Drama Proses KPR (2)

Ternyata belum selesai yaaa drama proses KPR itu. Walau udah ketemu jodoh si Bank Syariahnya, udah akad, udah mulai nyicil juga. Ada satu part yang harus dijelaskan sebagai pertimbangan jaga-jaga kalau mau beli rumah secara KPR.

Yaitu, biaya-biaya KPRnya yang total kira-kira adalah 10% dari jumlah KPR dari Bank. Jadi misal, kalau kita pinjem 400juta ke Bank, nah kena biaya KPR itu ada 40juta. Lumayan kan yeeessss.

Apa aja sih biaya KPR itu? tiap-tiap Bank berbeda komponen dan harganya sih. Tapi in general terdiri dari ini:

  1. Biaya administrasi/provisi Bank
  2. Biaya Notaris
  3. Biaya pajak pembeli (pajak penjual biasanya ditanggung sendiri)
  4. Biaya Asuransi (kebakaran dan jiwa)
  5. Biaya materai (yang jumlahnya bisa sampe 40bh)

Jadi, selain menyediakan biaya DP 20-30% dari harga beli rumah, harus dibudgetkan biaya untuk KPR nya yang sebesar 10% dari harga KPR bank nya yaa.

.

.

.

.

.

Belum selesai.. perlu dibudgetin juga biaya-biaya perbaikan rumah (kalo diperlukan) dan ngisi furnitur rumah yang ga akan ada habisnya, hedeeuuuhhh, huhuhuhu.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Baiti Jannati, cerita-cerita

Drama Proses KPR (1)

Akhirnya, Alhamdulillah, drama mencari jodoh rumah dan proses KPR bisa berlabuh juga. Dan per-1 Mei kami sudah menempati officially rumah sendiri.

Sebelumnya sedikit review dari ikhtiar kami untuk menemukan jodoh kepemilikan rumah di sekitara BSD di cerita ini, yang ujungnya pake baper kesyel banget, akhirnya bisa diobati juga.

Untuk kali ini, pencarian rumah kami yang ketiga kalinya cukup berdebar-debar juga. Minggu sebelumnya kami muter-muter lagi cari rumah, dan liat-liat di online juga. Ketemu lah rumah yang dari fotonya sih cucok ya. Rapih, ukuran rumah sesuai (LT 72), desain rumahnya juga ok. Janjianlah kami dengan orang agennya untuk liat rumah tersebut. Pas masuk ke rumahnya sih OK sesuai foto. Mana desainnya itu sesuai keinginan kami (posisi pintu dan letak dapur/kamar). Lengkap dengan kanopi dan pgar yang masih bagus juga. Harga juga lumayan lah ya untuk ukuran dan kondisi masih bagus relatif dibawah harga pasaran. Pokoknya kami tinggal masuk aja.

Tapi, kami belum mau terburu-buru. Jadi kami masih mikir selama seminggu. Pas juga minggu berikutnya ortu dari Bandung dateng. Jadi bedol kampung bisa liat rumah tersebut. Janjian lagi lah sama agennya ke rumah tersebut sekaligus ajak Ortu dan sepupu. Mereka waktu liat rumahnya setuju banget. Katanya paling OK dibanding 2 rumah sebelumnya. Yasudah, bismillah, kami meng-iya-kan untuk mau proses rumahnya. Yang beberapa menit kemudian dateng juga agen lain bersama calon pembeli lain, yang katanya naksir si rumah itu juga. Yaudah, daripada keburu sama yang lain, kami beraniin untuk di UTJ (lagi), bismillaahh.. sebenernya masih serem ama UTJ karena 2x kemarin udah hangus, hiks.

