Tag Archives: ramadhan

Budaya Cek dan Ricek

Memasuki akhir bulan April lalu, cukup banyak saya terima broadcast bbm atau di grup WA tentang info keutamaan puasa di Bulan Rajab. Isinya seperti ini:
“Bulan Rajab jatuh pada tgl 30 April 2014. Barang siapa puasa 1 hari, maka seperti laksana puasa 1 tahun. Barang siapa puasa 7 hari, maka ditutup pintu-pintu neraka Jahanam. Barang siapa puasa 8 hari, maka dibukakan pintu 8 surga. Barang siapa puasa 10 hari, maka akan dikabulkan segala permintaannya. Barang siapa mengingatkan kepada orang lain, seakan ibadah 80 tahun. Subhanallah”

Bagus ya keutamaannya. Eits, jangan langsung manut percaya dan puasa dengan niat seperti info diatas loh. Seumur-umur saya ini, baru sekarang tau ada ‘keutamaan puasa Rajab’ seperti itu. Lalu saya cek ricek dengan bertanya pada yang (insyaAllah) paham dan cari juga referensi di kajian-kajian internet, seperti disini. Ternyata walaupun konteks kalimatnya berunsurkan agama, tapi hal tersebut landasannya dhaif, lemah. Ga ada riwayat shahih yang pernah menyebutkan keutamaan puasa Rajab seperti itu.

Jaman sekarang makin banyak aja hadist-hadist-an yang tiba-tiba muncul. Kadang sebagai orang Islam, langsung percaya dan ngelakuin yang diinfokan tersebut. Padahal penting untuk sebelumnya dicek-ricek sumbernya shahih/benar atau tidak. Bukan untuk hal yang tentang agama aja, tapi apa pun info atau berita yang di dapat, lebih baik tetep dikumpulin infonya dari berbagai sumber; kalau kata dia kultur mengecek referensi. Agar ga asal-asalan ngikut tanpa paham sebenernya apa sih yang lagi dilakuin. Lebih bahaya lagi, ikut-ikutan ngebroadcast dan jadi agen hal-hal yang bid’ah (mengada-adakan perbuatan dalam agama). Saya sih taunya kalau ajaran-ajaran Rasulullah ga pernah ada yang memberatkan. Jadi kalau sekiranya ada yang mengatasnamakan ‘sunnah’ tapi kok ribet dan ngeyel, harus ditelusuri dulu kebenarannya.

Mending ikut yang udah jelas keshahihan hadistnya tentang shaum-shaum Sunnah, seperti sumber dari sini:
1. Puasa Senin – Kamis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).

2. Puasa Ayyamul bidh
Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan).
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)

3. Puasa Daud
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

4. Puasa 6 hari di Bulan Syawal
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

5. Puasa Arofah
Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

6. Puasa Assyura
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”
Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

7. Puasa di awal bulan Dzulhijjah
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih). Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.

Itu sih yang saya pahami tentang puasa-puasa sunnah. Kalau Shaum Ramadhan mah WAJIB atuh ya.. ada langsung di Al-Quran (QS. Al-Baqarah : 183-185). *Speaking about shaum sunnah, sebenernya niat saya masuk awal tahun 2014 ini adalah merutinkan kembali puasa senin – kamis, seperti jaman kuliah dulu. Tapi pada kenyataannya, belum bisa aja, heuheuheu.

Memasuki bulan Rajab, artinya tinggal 2 bulan lagi menuju bulan Istimewa dan Suci Ramadhan. Mengingatkan diri untuk meningkatkan ibadah, terutama puasa sunnah, sebagai latihan ketika masuk bulan Ramadhan sudah terbiasa dan bisa lebih maksimal lagi. Semoga disampaikan hingga bulan Ramadhan ini. Aamin.

Leave a comment

Filed under sharing

Ada Tanda – Tandanya

Ada yang selalu bilang, “keputusan yang udah diambil ga boleh disesali! jalani saja dengan ikhlas dan tanggung jawab”.

Bagi saya, misal, keputusan untuk bekerja di Indonesia daripada di Jepang. Alasan waktu itu karena saya ga mau terlibat rutinitas super hecticnya budaya kerja Jepang, super workaholic. Banyak saran dari senior-senior kalo untuk wanita lebih baik jangan kerja di Jepang. Kalau tambahan dari senior ngeyel saya, biar gampang dapet jodoh juga di Indonesia. Tapi, sekarang saya ngerasa lebih baik di Jepang aja. Walau kerjanya mungkin sibuk dan tetep jadi single (toh balik ke Indonesia juga ga ada perubahan), tapi saya masih dapet lingkungan yang bersih dan aman. Fasilitas dan pelayanan yang profesional dan nomor 1. Ketersediaan pangan yang lebih sehat dan fasilitas olahraga di taman yang terawat. Tentu saja gajinya juga berkali-kali lipat daripada disini. Nabung beberapa bulan aja, Saya udah bisa pergi haji dengan mudah tanpa harus antri bertahun-tahun, ditambah bisa traveling ke negara-negara lain juga. Komunikasi dengan keluarga lebih lancar karena internet lebih cepat dan stabil, Bisa bantu keluarga juga dengan nominal yang cukup. Lebih update keadaan di media sosial. Ga perlu bingung pengen gadget baru atau pengen kendaraan pribadi, karena transportasi umum sudah sangat layak. Dan yang paling penting, saya merasa lebih “baik” dalam hal keagamaannya ketika disana.

