Category Archives: menikah

Five-Monthversary

Suatu malam lewat tengah malam, masih cukup melek karena cuami baru pulang kerja mendekati tengah malam. Sebelum tidur, kami tiba-tiba bercerita singkat tentang masa kecil. Masa sekolah, dari SD sampai kuliah. Tepatnya saya sih yang lebih banyak cerita 😀 cuami pendengar setia sajja. Cerita sejarah saya selama di SD, SMP, SMA, dan sedikit di kuliah.

Setelah cerita nostalgia gitu, lalu liat cuami di samping, masih suka takjub. Kok bisa laki-laki yang baru kenal kurang dari setahun, udah jadi suami yang tiap hari dikangenin. Bukan laki-laki yang jadi temen selama sekolah atau kegiatan ekskul lainnya. Bukan temen kerja atau temen main naik gunung. Klik! tiba-tiba datang atas skenario takdir Allah, setelah melewati pengalaman yang berwarna-warni sebagai “perempuan cukup umur”.

Sekarang udah 5 bulan semenjak kami menikah, Alhamdulillah semuanya (masih) lancar, ga pernah berantem, ada sedikit manyun, tapi banyak tertawa yang lepas atau ditahan. 5 bulan masih sangaattt ga ada apa-apanya, dibanding sisa pernikahan yang seumur hidup, InsyaaAllah masih ada bertahun-tahun kedepan yang harus dilewati bersama. Sekarang, masih menikmati masa-masa pacaran sebebas-bebasnya, sebelum saatnya nanti menikmati menjadi mommy and daddy, InsyaaAllah.

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
Kiss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you’ve had too much to drink work
I could be the (wo)man who grows old with you
I wanna grow old with you

[Adam Sandler – Grow Old With You]

Advertisements

Leave a comment

Filed under akudankamu, cerita-cerita, menikah

The ‘Rainy’ Wedding

Minggu, 23 November 2014

Hari paling bersejarah di hidup saya. Tepat pukul 07:30, acara akad nikah antara saya dan akgmas dimulai. Saya ga merhatiin jam kapan saya dipanggil keluar ruangan rias menuju tempat berlangsungnya akad, sepertinya jam 8an. Semenjak h-1 akad nikah, j-sekian sebelum dimulai prosesi akad, sampai dipanggilnya saya ke ruang akad, jujur saya ga deg-degan. Alhamdulillah, tenang banget. Deg-degan baru dirasa waktu udah duduk bersanding sama akgmas di kursi akad nikah. Saya ga sempet liat mukanya, liat sekeliling siapa aja yang dateng, hanya bisa tertunduk dan melihat wajah sang penghulu. Kurang senyum, keliatan tegang, itu komentar orang-orang waktu liat saya.

Sebelum bagian paling sakral dan paling penting, yaitu pengucapan ijab qabul, kami mendengar khutbah nikah dulu. Lalu pemeriksaan kelengkapan dokumen, dan akhirnya pengucapan ijab qabul. Alhamdulillah, akgmas ngucapinnya lancar jaya. Dan,,, resmilah saya menjadi istrinya. Selalu takjub dengan proses akad nikah. Hanya dengan mengucapkan Ijab Qabul yang terhitung detik, bisa merubah segalanya seumur hidup. Yang haram menjadi halal, yang tidak boleh menjadi boleh, yang bebas menjadi terbatas, dan sebaliknya. Mulai saat ini, saya sudah ada Pemimpin yang harus ditaati.

Proses Ijab Qabul telah selesai. Pertama kalinya saya mencium tangannya. Pertama kali juga bagi kami untuk bersentuhan satu sama lain. Lalu dia mencium kening saya. Seharusnya prosesi selanjutnya adalah tukar cincin dan pemberian mahar. Tapi, entah kenapa akgmas minta izin untuk melakukan sesuatu. Ternyata,, dia memberikan ‘surprise’ kado buat saya, yaitu Muraja’ah surat Ar-Rahman. Speechless to the max!!! dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman di lafalkan diluar kepalanya. Semua hadirin yang dateng pun seperti terpana dengannya. Mommi sampe terisak-isak nangis, ayah juga terlihat terharu. Saya… masih ga bisa mendeskripsikan perasaan saya. Apalagi di tengah-tengah surat ketika dia membacanya, dia meraih tangan saya dan menggenggamnya erat.. Huhuhuhuhuhu.. super sweeeeettttt! Thank you a lot my hubby :* Thank you for the greatest ‘surprise’ present.

Alhamdulillah, semua proses akad nikah berjalan lancar dan sesuai jadwal. Alhamdulillah, yang dateng pun diluar perkiraan. Ternyata banyaaakkk. Terima kasih untuk doa restunya J lalu ada acara sungkeman yang diiringi shalawat dari adik-adik Rumah Yatim. Kami memang sengaja mengundang anak-anak Yatim untuk datang di akad nikah kami. Kami ingin meminta doa mereka yang Allah mengutamakan menjabah doa anak-anak yatim. Alhamdulillah, segala puji hanya pada Allah SWT. Semuanya berjalan lancar, hingga kami harus ganti baju untuk prosesi resepsi.

