Tag Archives: travelling

Pulau Sempu, Laguna Segara Anakan

cagar alam pulau sempu
Akhir Bulan Juni ditutup dengan trip ke Pulau Sempu bareng 14 orang temen-temen kantor dari berbagai departemen. 6 orang cewe, 8 orang cowo.
Sekaligus sebagai akhir dari reli trip saya sebelum bulan Ramadhan (hihi), dan sebagai pembuktian kata orang-orang tentang keindahan wisata Pulau Sempu ini.

Jumat, 28 Juni 2013
Kali ini jadwal berangkat juga sehabis pulang kerja, seperti minggu lalu yang ke Jogja.
Tapi lebih santay, karena berangkat jam 10 malem dari Lumpang Bolong (salah satu kawasan kos).
Jadinya pulang kerja masih bisa santay-santay makan lalapan mujaer dulu, ke mini market beli tambahan perlengkapan trip dulu, dan packing ga buru-buru.
Tetep sih ya, jadwalnya jam 10 malem, tapi aktualnya berangkat jam 11 malem.
Pakai mobil ELF berkapasitas full 14 orang.

Sabtu, 29 Juni 2013
Perjalanan menuju Malang selatan, ke Pantai Sendang Biru, pemberhentian pertama sebelum nyebrang ke Pulau Sempu, sekitar 5 jam. Ditemani hujan sangat deras dan kabut tebal, akhirnya mendekati subuh kami sampai.
Setelah sholat subuh, kami menunggu munculnya matahari sambil siap-siap. Udah ga hujan, hanya gerimis-gerimis kecil.
Matahari mulai terbit, langit mulai terang, kami dikasih hadiah alam yang indah.. Pelangi dan suasana pantai yang tenang.
pelangi
Beberapa temen mulai cari perahu nelayan untuk disewa menyebrang ke Pulau Sempu dan guide untuk nemenin perjalanan menembus hutan hujan tropis.
Sisanya ke tempat sewa sepatu anti slip, karena sangat ga direkomendasiin pakai sepatu biasa. Jalanannya super licin dan berlumpur. Apalagi malemnya abis diguyur hujan, bakalan tambah licin aja nanti.
Setelah dapet perahu dengan harga Rp 130.000 (PP), sewa guide Rp 200.000 (PP), dan sewa sepatu Rp 10.000, kami harus berenergi dulu sebelum menempuh perjalanan 2.5-3 jam berjalan kaki.
Kami sarapan di warung nasi sekitar pantai, dengan menu pecel, rames, atau soto.

Lalu, dimulailah pertualangan kami di The (so called) Amazing Sempu Island.
Hyosh! bawa carrier berat berisikan survival things untuk 2 hari 1 malam. Plus air minum dan air bersih berliter-liter, karena di Laguna nanti ga ada sumber air tawar sama sekali.
Kami naik perahu nelayan, menyebrang sekitar 15 menit hingga sampai di Pulau Sempu, lalu tepat jam 8 pagi kami mulai jalan masuk ke hutan hujan tropis.
DSC_0113

Jreng.jreng.. baru mulai aja udah keliatan sangat jelas gimana berlumpurnya jalan. Totally muddy, tanpa ada jalan bagus sama sekali.
Mengertilah saya, kenapa kalau baca testimoni orang-orang yang udah pernah ke Sempu bilangnya “The Hell” moment.
Harus rasain sendiri gimana sensasi super seru menembus hutan yang naik turun, apalagi setelah hujan.
Saya sampai jatuh kepleset 4 kali, saking licinnya :”)
treking hutan tropis 1

treking hutan tropis 2

treking hutan tropis 3

CIMG3072

CIMG3065

Perjalanan ekstrim melewati hutan memang tepat sekitaran 2.5-3 jam.
Setelah sering bertanya ke guide berapa lama perjalanan lagi (yang baru aja jalan 10 menit udah ga sabaran ingin nyampe), terdengarlah deru ombak dan suara-suara seru orang-orang yang lain (sepertinya) berenang.
Ga sabar ingin ingin segimana amazingnya sih Laguna Segara Anakan.
Yang dibilang “The Heaven”nya itu katanya bisa ngobatin puas setelah penderitaan perjalanan.