Dimulailah usaha kami untuk mengajukan KPR. Kali ini, kami langsung pakai 5 bank syariah; Muamallat, Niaga, Permata, DKI, dan BNI. Begini ceritanya :

  1. Bank Muamallat
    Tentunya kenapa pengen di Muamallat, karena dia kan Bank syariah pertama dan satu2nya yang ga ada konvensionalnya. Ga ada biaya appraisal, dan marginnya relatif masih masuk akal. Tapi sayang, kinerjanya lambat. Udah diajuin dari awal banget, tapi appraisalnya paling akhir. Dan keputusannya juga mepet-mepet. Kalau ga pake sedikit ‘ngancem’ biar bisa akad dengan Muamallat, mungkin akan lama lagi proses keputusannya. Walau, pada akhirnya, Alhamdulillah kami berjodoh dengan Muamallat untuk KPR nya selama 10tahun dengan margin 12.75%.
  2. Bank BNI Syariah
    Sebenernya ga kepikiran untuk ambil BNIS untuk bank calon KPR, karena katanya kan tinggi di marginnya. Tapi karena agen rumah kami ada kenalan orang BNIS dan free of charge appraisal dan administrasi, jadinya ya oke lah silakan, buat jaga2 juga. Secara profesionalitas, saya acungkan jempol buat si BNIS ini. Dari segi kecepatan appraisal dan analisa. Bagusnya, mereka nawarin opsi cicilan dengan kemampuan income kami; ada 15 tahun atau 20 tahun dengan 3 simulasi pembiayaan yang beragam tanpa harus bolak-balik analisa kalau kami mengajukan pembiayaan baru. Lalu, BNIS ini yang pertama kali ada keputusan dan ngeluarin surat offering/SPK. Sayangnya, marginnya tinggi euy (dan kami keukeuh pengen hanya di 10 tahun aja masa cicilannya), walau simulasi cicilannya itu per 2 tahun awal yang ringan, lalu tahun ke 3-5 agak ringan walau meningkat, terakhir tahun ke-6 s,d selesai yang dweng bgt langsung melonjak. Jadi kami hold dulu sampe ada keputusan dari Bank lain yang semoga bisa cepet dengan margin yang lebih rendah.
  3. Bank Niaga Syariah
    Ketika dikenalkan dengan pic nya Bank Niaga, dia pegang konvensional dan syariah (dengan tampilan konvensional). Dan ketika komunikasian sama agennya, dia ga paham tentang syariah. Padahal, margin fix Niaga ini lebih kecil dibanding lainnya. Awalnya kami menolak untuk di Niaga karena ada biaya appraisal yang cukup tinggi (Rp 1 juta, yang lain mah Rp 500 rb juga cukup) dan pic nya yang menurut kami ga paham konsep syariah (keukeuh nawarinnya yang rate floating setelah Fix 3 atau 5 tahun). Tapi karena untuk pembanding dengan BNI Syariah, jadinya kami putusin untuk coba di Niaga yang pake Fix 10 tahun di margin 11.75%.Udah bayar tuh di biaya appraisal 1 jt, dan dilanjut appraisal, lalu analisa KPR. Sampe kami di sampeurin langsung ke kantor di Jakarta untuk ambil berkas2 loh sama si pic-nya. Yang berujung keputusannya adalah kami lolos KPR, tapi fix 5 thn dan selanjutnya ikut floating SBIS+3,5% per tahunnya. Laah, kami kan menghindari di floating ini karena ga jelas akadnya. Mau ngajuin yang fix 10 tahun, katanya butuh 2 minggu lagi untuk menganalisa kalau mau ganti ke fix 10 tahun. Lah, kita udh mepet ya perjanjiannya. Yowes, tetot! hangus lagi 1 juta biaya appraisalnya…
  4. Bank DKI Syariah
    Kami bela-belain dateng langsung ke kantornya nih di Melati Mas. Sampe cuti setengah hari. Untuk tau prosedur KPR di DKI Syariah tuh gimana sih, karena ga bisa lewat telfon (we’ve tried). Dan karena ada rumor, margin DKI Syariah itu lagi promo, jadi relatif lebih rendah. 2 tahun awal sekitar 9,5%, lalu tahun ke 3-10 di 12.50%. Emang sih pas dikasih tau simulasinya untuk 10 tahun sedikit lebih rendah dibanding Bank syariah lain. Tapi mereka ga bisa janjiin bisa kasih keputusan dengan cepat karena katanya lagi ada perubahan struktur internal di DKI Syariah.
    Kami sudah OK nih mau coba di DKI Syariah, udah siap kalo mau appraisal juga ( ada biaya 500rb), tapi ga ada further response dari DKI Syariah. Karena pas ditanya, “gimana kalau kami lama keputusannya?” ya kami jawan jujur dong kalau kami ada ke Bank syariah lainnya juga. Jadi ya cepet-cepetan aja mana yang duluan. Udah deh, DKI Syariah dengan sendirinya mundur.. haish..
  5.  Bank Permata Syariah
    Ini mah dari awal komunikasian dibilang sama pic nya sendiri kalau Permata Syariah itu ga syariah-syariah banget. lah.. Mereka hanya ada di fix 5 tahun awal, selanjutnya ikut floating SBIS+4%an. Yaa tapi, kalau dari awal aja udah dipastikan syariahnya bukan syariah, ya kami mundur pilih si Permata ini. Walau mereka sempet keukeuh offer simulasi pembiayaan ringan tapi ga bisa kasih yang fix 10 tahun. yowes.