Acara resepsi yang dimulai dengan ‘Mapag Panganten’ oleh ‘Lengser Rama-Shinta’ berlangsung sesuai jadwal, yaitu Pkl 10:45. Tepat ketika hujan turun dengan derasnya. Kami yang menjadi Raja dan Ratu sehari, diiringi penari tradisional menyambut kami menuju Pelaminan. Saya ga nyangka bakalan se-meriah itu prosesi ‘Lengser’nya. Oiya, untuk acara nikah kami ini, saya minta untuk ga ribet dengan acara adat. Saweran, nginjek telor, dll. Yang menurut saya ngabisin waktu dan kurang esensinya. Lebih baik waktunya diefektifkan untuk foto-foto dengan keluarga, sodara, dan kawan-kawan yang datang. Tapi, memang gimana orang dan keluarganya. Alhamdulillah, keinginan saya, keluarga saya, akgmas, dan keluarganya bisa matching. Ga perlu banyak pake adat, langsung acara inti saja. Dengan ‘lengser’ yang meriah juga sudah cukup. Acara lengser selesai, kami sudah stenbay di Pelaminan, dan hujan pun berhenti. Kata atasan saya yang di Cikarang, tadi dapet berkah hujan pernikahannya, Alhamdulillaahh. Tamu-tamu pun berdatangan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat serta doa restu.

Singkat cerita, Alhamdulillah acara resepsi kami pun berjalan lancar. Alhamdulillah, tamu banyak yang datang. Alhamdulillah, makanan pun sampai akhir acara masih tersedia banyak. Padahal jalanan macet parah karena hari itu bertepatan dengan ‘Pasar Seni ITB’ 4 tahunan sekali. Kalau ga macet parah, mungkin tamu lebih banyak lagi yang datang. Temen-temen dari kantor, kampus, dan sekolah lumayan juga yang datangnya. Paling terharu adalah ketika atasan saya dulu di Panasonic Surabaya, bela-belain dateng ke nikahan saya. Huhuhu, Babeh, terima kasih banyaaaakkkkk! Orang yang sangat berjasa membantu saya untuk lebih bersyukur dan menikmati hidup ini. Membantu saya untuk sukses ‘move on’. Dan di hari pernikahahan saya, beliau datang. Alhamdulillaaahhh.

Acara resepsi yang sampai Pkl 13:30 itu terasa lamaaa. Pasalnya, kaki udah pegel berdiri, bibir udah kering tersenyum lebar, perut keroncongan, dan masih ada sesi pemotretan khusus kami berdua. Saya merasa didandanin seperti lenong. Abisnya kerasa tebel banget. Walau banyak yang bilang rias-nya bagus. Saya jadi terlihat cantiikkk, huehuehue, Alhamdulillah. Ooh, begini rasanya menjadi pengantin. Berdiri di panggung utama. Berias dengan memakai pakaian anggun. Alhamdulillah, bisa dikasih kesempatan merasakannya juga.

Pkl 13:30 acara selesai, kami meneruskan foto-foto sendiri, lalu makan di tempat khusus Pengantin. Tamu sudah tidak ada. Tinggal tim dekorasi yang beres-beres dan tim catering yang masih menunggu kami selesai makan. Sejam kemudian kami benar-benar selesai dari gedung dan menuju rumah. Mertua pulang ke rumahnya sendiri di Kircon, saya dan akgmas pulang ke rumah di Garunggang. Sepanjang jalan, saya tidur bersandar di bahu akgmas (#cieeeee #uhuk). Karena malam sebelumnya saya ga bisa tidur sodarah-sodarah! Tapi karena acaar udah selesei, udah plong, bisa tidur deh. Lumayan, tidur di mobil pengantin saat jalanan macet parah. Makasih yaa akgmas udah disenderin istrinya, hihi.

Alhamdulillah wa syukurilah. Semuanya berjalan lancar dan mudah. Semuanya terjadi pada saat yang paling tepat. Semuanya karena Allah membuat skenario yang paling indah dan tepat. Hanya Alhamdulillah yang bisa saya ucapkan terus menerus. Dengan keajaiban semua ini.

Saya sadari, bahwa hari diucapkannya Ijab Qabul ini adalah langkah pertama kami untuk berjalan di kehidupan yang baru. Tidak akan selalu indah, penuh bunga dan kupu-kupu, dinaungi pelangi. Mungkin ada saatnya mendung, dengan gemuruh dan kilat, banyak nyamuk dengan suaranya yang berdengung-dengung berisik. Tapi, kami jalanin aja semaksimal kami memberikan yang terbaik untuk masing-masing. Selalu mendukung dan mengingatkan yang baik. Melarang yang tidak baik. Berkomunikasi dengan terbuka, apa yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan. Mencoba untuk selalu meluruskan niat kembali.. apa tujuan kami menikah.

Semoga Allah SWT selalu melindungi kami dari penyakit hati duniawi. Menjadikan keluarga kami sebenar-benarnya keluarga sakinah mawaddah warahmah. Aaamin.

