiri juga silakan. Kikuchi san dan Matsushita san yang dapet reschedule di kelas bisnis, bisa nunggu di lounge GA. Yao san entah kemana. Saya diajak Gatot-kun, yang orang asli Semarang dan maniak pesawat, ke anjungan bandara untuk liat pesawat-pesawat datang dan pergi sambil denger cerita Gatot-kun tentang hobinya terhadap pesawat dengan semangatnya.
IMG_8163

Sampai waktu boarding tiba, kami bergabung lagi semua di gate, dan masuk ke pesawat. Duduk di seat masing-masing, dan tibalah pesawat lepas landas meninggalkan bandara Achmad Yani, Semarang. Dadah-dadah dengan Semarang dan pengalaman full 2 hari di Karimun. See you next month! InsyaaAllah.
IMG20140622007

IMG20140620015

The End!

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, jalan-jalan, kerja, pantai, tempat wisata

Work to Karimun Jawa (3)

Sabtu, 21 Juni 2014
Pagi jam 6 udah stenbay untuk check out hotel karena ada acara pre-ceremony di SD Karimun Jawa. Bertepatan dengan pembagian rapor anak-anak SD-nya, tim instalasi ini bikin acara ‘surprise’ menyalakan lampu LED dan kipas angin di salah satu kelas tempat anak-anak SD berkumpul. Acara dimulai jam 7:30, dibuka dengan sambutan dari kepala sekolah, lalu Tanaka san, Iida san, Kawahara san (selaku ketua instalasi ngasih tau do’s and don’ts terhadap si kontainer), dan terakhir Yao san. Acara lainnya nonton iklan Panasonic melalui proyektor yang sumber listriknya dari kontainer, dan ada penampilan tarian tradisional persembahan dari anak-anak SD Karimun Jawa untuk bapak-bapak japanis. Acara berakhir jam 8:30.
IMG_8147

Sebenernya hari ini hari paling menarik. Karena kapal Express Bahari yang seharusnya kami tumpangi sehari sebelumnya ternyata mengalami kerusakan dan jadi ga bisa berlayar. Karena banyak japanis yang harus pulang ke Jepang malam hari ini, diputuskanlah pada saat dinner di Jiwa Quest untuk sewa kapal cepat pribadi versi lebih kecilnya, bisa mengangkut 12 orang tapi yang harus pulang adalah 9 orang saja. Sisanya memutuskan untuk pulang hari Minggu pake kapal Feri.

Nah, jam 9 udah janjian dengan pihak pemilik kapal di dermaga terdekat. Kami udah kumpul di dermaga, Taunya ada info kalo si kapal cepat kecil ini ga bisa berlayar juga. Bukannya ngabarin dari malem lalu, mendadak begini jadi bikin makin riweuh. Keputusan terakhir adalah sewa kapal nelayan. Eng-ing-eng, yoii, pake kapal tradisional nelayan. Estimasi menempuh 5 jam dari dermaga Karimun Jawa ke dermaga Jepara. Setelah melihat kapal nelayan, berguguranlah yang mau naik. Asalnya 9 orang, jadi 7 orang (Saya, Gatot kun, Yao san, Tanaka san, Urakawa san, Mochida san, dan Yoshii san). Mereka yang kudu pisan pulang Jepang malem ini. Tadinya mau cancel aja, semua ga jadi berangkat. Tapi si kapal nelayan keburu dateng yang ketentuannya kena charge kalau udah dipanggil. Pake perlu ‘ngiceupan’ petugas pelabuhan dulu pula gara-gara perahunya bukan dari teritori dermaga tersebut.
IMG_8148

Jadilah kami ber-7 naik kapal nelayan. Wajib pake safety jacket dulu sebelum naik kapal. Kami ber-7 ditambah 3 orang nelayan udah naik dan siap-siap lepas landas. Udah dadah-dadah sama temen-temen yang di dermaga. Sampe di kapal berangkat dan dermaga terlihat menjauh. Selama perjalanan, kapal dihempas ombak cukup keras. Karena si kapal nelayan ini kecil dan tradisional, kerasa banget Swing kanan, swing kiri, mirip-mirip naik wahana perahu air di dufan. Setelah 1,5 jam perjalanan, tiba-tiba, mesin kapal mati doongs. Kapal berhenti di tengah laut. Mulailah pada nanya ada apa. Si nelayan ada yang ngecek mesin kapal. Ternyata ada kerusakan di selang supply air di mesin utama. Sebenernya masih ada 2 mesin sekunder, tapi daya-nya tetep ga sekenceng mesin utama. Karena perbaikan pun tak kunjung beres, akhirnya diputuskanlah untuk balik ke dermaga Karimun. Pertimbangannya, perjalanan ke Jepara masih 4 jam lagi, sedangkan kapal hanya di support mesin sekunder yang jalannya lelet. Bisa ada kemungkinan di tengah jalan lagi mesin sekundernya mati. Kalo udah gitu gimana coba? Di tengah laut, tanpa alat komunikasi apapun. Oke lah, the japanese said back to Karimun port saja. Selama kapal berhenti waktu mesin utama dibenerin, ternyata hape masih dapet sinyal. Saya pun ngehubungin yang diujung barat pulau untuk bersiap kalau ga ada kabar aja sampe besoknya, segera panggil tim SAR, ahaha.
IMG20140621006

