Category Archives: sharing

Budaya Cek dan Ricek

Memasuki akhir bulan April lalu, cukup banyak saya terima broadcast bbm atau di grup WA tentang info keutamaan puasa di Bulan Rajab. Isinya seperti ini:
“Bulan Rajab jatuh pada tgl 30 April 2014. Barang siapa puasa 1 hari, maka seperti laksana puasa 1 tahun. Barang siapa puasa 7 hari, maka ditutup pintu-pintu neraka Jahanam. Barang siapa puasa 8 hari, maka dibukakan pintu 8 surga. Barang siapa puasa 10 hari, maka akan dikabulkan segala permintaannya. Barang siapa mengingatkan kepada orang lain, seakan ibadah 80 tahun. Subhanallah”

Bagus ya keutamaannya. Eits, jangan langsung manut percaya dan puasa dengan niat seperti info diatas loh. Seumur-umur saya ini, baru sekarang tau ada ‘keutamaan puasa Rajab’ seperti itu. Lalu saya cek ricek dengan bertanya pada yang (insyaAllah) paham dan cari juga referensi di kajian-kajian internet, seperti disini. Ternyata walaupun konteks kalimatnya berunsurkan agama, tapi hal tersebut landasannya dhaif, lemah. Ga ada riwayat shahih yang pernah menyebutkan keutamaan puasa Rajab seperti itu.

Jaman sekarang makin banyak aja hadist-hadist-an yang tiba-tiba muncul. Kadang sebagai orang Islam, langsung percaya dan ngelakuin yang diinfokan tersebut. Padahal penting untuk sebelumnya dicek-ricek sumbernya shahih/benar atau tidak. Bukan untuk hal yang tentang agama aja, tapi apa pun info atau berita yang di dapat, lebih baik tetep dikumpulin infonya dari berbagai sumber; kalau kata dia kultur mengecek referensi. Agar ga asal-asalan ngikut tanpa paham sebenernya apa sih yang lagi dilakuin. Lebih bahaya lagi, ikut-ikutan ngebroadcast dan jadi agen hal-hal yang bid’ah (mengada-adakan perbuatan dalam agama). Saya sih taunya kalau ajaran-ajaran Rasulullah ga pernah ada yang memberatkan. Jadi kalau sekiranya ada yang mengatasnamakan ‘sunnah’ tapi kok ribet dan ngeyel, harus ditelusuri dulu kebenarannya.

Mending ikut yang udah jelas keshahihan hadistnya tentang shaum-shaum Sunnah, seperti sumber dari sini:
1. Puasa Senin – Kamis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).

2. Puasa Ayyamul bidh
Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan).
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)

3. Puasa Daud
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

4. Puasa 6 hari di Bulan Syawal
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

5. Puasa Arofah
Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

6. Puasa Assyura
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”
Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

7. Puasa di awal bulan Dzulhijjah
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih). Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.

Itu sih yang saya pahami tentang puasa-puasa sunnah. Kalau Shaum Ramadhan mah WAJIB atuh ya.. ada langsung di Al-Quran (QS. Al-Baqarah : 183-185). *Speaking about shaum sunnah, sebenernya niat saya masuk awal tahun 2014 ini adalah merutinkan kembali puasa senin – kamis, seperti jaman kuliah dulu. Tapi pada kenyataannya, belum bisa aja, heuheuheu.

Memasuki bulan Rajab, artinya tinggal 2 bulan lagi menuju bulan Istimewa dan Suci Ramadhan. Mengingatkan diri untuk meningkatkan ibadah, terutama puasa sunnah, sebagai latihan ketika masuk bulan Ramadhan sudah terbiasa dan bisa lebih maksimal lagi. Semoga disampaikan hingga bulan Ramadhan ini. Aamin.

Leave a comment

Filed under sharing

Menumbuhkan Harapan

Si bos kecil lagi rajin dateng apél dan memimpin apél. Seperti tadi pagi, wejangan yang diberikan adalah tentang ‘Bagaimana Menumbuhkan Harapan’, khususnya bagi para lansia. Identiknya kalo udah lanjut usia itu hanya termenung seperti tanpa harapan, tinggal menunggu dipanggil Sang Pemilik Hidup. Katanya hal ini juga untuk tips memperpanjang usia (walau usia mah udah ditentukan batasnya ya). Tipsnya adalah dengan bercocok tanam.

Dari aktivitas bercocok tanam, pertama kita akan menanam benih. Lalu harus mengurusnya dengan menyiram dan memberi pupuk. Kita akan dibuat penasaran akan tumbuh bagaimana benih tersebut. Rasa penasaran dan ketertarikan untuk mengurus si tanaman setiap harinya, menjadi salah satu terapi untuk menumbuhkan harapan dan semangat hidup, karena kita akan tidak sabar menanti hari esok melihat perkembangan sang benih.

