Category Archives: kota

Muter-Muter Madura

Kamis, 29 Agustus 2013
Merupakan hari pemilu Gubernur Jatim, sehingga kantor diliburkan supaya pegawainya mencoblos. Secara saya bukan warga Jatim, jadi ga punya hak milih, tapi ikutan pestanya aja karena ga kerja. Dari jauh-jauh hari udah ada pengumuman dari GA (General Affair) kalo bakalan libur, jadinya Mbaiv udah booking buat jalan-jalan sekalian ngelancarin nyetir dia yang baru belajar. Saya sih oke-oke aja, selama jalan-jalan, mwehehe.

Awalnya itu berencana hanya berdua, tapi karena ngobrolnya didepan banyak orang, jadinya pada mau join jg. Formasi terakhir adalah Saya, Mbaiv, Nane, dan Mbakhdhi yang oke untuk jalan-jalan di hari kamis yang libur ini. Lalu berbagai tempat direncanakan. Ke Mojokerto wisata candi, ke Batu untuk kongkow, muter-muter Surabaya sambil nge-mall, dan terakhir tempat yang disepakati adalah ke Madura sekalian makan bebek Sinjay.

Agenda dimulai sejak hari Rabu pulang kerja. Saya dan yang lain memang mau nginep di rumah Mbaiv di Surabaya. Jadinya sehabis pulang kerja itu kami (selain Mbaiv) beres-beres perlengkapan nginep selagi nunggu dijemput Mbaiv, yang ternyata jadwalnya kepulangan dia sangat cepat dari biasanya. Untuk ke Surabaya ini ada Pak Dj yang ikut sampe Bungurasih yang kemudian entah ngebolang kemana. Sehabis maghrib Mbaiv ngejemput saya di kosan, lalu Pak Dj, dan terakhir Nane dan Mbakdhi yang nunggu di stasiun. Setelah kumpul samua, berangkatlah kami menuju Surabaya, dengan sebelumnya rencana makan malem dulu di ayam penyet langganan Mbaiv di Sidoarjo.

Langganan lah yaa, karena itu sambel ayam penyetnya super peddeeesss. Katanya sih pake 40 bh lombok. Bisa pilih level pedesnya; dari ga pedes, pedes, super pedes, sampai super zuper pedes. Selain ayam penyet, tempat makan tersebut juga jual Iga Bakar. Sesampainya di tempat makan, saya pesan ayam goreng sambal hijau, yang lain Iga Bakar, dan Mbaiv ayam penyet super pedas. Itu yaaa, lombok di ayamin, pedesnya ga kira-kira. Cuman nyobain dikit aja udah ga nyantei pedesnya. Walau menurut saya sih tetep lebih pedes Ceker Lapindo.
ayam geprek super pedas
[pedesnya ter.la.lu]
cheers
[mari makaan :9]

Setelah makan, kami langsung menuju Bungurasih untuk nurunin Pak Dj dan pulang ke rumah Mbaiv. Ga perlu pake lama, setelah beres kami langsung tidur.

Bangun subuh, sholat, mandi, dan bersiap untuk ke Madura sarapan Bebek Sinjay. Sebelum menuju Suramadu, Mbaiv nyoblos dulu (karena dipaksa emes-nya, hihi). Karena sebenernya ga ada yang hafal banget jalan menuju Suramadu, jadi sempet muter-muter dan nanya-nanya dulu. Jam 8.30an kami baru sampai Suramadu dan jam 9an sampai di Bebek Sinjay.
suramadu
[Suramadu di pagi hari]
at sinjay
[sampai di tempat makan Bebek Sinjay]

Menurut info, memang harus sepagi mungkin ke tempat bebek ini, karena lagi tenar dan setelah jam 1 siang bakalan udah abis. Waktu kami datang masih banyak kursi kosong walau antrian udah cukup banyak. Bebek Sinjay itu bebek goreng kremes dikasih sambal mangga. Daging Bebeknya empuk, rasa sambalnya kecut asin. Entah mungkin masih pagi, jadinya kami dikasih sepiring gratisan ati ampela goreng kremes. Seporsi Bebek Sinjay sepaket dengan 1 teh botol sosro, hargnya Rp 26.000. Ga puas hanya minum teh botol, setelah makan dengan nikmat, kami pesan kelapa muda juga, harganya Rp 8.000. ALhamdulillah, puas banget.
bebek sinjay
[Ini loh bebek sinjay yang tenar dari madura itu]

girls with coconuts
[Kelapa mudanya enaak, dagingnya lembut dan manis]