Bismillah, Are you ready my Captain ayangmaass? 😀

1 Comment

Filed under cerita-cerita, menikah, saya

Ooh, begini rasanya..

Wedding Invitation Dita & Agung

Sering saya tanya ke temen-temen deket yang sedang mempersiapkan pernikahan, ‘gimana sih rasanya yakin untuk nikah sama dia?’ Jawaban pun beragam, tapi intinya satu : rasanya tenang aja.

Ketika itu saya masih penasaran dengan rasa ‘yakin’ untuk menikah dengan seseorang. Agak horror saya bayangin kalau nikah dengan orang yang baru dikenal atau yang sebenernya ga terlalu sreg. Kenyataannya, selama ini banyak cowo yang ngedeketin. Dengan berbagai caranya. Ada yang frontal langsung bilang suka. Ada yang pake flirting dulu. Ada yang kirim-kirim hadiah. Ada yang bahkan langsung ajak nikah. Macam-macam metodenya, dari yang standar sampe freak.

Tapi, perihal menikah bukan sesuatu yang main-main kan. Saya ga mungkin terima orang yang hati saya ga nyaman dengan dia. Bagaimana pun, untuk kasus saya, hati yang memilih. Walau dengan seumuran saya, temen-temen lain udah menikah dan punya anak, saya pun ditanya terus ‘kapan nikah? Kapan nikah?’, toh urusan jodoh benar-benar kuasa Allah. Setiap orang punya waktunya masing-masing, caranya masing-masing, dengan jodohnya masing-masing. Setiap orang berbeda prosesnya. Cepat, lambat, sakit hati, jatuh hati, proses move on, proses menikmati kesendirian, bertemu dengan orang-orang yang banyak memberikan pelajaran. Hingga tahap bisa merasa yakin, tenang, dan tanpa ragu sedikit pun untuk menikah dengan si dia.

Rasa itu akhirnya saya rasakan. Merasa yakin, ga ada beban sama sekali, merasa tenang, merasa excited, merasa siap untuk hidup selamanya dengan dia. Rasa yang sulit juga sebenernya diungkapin. Sepertinya inilah sensasi rasa bertemu jodoh yang (insyaaAllah) tepat dan terbaik. Pada waktu yang tepat dan terbaik. Tepat setahun semenjak kenalan, hingga ga kerasa 4 hari lagi dia akan jadi orang yang paling dekat lahir bathin, seumur hidup. Dari seseorang yang ga pernah ketemu selama di kampus, padahal sekampus dan depan-depan jurusannya, lalu tidak hanya kenal pribadinya tapi juga keluarganya, hingga akan menjadi seseorang yang harus saya taati.

Waktu saya bilang ke temen-temen deket tentang pernikahan saya, Alhamdulillah, mereka malah lebih seneng dan excited daripada saya, hihi. Langsung diberondong pertanyaan siapa dia, kenal dimana, orang mana, kok bisa.. Bahkan ada yang nanya, kamu jatuh cinta sama dia?

Untuk semua yang bertanya serupa tentang perasaan saya ke dia.. saya jawab, ‘yang penting sekarang buat saya, saya ga ilfil sama dia’. buat temen-temen deket saya yang tau sejarah saya ini paling susah untuk deket sama cowo, kalo ada yang deketin dan ga sreg pasti langsung bikin tameng, makanya suka greget dan orang-orang nge-cap pemilih. Hellooo, urusan nikah seumur hidup ya pastinya harus milih dooong. Plis deh. Tapi untuk dia, dengan segala tingkah pdkt-nya yang super absurd, gayanya yang kadang bikin saya melongo, sifatnya yang suka bikin gemes, dan lain sebagainya, semuanya bisa saya terima. Sama sekali ga ilfil. Tentunya, yakin mau menikah dengan dia, karena dasar agamanya yang (insyaaAllah) sudah paham. Bagaimana harus bertanggungjawab sebagai suami, kepala rumah tangga, dan kelak jadi ayah.

Sepanjang perjalanan setahun ini, ga ada rasa berat, tangis sesak, ngambek berlebihan, rasa kangen juga masih seperlunya. Yang saya suka, ga perlu laporan setiap saat, lagi apa, makan apa, dimana, ama siapa.. komunikasinya lebih dari sekedar harus laporan seperti itu. Yaa, secara persiapan lamaran, menikah, jadi ngobrol tentang hal itu. Ngobrol tentang keluarga, tentang masa depan. Menyamakan visi misi. Menyiapkan diri tidak hanya untuk keindahan dan kebahagiaan menikah, tapi juga untuk cobaan, rintangan, masalah berumahtangga. Namanya juga ibadah, pasti digoda terus sama syetan kan.

Bismillah.. beberapa hari lagi, insyaaAllah, bisa nyanyi-nyanyi :

Ketika kau ada disampingku
Hidupku pun terasa damai
Seperti yang tlah terbayangkan dalam benakku
Disaat hatiku ada dihatimu
Dunia pun menjadi indah
Karena hatimulah yang aku inginkan

(Samsons – Dengan Nafasmu)

#eeeaaaaaaa

6 Comments

Filed under cerita-cerita, menikah, saya