Okay, mungkin menurut orang-orang yang cinta pantai bisa bilang seperti itu.
Tapi buat saya yang lebih suka gunung ini, sampai di Laguna ternyata.. biasa aja.
Ga sampe bikin saya seterpesona Ranu Kumbolo-nya Semeru.
Setelah menurunkan carrier yang bikin punggung saya encok dan bahu saya bengkak, saya berjalan datar menuju air laut di Laguna untuk bersihin sepatu dan baju yang udah penuh lumpur semua.
Dan mencoba menikmati sekeliling Laguna yang udah penuh dengan beberapa grup yang datang duluan.

arrived @ segara anakan

IMG_6862

CIMG3090

Ada yang seru waktu baru dateng di Laguna.
TIba-tiba dari kanan pantai ada yang teriak-teriak minta tolong.
“tolong! Tolong!” dan “Help! Help!”, “seriusan ini, tolong! help!”
Suara cowo dan cewe. Lalu beberapa orang ada yang berlari bak pemain baywatch untuk nolongin mereka.
Saya masih mengamati sambil beres-beres untuk ngediriin tenda. Bukan apatis sih, tapi daripada ikutan heboh ga jelas, mending ngerjain yang lebih jelas untuk kelangsungan hidup di Laguna yang jauh dari peradaban luar.
Pas udah keliatan aman, barulah saya denger-denger kisahnya.
Jadi, ada sekelompok cewe dan cowo yang lagi main-main air di pinggir sebelah kanan Laguna itu.
Kok lama kelamaan mereka jadi ke tengah laut, taunya mereka keseret ombak, ditambah kaki kram.
Jadi aja mereka teriak-teriak minta tolong karena udah ga sanggup ngelawan arus dan mereka terus keseret ke tempat yang dalam.
Alhamdulillah, guide kami itu yang bisa nolongin mereka. Disaat banyak yang nolongin tapi malah ikut-ikutan keseret. Ya tau kapasitas diri dong seharusnya, kalo ga bisa berenang jangan terlalu heboh di pantainya. Atau kalo bisa berenang tapi untuk diri sendiri aja, ga usah ikut-ikutan ingin nolongin orang tenggelam.

Setelah kejadian itu, sama temen-temen malah dibecandain.
Kan yang keseret arus itu bilang: “Help! Help! Tolong!”
Dijawab sama temen-temen: “ciyuus? miapah?”
Dan ngakak lah kami semua diatas ketraumaan orang-orang itu, ahaha.

Singkirkan iklannya, kami harus mendirikan tenda untuk tidur nanti malam.
Kami sewa 3 tenda; (literally) 1 tenda ukuran untuk 6 orang, 1 tenda ukuran untuk 4 orang, dan 1 tenda kecil ukuran untuk 2 orang.
Jadi 1 tenda gede untuk semua cewenya, lalu 2 tenda sisanya dibagi-bagi gimana maunya para cowo.
Setelah tenda berdiri, kami mengeluarkan persenjataan pelindung perut kami, makanan.
Dan ternyata… itu sih udah kayak mau buka warung aja.
Mie instan berbungkus-bungkus-bungkus dan snacks yang bejibun.
DSC_0123

DSC_0124
Lalu kami mulai masak mie untuk makan siang.
Sambil nunggu, ngeringin baju, dan kami bergiliran sholat dzuhur.. Ini yang saya suka, jalan bareng geng satu ini selalu inget waktu sholat. Karena kalau jalan-jalan dengan geng lain, kadang sholat ya inget masing-masing aja, atau bahkan pada ga sholat.
Bahkan karena kami sholat jamaahan, tetangga-tetangga tenda sekitar ada yang ikutan sholat juga.
DSC_0129

Jadwal siang-sore itu bebas.
Ada yang mulai naik tebing untuk liat samudera (masih siang bolong, terik banget, saya skip aja untuk jadwal nanti sorenya), ada yang berenang di pantainya (saya skip juga, karena berenang di air asin yang ga ada fasilitas air tawar untuk mandinya itu ga saya bangetnya kebangetan. Ada fasilitas mandinya aja, kayak Papuma, saya ga ikutan nyemplung, ini apalagi..).
Jadi saya sendiri yang masuk ke tenda dan tidur, ahaha.. tapi emang kepala saya pusing banget sih. heat attack i guess.

Masuk sore, saya bangun dan mulai segeran. Temen-temen masih menghilang dengan aktivitas narsis dan renangnya.
Tapi ga lama udah pada dateng ke tenda dan ngumpul lagi.
Saya bersiap untuk naik ke tebing, bareng temen-temen yang belum naik ke tebing sebelumnya.
Melihat pemandangan luasnya samudera…
samudra 1

CIMG3097

DSC_0179
Wohooo,, that was the awesome part.