Selama setengah jam, sang nelayan belum bisa bikin mesin utama nyala lagi. Jadinya kami balik ke dermaga Karimun dengan mesin sekunder. Tepat jam 12 siang, kami udah ada di Karimun dan dijemput oleh Pak Taqim menuju SD Karimun Jawa 01. Ngerasa lucu banget karena awalnya udah pamitan dadah-dadah, taunya balik lagi ketemuan dengan temen-temen yang lain. Pada bilang ‘okaeri’ 😀

Cerita belum selesei. Kerja yang sebenernya baru dimulai. Yaitu reschedule tiket pesawat. Jadwal kami yang seharusnya flight Semarang – Jakarta sore ini, harus diganti jadi besok. Secara saya yang bisa bahasa Indonesia dengan lancar (yaiyalaah orang asli Indonesia), jadinya saya yang bekerja untuk ngehubungin agen travel dan pesawat GA untuk reschedule tiket. Seharusnya reschedule ini bisa lebih mudah kalau agen travel bisa stenbay. Tapi, karena hari ini adalah hari sabtu, jadinya agen travel perusahaan hanya buka setengah hari. Jadilah saya harus ngehubungin ticketing GA langsung dengan prosedur cukup lama. Makin ribet lagi karena pembayaran cancellation fee harus dibayar hari itu juga. Kalau engga, kami ga kebagian tiket untuk hari minggu. Udah Full bo! Kartu kredit ga bisa, agen travel udah tutup, orang kantor ga ngerti juga, jadinya ngerepotin salah satu direktur WD, Murata san, untuk dateng ke konter ticketing GA di Jakarta dan bayar cancellation fee kami semua. Telfon sana, Teflon sini, telfon lagi, telfon terus. Sampe akhirnya, Alhamdulillah cancellation fee udah dibayar, kami dapet reschedule ticket untuk keberangkatan dari Semarang ke Jakarta hari Minggu sore.

Yang lain udah santey, udah bisa jalan-jalan beli souvenir, beli kaos Karimun Jawa dan dipake langsung, terus foto-foto. Saya? Belum selesei yaa kawans. Masih ada 1 orang japanis yang bermasalah ticketing-nya, Yoshii san. Saya masih ngurusin kepastian beliau untuk dapet tiket balik Jakarta esok harinya. Kasian juga Yoshii san ini karena jadinya ‘dibully’ sama Yao san, dibilang ga bisa pulang Jepang dan harus stay di Karimun, ihihihi. Dengan muka memelas dan ekspresi mengenaskan, mohon-mohon berdoa biar daoet tiket balik Jakarta. Saya masih ngusahain, tapi emang ada masalah dengan nomor tiket lama dia yang udah terganti dengan nomor baru. Akhirnya, masih dengan bantuan Murata san dari Jakarta, saya bisa dapet nomor tiket barunya dan reschedule flight utk Yoshii san. Alhamdulillah.. selesailah semua urusan tiket yang cukup melelahkan itu bertepatan dengan sunset. Kepulangan ke Jepara insyaAllah udah fix ikut kapal Feri esok harinya. Saya memilih untuk pisah dari rombongan japanis yang akan dinner di salah satu resto, dan memilih minum air kelapa muda di alun-alun dan menikmati sunset hari kedua di Karimun ini. Otsukaresamadeshita.
IMG20140621009

Oya, sebenernya selain problemo tiket pesawat, juga tempat nginep untuk semalem extend itu. Hotel udah penuh karena wiken udah berdatanganlah turis baru. Kamar kosong diprioritasin untuk tetua japanis. Saya dan Gatot-kun, sebagai orang lokal, jadinya dapet di homestay, yang menurut saya malah lebih nyaman daripada di Hotel.

… (to be continued)

1 Comment

Filed under cerita-cerita, jalan-jalan, kerja, pantai, tempat wisata

Work to Karimun Jawa (2)

Jumat, 20 Juni 2014
IMG_8048

Jadwal keberangkatan kami ke Karimun Jawa melalui pelabuhan Kartini Jepara menggunakan kapal cepat, Express Bahari (tiket IDR 130,000). Kapal berangkat jam 8:00 dan menempuh perjalanan 2 jam saja. Jam 10:00 udah sampe di pelabuhan Karimun Jawa dan dijemput oleh Iida san dan PiC selama di Karimun Jawa, Pak Taqim. Kami diantar ke hotel dulu, Escape Hotel (Suite room IDR 400,000 dan Standard room IDR 300,000), untuk check in dan simpan barang. Setelah itu langsung menuju lokasi instalasi kontainer di SD Karimun Jawa 01. Disana udah ada enjiner-enjiner Panasonic jepang dan enjiner Panasonic lokal yang lebih dulu seminggu berada di Karimun. Para bapak-bapak tersebut melaksanakan tugasnya untuk mengecek kesiapan LED Panel Surya. Saya ikut juga, sekalian diterangin bagian dan fungsi dari kontainer oleh enjiner lokal dan foto-foto untuk bukti laporan ke atasan nanti.
IMG_8054