Begitulah lika-liku drama per-KPR-an kami untuk bisa bertemu dengan di Jodoh rumah. Dengan menguras rekening (total biaya ‘pengalaman’ sekitaran 11juta), waktu, dan tenaga. Tapi, insyaAllah in the end dapat yang terbaik. Rumahnya yang terbaik, lokasinya, tetangga2nya.. Alhamdulillah..

Tinggal menyicilnya saja, hohohoho.. bismillah, semoga Allah SWT selalu memudahkan kami untuk membayar hutang hingga disegerakan untuk tidak ada hutang lagi.

2 Comments

Filed under cerita-cerita

Sepulang kerja

Sepulang kerja beberapa hari lalu, seperti biasa saya akan menuju stasiun Tanah Abang dari stasiun Sudirman. Sesampainya di Tanah Abang, dari kejauhan peron sebrang arah Serpong udah bertumpuk orang. Alamat nih si KRL telat.. dan emang bener.. KRL peron 5 yang harusnya udah berangkat dari jam 5:25 sore, malah belum dateng -,- KRL di peron 6 masih ada dan udah penuh dengan orang.

Tapi, mempertimbangkan waktu sholat maghrib, kalau nunggu di peron 5, tetep ga akan kebagian duduk juga karena orang-orang udah berjejalan di line pertama. Bisa aja nunggu di peron 6 kedatangan KRL yang baru, tapi bakalan sore banget. Nyampe rawa buntu curiganya ga akan keburu maghrib. Yasudah, walau udah rapet2 orang, maksain diri masuk ke KRL yang masih standby di peron 6. Terjepitlah diantara para pekerja lainnya yang keliatannya berasal dari Tanah Abang. Ga lama KRL pun berangkat.

Enaknya kejepit gitu, ga usah pegang handle atas, udah ‘ajeg’ sendiri. Bisa sambil ngutek hape, bahkan memejamkan mata. Ditambah, KRL sampai di Palmerah dan Kebayoran, orang-orang makin maksa masuk. Makin jadi penyet juga lah awak ini di tengah-tengah lautan orang.

Makin lama, kerasa badan makin rontok. Ditambah bawa tas ransel hadap depan yang berisikan ice gel beserta ASIP untuk Liva, dan perintilan bejibun khas emak2. Punggung ini makin lama makin pegel.. tapi tetep harus bertahan dong. Menikmati setiap jalannya KRL melewati stasiun-stasiun.. hingga sampai di Rawa Buntu. Selama di perjalanan, saya ngobrol di otak saya sendiri..

Begitu keluar KRL, masih banyak orang-orang di dalam KRL yang masih jauh tujuan utamanya. Saya berjalan diluar sambil lihat-lihat orang-orang tersebut. Semua sama, muka lelah. Saya berpikir, mereka berlelah-lelah untuk bekerja demi apapun alasan mereka. Harusnya kalau yang laki-laki sudah berkeluarga, mereka mencari nafkah sebagai kewajiban. Saya juga berpikir, alangkah indahnya kalau lelah2 ini bisa dijadikan pahala. Lalu saya berpikir, sebenernya saya ini, sebagai wanita, karena bukan kewajiban mencari nafkah, jadinya hanya menuh-menuhin KRL aja sih. Tapi ya wanita pun banyak yang bergelantungan di KRL, dengan whatever their reasons. Banyak juga yang sambil bawa gembolan tas ASIP. Banyak juga yang hamil (tapi klo hamil mah bisa dapet duduk, lah kita yang bawa ASIP, alasannya apa? padahal kan berat juga). Banyak juga yang usianya jauh diatas saya.. Tapi, semoga saya ga harus berlama-lama jadi anggota rombongan kereta..

