Category Archives: kerja

Back To Work

Ok, pakabare blog ?
Udah tahun baru tapi belum ada cerita lagi yang bisa di simpan di blog ini.
Banyak sih sebenernya, tapi *youknowlah* males nulisnya :p

Di tahun 2017 ini, setelah menjadi full-time mother and wife di rumah selama 8 bulan kemarin, saya memutuskan untuk menerima tawaran kerja (lagi) di daerah Jakarta.
Kota yang dari dulu paling horor buat saya jadi tempat kerja.

So, why now?
karena tawaran-tawaran kerja berdatangan hanya dari Jakarta -,-
Saya udah minta yang daerah BSD/Serpong/Tangsel aja deh.. tapi in the end, tetep aja ga ada dan Jakarta lagi, Jakarta lagi.

Okeh! let’s have a try.
Secara suami kan tiap hari kerja PP Jakarta-BSD, jadi penasaran kayak gimana sih kondisi di Jakarta. Belum juga dicoba, udah skpetis duluan.. gitu mikirnya. Alasan lain menerima kerja di kantor ini adalah waktu kerjanya yang dari jam 08:30 – 17:00, dimana tawaran lain kalo ga masuk jam 08:00, ya pulang jam 17:30. Saya pilih opsi jam kerja yang paling siang masuk, tapi cepet pulang biar ga lama ninggalin Miza.

Ternyata… jrengjreng.. 超ーしんどい!
3 hari pertama masuk kerja, udah nangis-nangis pengen resign =))
Capek banget di jalannya cyiin. Dari rumah-stasiun Rawa Buntu-kantor PP, it takes 4 hours! 2 jam pagi, 2 jam sore. Tetep aja, pagi-pagi saya berangkat anter Miza daycare jam setengah 7, baru bisa jemput lagi jam setengah 7 malem (paling cepet). Di KRL terluntang berdiri, pasedek-sedek, apalagi kalo jadwalnya udah ngaret. Warbyazaahh!
Salut deh buat yang PP rumah-kantor naik KRL dan ojeg. seperti suamiku, hahaha. Tapi kata ayang sih lama-lama juga mati rasa.

Setelah sebulan kerja, sebenernya kantornya enak, orang-orangnya asik pake banget, kerjaannya no big problem, gaji cukup (persoalan ini mah sebesar apapun akan terasa kurang kalo ga merasa cukup yes), hanya saja tetep di perjalanannya yang bikin uring-uringan. Selalu teringat Miza dan rasa bersalah karena ninggalin Miza terlalu lama. Kalau dijemput di daycare, Miza akan berlari sambil tangannya diangkat minta dipeluk, huhuhu.

Entahlah, gimana kedepannya. Sekarang jalanin dulu aja keputusan yang udah diambil at least 3 bulan ini. Emang dilema banget ya Ibu bekerja itu….

Leave a comment

Filed under being a mommy, cerita-cerita, kerja

Last Day as Office-Working Mom

PhotoGrid_1461640327538

Akhirnya, hari terakhir duduk di hadapan komputer kantor. Setelah berstatus pensiunan dini per-29 Februari 2016, lalu karyawan kontraktor selama 2 bulan, perjalanan karir saya sebagai buruh pabrik lampu ini berakhir. Antara senang dan sedih, tentu saja..

Senang, karena bisa fokus di rumah sama Miza dan saatnya melatih kemampuan pekerjaan rumah tangga yang sekarang masih sekedarnya. Nanti bisa capek sendiri liatin Miza main yang ga mau diem, kasih makan MPASI Miza langsung, nenenin langsung (ga perlu pompa-pompa lagi), uwel-uwel Miza yang makin emeeesshh, nyuci baju, nyuci piring, nyetrika, nyapu, beberes, masak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Sedih, karena pisah dengan aktivitas rutin setiap hari kerjanya dan temen-temen di kantor. Berpisah dengan internet kencang di PC kantor dan makan siang sambil rumpi dengan ibu-ibu, terutama, berpisah dengan transferan rutin gaji di akhir bulan yang selalu dinanti, ahaghaghaghag. Tapi, inilah keputusan yang sudah saya ambil. Memilih pensiun dini dan mulai bekerja di rumah saja.

Total bekerja di pabrik lampu ini baru 2 tahun 5 bulan. Masih balita kalau dibanding senior-senior yang udah belasan dan puluhan tahun. Walau baru sebentar waktu yang sudah terlewati itu, banyak sekali pengalaman yang saya dapat. Sebagai seorang yang punya jobdesk jalan-jalan dan ngurusin hubungan internasional, saya banyak berkenalan dengan orang-orang baru di luar kantor, menikmati fasilitas penerbangan GA dan hotel -hotel kece dari kantor, hohoho. Tapi hal yang paling saya syukuri berada di kantor ini adalah saya jadi pribadi yang lebih terbuka, supel, dan percaya diri.