Bener sih.. semangat hidup itu akan ada kalau ada harapan yang ingin dicapai. Harapan terhadap apapun atau siapapun. Misal untuk anak-anak, menumbuhkan semangat untuk sekolah dengan menerapkan sistem pengajaran yang menyenangkan dan temen-temen yang asik. Untuk orangtua, harapan untuk melihat anak-anaknya tumbuh besar dan dewasa. Harapan untuk ngerjain suatu proyek hingga tuntas, nyelesain skripsi, bertemu dengan seseorang, nonton acara kesukaan, dan harapan/rencana esok hari lainnya. Tentu aja, harapan yang wajar, ga berlebihan sampe bikin terlalu kecewa kalau harapan itu ga bisa terwujud.

Saya sendiri selalu ada harapan untuk esok hari. Misal, menu makan siang besok di kantin adalah gado-gado kesukaan, jadi ga sabar untuk cepet-cepet besok siang. Atau baru hari senin, udah berharap segera Jumat, biar bisa pulang ke Bandung. Bahkan baru awal Mei aja udah ga sabar ingin akhir Mei, karena sepupu saya mau nikah dan dapet libur panjaaang dari kantor yang berencana (insyaAllah) dipake untuk jalan-jalan ke Jawa Tengah. Atau baru juga gajian bulan ini, udah mikir gajian bulan depan mau dipake apa aja, mwehehehe.

*Asal jangan menjadi pemberi harapan kosong aja ke orang lain…

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, sharing

Kisah Jumat Dan Tema Keputrian

Udah lama nih saya ga berkisah di hari Jumat. Biasanya kalau udah Jumat, saya akan menceritakan kejadian-kejadian yang dialamin. Kenapa Jumat? udah sering saya sebutin, kalau Jumat (apalagi kalau hujan) itu adalah salah satu terfavorit saya. Karena keberkahannya berdobel-dobel lipat. Dan biasanya di hari Jumat pun saya suka dapat banyak hikmah sebagai pengingat diri.

Kisah Jumat kali ini, dimulai dari pagi hari saya beraktivitas di kantor. Biasanya, kalau saya ga ikutan sarapan di kantin, maka saya akan sarapan di pantry setelah apèl pagi. Sarapan praktis aja, roti dan kopi susu. Sama temen-temen yang suka sarapan di pantry juga, sarapan saya ini tergolong aneh, bukan rotinya, tapi karena susu yang digunakan pada kopi saya adalah susu kedelai. Tiap pagi saya suka beli 1-2 plastik (± 200 ml kali ya) susu kedelai di kantin. Susu kedelainya masih anget dan fresh. Nah, biasanya saya suka sedia kopi instan item (no sugar, no cream). Tiap pagi, saya seduh kopi instan dengan sedikit air panas, lalu saya campur susu kedelai. Jadilah kopi susu (kedelai). Menurut saya sih oke aja rasanya, tapi temen-temen yang liat malah mengernyit aneh.

Siangnya, ketika saya makan bareng di kantin sama temen-temen, mereka aneh juga. Kali ini karena cara makan saya yang mencampur semua lauk jadi satu. Emang saya suka campur sayur, lauk, dan nasi jadi satu. Biar ga ribet harus ambil satu-satu; nasi dulu, baru pilih lauk 1, ambil lauk 2, lalu sayurnya. Kalau modelnya nasi campur gitu, ya sekalian aja dicampur semuanya. Jadi dalam satu sendok udah semua ada 😀 Tapi ada temen yang liat malah kayak jijik ;( ditanya, “kamu beneran mau makan kayak gitu? kirain saya itu untuk dibuang”. Padahal kan di dalam perut semua makanan akan bercampur juga. Biarlah.. saya memang ga mainstream tuh :p

Setelah makan siang, saya dateng ke kajian keputrian yang diadain rutin setiap Jumat siang, dengan mengundang Ustadzah-ustadzah. Biasanya beberapa Jumat lalu, saya selalu datang telat. Ditengah-tengah ulasan baru dateng, karena kelamaan makan dan ngobrol di kantin. Untuk Jumat ini saya dateng on time ketika kajian dibuka. Karena pas makan, bareng sama ibu yang jadi kordinator keputriannya sih, ehehe. Hnah, pas sampai di Training Room, tempat kajian biasanya, karena baru dibuka sekalian dikasih tau tema kajian siang ini. Guess What? temanya: Persiapan Menikah. Saya dan temen-temen yang belum nikah langsung nyengir-nyengir (karena dikisruhin sama ibu-ibunya juga siih). Berikut notulensinya (disimak yaa mbakbro-mbakbro, hihi):