Dengan badan udah rontok, dengan berjalan lunglai saya menuju mesjid untuk sholat maghrib. Sebenernya saya letiihh sekali, tapi belum ada makanan untuk MPASI Liva besoknya. Jadi saya mampir beli buah-buahan dulu. Bertambah beratlah gembolan saya, bertambah remuklah punggung badan saya..

Setelah saya order ojol, duduk di motornya pun rasanya ingin pingsan aja. Ga kuat punggung dan badan ini untuk tetap tegak duduk dengan tas di belakang. Jadi duduk dengan gelisah karena badan beneran berasa potong-potong. Selama perjalanan itu, saya sebagai emak, takjub juga dengan diri sendiri, hahahaha. Dan bukan saya aja, saya paham banyak juga ibu-ibu yang nasibnya sama, even worst maybe.. Tapi ya dinikmati toh. Tapi rasanya saya mau langsung ke IGD aja setelah membayangkan sesampainya di rumah, saya masih harus main monster-monsteran sama Miza dan nenenin Liva yang udah mulai gigit2 puting (lecet lagi cyiinn).

Tapi, bagaimanapun, all iz well. Semua akan berlalu tanpa terasa. lelah dan letihnya kita sekarang, bakalan dengan mudahnya dilupakan di masa mendatang. Mungkin setelah sudah bisa pensiun dini, setelah anak-anak besar, setelah tinggal memanjakan diri (untuk memanjakan suami, hihi). Untuk itu, ya semuanya harus dinikmati.. mau gimana lagi.

Saya jadi berpikir sama anak-anak yang durhaka sama emaknya. Kurang ajar beneerr itu anak yak. Udah mah mengandung kepayahan, melahirkan menyakitkan, menyusui lecet2, kerja berlelah-lelah (kerja sebagai pekerja kantor atau irt, sama aja capeknya!). Pantes aja emaknya Malin Kundang ngutuk sampe jadi batu.. mungkin saya juga bakalan keras ke anak-anak kalau mereka berlebihan yang negatif (amit-amit ya Allah jangan sampe), walau insyaAllah sih ngutuknya jadi anak sholeh/sholehah aja. Tapi saya ga akan manjain anak-anak dengan memenuhi permintaan mereka yang berlebihan. Jadi kepikiran aja gitu anak-anak di berita yang berani gugat ibunya, atau berani pukul ibunya, atau sampe berani bunuh ibunya. Naudzubillahimindzaliik…

Yaa, alhamdulillah, ga usah nunggu sampe suatu saat nanti anak-anak besar, bisa tidur malem aja, besoknya bangun udah segeran dan siap untuk hadir jadi anggota roker lagi. Dan berulang setiap hari kerja (tapi jadwal KRLnya jangan sering-sering telat dong -,-) Yang pasti, sebisa mungkin setiap pulang kerja saya harus duduk di KRL, kalau tetep masih mau waras…

4 Comments

Filed under Uncategorized

Pengalaman

Pengalaman 5 tahun bekerja semenjak lulus kuliah (yang selalu) di perusahaan Jepang, belum membuat saya memiliki wawasan 2 ragam kultur kerja. Walau udah 3x pindah perusahaan, tapi karena masih sama-sama berlatar kultur Jepang-Indonesia, jadinya ya sama aja.

Tapi, di perusahaan yang sekarang, ada campuran juga dengan kultur Singapura karena kantor kami di Jakarta masih di bawah perusahaan Singapura (parent company still in Japan sih).

Kultur Jepang itu menurut saya masih mirip dengan kultur budaya Indonesia yang mementingkan kesopanan. Kalau manggil nama itu masih pake Pak/Bu/Mbak/Mas, sama dengan Jepang yang manggil nama dilanjut San/Kun/Chan. Kayaknya masih agak risih manggil nama doang ke temen se-kantor yang garis hirarki kerjanya masih tegas, alias belum sobatan banget.