Perjalanan setelah sangat kenyang dilanjut mencari objek wisata pantai di Madura. Katanya yang bagus itu Pantai Slompeng, sekitar 2 jam perjalanan. Sekalian aja, mumpung udah di Madura, bisa ngendarain mobil menyisiri pinggiran pantai, jadi direncanakan muter Madura rute Sampang – Sumenep – Pamekasan. Pokoknya seharian itu bener-bener muterin Madura. Sebelum ke pantai Slompeng, mampir dulu di Tanjung Bumi.
tanjung bumi

tanjung bumi 2
[Tanjung Bumi yang sepi]

??????????
[Pantai Slompeng. Blue Sky, Clear Ocean]

Sekalian arah pulang, sebenernya kami pengen makan soto Madura, tapi kok ya ga nemu-nemu aja. ternyata namanya itu ‘Kaldu Daging’, kalau soto yang terkenalnya doto ayam. Sore hari di Pamekasan kami baru nemu itu kaldu daging. Daging sapi dengan kuah gurih dan ada campuran kacang hijaunya dengan Rp 12.000 saja.
kaldu daging
[Kaldu daging khas Pamekasan, Madura]

Lalu sampai di Surabaya lagi udah jam 9 malem. Nane dan Mbakdhi mau langsung pulang Bangil, jadinya dianter ke Bungurasih. Kalo saya nginep semalem lagi di rumah Mbaiv dan jumat pagi nunut ke kantor bareng.
suramadu at night
[Suramadu di malam hari.. lampunya keren sih, warna-warni, tapi pake lampu dari kompetitor, ahaha]

Madura itu.. sepi. Ga terlalu banyak penduduk, kendaraan, dan bangunan. Apalagi semakin ke daerah pinggirannya, makin banyak hutan seperti padang savana yang menutup pinggiran pantai dan jalan raya. Di kotanya aja ga rame, malah mungkin lebih rame alun-alun Bangil. Sepanjang jalan kalau diperhatiin itu banyak mesjid. Banyaknya kebanyakan, karena baru juga maju beberapa meter udah ada mesjid lagi. Pembangunan mesjid dimana-mana. Walau memudahkan untuk berhenti sholat pas waktunya, tapi tetep aja dirasa ga efektif karena ga memaksimalkan fasilitas mesjid. Baiknya kan setiap area punya 1 mesjid yang setiap waktu sholat penuh oleh jamaah, daripada 1 area ada beberapa mesjid dan jamaahnya jadi terbagi-bagi.

Selain mesjid, kesimpulan sekilas, orang-orang Madura itu banyak yang tajir. Terlihat dari rumah-rumah yang gweddee. Pilar-pilar besar dan tinggi, halaman luas, dan bangunan yang cukup mewah. Mungkin sekalian penanda status sosial strata tinggi kali ya, harus terlihat dari ukuran rumahnya. Tapi kalau mobil, ga banyak liat pakai yang mewah-mewah, malah relatif sepi dari kendaraan. Orang-orang Madura terkenal dengan pedagangnya. Di pasar Bangil aja banyak penjual dari Madura daripada lokalnya. Bisa ketauan dari logat dan aturan jual belinya, yang agak maksa dan keras (imo).
perahu madura
[Banyak perahu nelayan lagi parkir. Best Shot!]

Overall, cukup puas bisa muterin Madura seharian kemarin. Pengalaman juga mumpung saya masih di Jatim sini ;D
driving
[Thank you ladies for Madura’s trip *hug*]

Advertisements

2 Comments

Filed under jalan-jalan, kota, makan-makan, pantai, resto

Ladies Day Out

Setelah jadi anak alam di bulan Juni, yang ngabisin tiap wiken ngebolang ke gunung, pantai, dan gua, bulan Juli ini dinetralisir pelesir ke kota. Ceritanya jadi anak gaul kota metropolitan, dengan hengot ke mall di Surabaya.

