Ranah Rantau

Kalau kata syair Imam Syafi’i:

orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Saya sudah pernah mengikuti kata Imam Syafi’i tersebut. Merantau keluar dari negeri sendiri menuju negeri orqng untuk belajar ilmu dan adab yang baru.
Saya medapatkan kerabat dan kawan baru yang banyak. Yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Saya berlelah-lelah untuk tetap bertahan tetap waras, hingga saat ini.
Dengan keyakinan suatu saat nanti pasti akan merasakan manisnya.

Yang saya rasakan ketika merantau, tidak hanya segala hal yang baru di perantauan, tapi juga lebih menghargai makna keluarga sendiri.
Sebagai seorang anak yang masih diberikan nikmat kelengkapan orangtua dan adik-adik, walau bukanlah kelurga yang benar-benar harmonis, tapi pertemuan dengan keluarga sendiri setelah sekian lamanya berpisah itu sangat dinanti.
feel so excited
Lebih merasakan rasa kasih, sayang, rindu, dan cinta. Rasa yang mungkin tidak akan saya sadari jika tetap diam di rumah.

Menjadi perantau, sebuah rezeki yang terkadang malah disesali.
Keluar dari zona nyaman dan aman. Jauh dari orang-orang terkasih.
Mungkin itu salah satu yang dikategorikan berlelah-lelah.
Ketika saatnya pulang dan bertemu dengan keluarga adalah aalah satu hal termanis yang didapat.

Surabaya, 9 Mei 2013
@ Bandara Ir. Juanda
Menanti kedatangan orang-orang paling berharga

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s