Siang setelah makan di kantin setempat (yang menunya macem-macem dan murraaahh), saya, Tanaka san, Urakawa san, Kobayashi san, dan Kikuchi san, diajak Iida san berkeliling Karimun mengunjungi 3 PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel), Wisata hutan mangrove, dan mampir sebentar di Pantai untuk istirahat sambil minum kelapa. Jadi, di Karimun Jawa ini supply listrik hanya dari PLTD yang itu pun ga bisa menutupi kebutuhan semua rumah. Banyak rumah dan hotel menggunakan genset sendiri, yang hanya dinyalakan mulai jam 18:00 sampe 06:00 (bervariasi sih, malah ada yang cuman sampe jam 12 malem aja). Jadinya harga penginapan disana relatif mahal. ATM hanya ada 1 (rusak pula) dan tentu aja ga bisa pake kartu kredit.
IMG_8080
IMG_8074

Setelah dari 3 PLTD, kami diajak masuk ke wisata hutan Mangrove. Bagus banget!
IMG_8100
IMG_8103
IMG_8114

Lalu singgah di salah satu wisata pantai yang masih sepi pengunjung. Pantainya bersiihh dan manjain mata banget liatnya. Terus minum air kelapa, beli 2 buah diminum rame-rame. Kikuchi san bilang semenjak dari lahir baru pertama kali minum air kelapa, dan dia suka (yaiyyalaah, seger gitu).
IMG20140620017
IMG20140620016

Dari pantai, kami kembali ke SD lagi dengan kerja terakhir pemasangan papan nama Panasonic pun selesai.
IMG_8132

Jam 18:00 kami semua berkumpul di resto Jiwa Quest untuk dinner dan ngobrol santay setelah seharian kerja. Di Jiwa Quest kalau siang pemandangannya pasti bagus banget, sayangnya udah malem ga keliatan apa-apa di laut, rasa makanannya biasa aja, tapi setup buah Pear-nya Juara! Pas dinner itu lebih kenalan lagi dengan orang-orang Jepangnya.

IMG_8130
Yang hadir adalah:
Yao san (Direktur Energi Panasonic ES Gobel Ina, male-45thn, fasih bahasa Indonesia), Tanaka san (Presdir Energi Panasonic ES Jpn, male-50thnan, aksen kansai banget), Urakawa san (GM QA Panasonic ES Jpn, male-50thnan, keliatan galak tapi ramah kok), (Manager apaa gitu *ga hafal, male- 40 tahunan, ramah, baiiik, kocak), Kobayashi san (senior member RnD Panasonic ES Jpn, Female- 37 thn, traveler sejati), Kikuchi san (Enjiner Panasonic Battery Jpn, Male-32 thn tapi baby face *awalnya saya kira msh 25thnan), Matsushita san (enjiner Panasonic Battery Jpn; Male-30 thn yang cute, humble, dan polite banget *ini malah dikirain lebih muda lagi 20thnan), Mochida san (Senior officer Public relation Panasonic ES Jpn; Male-umur ga tau tapi keliatan masih muda, gaul dengan semua perlengkapannya berwarna pink *tp cowo tulen looh), Yoshii san (Manager di Panasonic ES Jpn, Male-40 thnan dengan wajah polos *dan memang polos banget), Kawahara san (Manager di Panasonic ES Jpn, Male-40 thnan, sang leader instalasi panel surya, terlihat serius), Matsuda san (Manager (?) Panasonic Sales ES Ina, Male-40thnan, unique face), Pak Ukurta (Bagian bisnis development Energi Panasonic ES Gobel Ina, male-40thnan, batak), Gatot kun (Enjiner development Energi Panasonic ES Gobel Ina, male-26thn, freak banget ke per-pesawatan, wong Semarang), dan 2 orang dari IBEKA (saya ga terlalu kenalan dengan mereka). Tambahan 5 orang grupnya Pak Qosim (non-Panasonic) yang bertugas untuk instalasi jalur listrik di SD tersebut. Total yang datang untuk pengerjaan instalasi kontainer tenaga surya ini adalah 21 orang.

… (to be continued)
IMG20140620023
my first sunset in Karimun Jawa

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, jalan-jalan, kerja, pantai

Muter-Muter Madura

Kamis, 29 Agustus 2013
Merupakan hari pemilu Gubernur Jatim, sehingga kantor diliburkan supaya pegawainya mencoblos. Secara saya bukan warga Jatim, jadi ga punya hak milih, tapi ikutan pestanya aja karena ga kerja. Dari jauh-jauh hari udah ada pengumuman dari GA (General Affair) kalo bakalan libur, jadinya Mbaiv udah booking buat jalan-jalan sekalian ngelancarin nyetir dia yang baru belajar. Saya sih oke-oke aja, selama jalan-jalan, mwehehe.