Emang udah direncanain dari sebulan lalu sih sama @dalulia @dipharoanna @corryindria, kalo wiken pertama bulan Juli mau nyushi di Sushi Tei. Sekalian pas juga momennya mau bulan Ramadhan, puas-puasin makan sushi, udah lama juga ga makan sushi. Sempet kapok ngerasain sushi di Tokyo Connection, Bandung. Ga sushi banget rasanya. Katanya yang rasanya sushi banget itu hanya ada di Sushi Tei. OK, let’s try it.

Sabtu, 6 Juli 2013
Berangkat dari Bangil naik bus menuju Bungurasih. Rencananya sih jam 9, tapi jeng @dalulia kelaperan, jadinya makan pecel dulu. Sekalian masBro Molly ketar-ketir jaket ama kaos kesayangannya ngilang di londri deket kosan, jadi saya mampir londri dulu untuk nanya-nanya. Aktualnya berangkat ke Bungur jam 10 pagi. Rezeki dapet bus masih kosong dan bisa duduk, jadi bisa tidur dulu di jalanan yang super macet. Bangun-bangun udah deket Bungur aja.

Nyampe Bungur masih nunggu dijemput @corryindira dan @dipharoanna. Sejam lebih akhirnya si Atoz biru muncul juga dan langsung menuju Ciputra World (Ciworld) Mall. Jalanan muacceett, mungkin para warga keluar semua sebagai jalan-jalan wiken terakhir sebelum Ramadhan. Jadinya jam 2 siang baru nyampe Ciworld dan lengsung ke SUshi Tei.

Secara buat saya ini pertama kali ke Sushi Tei, jadinya terserah yang lain mesen apaan. Kalo liat menunya sih, standar sushi yang ada di Jepang juga, dengan tambahan variasi sentuhan internasional cuisine. Harga untuk sushi biasa IDR 14.500. Yang lainnya bervariasi, paling mahal untuk menu sashimi, ada yang sampe IDR 750.000. Waktu di Jepang, saya and the genk suka ke Sushi bar yang semua JPY 105. Duduk depan rel sushi sambil liat-liat sushi mana yang mau dimakan. Kalo di Sushi Tei, liat menu dan pesen satu-satu. tsumaranai~ Tapi untuk ocha-nya all you can drink, free.

Entah berapa macem menu yang dipesen, cukup banyak.
sushiii
Dari saya sih pesen satu menu; spicy salmon roll. The Queen of Sushi Tei @corryindria yang casciscus pesen ini itu. Dari semua menu yang dipesen, saya paling suka salmon sashimi-nya. Sweet and cold.
salmon sashimi

Sambil makan, sambil ngobrol, sambil foto, diketahuilah bahwa kami adalah anak pertama yang adik-adiknya perempuan semua. Umur kami sama, kelahiran 1987, kecuali @dipharoanna yang 1988. Aktivitas kami sama, a career ladies; saya dan @dalulia di Panasonic Lighting, @corryindria di Unilever Logistic, @dipharoanna di Merpati Airlines. Dan, you bet, status kami yang sama, single ladies, topik bahasan kami juga ga jauh-jauh dari marriage thing.

Sebenernya kami sih sekarang santay aja. Ya mau gimana lagi, emang belum saatnya. Cuman orang-orang sekitaran kami yang ga nyantei. Berisik banget nanya “udah punya calon?” atau “kapan nikah?”. @corryindria nanya ke saya, “kamu ga galau?”. Soalnya lingkungan keluarga dan kantor dia suka kepo aja masalah ginian yang bikin dia resah gelisah. Of course lah saya (pernah) galau, sampe tingkat akut. Dimana hampir semua kawan deket saya dulu udah nikah, tinggal tersisa saya. Tapi daripada capek sendiri maksa-maksa pengen cepet nikah yang tak kunjung ada lamaran juga, jadinya let it flow aja. Rezeki juga di tempat kerja sekarang bisa ketemu temen-temen yang asik, sehobi, dan senasib. Ah, kalo bahasnya ini-ini lagi sih bisa panjang banget sama curhatan. Intinya, our turn will come, at perfect time, with perfect person. Just keep trying and praying. Well, although recently for that parts I’m not persist anymore.