(pernah saya bahas nih) Kan sewaktu di Pasuruan, saya sempat jadi wanita yang pemalu dan memilih diam di belakang komputer. Kalau disuruh keluar kantor ketemu klien, yang ada saya panas dingin dan cari beribu alasan supaya diem aja di kantor (kalau keluar kemping mah, saya paling semangat). Saya ga pede dengan kemampuan yang dipunyai. Tapi semenjak diutus ke Cikarang ini, dengan bos yang lebih high profile menendang saya keluar kantor muluk, lambat laun, mau ga mau, saya harus menarik-mengeluarkan nafas, dan mendobrak diri supaya percaya diri ketemu orang-orang baru. Sebenarnya, ini pekerjaan yang menyenangkan karena lebih ke aktivitas bergerak, banyak sekali pengetahuan baru di bidang komunikasi/relasi/ekonomi/sosial/politik/ hukum/budaya/bahasa dan ga sekedar memutar otak menghitung Profit/Loss/cost produksi/sales di excel.

Alhamdulillah, terima kasih untuk pabrik lampu cabang Cikarang Selatan yang sudah mau mempekerjakan saya, yang sebagian besar kerjaannya numpang ngadem AC dan internetan, hehehe *hampuraa*. Terima kasih untuk pakbos besar yang luar biasa bisa bikin saya semakin percaya diri dan enjoy kerja di luar kantor, sampe harus sabar mengelus dada dengan permintaan shocking-me yang suka di last minutes. Terima kasih untuk pakbos kecil yang suka berbagi ilmu dunia kerja, dunia kosmetik (yuk cyiin), dan salad sarapannya. Terima kasih untuk teman-teman dengan berbagai karakter ajaib (asli ajaib2 semua) yang setiap hari kita kulineran selalu, will be missing you gals. Terima kasih para relasi di luaran sana yang selalu memberikan akses kemudahan berkunjung dan oleh-oleh luar negerinya.  Terima kasih sudah banyak memberikan memori indah dalam hidup saya. Terima kasih semuanya!!!

PhotoGrid_1461640222915

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, kerja, kisah jumat, Uncategorized

29 Februari 2016

Hari terakhir di Bulan Februari yang hanya terjadi 4 tahun sekali ini bisa jadi salah satu hari yang akan dikenang.

Karena, hari ini hari terakhir saya dan banyak kawan-kawan lainnya bekerja di Perusahaan yang sekarang. Saya tercatat sudah bekerja 2 tahun 4 bulan. Masih terbilang sangat muda kalau dibanding Ibu2 dan Bapak2 senior yang sudah diatas 10 – 20 tahun bekerja.

Berawal dari bulan Agustus 2015 ada pengumuman dari Manajemen Perusahaan untuk menggabungkan Pabrik yang di Cikarang dengan di Pasuruan. Pada saat itu Pabrik Lighting ini sudah ada 3 tempat di Cileungsi, Cikarang, dan Pasuruan. Dengan alasan efektivitas dan efisiensi produksi, maka akan ada penggabungan Pabrik lighting (lagi) dengan yang di Pasuruan.. tempat saya bekerja pertama kalinya. Sedangkan Pabrik Cileungsi dan Cikarang sudah lama bergabung sejak 2014. Efeknya, Pabrik Cikarang ini yang harus ditutup karena produksi akan dipindahkan ke Pabrik Pasuruan dan kerjaan non-direct pindah semua ke Cileungsi.

Singkat cerita, selama 7 bulan, Serikat Pekerja dan Manajemen Pabrik Cikarang melakukan perundingan untuk mendapatkan hasil yang terbaik untuk semuanya. Karena, hampir semua pekerja sudah memiliki rumah tetap dan anak-anak yang bersekolah di lingkungan Cikarang. Jadi, untuk pindah ke Cileungsi atau Pasuruan itu sangatlah berat. Kalau pun memilih untuk Pensiun Dini, sudah banyak juga Pekerja yang berusia lebih dari 40 tahun, yang kalau harus melamar ke Perusahaan lain pun chance-nya sangat kecil.

Ibaratnya, ada sekelompok orang yang sudah berkeluarga dan lama tinggal di satu wilayah di Padang Pasir. Selama bertahun-tahun, sumber air mereka untuk sehari-hari hanya dari 1 sumber saja. Lalu, suatu hari, ada pengumuman kalau sumber air tersebut akan dihentikan alirannya. Otomatis, orang-orang tersebut akan mengambil air sebanyak-banyaknya dari segala tempat yang mereka punya untuk menampung air tersebut demi kelanjutan hidup mereka.