Awalnya itu berencana hanya berdua, tapi karena ngobrolnya didepan banyak orang, jadinya pada mau join jg. Formasi terakhir adalah Saya, Mbaiv, Nane, dan Mbakhdhi yang oke untuk jalan-jalan di hari kamis yang libur ini. Lalu berbagai tempat direncanakan. Ke Mojokerto wisata candi, ke Batu untuk kongkow, muter-muter Surabaya sambil nge-mall, dan terakhir tempat yang disepakati adalah ke Madura sekalian makan bebek Sinjay.

Agenda dimulai sejak hari Rabu pulang kerja. Saya dan yang lain memang mau nginep di rumah Mbaiv di Surabaya. Jadinya sehabis pulang kerja itu kami (selain Mbaiv) beres-beres perlengkapan nginep selagi nunggu dijemput Mbaiv, yang ternyata jadwalnya kepulangan dia sangat cepat dari biasanya. Untuk ke Surabaya ini ada Pak Dj yang ikut sampe Bungurasih yang kemudian entah ngebolang kemana. Sehabis maghrib Mbaiv ngejemput saya di kosan, lalu Pak Dj, dan terakhir Nane dan Mbakdhi yang nunggu di stasiun. Setelah kumpul samua, berangkatlah kami menuju Surabaya, dengan sebelumnya rencana makan malem dulu di ayam penyet langganan Mbaiv di Sidoarjo.

Langganan lah yaa, karena itu sambel ayam penyetnya super peddeeesss. Katanya sih pake 40 bh lombok. Bisa pilih level pedesnya; dari ga pedes, pedes, super pedes, sampai super zuper pedes. Selain ayam penyet, tempat makan tersebut juga jual Iga Bakar. Sesampainya di tempat makan, saya pesan ayam goreng sambal hijau, yang lain Iga Bakar, dan Mbaiv ayam penyet super pedas. Itu yaaa, lombok di ayamin, pedesnya ga kira-kira. Cuman nyobain dikit aja udah ga nyantei pedesnya. Walau menurut saya sih tetep lebih pedes Ceker Lapindo.
ayam geprek super pedas
[pedesnya ter.la.lu]
cheers
[mari makaan :9]

Setelah makan, kami langsung menuju Bungurasih untuk nurunin Pak Dj dan pulang ke rumah Mbaiv. Ga perlu pake lama, setelah beres kami langsung tidur.

Bangun subuh, sholat, mandi, dan bersiap untuk ke Madura sarapan Bebek Sinjay. Sebelum menuju Suramadu, Mbaiv nyoblos dulu (karena dipaksa emes-nya, hihi). Karena sebenernya ga ada yang hafal banget jalan menuju Suramadu, jadi sempet muter-muter dan nanya-nanya dulu. Jam 8.30an kami baru sampai Suramadu dan jam 9an sampai di Bebek Sinjay.
suramadu
[Suramadu di pagi hari]
at sinjay
[sampai di tempat makan Bebek Sinjay]

Menurut info, memang harus sepagi mungkin ke tempat bebek ini, karena lagi tenar dan setelah jam 1 siang bakalan udah abis. Waktu kami datang masih banyak kursi kosong walau antrian udah cukup banyak. Bebek Sinjay itu bebek goreng kremes dikasih sambal mangga. Daging Bebeknya empuk, rasa sambalnya kecut asin. Entah mungkin masih pagi, jadinya kami dikasih sepiring gratisan ati ampela goreng kremes. Seporsi Bebek Sinjay sepaket dengan 1 teh botol sosro, hargnya Rp 26.000. Ga puas hanya minum teh botol, setelah makan dengan nikmat, kami pesan kelapa muda juga, harganya Rp 8.000. ALhamdulillah, puas banget.
bebek sinjay
[Ini loh bebek sinjay yang tenar dari madura itu]

girls with coconuts
[Kelapa mudanya enaak, dagingnya lembut dan manis]

Perjalanan setelah sangat kenyang dilanjut mencari objek wisata pantai di Madura. Katanya yang bagus itu Pantai Slompeng, sekitar 2 jam perjalanan. Sekalian aja, mumpung udah di Madura, bisa ngendarain mobil menyisiri pinggiran pantai, jadi direncanakan muter Madura rute Sampang – Sumenep – Pamekasan. Pokoknya seharian itu bener-bener muterin Madura. Sebelum ke pantai Slompeng, mampir dulu di Tanjung Bumi.
tanjung bumi

tanjung bumi 2
[Tanjung Bumi yang sepi]

??????????
[Pantai Slompeng. Blue Sky, Clear Ocean]