Bercita-citalah untuk menikah. Karena itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Ketika bercita-cita untuk menikah, harus dilandasi hal-hal berikut:
1. Niat. Ketika menikah, bukan karena dasar suka sama suka. Tapi karena dasar ingin beribadah. Jadi, luruskan niat agar dari awal berkah jalannya. Bercita-citalah yang baik, dengan memohon yang terbaik. Menikah bukan sekedar status, tapi akan membangun peradaban islam dengan generasi penerus yang sholeh-sholehah.
2. Setelah dari niat, gambarkan ingin pasangan seperti apa dan membangun keluarga yang bagaimana. Ga ada salahnya kita punya kriteria. Ingin yang fisiknya gimana, ingin yang pekerjaannya apa, ingin nanti punya anak berapa, rumah dimana, kendaraan apa. Pokoknya coba dibayangkan akan seperti apa nanti pasangan yang akan membangun rumah tangga bersama.
3. Memiliki strategi untuk memilih suami. Sama halnya dengan seorang pria ketika akan memilih istri; dari parasnya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Utamakan dengan memilih agamanya. Begitu juga dengan wanita, pilihlah dari rupanya, kaya-nya, kesehatannya, dan agamanya. Lebih utamakan memilih agamanya. Untuk harta disini, bukan terlihat dari memadainya ia dari rumah, mobil, tabungan. Tetapi, kesiapan ia untuk bekerja dan mampu menafkahi keluarga.
4. Setelah bertemu dengan calon suami, milikilah visi bersama ketika menikah. Visi paling akhir, yaitu ingin kembali berkumpul sekeluarga di surga kelak. Jika memiliki visi akhirat ini, maka segala hal yang dilakukan di dunia akan selalu mendukung pencapaian visi tersebut.
Kecocokan bahasa, kesamaan tingkah laku yang baik, dan keselarasan aktivitas sehari-hari. Suami yang sholeh, tidak akan menyia-nyiakan istrinya. Istri yang sholehah, tidak akan membantah suaminya. Anak-anak yang sholeh-sholehah, tidak akan menyakiti hati orangtuanya. Apapun yang dilakukan di dunia, adalah bertujuan untuk berkumpul kembali di surga nanti.
5. Setelah menikah, desainlah keluarga yang ideal bersama-sama suami. Komunikasikan semuanya, dan capai kesepakatan yang sama-sama bikin nyaman dan bahagia. Lalu ingat, “Istrimu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian baginya” [QS. Al-Baqarah:187] Jadi, haram bagi istri untuk menceritakan aib suaminya pada orang lain, begitupun sebaliknya.
6. Tambahan. Ketaatan istri pada suami menjadi nomor satu, dan ketaatan pada orangtua menjadi setelahnya. Apapun yang orangtua katakan/minta, tetap harus melalui persetujuan suami.
7. Untuk memahami hal-hal diatas, memiliki visi yang baik tersebut, maka perbanyaklah ilmu mengenai menikah dan berumahtangga. Banyak baca, cari pengetahuannya.

Semoga bermanfaat. Dan menjadi pengingat lagi bagi kita agar mempersiapkan diri. Karena Allah masih memberi waktu untuk kita bisa lebih siap menjadi istri dan ibu yang baik di dunia, demi berkumpul kembali di surga nanti. Aamin.

Terima kasih ya Allah, diingatkan lagi melalui kajian Jumat siang ini 🙂

Oke, berlanjut setelah kajian dan sholat dzuhur, masih ada waktu sebelum bel mulai kerja lagi. Lalu saya menuju tempat koran-koran berada, dan mengambil salah satu koran berbahasa Inggris. Bukan sok bisa bahasa Inggris, tapi sekalian untuk belajar kata dan tenses bahasa Inggrisnya. Saya ambil duduk di kursi lobi, dan menggelar koran di meja. Ga lama, berdatangan juga temen-temen lain sambil bawa koran. Sambil ngobrol, sambil buka-buka lembaran koran. Tiba pada topik tentang nuklir, karena seorang senior bertanya latar belakang pendidikan saya dulu. Lalu saya bilang dulu spesifikasinya tentang nuklir, reaktor dan aplikasinya. Dibahaslah sedikit tentang dasar-dasar tentang nuklir yang masih saya inget (dan selalu bikin saya semangat bicara tentang dunia nuklir itu). Kebetulan pas ada bahasan tentang nuklir juga di koran yang saya baca-baca. what a nuclear day 😀 Tapi hanya saya yang excited, yang mendengarkan malah berkerut ga ngerti dan jadi ngeri -,-‘