Ini yang saya paling suka dari Pulau Sempu. Pemandangan ini. Momen ini.
Samudera luas, cipratan air laut dari ombak yang menghantam karang, langit..
Ciptaan Allah yang Maha Luar Biasa..
IMG_6776

samudera
(picture taken by me when Hq stood alone with those ocean as his background, stunning! *muji karya sendiri gini,hihi*)

DSC_0163

Yang saya lakukan, hanya cari spot paling pewe untuk nikmatin view samudera, dan duduk diam.
Memejamkan mata, mendengar suara laut, menghirup udara segar. that’s it and I’m satisfied!
Pemandangan Laguna dari atas tebingnya juga keren.
saya

Menjelang maghrib, baru saya turun, dan ikut bantu nyiapin makan malem.
Menu kali ini, selain tentu saja mie instan, masak nasi dan sarden.
Makan apapun selama bisa bareng temen-temen yang asik sih bakalan kerasa nikmat.
Abis sholat maghrib, kami berkumpul melingkar diatas terpal untuk menyantap makan malam kami di tengah Pulau Sempu.
IMG_6793

IMG_6796

Jadwal abis makan adalah main UNO.
Tapi sayangnya baru aja mau mulai, udah gerimis, dan ga lama hujan.
IMG_6797

Ga sesuai harapan banget sih hujan di malam harinya.
Karena kami kan ngebayanginnya ngabisin malam sambil main UNO, bakar-bakaran, berpayungkan bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Tapi jadinya kami habiskan malam di dalam tenda, berpanas-panasan, dan tidur.
Hujan semakin deras, bahkan lebat. Suara guntur dan kilatan petir udah bersahut-sahutan.
Ditambah tenda bocor, bikin makin ga oke untuk tidur. Tapi kami ber-6 sih nikmatin aja.
Dengan berbagai gaya di dalam tenda yang sempit, kami nyoba posisi paling pol untuk istirahat.
Padahal baru jam 8 malem, tapi kami terkurung di dalam tenda.

Lalu tanda-tanda hujan lebat segera berakhir mulai terdengar.
JREEENNGG… kedengeran suara gitar dan nyanyi-nyanyi keras dari tenda depan. sounds so fun.
Mereka tetep tau caranya nikmatin pantai malam hari walau hujan.
Temen-temen cewe lain udah pada tidur, tapi karena panas dan gerah, saya memilih untuk keluar tenda.
Seger banget kena angin laut di malam hari. Masih gerimis jadi saya pake payung beneran.
Ada 2 orang temen cowo yang ga tidur juga, arga dan pingpung masih diluar tenda. jadi sambil denger teriakan-teriakan yang nyanyi, kami ngobrol-ngobrol.
Menjelang tengah malem, udah ga gerimis, kami masak air panas untuk seduh kopi.
Bintang mulai terlihat, suara-suara teriakan nyanyian mulai redup, hanya terdengar suara-suara samar orang-orang yang masih ngobrol dari tenda sekitaran, dan suara ombak.

Minggu, 30 Juni 2013
Saya nanya ke temen sekarang udah jam berapa. Dijawabnya kalau ternyata baru jam 1 dini hari.
Malam terasa panjaaang.. ingin segera subuh dan hunting sunrise dari atas tebing.
Jam setengah 2 pagi, saya mutusin untuk masuk tenda dan mulai tidur-tidur ayam hingga mungkin jam setengah 5.

Walau ga tau tepatnya jam berapa, tapi harusnya udah masuk waktu subuh.
malah langit udah mulai beranjak terang.
Kami semua bangun dan sholat subuh bergiliran.
Saya udah ga sabar untuk segera naik ke tebing dan liat sunrise.
Tapi ternyata, sunrisenya ketutupan sama bukit ;(
Hanya bisa menimati siluet horizonnya aja. Tapi tetap bisa bikin dunia saya serasa berhenti.
IMG_6808

IMG_6799
Hingga langit benar-benar sudah terang, saya baru turun dan bantu siapin sarapan, dengan melihat yang masak dan ngabisin stok cemilan, ehehe.

Sesuai perjanjian dengan mamang guide, kami akan dijemput jam setengah 9 pagi.
Jadinya setelah sarapan, dengan mie instan lagi, kami bongkar tenda dan bersiap untuk packing pulang.
IMG_6820

IMG_6815

Sambil nunggu dijemput guide, kami mulai beraksi lagi, foto-foto.
Sok-sok lupa kalo perjalanan pulang nanti bakalan lewat rute “The Hell” hutan hujan tropis seperti kemarin.
Nyeseknya, Kali ini ga ada suguhan pelepas lelah indahnya Laguna, tapi langsung pantai menuju sendang biru.
Pas lagi hari ini adik saya ulang tahun.
bea

DSC_0312

DSC_0322

Jam 9 akhirnya guide kami datang dan kami langsung berangkat perjalanan pulang.
OK! Kali ini bener-bener “HELL” (astaghfirullah ;p).
Efek hujan lebat tadi malem bikin treknya makin “HELL” (astaghfirullaaah ;D).
Makin lama, makin berat sama lumpur di sepatu dan celana. Udah ga pilih-pilih jalan lagi, nyemplung aja di kubangan lumpur. Jatuh kepleset cuman sekali, tapi buat saya perjalanan pulang 3 jam paling “HELL” yang pernah saya alamin.
IMG_6865

IMG_6869

IMG_6871

IMG_6872

IMG_6874

IMG_6875

Kaki lecyet, tanah becyek, ga ada ojyek. Sendi betis mulai bermasalah yang bikin jalan saya makin pelan karena sakit dan tertinggal paling belakang. Ditambah bengkak di bahu akibat gendong carrier berat mulai kerasa. perfekto.
Bikin saya berazzam, perjalanan ke Sempu ini cukup sekali seumur hidup aja.
Ga lagi-lagi mau dateng karena penasarannya udah terselesaikan tuntas.
Saya lebih milih naik Semeru berkali-kali dan kemping kedinginan di Ranu Kumbolo.