Sekalian arah pulang, sebenernya kami pengen makan soto Madura, tapi kok ya ga nemu-nemu aja. ternyata namanya itu ‘Kaldu Daging’, kalau soto yang terkenalnya doto ayam. Sore hari di Pamekasan kami baru nemu itu kaldu daging. Daging sapi dengan kuah gurih dan ada campuran kacang hijaunya dengan Rp 12.000 saja.
kaldu daging
[Kaldu daging khas Pamekasan, Madura]

Lalu sampai di Surabaya lagi udah jam 9 malem. Nane dan Mbakdhi mau langsung pulang Bangil, jadinya dianter ke Bungurasih. Kalo saya nginep semalem lagi di rumah Mbaiv dan jumat pagi nunut ke kantor bareng.
suramadu at night
[Suramadu di malam hari.. lampunya keren sih, warna-warni, tapi pake lampu dari kompetitor, ahaha]

Madura itu.. sepi. Ga terlalu banyak penduduk, kendaraan, dan bangunan. Apalagi semakin ke daerah pinggirannya, makin banyak hutan seperti padang savana yang menutup pinggiran pantai dan jalan raya. Di kotanya aja ga rame, malah mungkin lebih rame alun-alun Bangil. Sepanjang jalan kalau diperhatiin itu banyak mesjid. Banyaknya kebanyakan, karena baru juga maju beberapa meter udah ada mesjid lagi. Pembangunan mesjid dimana-mana. Walau memudahkan untuk berhenti sholat pas waktunya, tapi tetep aja dirasa ga efektif karena ga memaksimalkan fasilitas mesjid. Baiknya kan setiap area punya 1 mesjid yang setiap waktu sholat penuh oleh jamaah, daripada 1 area ada beberapa mesjid dan jamaahnya jadi terbagi-bagi.

Selain mesjid, kesimpulan sekilas, orang-orang Madura itu banyak yang tajir. Terlihat dari rumah-rumah yang gweddee. Pilar-pilar besar dan tinggi, halaman luas, dan bangunan yang cukup mewah. Mungkin sekalian penanda status sosial strata tinggi kali ya, harus terlihat dari ukuran rumahnya. Tapi kalau mobil, ga banyak liat pakai yang mewah-mewah, malah relatif sepi dari kendaraan. Orang-orang Madura terkenal dengan pedagangnya. Di pasar Bangil aja banyak penjual dari Madura daripada lokalnya. Bisa ketauan dari logat dan aturan jual belinya, yang agak maksa dan keras (imo).
perahu madura
[Banyak perahu nelayan lagi parkir. Best Shot!]

Overall, cukup puas bisa muterin Madura seharian kemarin. Pengalaman juga mumpung saya masih di Jatim sini ;D
driving
[Thank you ladies for Madura’s trip *hug*]

2 Comments

Filed under jalan-jalan, kota, makan-makan, pantai, resto

Pulau Sempu, Laguna Segara Anakan

cagar alam pulau sempu
Akhir Bulan Juni ditutup dengan trip ke Pulau Sempu bareng 14 orang temen-temen kantor dari berbagai departemen. 6 orang cewe, 8 orang cowo.
Sekaligus sebagai akhir dari reli trip saya sebelum bulan Ramadhan (hihi), dan sebagai pembuktian kata orang-orang tentang keindahan wisata Pulau Sempu ini.

Jumat, 28 Juni 2013
Kali ini jadwal berangkat juga sehabis pulang kerja, seperti minggu lalu yang ke Jogja.
Tapi lebih santay, karena berangkat jam 10 malem dari Lumpang Bolong (salah satu kawasan kos).
Jadinya pulang kerja masih bisa santay-santay makan lalapan mujaer dulu, ke mini market beli tambahan perlengkapan trip dulu, dan packing ga buru-buru.
Tetep sih ya, jadwalnya jam 10 malem, tapi aktualnya berangkat jam 11 malem.
Pakai mobil ELF berkapasitas full 14 orang.

Sabtu, 29 Juni 2013
Perjalanan menuju Malang selatan, ke Pantai Sendang Biru, pemberhentian pertama sebelum nyebrang ke Pulau Sempu, sekitar 5 jam. Ditemani hujan sangat deras dan kabut tebal, akhirnya mendekati subuh kami sampai.
Setelah sholat subuh, kami menunggu munculnya matahari sambil siap-siap. Udah ga hujan, hanya gerimis-gerimis kecil.
Matahari mulai terbit, langit mulai terang, kami dikasih hadiah alam yang indah.. Pelangi dan suasana pantai yang tenang.
pelangi
Beberapa temen mulai cari perahu nelayan untuk disewa menyebrang ke Pulau Sempu dan guide untuk nemenin perjalanan menembus hutan hujan tropis.
Sisanya ke tempat sewa sepatu anti slip, karena sangat ga direkomendasiin pakai sepatu biasa. Jalanannya super licin dan berlumpur. Apalagi malemnya abis diguyur hujan, bakalan tambah licin aja nanti.
Setelah dapet perahu dengan harga Rp 130.000 (PP), sewa guide Rp 200.000 (PP), dan sewa sepatu Rp 10.000, kami harus berenergi dulu sebelum menempuh perjalanan 2.5-3 jam berjalan kaki.
Kami sarapan di warung nasi sekitar pantai, dengan menu pecel, rames, atau soto.