Masuk kerja lagi, hingga sore, saya hanya merangkum apa yang saya dapatkan hasil obrolan sebelum istirahat siang tentang produksi barang. Sesekali ngobrol tentang sepeda sama bapak-bapak yang hobi gowes juga. Lalu saya ke tempat temen-temen lain. Ada satu temen yang pake sepatu high heels. Ga tinggi sih, paling sekitar 3 cm. Dia lagi copot sepatunya, lalu saya iseng nyoba sepatu dia. Ada temen lain yang liat, lalu dia berkomentar, “Saya ga bisa bayangin Teh Dita pake sepatu kayak gitu. Sekarang pake sepatu yang teplek gitu aja, kurang pantes. Pantesnya pake sepatu kets”. Dunia seakan runtuh diatas kepala saya.. why oh why? saya kan udah mencoba lebih anggun, tapi masih terlihat macho? *pundung,langsung-ke-sudut-kantor-main-debu-dilantainya*

Begitulah kisah Jumat saya kali ini. Selalu penuh hikmah dari setiap kejadian dan pertemuan yang dialami. Dan Jumat ini saya ga pulang ke Bandung (maaf ya mamah sayang). Kangen akut, ingin gowes wiken ini disini 😀

Leave a comment

Filed under buku, kisah jumat, sharing, tausyiyah

Appreciative Inquiry

Gagasan yang bergulir mengenai ”lebih bagus memperkuat yang menjadi kelebihan daripada  mencoba memperbaiki apa yang menjadi kekurangan” inilah yang menjadi landasan pola pikir Appreciative Inquiry (AI), yang acap dilakukan dalam perubahan organisasi untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Proses AI dimulai dari menelusuri hal-hal terbaik di masa lalu. Esensi dari proses ini adalah penemuan melalui dialog. Penelusuran yang berfokus pada hal-hal yang ingin dibawa ke masa depan.

Makna Appreciative Inquiry (AI) memang tak terlepas dari dua kata penyusunnya. Apresiasi mengacu pada tindakan mengakui dan menghargai apa yang telah dimiliki dan dilakukan di masa lalu, apakah itu “kekuatan”, ‘kesuksesan”, aset, maupun potensi. Inquiry berarti tindakan eksplorasi dan penemuan. Tindakan ini menyiratkan penyelidikan tentang kemungkinan-kemungkinan baru, dimana pada saat ini berada pada tahap tidak mengetahui atau memahami.

Metode AI yang cukup populer adalah 4 D, yang memanfaatkan proses empat tahap yang berfokus pada discover,  dream, design,dan delivery.

Fase discovery adalah fase pencarian yang tekun dan ekstensif untuk memahami  “apa yang terbaik“ dan  “apa yang telah terjadi atau dikerjakan”. Proses ini diantaranya akan menghasilkan gambaran yang kaya terhadap inti positif organisasi. Berbagi dan belajar dari cerita-cerita mengenai praktek terbaik, inovasi yang gemilang, dan tindakan-tindakan yang patut dicontoh di seantero organisasi.

Fase dream, merupakan sebuah eksplorasi yang memberi kekuatan mengenai “apa yang mungkin”. Waktu bagi orang-orang dalam organisasi untuk menelusuri harapan-harapan dan impian-impian dalam pekerjaan mereka, hubungan kerja mereka, organisasi mereka, dan dunia mereka secara keseluruhan. Tujuan dari fase ini adalah untuk mengidentifikasi dan menyebarkan  gambaran-gambaran yang memberikan pengharapan di masa depan.

Fase design, melibatkan penentuan pilihan mengenai “apa yang seharusnya”. Fase ini adalah penciptaan kembali atau transformasi yang dilakukan secara sadar mengenai  sistem, struktur, strategi, proses, dan berbagai aspek organisasi. Gambaran akan menjadi teratur dan berhubungan secara penuh dengan masa lampau organisasi yang bersifat positif dan memiliki potensi yang tertinggi.

Terakhir, fase destiny merupakan serangkaian tindakan-tindakan yang mendukung  pembelajaran dan inovasi. Karena seluruh siklus 4D menyediakan sebuah forum terbuka bagi anggota untuk memberikan kontribusi dan melangkah ke depan dalam menjalankan organisasi, perubahan terjadi dalam semua fase dalam proses AI. Fase destiny, secara spesifik berfokus pada komitmen serta langkah ke depan baik secara personal maupun organisasi  Hasilnya adalah perubahan  dari seluruh organisasi dalam bidang-bidang seperti praktek-praktek manajemen, proses-proses SDM, sistem pengukuran, sistem layanan pelanggan, struktur dan proses kerja dan aspek lainnya.

Leave a comment

Filed under sharing