Abis makan, kami muter-muter mall. hasil invasi-nya, @dalulia dapet 2 pasang sepatu cantik (buat dirinya), @corryindria dapet sprei cantik (buat kado nikah temennya) dan dasi cakep (buat kado sidang gebetannya), @dipharoanna dapet ngecengnya (dia lagi berhemat). Saya lagi butuh sepatu pengganti untuk ke kantor karena si konvers udah sangat bulukan. 3 tahun saya injak-injak, semenjak di Jepang sampai Pasuruan, sampe lecet sana-sini tapi tetep kuat menemani, sepertinya harus dipensiunkan.
old converse
Toko wajib yang harus saya masuki kalo ke Mall itu adalah sports station. Pas banget lagi ada Sale Back To School. Saya juga ikutan Back to Work gitu yaa, hihi. And I got this white casual Reebok shoes elegantly on display, sale for 50%. Fufufu, I want that! Sekalian sama tas ranselnya juga, yang emang saya butuh banget.
new reebok

Dimana-mana wanita itu harusnya masuk ke toko sepatu atau butik yang emang buat wanita! kayak payless, mango, zara, atau other classy boutiques, at least metro. Tapi saya kurang tertarik dengan branded item macem gituan. Lebih excited kalo cari sepatu dan tas di sports station, dengan merk Adidas, Nike, Reebok, Converse, atau sepatu kanvasnya TOMS. Padahal harganya sih mepet-mepet sama juga. Untuk baju yang standar aja deh, di Matahari dept.store atau sekalian pasar baru. Tapi yaa baiklah, mungkin seharusnya saya lebih wanita lagi. Karena cepat atau lambat saya perlu itu sepatu-sepatu cantik berheels, minimal wedges laah.

Jalan-jalannya ditutup dengan dessert Singapore ice cream a.k.a es kempit. Es krim yang ditangkup roti tawar. Ini sih macem es nong-nong yang pake roti, biasa nongkrong di depan TK Aisyiyah atau pasar jumat Salman, malah rasanya lebih enak. Sambil nikmatin es krim almond chocolate, saya perhatiin orang-orang yang berlalu lalang di Mall. Seperti biasa, kebanyakan chinese dengan glamour looks-nya. Kalo di mall beginian, saya suka mikir untuk apa sih ngabisin duit di toko-toko branded, berlalu-lalang dengan fashion dan make up yang heboh, duniawi things. Sepertinya saya ga cocok. Dengan style dan lidah kampung gini, ke mall cukup sesekali aja buat apdet kondisi borjuis udah segimana kondisinya sekarang dan inovasi kuliner baru, ahaha. Saya back to nature aja. Ngeceng alam pegunungan atau nongkrong di pantai.

Jam 8 malem saya dianter ke rumah MbaIv buat nginep semalem. Nemenin dia nge-Foxcrime karena orang-orang rumahnya pada ga ada. Bertiga yang lain masih lanjut hengot di warung makan temen kuliah mereka. Over all, it was glad and fun to hang around with them. Wanita-wanita yang super asik dan gokil. thank you girls 🙂

the ladies
This picture was taken when we’re watching Maliq & d’Essentials performed in ITS.
left-right: Sorry mbem (@dipharoanna), your pic was been cropped :p
Mbakdhi, Nane, Saya, Luli (@dalulia), dan emak kori (@corryindria)

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, jalan-jalan, kawan-kawan, kota, makan-makan, resto, saya

JOGYES! (2) Pantai Indrayati, Angkringan Malioboro

(masih) Sabtu, 22 Juni 2013
Perjalanan ke Pantai Indrayati sekitar 1.5 jam.
Pokoknya ngejar sunset banget deh. Dan sepanjang jalan menuju Pantai itu ternyata banyak Pantai-pantai lainnya, dengan nama masing-masing.
Tapi kami maunya ke Indrayati, jadi walau ada di ujung dan relatif jauh, tetep dijabanin.