Dengan langkah gontay karena betis sakit dan kaki lecet, akhirnya tertatih-tatih sampai di tempat start yang sekarang jadi tempat finish perbatasan Pulau Sempu. Ga saya banget pokoknya >.<
Perahu kami sudah menjemput dan sebagai orang yang ditunggu karena berada di paling akhir, saya langsung naik ke perahu.
Saya hanya duduk di tepi perahu, menikmati perjalanan menuju pantai sendang biru sambil melepas letih, yang sebelumnya melepas sepatu yang bikin lecyet.

Sampai di Sendang Biru jam 12an, saya langsung turun, nyeker menuju toilet untuk bersih-bersih.
Disusul temen-temen yang lain.
ELF sudah menjemput, dan kami skip makan siang karena akan disuguhin makan di rumah Hq, di Malang.
Setengah 2 siang kami berangkat meninggalkan Sendang Biru dan setengah 4 sampai di rumah Hq.
Istirahat makan dengan tahu telur bikinan ibunya Hq, sambil ngobrol-ngobrol dan nonton bola (PERSIB euy).
Jam setengah 6 kami pamitan untuk kembali ke Bangil.
Perjalanan cukup lama karena lalu lintas padat, akhirnya baru sampai Bangil setengah 11 malam.
Saya langsung beres-beres ngeluarin yang kotor dan bersih-bersih diri lagi dengan lebih baik dan benar.

Cukup sudah perjalanan ke Sempu ini. Cukup jadi pengalaman sekali seumur hidup.
Tapi tetep harus dicoba, biar tau serunya menembus hutan tropis, main di laguna di tengah Pulau Sempu, dan sensasi melihat samudera dari atas tebing 🙂

DSC_0318
Genng Sempu kali ini:
(the Females) Mak Atun, Tatik cilik, Mba Inne, Mery, Mba Nana, Sayaa
(the Males) Haqi, Hanafi, Habibil, Husni, Arga, Yakin, Fendrian, Bayu

6 Comments

Filed under jalan-jalan, pantai

JOGYES! (1) Gua Pindul, Sungai Oyo

Cerita traveling wiken ini langsung menuju lintas provinsi.
Sekitaran sebulan lalu, ada ajakan ke Gua Pindul, Gn. Kidul, Jogja dari temen-temen ISD.
Kebetulan ga lama sebelumnya saya sempet liat foto IG di instagram tentang Gua Pindul. Dan itu cukup stunning. Tanpa pikir panjang yasudah saya mengiyakan untuk ikutan backpackeran ke Jogja ini.

Jumat, 21 Juni 2013
Berdasarkan rencana awal, keberangkatan menuju Jogja menggunakan bus dari Terminal Bungur Asih (Surabaya).
Abis pulang kerja jam setengahg 5 sore, sebagian temen-temen udah langsung menuju rumah/kosan masing-masing untuk packing dan siap-siap.
Saya masih harus ngerjain tugas dulu, jadi baru bisa balik kosan jam 6 sore.
Yang ga jelas adalah MbaIv, yang salah ngerjain tugas dan harus kebut ngerjain tugas yang baru karena itu tugas harus disubmit hari ini juga.

Kami harus berkumpul jam 8 malem di stasiun, karena ke Bungur asihnya nebeng temen yang sekalian pulang ke Surabaya.
Tapi ternyata, karena sampe jam 8 itu MbaIv masih di kantor ngerjain tugas, akhirnya kami duluan berangkat ke Bungur dan MbaIv nyusul naik bus.

Jalanan menuju Surabaya kalo wiken gini pasti macet. Jadinya estimasi sejam sampai, ngaret setengah jam. Setengah 10 malam kami sampai di Bungur.
Setelah di drop, kami menuju tempat tunggu. Dengan rencana mau ke Garasi Bus Eka/Mira langsung, tapi setelah ada konfirmasi MbaIv udah naik bus dari Bangil menuju Bungur.

Akhirnya setelah jalan-jalan dari depan sampe belakang, balik lagi ke depan Terminal untuk nebeng Bus yang mau ke Garasi, yang duluan dateng itu MbaIv.
Setelah semuanya kumpul, kami langsung dapet juga Bus menuju Jogja, tapi ga sesuai rencana. Rencananya kami mau naik bus Eka, karena eksekutif kursinya nyaman dan ada berhenti istirahat untuk makannya.
Tapi karena buru-buru, jadinya kami naik Bus Mira yang pertama kali dateng ke terminal, tarif ekonomi yang bikin pegel sebadan-badan dengan perjalanan 8 jam.
Bayar tiket on the spot Rp 38.000, dengan harga setengahnya dari budget naik Bus Eka.