Lalu, dimulailah pertualangan kami di The (so called) Amazing Sempu Island.
Hyosh! bawa carrier berat berisikan survival things untuk 2 hari 1 malam. Plus air minum dan air bersih berliter-liter, karena di Laguna nanti ga ada sumber air tawar sama sekali.
Kami naik perahu nelayan, menyebrang sekitar 15 menit hingga sampai di Pulau Sempu, lalu tepat jam 8 pagi kami mulai jalan masuk ke hutan hujan tropis.
DSC_0113

Jreng.jreng.. baru mulai aja udah keliatan sangat jelas gimana berlumpurnya jalan. Totally muddy, tanpa ada jalan bagus sama sekali.
Mengertilah saya, kenapa kalau baca testimoni orang-orang yang udah pernah ke Sempu bilangnya “The Hell” moment.
Harus rasain sendiri gimana sensasi super seru menembus hutan yang naik turun, apalagi setelah hujan.
Saya sampai jatuh kepleset 4 kali, saking licinnya :”)
treking hutan tropis 1

treking hutan tropis 2

treking hutan tropis 3

CIMG3072

CIMG3065

Perjalanan ekstrim melewati hutan memang tepat sekitaran 2.5-3 jam.
Setelah sering bertanya ke guide berapa lama perjalanan lagi (yang baru aja jalan 10 menit udah ga sabaran ingin nyampe), terdengarlah deru ombak dan suara-suara seru orang-orang yang lain (sepertinya) berenang.
Ga sabar ingin ingin segimana amazingnya sih Laguna Segara Anakan.
Yang dibilang “The Heaven”nya itu katanya bisa ngobatin puas setelah penderitaan perjalanan.

Okay, mungkin menurut orang-orang yang cinta pantai bisa bilang seperti itu.
Tapi buat saya yang lebih suka gunung ini, sampai di Laguna ternyata.. biasa aja.
Ga sampe bikin saya seterpesona Ranu Kumbolo-nya Semeru.
Setelah menurunkan carrier yang bikin punggung saya encok dan bahu saya bengkak, saya berjalan datar menuju air laut di Laguna untuk bersihin sepatu dan baju yang udah penuh lumpur semua.
Dan mencoba menikmati sekeliling Laguna yang udah penuh dengan beberapa grup yang datang duluan.

arrived @ segara anakan

IMG_6862

CIMG3090

Ada yang seru waktu baru dateng di Laguna.
TIba-tiba dari kanan pantai ada yang teriak-teriak minta tolong.
“tolong! Tolong!” dan “Help! Help!”, “seriusan ini, tolong! help!”
Suara cowo dan cewe. Lalu beberapa orang ada yang berlari bak pemain baywatch untuk nolongin mereka.
Saya masih mengamati sambil beres-beres untuk ngediriin tenda. Bukan apatis sih, tapi daripada ikutan heboh ga jelas, mending ngerjain yang lebih jelas untuk kelangsungan hidup di Laguna yang jauh dari peradaban luar.
Pas udah keliatan aman, barulah saya denger-denger kisahnya.
Jadi, ada sekelompok cewe dan cowo yang lagi main-main air di pinggir sebelah kanan Laguna itu.
Kok lama kelamaan mereka jadi ke tengah laut, taunya mereka keseret ombak, ditambah kaki kram.
Jadi aja mereka teriak-teriak minta tolong karena udah ga sanggup ngelawan arus dan mereka terus keseret ke tempat yang dalam.
Alhamdulillah, guide kami itu yang bisa nolongin mereka. Disaat banyak yang nolongin tapi malah ikut-ikutan keseret. Ya tau kapasitas diri dong seharusnya, kalo ga bisa berenang jangan terlalu heboh di pantainya. Atau kalo bisa berenang tapi untuk diri sendiri aja, ga usah ikut-ikutan ingin nolongin orang tenggelam.

Setelah kejadian itu, sama temen-temen malah dibecandain.
Kan yang keseret arus itu bilang: “Help! Help! Tolong!”
Dijawab sama temen-temen: “ciyuus? miapah?”
Dan ngakak lah kami semua diatas ketraumaan orang-orang itu, ahaha.