Sampai di Indrayati, pas lagi mau sunset.
Langit masih lumayan bagus, walau ada mendung-mendungnya.
Tapi bisa puas foto-foto di pantai sambil nunggu ikan bandeng laut bakarnya siap santap.
Saatnya bernarsis ria dengan background pantai \(^^\)(/^^)/
IMG_6616

IMG_6640

IMG_6646

_DSC0148

_DSC0195

_DSC0215

_DSC0185

_DSC0269

_DSC0172

Puas foto-foto dengan berbagai pose narsis dan terbang.
Akhirnya ikan bakar yang kami pesan mateng juga, siap santap dengan minum air kelapa muda.
Best pokoknya. Makan di pinggir pantai, backsound air laut, background langit sunset keemasan, dan teman-teman menyenangkan.
IMG_6664

IMG_6668

IMG_6663

Selesai makan, jam 6 langit udah mulai gelap juga, kami siap-siap kembali ke Jogja kota.
Jadwal masih padat, karena kami masih ingin eksplor malioboro dan nyoba kopi joss di angkringan sebelah stasiun Tugu.
Tapi ternyata, perjalanan dari pantai Indrayati ke Malioboro itu bisa sampai 4 jam!
Sang supir yang tau harapan kami, melajukan mobilnya dengan kencang, libas kanan kiri, hantam depan, terus maju.
Akhirnya bisa korting 2,5 jam sampai penginapan.
Kami turunin barang-barang, karena mobil disewa untuk sehari aja, lalu kami masuk mobil lagi untuk nebeng ikut ke Malioboro.

Berada di Malioboro pada malam minggu itu bukan pilihan yang tepat juga, karena saya ga suka berada di keramaian yang sangat ramai.
Tapi saya harus beli celana panjang dan kaos tangan panjang untuk tidur.
Soalnya saya ga bawa baju tidur. dan siap-siap kalau harus share sekamar sama cowo (hiiy).
Lumayan juga malioboro di keramaian, banyak yang pentas musik dan kesenian lainnya.
_DSC0312

_DSC0309

_DSC0295

Udah puas menyusuri Malioboro di malam hari dari ujung stasiun sampai ujung keraton,
kami balik arah lagi menuju arah stasiun karena mau nyoba angkringannya.
Kopi Joss! itulah tujuan utama kami.
Buat saya sih penasaran banget kopi yang pake arang panas ini. Secara penggemar kopi, kayaknya ga afdol kalo ke Jogja tapi ga coba kopi joss yang terkenal itu.
Jadilah kami melewati waktu sampai lewat tengah malam, ngobrol-ngobrol ditemani kopi joss, nasi kucing, kacang gurih, gorengan, dan sate-satean (sate telur puyuh, sate usus, sate kerang).
Beserta khalayak umum lainnya yang memenuhi trotoar sepanjang jalan stasiun.
_DSC0324

_DSC0330

IMG_6675

Entah jam berapa, setelah selesai makan, kami akhirnya memutuskan untuk balik penginapan.
Kami tetep harus jalan kaki, yang jaraknya lumayan, karena udah ga ada angkutan umum dan males naik becak.
Nikmatin aja. menyusuri jalan Yogyakarta di malam hari.
Hingga sampai di penginapan, kami mengusir para pria untuk keluar selagi kami bersih-bersih dan bersiap tidur, huehue.
Dan untungnya emang para pria itu mau cari mie goreng dan terang bulan a.k.a martabak manis buat cemilan. (tapi terang bulannya ga dapet,huhu)

Pokoknya baru pukul 01.30an saya mencoba untuk tidur, yang mana ga bisa tidur aja sampai subuh tiba.

Minggu, 23 Juni 2013
Hari ini dimulai dengan mencari House of Raminten untuk sarapan.
Dengan semangat berjalan kaki, ala backpack bule banget pokoknya, kami jalan hingga ke kota baru dan ke tempat House of Raminten.
Tempat ini terkenal dengan interior bergaya tradisional dan pelayannya yang pake baju tradisional juga.
Buka 24 jam bo! dengan menu makanan tradisional dan harga yang relatif murah.
Overall boleh juga laah, makanan dan minumannya enak.
Apalagi yang pesen ukuran jumbo, memang ga menipu.
IMG_6679

IMG_6690

IMG_6697

IMG_6698

IMG_6699

IMG_6706

_DSC0337

keasikan di House of Raminten yang cozy dan ada yang pesen makanan berkali-kali,
ga kerasa udah siang aja. Padahal jam 1 kami harus check out.
Jadinya kami buru-buru jalan ke arah Malioboro, untuk ke pasar Beringharjo beli oleh-oleh batik (bagi yang mau).
Saya sih ga ada yang mau dibeli juga, jadinya beli sekedarnya untuk oleh-oleh temen kantor, c babeh bos, dan titipan teman.