Perjalanan naik bus ekonomi berjam-jam buat saya kurang rekomended, kecuali sangat-sangat tahan dengan kursi keras dan ugal-ugalannya.
Jam 6 pagi, sampailah kami di Terminal Giwangan, Jogja.

Sabtu, 22 Juni 2013
P1100243
Sesampainya di Giwangan, kami istirahat mengendurkan sendi-sendi sekalian ke toilet dan ngehubungin mobil yang kami rental untuk seharian ini.
Kami minta dijemput jam setengah 8, karena mau cari sarapan dan penginapan dulu sebelum langsung menuju Gua Pindul, Gn. Kidul.

Setelah mobil datang untuk menjemput, kami menyerahkan sepenuhnya ke supir mobil, yang mana adalah temennya Pakdj waktu di Batam, untuk cari sarapan.
Putar-putar Jogja sebentar, lalu kami diantar ke warung makan deket alun-alun kidul.
P1100253
Saatnya sarapan di Jogja dengan bacem (tapi bukan gudeg).
IMG_6604

IMG_6602

P1100265

P1100266
Minuman yang paling saya suka: Wedang Uwuh.
Minuman Jahe, dengan banyak rempah-rempah (batang secang, cengkeh, kayu manis, daun salam, dan daun-daun lainnya)

Abis sarapan, kami foto-foto sebentar di alun-alun kidul, diantara Pohon misterius itu loh.
P1100271
Sebentar aja, karena kami harus ngejar waktu ke Gua Pindulnya biar ga kesiangan.
Tapi sebelumnya kami harus cari penginapan dulu. Soalnya selama kemarin-kemarin mau booking, pasti penuh mulu. Pas dengan liburan sekolah sih.
Kami minta cari di daerah malioboro, biar enak jalan-jalannya gitu.
Beberapa penginapan kami singgah dan tanya, udah penuh semua.
Akhirnya dapet juga penginapan di deket bakpia 25, dengan rate yang murah.
Satu kamar, kamar mandi dalam, AC & TV, 2 large bed, seharga Rp 310.000.
Karena hanya itu yang available dan murah, kami langsung booking.
Satu kamar untuk ber-6. Bareng sama cowo-cowonya sih, tapi ga kepikiran juga untuk tidur, karena malah berencana untuk menghabiskan malam sambil kopi Joss atau midnight nonton Superman, hihi.

Abis turunin barang-barang, ganti baju untuk beraksi basah-basahan, kami ke mobil dan langsung menuju Gua Pindul.
Perjalanan lumayan jauh, 40 km-an. Jadi selama perjalanan bisa tidur dulu. Tapi pemandangan sepanjang jalan masuk Gn. Kidul itu bagus, sayang kalau ga dinikmatin.

Pas mendekati jam 12 siang, kami tiba di pusat wisata Gua Pindul.
Kami harus daftar dulu, ikut paket wisata yang mana dan bayar.
Kami pilih wisata Gua PIndul (Rp 30.000) dan rafting di Sungai Oyo, track panjang (Rp 45.000).
Walau yang dateng udah rame, sampe berbus-bus, tapi kami bisa langsung menuju lokasi.

Jalan sebentar, kami ambil ban GEDE untuk nanti kami naik masing-masing, kami bawa ke lokasi Gua Pindul.
P1100288
Lumayan buat pemanasan ngelatih otot tangan, wkwkwk.

Sampai di lokasi Gua Pindul, kami brifing dengan pemandunya, dan berdoa.
Lalu satu per satu kami turun ke sungai dan duduk diatas ban masing-masing.
Satu grup saling pegang ban kawan di sampingnya, biar ga kepisah.
P1100310

P1100308

P1100314
Selamat masuk ke Gua PIndul, wisata penelusuran sungai dengan pemandangan batu-batu alam stalaktit dan stalagmit.
Sayangnya, kamera anti air Pakdj berembun parah, jadinya foto-fotonya kurang pol ;(
P1100320

P1100330

P1100337

P1100359

P1100360

Perjalanan 300 m di sungai bawah Gua itu sambil mendengarkan cerita pemandunya tentang sejarah Gua Pindul.
Saya kurang merhatiin sih, karena ga kedengeran juga, hihi.
Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di ujung Gua. Tapi perjalanan kami belum selesai.
Next destination is semi-rafting di track panjang Sungai Oyo.