Yaa, kalau saya sih sama temen-temen lokal di kantor, karena udah asik-asik aja, jadi santai manggil nama doang ke yang lebih muda atau sepantaran. Ke yang lebih senior, kalau cowok panggil ‘Pak’, kalau cewek panggil ‘Teh/Mbak/Bu’, tapi tetep ber-gue-elu-an.

Nah, sekarang, kalau komunikasian sama orang Singapura nya, karena mereka juga kalau manggil pake nama doang, jadinya saya juga ga terlalu harus sungkan manggil nama doang ke mereka juga. Walau, kalau sama orang Jepang yang di Singapura, masih tetep pake embel-embel itu. Mungkin kalau kerja di perusahaan base-nya non-Jepang (amrik atau yurop) santai aja kali ya manggil-manggil nama doang walau ke atasan juga.

Tentunya yang kentara jelas adalah di peraturan waktu kerja. Kalau Jepang kan harus sesuai jadwal kerja banget, ngikutin rules banget. Kalau perusahaan amrik/yurop (setau saya dari temen yang kerja di perusahaan amrik), waktu kerjanya fleksibel asalkan sehari 8 jam kerja atau seminggu 40 jam kerja. Terserah mau masuk jam berapa, asal pulangnya di sesuaikan aja ama jam masuknya.

Pengen juga kerja di perusahaan non-Jepang, biar makin tau kulturnya. Mana mah ribet pula ya kalau laporan pake bahasa Jepang, yang ujung-ujungnya kalau udah njelimet mah pake bahasa inggris. Masih mending kalau orang Jepangnya bisa ngerti bahasa inggris juga, lah kalau enggak, yang makin repot kan semuanya.

Tapi ya tapi, kalau sok-sok an ada basic bahasa Jepang gini, ujung-ujung terdampar di perusahaan Jepang terus.. hiks.. kapan dong saya bisa apply ke perusahaan non-Jepang? *lah, haha

 

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, kerja

Mengelola Stres

Lagi dibahas di grup buibu yang berbeda tentang introvert, extrovert, dan stress. Udah hal yang wajar banget kayaknya ya kalo Emakmak itu gampang stres dari secuil topik aja, semisal Ibu menyusui ASI vs sufor, Ibu bekerja vs di rumah, yes ART vs no ART, mpasi homemade vs instan, dll. Ah, persoalan mengasuh anak itu selalu jadi bahan obrolan yang ga pernah habis. Udah mah seorang Ibu itu ya, mulai berperan jadi babysitter, direktur, koki, akunting, sekretaris, HRGA, guru privat, cleaning service, ustadzah, dan semua aspek kehidupan keluarga, masih ditambah dengan kerjaan diluar rumah (buat saya sebagai #workingmom sih), ya gimana ga sedikit Emakmak yang sutrisna a.k.a stres. Seperti postingan saya minggu lalu gitu deh.

Ditambah, jaman now, sekalinya masuk ke media sosial, siap2 aja digempur nyinyiran netijen ye. Mau posting baik, kena nyinyir juga, apalagi posting yang ga baik, bisa viral sekalian masuk berita LINE. Seru! hahaha.

Ada yang bisa anaknya totally ga pake dot, silakan.. anak saya pake dot dan sampe skrg masih susah disapihnya. tapi, pelan-pelan tetep di sounding untuk ga pake dot lagi.

Ada yang anaknya umur 2 thn kurang udah berhasil toilet training, alhamdulillah.. anak saya masih pake popok. tapi, pelan-pelan tetep di sounding untuk ga pake popok lagi.

Ada yang Ibunya bisa menyusui full 2 thn, alhamdulillah.. saya ga sampe 20bulan, anaknya udah menyapih diri sendiri. Yo aku kudu piye kalo gini? 

Dan.. banyaakk lagii.. hahaha. Emakmak pasti tau lah beginian mah.

Mostly saya adalah pengamat di grup2 Emakmak. Kadang isinya bisa buat nambah informasi (saya bintangin), kadang bisa buat sekedar hiburan cekakak-cekikik, kadang juga buat elus-elus dada. Buat saya, semua informasi boleh dibaca dan dicerna, tapi ketika implementasi harus sebijak mungkin mengikuti sikon pribadi. Dan in the end, buat saya, hal2 seperti itu bisa buat mengelola stress.