Menjelang jam 1, kami berkumpul di penginapan untuk check out.
Jadwal kereta kami masih jam 16.15, akhirnya selagi menunggu itu, ada yang ke Bakpia 25 dulu untuk beli oleh-oleh.
Lalu sekalian jalan menuju stasiun, kami singgah makan siang.

Sampai di stasiun, duduk-duduk sebentar sambil ngeskrim, ga lama kereta tujuan Surabaya pun udah dateng.
Kami langsung menuju kereta dan duduk dengan manis di seat kami.
Jadwal sampe di Stasiun Gubeng, Surabaya, jam 21.15 (estimasi 6 jam perjalanan)
IMG_6711

IMG_6714(
(yang ngikut backpack Jogyes! Made, Pakdj, Mbakdhi, MbaIv, Nane)

Sampai di Surabaya on time, kami menunggu mobil jemputan. travel menuju Bangil.
Dan perjalana di surabaya diakhiri dengan makan malam di nasi goreng/mie goreng langganannya Mbakdhi.
Huaaa, berakhir sudah cerita kami di Jogja kali ini.
Masih pengen jalan-jalan lagi bareng temen-temen iniii
>.<

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, kota, pantai

Finally, Family Holiday (1) – Surabaya

Hari Kamis-Minggu, 9-12 Mei 2013, akhirnya semua keluarga inti saya bisa berkunjung ke tempat saya berdomisili sekarang.
Sekalian karena mereka belum pernah ke daerah Jawa Timur, dan daripada saya yang pulang bisa beresiko ga balik Bangil lagi, lebih baik ajak ortu dan adik2 semua main kesini.

Kamis, 9 Mei 2013
Hari pertama, ayah, mamah, dan kedua adik saya sampai di Bandara Juanda, Surabaya pada pagi hari jam setengah 8an.
Setelah berkangen-kangen sebentar, kami langsung jalan-jalan muter-muter Surabaya dengan mobil rental yang udah disewa selama keluarga saya berlibur kesini.
Tujuan pertama, Mesjid Agung Surabaya. Sambil cari spot untuk sarapan yang sengaja dibawa dari Bandung.
Menu sarapannya itu menu-menu anek ayam dari tempat makan yang dibuat sama adik pertama saya. Setelah resign kerja di Jakarta, dia kapok ga mau kerja kantoran lagi, akhirnya demi bertahan hidup, dia bikin bisnis rumah makan yang lokasinya di garasi depan rumah.

Setelah sarapan menu rumah makan adik saya, kami muter-muter mesjid agung sebentar sambil foto-foto.
Ga sah dong klo udah ke Surabaya tapi ga foto depan patung Suro dan Boyo yang jadi ikon kota ini. Jadinya kami lewat ikon tersebut dan foto-foto heboh dulu.
Setelah itu kami meneruskan perjalanan ke arah Jembatan Suramadu. Karena ayah saya pengen banget ngelewatin itu jembatan. Buat sekalian nunjukin ke temen-temennya kalo ayah udah officially ke Surabaya dan nyebrang Suramadu. Lewat jembatan ini dikenakan biaya Rp 30.000 untuk sekali lewat. Jadi bolak-balik bayar Rp 60.000.
Di tengah jalan deket Taman Bungkul, kami berhenti sebentar untuk beli rujak manis-nya. Yang beda, kalau di Surabaya, rujak manis itu ditambah tahu sumedang. Dan biasanya sih campuran bumbunya pake petis juga. Harganya Rp 10.000, dengan isi yang buanyaaakk.

Siangnya, kami langsung menuju House of Sampoerna.
tempat yang nyediain tur budaya Surabaya dengan bus khas tersendiri.
Sebelumnya kalau mau ikutan Heritage Tour of Surabaya ini harus daftar dulu di websitenya. Sehari ada 3x perjalanan bus mengitari beberapa spot wisata jadul Surabaya.
Karena yang pagi dan siang udah keabisan tempat, jadinya kami dapet yang jam 3 sore. Tapi dari jam setengah 2 kami udah sampai lokasi.
Ikutan tur ini GRATIS, tinggal daftar aja dulu.
Selain ada bus, di sekitaran tempat House of Sampoerna itu ada Museum Sampoerna (segala tentang sejarah rokok Sampoerna) dan Cafe.
Tempatnya enak dan bagus buat foto-foto.
Selagi nunggu giliran kami naik bus, kami makan siang lontong balap dulu di depan House of Sampoerna. Pertama kali keluarga saya dan saya makan lontong balap dengan lauk sate kerang. Seporsi lontong balap dan seikat kerang isi 10bh, harganya Rp 12.000.