Menuju SUngai Oyo, kami keluar area Gua Pindul, naik jeep terbuka.
P1100402
Perjalanan darat 20 menitan, kami sampai di pinggir sungai Oyo.
Bersiap untuk menikmati arus sungai yang ga terlalu deras, diatas ban.
P1100432

P1100444

P1100482

P1100512

P1100544P1100402

Tracknya memang panjaaaang. Kami santay banget serasa di pantay. Pokoknya cukup bikin enjoy.
Walau arusnya ga deras sih, jadi kurang unsur peningkatan adrenalin-nya.
Kami sempet istirahat di air terjunnya, foto-foto, dan loncat-loncat dari tebing ke sungai.
Lalu melanjutkan penyusuran sungai, pokoknya tau-tau udah akhir perjalanan.
Lalu kami dijemput jeep lagi menuju tempat awal mobil parkir, dan barulah bener-bener berakhir wisata di kawasan Gn.Kidul ini.

Setelah itu kami bersih-bersih, mandi, dan bersiap untuk menikmati sunset di Pantai Indrayati sambil makan ikan bakar.
Pkl 15.30 kami berangkat, dan sebagian temen terlelap (lagi) karena perjalanan masih cukup jauh.

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, tempat wisata

JOGYES! (2) Pantai Indrayati, Angkringan Malioboro

(masih) Sabtu, 22 Juni 2013
Perjalanan ke Pantai Indrayati sekitar 1.5 jam.
Pokoknya ngejar sunset banget deh. Dan sepanjang jalan menuju Pantai itu ternyata banyak Pantai-pantai lainnya, dengan nama masing-masing.
Tapi kami maunya ke Indrayati, jadi walau ada di ujung dan relatif jauh, tetep dijabanin.

Sampai di Indrayati, pas lagi mau sunset.
Langit masih lumayan bagus, walau ada mendung-mendungnya.
Tapi bisa puas foto-foto di pantai sambil nunggu ikan bandeng laut bakarnya siap santap.
Saatnya bernarsis ria dengan background pantai \(^^\)(/^^)/
IMG_6616

IMG_6640

IMG_6646

_DSC0148

_DSC0195

_DSC0215

_DSC0185

_DSC0269

_DSC0172

Puas foto-foto dengan berbagai pose narsis dan terbang.
Akhirnya ikan bakar yang kami pesan mateng juga, siap santap dengan minum air kelapa muda.
Best pokoknya. Makan di pinggir pantai, backsound air laut, background langit sunset keemasan, dan teman-teman menyenangkan.
IMG_6664

IMG_6668

IMG_6663

Selesai makan, jam 6 langit udah mulai gelap juga, kami siap-siap kembali ke Jogja kota.
Jadwal masih padat, karena kami masih ingin eksplor malioboro dan nyoba kopi joss di angkringan sebelah stasiun Tugu.
Tapi ternyata, perjalanan dari pantai Indrayati ke Malioboro itu bisa sampai 4 jam!
Sang supir yang tau harapan kami, melajukan mobilnya dengan kencang, libas kanan kiri, hantam depan, terus maju.
Akhirnya bisa korting 2,5 jam sampai penginapan.
Kami turunin barang-barang, karena mobil disewa untuk sehari aja, lalu kami masuk mobil lagi untuk nebeng ikut ke Malioboro.

Berada di Malioboro pada malam minggu itu bukan pilihan yang tepat juga, karena saya ga suka berada di keramaian yang sangat ramai.
Tapi saya harus beli celana panjang dan kaos tangan panjang untuk tidur.
Soalnya saya ga bawa baju tidur. dan siap-siap kalau harus share sekamar sama cowo (hiiy).
Lumayan juga malioboro di keramaian, banyak yang pentas musik dan kesenian lainnya.
_DSC0312

_DSC0309

_DSC0295

Udah puas menyusuri Malioboro di malam hari dari ujung stasiun sampai ujung keraton,
kami balik arah lagi menuju arah stasiun karena mau nyoba angkringannya.
Kopi Joss! itulah tujuan utama kami.
Buat saya sih penasaran banget kopi yang pake arang panas ini. Secara penggemar kopi, kayaknya ga afdol kalo ke Jogja tapi ga coba kopi joss yang terkenal itu.
Jadilah kami melewati waktu sampai lewat tengah malam, ngobrol-ngobrol ditemani kopi joss, nasi kucing, kacang gurih, gorengan, dan sate-satean (sate telur puyuh, sate usus, sate kerang).
Beserta khalayak umum lainnya yang memenuhi trotoar sepanjang jalan stasiun.
_DSC0324

_DSC0330

IMG_6675

Entah jam berapa, setelah selesai makan, kami akhirnya memutuskan untuk balik penginapan.
Kami tetep harus jalan kaki, yang jaraknya lumayan, karena udah ga ada angkutan umum dan males naik becak.
Nikmatin aja. menyusuri jalan Yogyakarta di malam hari.
Hingga sampai di penginapan, kami mengusir para pria untuk keluar selagi kami bersih-bersih dan bersiap tidur, huehue.
Dan untungnya emang para pria itu mau cari mie goreng dan terang bulan a.k.a martabak manis buat cemilan. (tapi terang bulannya ga dapet,huhu)

Pokoknya baru pukul 01.30an saya mencoba untuk tidur, yang mana ga bisa tidur aja sampai subuh tiba.