Begitu juga dengan Serikat Pekerja yang memikirkan hidup orang-orang tersebut. Sebisa mungkin memberikan hak-hak yang terbaik untuk pekerja dan keluarganya. Kalau ngobrol sama Ibu-ibunya sih, mereka relatif lebih santai memilih untuk tidak lanjut kerja, ya gak papa. Tapi kalau bapak-bapaknya, yang pastinya kepala keluarga dan bertanggungjawab untuk menafkahi keluarganya, tentu saja berat sekali untuk mereka. Alhamdulillah, walau selama 7 bulan vakum kerja, tapi kami masih tetap ke kantor. Saya sih masih ada kerjaan yang harus diselesain. Terima kasih Manajemen, kami semua masih sejahtera dengan tetap dikasih gaji full tiap bulan, fasilitas makan/transport, dan medical yang ga keputus.

Hasil perundingan yang ga gampang pun akhirnya bisa disepakati kedua belah pihak. Alhamdulillah, InsyaAllah yang terbaik untuk para pekerja. Kami dikasih pilihan: (1) Meneruskan bekerja ke Cileungsi dengan uang pengganti mutasi. (2) Meneruskan bekerja ke Pasuruan dengan uang pengganti mutasi. (3) Berhenti bekerja dengan mendapatkan pesangon dan tambahan hak-hak lainnya. Dari sekitar 465 pekerja (diluar Manajemen), sekitar 80% memilih untuk berhenti bekerja. Dan sisanya ke Cileungsi dan sebagian kecil ke Pasuruan. Saya sendiri memilih untuk berhenti,

Alhamdulillah, sebenernya momen ini tuh pas banget buat saya. Di saat saya udah punya beibiMiza yang sekarang udah 5.5 bulan dan akangmas pun udah ngajakin terus pindah ke daerah yang lebih ramah jarak dan transportasinya ke Jakarta. Sekarang kalau udah bareng Miza, pengennya liat terus perkembangannya. Apalagi sebentar lagi udah mau mamam MPASI. Inginnya saya yang kasih dan perhatiin gimana Miza makan. Cuami juga suka kasian liatnya kalau pulang malem-malem terus karena macet atau keujanan. Tugas saya sekarang yang utama dan prioritas kan keluarga dulu. InsyaaAllah, rezeki ga akan terputus. Saya masih bisa cari kegiatan di luar yang menghasilkan income lagi nanti. Tentunya nyari yang lebih fleksibel dari segi waktu biar tetep bisa banyak main sama Miza dan akgmas.

Semoga semuanya mendapatkan yang terbaik, sukses dimana pun nanti melanjutkan bekerja, selalu bersyukur dan bersabar untuk semua rezeki yang diterima. Walau singkat hanya 2 tahun lebih sedikit, but I will miss all of this..  

Semua yang ada di muka bumi ini akan mati suatu saat nanti.. tidak ada yang abadi.. Manusia, hewan, tanaman, bangunan, kendaraan, perusahaan.. but we need to keep on cycling and moving.. that’s life, until we meet in hereafter 🙂

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, kerja, saya

Emang Gue Pikirin ?

Ternyata, emang gue pikirin *huft*
Sebagai seorang yang cukup memilki kepercayaan terhadap sifat-sifat golongan darah, sebagai si A jeleknya itu terlalu mikirin hal yang sebenernya ga penting. Ga bisa secuek B atau se-absurd AB.

Seperti sekarang, dari informasi berbagai pihak yang ngomong langsung ke saya, ternyata mulai ada yang ga suka sama saya. Katanya sih karena ngeliat kerjaan saya yang ‘ga ada kerjaan’, asik browsing sana-sini. Sedangkan beliau (kayaknya) kerjaannya bikin stress. Yang bikin risih, beliau ini satu departemen, udah senior banget. Dari awal saya masuk di departemen ini, udah ada yang wanti-wanti ke saya tentang sifat masing-masing anggota departemen ini, yang isinya udah senior semua (a.k.a tua). Termasuk wanti-wanti sifat si beliau yang suka ngeluh dalam hal pekerjaannya.

Ujug—ujug kena juga sekarang dijutekin beliau, kena sindir langsung juga pernah, walau seringnya beliau ngomong lewat orang lain. Padahal atasan saya bukan, yang gaji saya juga bukan -,-. Mungkin karena posisi komputer saya tepat ngadep ke beliau, jadi aktivitas saya keliatan. Emang saya akuin kalau kerjaan saya banyak banget browsing. Banyak yang ga pentingnya pula, not related to work :p. Tapi sebagian besar (kalau ada) kerjaan saya pasti browsing-browsing dan email-email, namanya juga bagian external affair. Ga kayak yang lain berkutat di sistem yang udah diprogram di kompi dan menginput-input data. Yaudah, sekarang saya kalo browsing layarnya dikecilin sampe ketutupan badan saya yang makin membesar ini, hwehehehe. Walau kyknya si beliau masih suka kepoin layar saya *GR bingiitts*