Kok bisa? hahaha.. ya karena ujung2nya saya bikin ketawa aja sih. Kalau mau mendalami di pikiran, ya kenapa ibu2 dengan status ‘IBU’nya (which mean udah punya ANAK ya), tapi masih mempersoalkan perbedaan yang ga bisa ada persamaannya gitu. Udah gitu, yang bisa bikin makin ngakak, kalo udah ngotot sama pendapatnya, berasa paling bener gitu. Hellooowww.. Allah itu menciptakan manusia ga ada satu pun yang sama, baik fisik maupun pikiran. Itu neuron2 di otak bermilyar-milyar, satu aja yang beda transmisi, ya beda pemikiran. Balik lagi, selama kita ga dzholim ke yang lain (terutama ke anak dan keluarga), imho feel free untuk selalu berpikiran positif terhadap apapun yang kita kerjakan. Jadi kayak dagelan aja gitu kalau menyimak bahasan Emakmak, lumayan buat penghilang stres.

Kecuali, untuk hal2 yang jelas emang kebangetan. Seperti, KDRT terhadap anak-anak. Hiks, sedih banget baca berita baby Calista.. sekali doang saya baca beritanya, ga mau ngikutin lagi berita2 selanjutnya. Udah pengen nangis rasanya. Kok ya tega amat itu Ibunya. dan saya tau mungkin masih banyak juga anak2 kecil disana yang tidak mendapatkan hak dan perlindungan selayaknya untuk anak2. Ini saya mengutuk sekali orangtuanya!! Walau, di lain sisi, insyaAllah baby Calista udah bermain senang di Surga.

Anw, balik ke awal paragraf tentang introvert dan extrovert. Seingat saya, sampai sebelum saya menikah, saya adalah introvert akut yang mana sedikit ada hal yg mengganjal pikiran, bisa bikin stres luar biasa. Sering banget saya ga bisa tidur bermalam-malam hanya karena ada sesuatu yang dipikirin banget (misal, ya kok belum nikah juga padahal ada aja tuh laki2 yang suka #cieee, wakakakakak) atau naik gunung lebih jadi opsi salah satu sarana saya yang introvert untuk bisa melepas stres. Selagi mendaki gunung, saya hanya akan diam dan berpikir, tau-tau udah sampe tujuan. That’s why, dulu saya suka sekali naik gunung dan kemping atau lari. Karena dengan capek berkeringat itu malah bikin release stress (sekarang mah udah paling juara olahraga di dalam mimpi aja deh, hihihi).

Mungkin dari banyaknya pengalaman masa lalu saya yang introvert dan suka stres sendiri sama hal yang kecil, lalu setelah itu banyaknya pengalaman pindah-pindah tempat (jawa timur, cikarang, jakarta), berinteraksi dengan berbagai macam orang, dan akhirnya menikah, lebih banyak membuat saya jadi ekstrovert. Saya lebih bisa berekspresi untuk sesuatu hal dan menganggap hal remeh temeh itu ya adalah hal remeh temeh, literally. Kayak remahan regginang yang tinggal di-gado makan seujung gigi doang. Lebih santai dan menganggap hal-hal yang ga krusial/prinsipil itu adalah dagelan hidup. Saya lebih berani bertemu dengan orang baru. Lebih berani untuk ‘menjual’ kemampuan diri. Berasa memang Allah menyiapkan saya untuk menikah dan jadi Ibu itu memang setelah saya ‘siap’ dan sudah makin dewasa. Walau masih belum maksimal dalam mendidik anak-anak sendiri ;(

Intinya mah ya dari isi blog ini yang sepertinya topiknya loncat2 adalah sekarang saya lebih bisa mengelola stres, walau terkadang sebagai seorang ibu dan istri biasa, saya masih suka stres juga, cmiiw, hahaha. Tapi karena udah ga pernah naik gunung/lari berkeliling2 sampe bercucuran keringat, cara mengelola stres sekarang adalah ya dengan mencerna topik2 di sekeliling secara dagelan aja, hahahaha. Gitu aja kok dipikirin.

2 Comments

Filed under Uncategorized