Minggu, 23 Juni 2013
Hari ini dimulai dengan mencari House of Raminten untuk sarapan.
Dengan semangat berjalan kaki, ala backpack bule banget pokoknya, kami jalan hingga ke kota baru dan ke tempat House of Raminten.
Tempat ini terkenal dengan interior bergaya tradisional dan pelayannya yang pake baju tradisional juga.
Buka 24 jam bo! dengan menu makanan tradisional dan harga yang relatif murah.
Overall boleh juga laah, makanan dan minumannya enak.
Apalagi yang pesen ukuran jumbo, memang ga menipu.
IMG_6679

IMG_6690

IMG_6697

IMG_6698

IMG_6699

IMG_6706

_DSC0337

keasikan di House of Raminten yang cozy dan ada yang pesen makanan berkali-kali,
ga kerasa udah siang aja. Padahal jam 1 kami harus check out.
Jadinya kami buru-buru jalan ke arah Malioboro, untuk ke pasar Beringharjo beli oleh-oleh batik (bagi yang mau).
Saya sih ga ada yang mau dibeli juga, jadinya beli sekedarnya untuk oleh-oleh temen kantor, c babeh bos, dan titipan teman.

Menjelang jam 1, kami berkumpul di penginapan untuk check out.
Jadwal kereta kami masih jam 16.15, akhirnya selagi menunggu itu, ada yang ke Bakpia 25 dulu untuk beli oleh-oleh.
Lalu sekalian jalan menuju stasiun, kami singgah makan siang.

Sampai di stasiun, duduk-duduk sebentar sambil ngeskrim, ga lama kereta tujuan Surabaya pun udah dateng.
Kami langsung menuju kereta dan duduk dengan manis di seat kami.
Jadwal sampe di Stasiun Gubeng, Surabaya, jam 21.15 (estimasi 6 jam perjalanan)
IMG_6711

IMG_6714(
(yang ngikut backpack Jogyes! Made, Pakdj, Mbakdhi, MbaIv, Nane)

Sampai di Surabaya on time, kami menunggu mobil jemputan. travel menuju Bangil.
Dan perjalana di surabaya diakhiri dengan makan malam di nasi goreng/mie goreng langganannya Mbakdhi.
Huaaa, berakhir sudah cerita kami di Jogja kali ini.
Masih pengen jalan-jalan lagi bareng temen-temen iniii
>.<

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, kota, pantai

Jelajah Jepang; Hari 1 (Tokyo) & Hari 2 (Kyoto)

Sebenarnya udah lama tur-nya, yaitu dari tanggal 23 Agustus lalu, tapi baru ada mood untuk nulisnya,hehe.

Awal cerita dimulai ketika para keponakan saya, yang berjumlah 4 orang, memutuskan untuk berlibur ke Jepang selagi mumpung saya masih ada di Jepang.
(walau keponakan, tapi mereka udah pada gede2.. ada yang udah kerja, umurnya jauh lebih tua dari saya pula.. yang lain ada yang baru lulus kuliah, tingkat 5 kuliah, dan yang paling muda tingkat 2.. fufufu, jadi tante cilik)
Setelah berurusan cukup ribet dengan prosedur bikin visa, tiket udah ada, dan persiapan udah oke, berangkatlah para keponakan saya itu tanggal 22 Agustus malam dan sampai di Narita Int’l airport tanggal 23 Agustus jam 9an pagi (menurut jadwal) tapi baru ketemunya jam 10an.

23 Agustus 2012

Saya datang jemput mereka di bandara.
Udah dari abis subuh langsung berangkat, soalnya jauh pisan kosan saya ke Narita itu.. 2,5 jam ada kayaknya.
Pas ketemu mereka pada bilang saya kurusan *asseeekkk* 😀
Setelah itu, kami ke tempat JR untuk tukar tiket JR Rail Pass.
Tiket JR Rail Pass itu adalah tiket khusus transportasi untuk visitor yang ke Jepang. Dengan pake JR Rail Pass, bisa naik semua kereta, bus, bahkan shinkansen jalur JR kemana pun di Jepang ini selama 7 hari (yang paling murah).
Enak banget deh pokoknya.. tapi sayangnya saya ga bisa pake tiket JR Rail Pass, soalnya hanya untuk visa turis aja,huhu..