Tibalah jam 3 kurang 10 untuk kami masuk bus dan siap-siap berangkat. Isi bus ternyata penuh juga dengan turis lainnya.
Perjalanan yang didapat muter-muter rute jalan protokol Surabaya, berhenti di Monumen Tugu Pahlawan untuk foto-foto dan PTPN dengan bangunan khas Belandanya banget.
Perjalanan makan waktu satu jam, setelah itu kami kembali ke tempat semula.

Selesai sudah agenda di Surabaya, tapi sebelum ke Bangil tempat istirahat keluarga saya, kami makan Rawon Setan dulu.
Ortu sih suka, karena dagingnya gede-gede dan empuk banget. Harga seporsi rawon dipisah dengan nasi itu Rp 25.000. Bisa tambah telur asin dengan harga Rp 4.000

Setelah makan dan kenyaaang. Kami menuju Bangil.
Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Setelah maghrib kami baru sampai penginapan.
Karena udah kenyang makan segala selama perjalanan, jadinya sampai di penginapan kami langsung istirahat. Harus siap-siap juga untuk perjalanan utama ke Bromo yang jadwal berangkatnya jam setengah 1 dini hari ini.

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, keluarga, kota

Cerita Kopi

Agenda hari sabtu lalu, saya dan Pak Dj udah janjian dengan Mba Iv untuk “menggalau” bersama di salah satu cafe Tunjungan Plaza, Surabaya.
Mba Iv ini anggota keluarga ofis PLI baru. Lulusan S2 Manajemen di Jepang.
Sekarang lagi ditempatin di posisi asistennya Sugegaya san (intrepreter) dan Cak Mat a.k.a Matsumoto san di cost control.
Tinggal di Jepang selama 5 tahun, dengan biaya sendiri.
Makanya selama 5 tahun itu kegiatan dia kuliah dan kerja (baito), salah satu tempat baitonya adalah di Starbucks.
Mba Ivan ini orangnya sangaaaaatttt lincah dan aktif. Hobinya travelling ke tempat alami, seperti naik gunung atau jelajah Pantai.
Seru banget kalau udah cerita. Padahal dari segi umur jauh lebih tua, tapi saya ngerasa jauh lebih muda dia dibanding saya *hiks*.
Karena pernah baito di Starbucks, jadinya sekalian ngopi-ngopi itu kami ingin belajar tentang Kopi.

Dari jam 8 pagi, Pak Dj udah jemput saya di kosan.
Karena memang rencananya kami mau nyari sarapan dulu di Sidoarjo.
Rencananya sih mau nyari sego welut atau kuliner belut, tapi pas lewat tempatnya masih tutup.
Jadinya saya pilih makan salad aja di Pizza Hut. Selain ga pengen kekenyangan sarapan, udah lama banget ga nongkrong di Pizut.
Tapi tetep aja, pas pesen menu sarapan salad, saya tergiur menu pancake oreo Jack-nya.
Jadi saya makan semangkok sereal, sepiring pancake, dan salad. FULL sekali.

Setelah sarapan, duduk-duduk sebentar menikmati suasana kenangan Pizza Hut.
Dulu waktu jaman kuliah, saya sama sahabat saya, linceu, suka pergi makan di Pizut hanya untuk duduk dan ngobrol berjam-jam.
Atau sehabis gajian asisten semesteran, saya dan kawan-kawan asisten Fisika lainnya mendelight di Pizut.
Waktu perpisahan saya mau ke Jepang dulu juga, ngedate sama ceu ur di Pizut.
Atau kalau saya pulang ke Bandung, minta traktiran ke Bang Oki psti di Pizut.
Entah kenapa, suasana di Pizut itu enak banget untuk dijadiin tempat ngobrol lama, padahal mesennya sih menu irit ala mahasiswa aja.