Singkirkan iklannya, kami harus mendirikan tenda untuk tidur nanti malam.
Kami sewa 3 tenda; (literally) 1 tenda ukuran untuk 6 orang, 1 tenda ukuran untuk 4 orang, dan 1 tenda kecil ukuran untuk 2 orang.
Jadi 1 tenda gede untuk semua cewenya, lalu 2 tenda sisanya dibagi-bagi gimana maunya para cowo.
Setelah tenda berdiri, kami mengeluarkan persenjataan pelindung perut kami, makanan.
Dan ternyata… itu sih udah kayak mau buka warung aja.
Mie instan berbungkus-bungkus-bungkus dan snacks yang bejibun.
DSC_0123

DSC_0124
Lalu kami mulai masak mie untuk makan siang.
Sambil nunggu, ngeringin baju, dan kami bergiliran sholat dzuhur.. Ini yang saya suka, jalan bareng geng satu ini selalu inget waktu sholat. Karena kalau jalan-jalan dengan geng lain, kadang sholat ya inget masing-masing aja, atau bahkan pada ga sholat.
Bahkan karena kami sholat jamaahan, tetangga-tetangga tenda sekitar ada yang ikutan sholat juga.
DSC_0129

Jadwal siang-sore itu bebas.
Ada yang mulai naik tebing untuk liat samudera (masih siang bolong, terik banget, saya skip aja untuk jadwal nanti sorenya), ada yang berenang di pantainya (saya skip juga, karena berenang di air asin yang ga ada fasilitas air tawar untuk mandinya itu ga saya bangetnya kebangetan. Ada fasilitas mandinya aja, kayak Papuma, saya ga ikutan nyemplung, ini apalagi..).
Jadi saya sendiri yang masuk ke tenda dan tidur, ahaha.. tapi emang kepala saya pusing banget sih. heat attack i guess.

Masuk sore, saya bangun dan mulai segeran. Temen-temen masih menghilang dengan aktivitas narsis dan renangnya.
Tapi ga lama udah pada dateng ke tenda dan ngumpul lagi.
Saya bersiap untuk naik ke tebing, bareng temen-temen yang belum naik ke tebing sebelumnya.
Melihat pemandangan luasnya samudera…
samudra 1

CIMG3097

DSC_0179
Wohooo,, that was the awesome part.

Ini yang saya paling suka dari Pulau Sempu. Pemandangan ini. Momen ini.
Samudera luas, cipratan air laut dari ombak yang menghantam karang, langit..
Ciptaan Allah yang Maha Luar Biasa..
IMG_6776

samudera
(picture taken by me when Hq stood alone with those ocean as his background, stunning! *muji karya sendiri gini,hihi*)

DSC_0163

Yang saya lakukan, hanya cari spot paling pewe untuk nikmatin view samudera, dan duduk diam.
Memejamkan mata, mendengar suara laut, menghirup udara segar. that’s it and I’m satisfied!
Pemandangan Laguna dari atas tebingnya juga keren.
saya

Menjelang maghrib, baru saya turun, dan ikut bantu nyiapin makan malem.
Menu kali ini, selain tentu saja mie instan, masak nasi dan sarden.
Makan apapun selama bisa bareng temen-temen yang asik sih bakalan kerasa nikmat.
Abis sholat maghrib, kami berkumpul melingkar diatas terpal untuk menyantap makan malam kami di tengah Pulau Sempu.
IMG_6793

IMG_6796

Jadwal abis makan adalah main UNO.
Tapi sayangnya baru aja mau mulai, udah gerimis, dan ga lama hujan.
IMG_6797

Ga sesuai harapan banget sih hujan di malam harinya.
Karena kami kan ngebayanginnya ngabisin malam sambil main UNO, bakar-bakaran, berpayungkan bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Tapi jadinya kami habiskan malam di dalam tenda, berpanas-panasan, dan tidur.
Hujan semakin deras, bahkan lebat. Suara guntur dan kilatan petir udah bersahut-sahutan.
Ditambah tenda bocor, bikin makin ga oke untuk tidur. Tapi kami ber-6 sih nikmatin aja.
Dengan berbagai gaya di dalam tenda yang sempit, kami nyoba posisi paling pol untuk istirahat.
Padahal baru jam 8 malem, tapi kami terkurung di dalam tenda.

Lalu tanda-tanda hujan lebat segera berakhir mulai terdengar.
JREEENNGG… kedengeran suara gitar dan nyanyi-nyanyi keras dari tenda depan. sounds so fun.
Mereka tetep tau caranya nikmatin pantai malam hari walau hujan.
Temen-temen cewe lain udah pada tidur, tapi karena panas dan gerah, saya memilih untuk keluar tenda.
Seger banget kena angin laut di malam hari. Masih gerimis jadi saya pake payung beneran.
Ada 2 orang temen cowo yang ga tidur juga, arga dan pingpung masih diluar tenda. jadi sambil denger teriakan-teriakan yang nyanyi, kami ngobrol-ngobrol.
Menjelang tengah malem, udah ga gerimis, kami masak air panas untuk seduh kopi.
Bintang mulai terlihat, suara-suara teriakan nyanyian mulai redup, hanya terdengar suara-suara samar orang-orang yang masih ngobrol dari tenda sekitaran, dan suara ombak.