Sesuai jadwal, hari ke-1 ini setelah sampai Jepang, saya ajak mereka jalan-jalan di sekitaran Tokyo.
Lokasi pertama itu, Shinjuku; karena sekalian nyimpen barang bawaan di loker stasiun.
Dari Shinjuku diterusin ke Harajuku, jalan ke Shibuya, lalu terakhir ke Akihabara.
Sayangnya ga sempet ke Tokyo Tower, soalnya udah kecapean dan mutusin untuk istirahat pulang ke kosan saya buat besok yang akan sebenarnya tur.

Malam sampai di kosan, kami istirahat sambil beres-beres barang untuk dibawa jalan-jalan ke daerah Kansai dan Hiroshima selama 4 hari.
Sekalian ngeluarin barang-barang titipan; kue lebaran, keripik tempe, dll *yeay!*
Lewat tengah malem baru deh maksain pada tidur karena harus pagi-agi berangkat ke kota pertama di Kansai.

24 Agustus 2012

Sehabis subuh, yang para keponakan itu susyah syekali dibangunin, kami bersiap petualangan dengan tema Exploring Japan’s Heritage.
Kami maunya pergi ke tempat-tempat yang nunjukkin Jepang bangetnya. Yaa, Jepang jaman dulu gitu deh.
Tujuan kota pertama adalah Kyoto.
Perjalanan ditempuh sekitar 2.5 jam dengan kereta Shinkansen dari Odawara hingga Kyoto.
Sampai Kyoto jam 1o-an pagi, kami langsung beli tiket bus untuk wisata satu hari seharga ¥500.


Tempat pertama yang ingin dikunjungin adalah Kinkakuji (Gold Temple).

Cuacanya lagi agak mendung sih..

Setelah dari kinkakuji, kami lanjut naik bus lagi ke lokasi tujuan selanjutnya; Kiyomizudera.
Yang lucunya, seharusnya kami turun di pemberhentian bus depan Kiyomizudera. Karena perjalanan cukup jauh, saya sampe ketiduran, terus orang-orang juga banyak banget di bus. Pas bangun, keponakan saya yang paling besar, bang Oky (he’s a true traveller), turun dari bus.
Tapi Kata keponakan yang duduk di depan saya, Eji, bilangnya bukan di bus stop ini. Jadinya saya nyuruh bang Oky naik lagi, tapi bang oky-nya malah diem.
Kami yang tersisa berempat, melanjutkan perjalanan bus, dan baru ngeh, kalau tempat turun bang Oky itu yang bener.
Jadinya, kami turun dari bus dan balik lagi ke bus stop tempat bang Oky turun.
Setelah balik lagi, ga ketemu dong bang Oky-nya!! *dimana diaaa?*
Udah mah sama sekali ga ada alat komunikasi yang bisa diakses.
Jadinya kami berempat nyoba nyari sampe ke Kiyomizudera dulu, siapa tau bang Oky disana.
Tapi sampe sore, ga ketemu juga dengan bang Oky.

Gerbang menuju Kiyomizudera.
Dengan langit yang sangat cerah dan udara yang sangat panas.
Ketiga keponakan saya karena capek jalan, mereka milih duduk pinggir jalan.
Saya sih jalan-jalan sekitaran Kiyomizudera, karena sepanjang jalannya itu toko oleh-oleh, sekalian icip-icip mochi gratisan,hihi.

Karena ga ketemu juga bang Oky, kami mutusin untuk kembali dan membagi dua kelompok.
Ada yang nunggu di depan jalan arah Kiyomizudera, ada yang balik ke stasiun Kyoto, dengan sebelumnya perjanjian kalau udah jam 5 sore ga ada progress, yang di Kiyomizudera balik ke stasiun Kyoto.
Saya dan ponakan yang perempuan, Melly, berangkat ke stasiun Kyoto.
Pas ditengah jalan di bus, ada telfon, yang bener sesuai feeling kalau itu dari bang Oky.
Dan emang bener aja  bang Oky udah di stasiun Kyoto.
Jadinya kami semua balik lah ke stasiun Kyoto dan mutusin untuk langsung ke kota selanjutnya karena udah agak malem juga.
Lokasi tujuan rencana ketiga kami di Kyoto ga berhasil dikunjungin, yaitu Fushimi Inari, hiks.

Dari Kyoto ke Osaka ditempuh dengan kereta ekspress biasa selama 1 jam.
Sampai di Osaka, yang cowo-cowonya nginep di penginapan backpacker daerah Shinimamiya, sedangkan saya dan ponakan perempuan numpang di apato temen saya, Amel.
Sebelumnya, kami makan malam beli bento ebi furai, oden, dan ngabisin bekel nasi goreng sisa sarapan pagi.

Berakhir juga petualangan di kota tujuan pertama di Kansai yang bener-bener berpetualang mengandalkan insting untuk nyari orang, ahaha.

1 Comment

Filed under jalan-jalan, memoar jepang