Yang saya ga suka dari diri saya, terlalu mikirin si beliau satu ini. Padahal saya ga ada urusan kerja sama beliau, jarang ngobrol juga, apalagi ganggu-ganggu ga jelas. Saya jadi ngerasa ga bebas, ngerasa was-was kalo ngobrol sama yang lain, khawatir orang lain itu diomongin si beliau tentang saya dan jadi negatif juga ke saya. Padahal kayaknya yang lain sih biasa-biasa aja. Walau udah coba tekanin ke pikiran kalo mikirin si beliau doang mah sama sekali ga penting, dari sisa puluhan orang di kantor yang masih biasa-biasa aja dan baik-baik aja ke saya, seorang beliau mah bisa ‘ditendang’ dari pikiran. Emang kenyataannya sampai saat ini, kalau ngobrol sama yang lain tetep asik-asik aja. Ga ada yang jutek (kayak beliau). ‘Geng’ saya pun masih tetep up to date ke saya dan kegiatan hengot ga pernah absen. See? I still have many friends.

Malesin banget sih ini pikiran si golongan darah A, jadi keganggu sama hal yang secuil banget itu. Jadi negatif juga kan ke si beliau, astaghfirullah, kesian beibi. Toh yang rugi beliau ini yang capek sendiri kepoin guweh. Ngapain saya jadi ikut-ikutan capek mikirin beliau, aiiisshh. Semoga saya juga ga kayak beliau jadi ikut-ikutan ngomongin kejelekan orang.

Emang bener pepatah
‘Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak’.

2 Comments

Filed under cerita-cerita, kerja

Jakarta – Surabaya – Bandung

Haihooo, 2015!
Terlewati sudah satu bulan Januari kemarin tanpa posting apa-apa.
Bukannya ga bisa sih,,
tapi baru bisa akses wordpress lagi, dan paling penting baru ada mood lagi.

Sekilas balik Januari kemarin memang cukup padat melakukan kerjaan sebagai ‘External Affair’.
Baru juga masuk bulan Januari, tapi seminggu full saya ga nongol ke kantor karena nemenin tamu Jepang kunjungan ke lab-lab listrik di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Ga lama berselang, dua minggu kemudian pun, saya harus peri lagi muterin Jakarta, Surabaya, dan Bandung selama 7 hari full untuk training EMC dari expert Jepang.
Setiap muncul ke kantor, selalu ditanya orang-orang, ‘kemana ajaa?’.

Jakarta – Surabaya – Bandung.
3 kota yang sudah familiar sekali semenjak dilibatkan pak bos ikutan projek kerjasama asosiasi listrik Indonesia dan Jepang dari tahun lalu. Sampe bisa nerusin dan namatin film yang durasinya panjang setiap naik pesawat.
Tetapi,, ada bedanya nih abis tgl 23 November 2014.
Dulu waktu masih sendiri sih, asik-asik aja keluar kota lama-lama. Secara sekarang udah punya cuami yang tentunya ga bisa lama-lama ditinggal. Naturally, merasa khawatir kalo cuami sendirian, ga ada yang sediain dinner dan bekel sarapan. Paling penting, kangennya booo!

Bisa disiasatin sedikit. Misal, kalo banyak kegiatan di Jakarta, saya minta allowance tinggal di hotel biar ga bolak-balik Cikarang-Jakarta. Jadi lumayan, ga capek di jalan, bisa tetep sama cuami, dan ke kantor dia juga jadi deket.
Kalo lama di Surabaya, yaa, cuami bisa ambil cuti untuk nyusul ke Surabaya. Tapi kalo kegiatannya di Bandung, saya bolak-balik Cikarang-Bandung. Karena ga mungkin cuami yang bolak-balik Bandung-Jakarta atau ambil cuti (lagi). Pokoknya diusahain ga lama-lama pisah deh. Walau butuh toleransi dan sedikit pengorbanan dari masing-masing pihak. Prinsipnya, kami ga mau terbiasa untuk lama-lama pisah dan merasa biasa aja kalau ditinggal jauh. Suami istri itu sebisa mungkin harus bersama, biar sama-sama tenang.

Proyek Jakarta – Surabaya – Bandung nya untuk kerjasama tahun 2014 sih officially udah selesei Januari kemarin. Jadi belum ada jadwal bolak-balik ngukur jarak Jakarta-Bandung-Surabaya lagi. Belum tau untuk projek tahun 2015 ini.
At least, sekarang bisa santey dulu di Cikarang, bisa selalu stenbay untuk cuami pas pulang kerja sampe berangkatnya lagi. Kembali ke aktivitas nyiapin bekel sarapan dan dinner untuk cuami.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, kerja, saya