Minggu, 30 Juni 2013
Saya nanya ke temen sekarang udah jam berapa. Dijawabnya kalau ternyata baru jam 1 dini hari.
Malam terasa panjaaang.. ingin segera subuh dan hunting sunrise dari atas tebing.
Jam setengah 2 pagi, saya mutusin untuk masuk tenda dan mulai tidur-tidur ayam hingga mungkin jam setengah 5.

Walau ga tau tepatnya jam berapa, tapi harusnya udah masuk waktu subuh.
malah langit udah mulai beranjak terang.
Kami semua bangun dan sholat subuh bergiliran.
Saya udah ga sabar untuk segera naik ke tebing dan liat sunrise.
Tapi ternyata, sunrisenya ketutupan sama bukit ;(
Hanya bisa menimati siluet horizonnya aja. Tapi tetap bisa bikin dunia saya serasa berhenti.
IMG_6808

IMG_6799
Hingga langit benar-benar sudah terang, saya baru turun dan bantu siapin sarapan, dengan melihat yang masak dan ngabisin stok cemilan, ehehe.

Sesuai perjanjian dengan mamang guide, kami akan dijemput jam setengah 9 pagi.
Jadinya setelah sarapan, dengan mie instan lagi, kami bongkar tenda dan bersiap untuk packing pulang.
IMG_6820

IMG_6815

Sambil nunggu dijemput guide, kami mulai beraksi lagi, foto-foto.
Sok-sok lupa kalo perjalanan pulang nanti bakalan lewat rute “The Hell” hutan hujan tropis seperti kemarin.
Nyeseknya, Kali ini ga ada suguhan pelepas lelah indahnya Laguna, tapi langsung pantai menuju sendang biru.
Pas lagi hari ini adik saya ulang tahun.
bea

DSC_0312

DSC_0322

Jam 9 akhirnya guide kami datang dan kami langsung berangkat perjalanan pulang.
OK! Kali ini bener-bener “HELL” (astaghfirullah ;p).
Efek hujan lebat tadi malem bikin treknya makin “HELL” (astaghfirullaaah ;D).
Makin lama, makin berat sama lumpur di sepatu dan celana. Udah ga pilih-pilih jalan lagi, nyemplung aja di kubangan lumpur. Jatuh kepleset cuman sekali, tapi buat saya perjalanan pulang 3 jam paling “HELL” yang pernah saya alamin.
IMG_6865

IMG_6869

IMG_6871

IMG_6872

IMG_6874

IMG_6875

Kaki lecyet, tanah becyek, ga ada ojyek. Sendi betis mulai bermasalah yang bikin jalan saya makin pelan karena sakit dan tertinggal paling belakang. Ditambah bengkak di bahu akibat gendong carrier berat mulai kerasa. perfekto.
Bikin saya berazzam, perjalanan ke Sempu ini cukup sekali seumur hidup aja.
Ga lagi-lagi mau dateng karena penasarannya udah terselesaikan tuntas.
Saya lebih milih naik Semeru berkali-kali dan kemping kedinginan di Ranu Kumbolo.

Dengan langkah gontay karena betis sakit dan kaki lecet, akhirnya tertatih-tatih sampai di tempat start yang sekarang jadi tempat finish perbatasan Pulau Sempu. Ga saya banget pokoknya >.<
Perahu kami sudah menjemput dan sebagai orang yang ditunggu karena berada di paling akhir, saya langsung naik ke perahu.
Saya hanya duduk di tepi perahu, menikmati perjalanan menuju pantai sendang biru sambil melepas letih, yang sebelumnya melepas sepatu yang bikin lecyet.

Sampai di Sendang Biru jam 12an, saya langsung turun, nyeker menuju toilet untuk bersih-bersih.
Disusul temen-temen yang lain.
ELF sudah menjemput, dan kami skip makan siang karena akan disuguhin makan di rumah Hq, di Malang.
Setengah 2 siang kami berangkat meninggalkan Sendang Biru dan setengah 4 sampai di rumah Hq.
Istirahat makan dengan tahu telur bikinan ibunya Hq, sambil ngobrol-ngobrol dan nonton bola (PERSIB euy).
Jam setengah 6 kami pamitan untuk kembali ke Bangil.
Perjalanan cukup lama karena lalu lintas padat, akhirnya baru sampai Bangil setengah 11 malam.
Saya langsung beres-beres ngeluarin yang kotor dan bersih-bersih diri lagi dengan lebih baik dan benar.

Cukup sudah perjalanan ke Sempu ini. Cukup jadi pengalaman sekali seumur hidup.
Tapi tetep harus dicoba, biar tau serunya menembus hutan tropis, main di laguna di tengah Pulau Sempu, dan sensasi melihat samudera dari atas tebing 🙂

DSC_0318
Genng Sempu kali ini:
(the Females) Mak Atun, Tatik cilik, Mba Inne, Mery, Mba Nana, Sayaa
(the Males) Haqi, Hanafi, Habibil, Husni, Arga, Yakin, Fendrian, Bayu

6 Comments

Filed under jalan-jalan, pantai