Baiklah, kembali ke topik awal, abis santay-santay sarapan itu, jam 11an kami angkat kaki dan menuju Tunjungan Plaza, Surabaya.
Jalanan Surabaya macet, dan yang ga nahan itu panasnya.
Semakin mengukuhkan saya ga mau berdomisili di Jakarta. gambaran yang mirip dengan Surabaya, bahkan mungkin lebih semrawutan.
Jam setengah 1 siang kami sampai di TP. langsung menuju mushola untuk sholat.
Ternyata Mba Iv udah nunggu di foodcourt.
Abis sholat dan ketemu Mba Ivan, kami ngobrol sebentar sambil mutusin mau makan siang apaan.
Haduuh, padahal perut masih penuh dengan sarapan tadi, tapi kesempatan bisa makan di mall kota itu ga bisa disia-siakan juga (maklum, di dusun Bangil ga ada makanan ‘aneh’ ala kota)

Setelah makan, masih ngobrol-ngobrol yang didominasi seputaran kantor dan kerjaan, sambil menunggu menuju acara ngopi, kami berkunjung ke Gramedia.
Heavenly books! kuat deh lama-lama kalau udah di Gramedia, walalu sekedar ngeceng buku-bukunya dan baca sekedarnya kalau ada buku yang ga disampul.
Belinya sih bisa di Wilis nanti, hihi.

Akhirnya tibalah saatnya kami ngopi.
Cafe yang dipilih adalah Excelso, karena kami belum pernah nyoba kopi ala Excelso yang cukup terkenal enak itu.
Sebelum pesan, saya dan Pak Dj yang awam tentang kopi, minta Mba Iv untuk milihin kopi yang enak.
Dijelasinlah kalau kopi itu bermacam-macam jenisnya sesuai dimana kopi ditanam dan beapa ketinggian perkebunannya dari atas laut.
Semakin tinggi kopi ditanam, semakin baik biji kopi yang dihasilkan.
Perkebunan kopi juga biasanya hanya ada di sepanjang garis katulistiwa. Makanya, kopi Indonesia terkenal juga dengan kenikmatannya.

Kopi yang paling enak, katanya yang berasal dari Kenya.
Kopi Starbucks itu pasti menggunakan jenis Arabica. Karena memiliki rasa bervariasi dan ditanam di ketinggian hingga 2000m.
Prosesnya cukup rumit dibanding kopi jenis lain, sehingga hasilnya juga kopi yang lebih lezat.
Kopi juga berbeda-beda berdasarkan jenis keasamannya (acid).
Misal, Kopi Sumatra lebih rendah asam, sedangkan kopi Jawa cukup asam, dan kalau dibiarkan lama akan bertambah asamnya.
Ternyata cafe latte, cappucino, dan caramel machiato itu sama aja bahannya.
Yang beda hanya dari ketinggian busa dari susu yang paling atas di gelasnya (ngek).

Dari penjelasan dan rekomendasi kopi, saya memilih kopi hitam dari Jawa yang relatif kadar asamnya tinggi.
Sedangkan Pak Dj pilih kopi sumatra yang lebih ramah ke lambung.
Mba Iv sendiri lebih suka latte.
Kalau di cafe khusus profesional kopi gitu, saya lebih suka pesan kopi hitam, semacam espresso.
Lebih enak ke kepala, bisa ngilangin pusing.
Walau cukup penggemar kopi, tapi saya ga pernah ngeh bedanya jenis-jenis kopi yg ada.
Arabica, robusta, sumatera, jawa, dll. Tapi setelah kemarin diicip antara yang Jawa dan Sumatera, ternyata memang beda rasanya.
Saya pernah dikasih kopi Luwak, rasanya lebih lite dibanding kopi lainnya.
Saya paling suka aroma kopi yang keluar dari coffee maker, bikin seger.
Tapi anehnya, kalau saya minum kopi itu ga bikin melek, malah mudah ngantuk.
Kecuali kopi rembah khas Pasuruan sini, kopi hitam yang dicampur cinnamon, jahe, kapulaga, dan rempah lainnya.
Bisa bikin saya minimalisir kantuk di kantor.
Seru juga belajar tentang kopi.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, jalan-jalan, kawan-kawan, kota