Hal diatas penuh dipikiran saya hari kemarin. Pengen balik Jepang, pengen ke Jepang lagi, gimana caranya bisa balik sana lagi, terus saya pikirin. Tetapi hari ini ada satu hal yang bikin saya bersyukur bisa ditempatkan disini. Yaa, sebenernya banyak banget yang harus disyukuri dimana pun saya berada, bahkan disini terlalu banyak hal yang harus disyukuri. Pagi ini seperti biasa, dapet wejangan sakti ala Al-Hikamnya c Babeh.

Beliau menekankan lagi tentang prinsip kepasrahan total kepada Allah, terhadap segala ketentuan-Nya. Udah berkali-kali beliau bilang kalau takdir manusia itu sudah ditentukan, dari sebelum lahir hingga nanti di akhirat akan masuk Surga/Neraka. Kali ini selain mengingatkan lagi tentang prinsip takdir, beliau juga bercerita tentang prinsip “Menyenangi setiap keadaan”. Mau keadaan yang terjadi itu emang bikin seneng atau malah bikin pengen marah. Tapi ya nikmati saja. Toh semuanya adalah ketentuan dari Allah. Bisa jadi kejadian-kejadian yang kita alami itu, yang berhubungan dengan manusia lain, adalah jalan hidayah untuk orang lain. Tentu saja untuk diri sendiri juga, karena sebagai bahan pengingat. Jadi buat apa marah-marah, karena ga ada gunanya. Pantes aja c Babeh ini emang ga pernah marah, mau se-tolol apapun anak-anak buahnya bikin masalah, tetep diajarin dengan sabar.

Babeh cerita tentang kejadian yang dialaminya sekarang. Bukan kejadian yang menyenangkan sih. Tapi dari kejadian tersebut beliau bisa memahami pelajaran lain, yaitu “Tanda-tanda orang yang ingin Allah dekati atau jauhi”. Beliau ini seperti bisa baca sifat orang, secara harfiah apa orangnya baik atau kurang baik. Kalau orang baik, itu berarti Allah ingin orang tersebut lebih dekat lagi dengan Allah. Kalau orang tersebut kurang baik, padahal udah banyak dibaik-baikin, berarti Allah ga pengen deket-deket. Tapi beliau menekankan, namanya tanda-tanda kan bukan berarti benar, tapi ada karena untuk kita berhati-hati. Apakah harus dekat dengan orang tersebut atau jangan. Sama aja prinsipnya seperti berteman dengan orang sholeh akan ikutan sholeh, dan sebaliknya.
Lanjut beliau, sekarang manusia itu pasti pamrih. Jangankan ke manusia, ke Allah aja pamrih. Sholat, Sedekah, bermuamalah, dan bentuk ibadah lainnya itu karena ingin dapet sesuatu dari Allah. Berdoa minta ini itu, apalagi kalo lagi ada masalah. Ada satu manusia yang tanpa pamrih melakukan semua hal demi manusia lain, yaitu seorang Ibu.

Contoh kasus. Ada seorang ajudan pengawal presiden, kelas elit, profesional. Semua yang disuruh dan diminta Presiden dia lakuin dengan sigap. Kapan pun itu, walau kalau dini hari mungkin pake misuh-misuh dulu baru bekerja (sama aja lah yaa kayak pegawai-pegawai lain yang klo dikasih kerjaan itu mencak-mencak tapi di depan bos bermuka manis, termasuk saya kok). Tapi ada pamrih di kerjaan yang dilakukan. Baik itu karena digaji, mau naik jabatan, atau tambahan bonus. Tapi kalo Ibu? Mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, memandikan, ngasih makan, bersihin kotoran, beliin perlengkapan diri, menyekolahkan, bahkan berdoa pun untuk anaknya semua. Tanpa pamrih, tanpa niatan apapun, tanpa alasan apapun, hanya melakukan semua demi anaknya.
OK, this part made me really want to be near my mom. dan ini tanda-tandanya saya harus lebih berbakti pada Ibu, fufufu.

Seharusnya begitu juga seorang hamba kepada Allah. Melakukan semua perintahnya tanpa ada alasan apapun. Beribadah karena memang sudah perintah-Nya yang harus ditaati, harus dijalankan. Intinya ya kepasrahan total tanpa ada embel-embel pamrih apapun dalam beribadah dan menjalakan hidup. Kalau udah bisa gitu, badan itu akan ngerasa melayang, saking ringannya ga ada beban. Yatapi, hal itu dalam realitanya sangat susah luar biasa untuk dijalankan. Hanya segelintir orang aja yang bisa bener-bener ga terbebani duniawi.
Paling enggak hal yang mungkin ga bisa saya dapet di Jepang itu bertemu dengan atasan yang suka ngasih wejangan seperti itu. Walau beliau bilang “saya mungkin ga sadar ngomong begini ke kamu, ini karena Allah yang menggerakkan. Bisa aja sebentar lagi saya lupa dengan apa yang udah diucapkan ini. Tapi paling tidak bisa berbagi dan sedikit memberikan pencerahan”.
Tsaahh.. pencerahan banget kok Pak.
Matur Nuwun 😉

Dan dengan GR-nya saya merasa Allah itu sangat sayang sama saya, karena ketika saya butuh hal untuk menyadari hakikat diri, selalu aja ada cara-Nya menyentil dan mengingatkan saya.
Segala puji bagi-Mu.

1 Comment

Filed under cerita-cerita, petuah si bos

Half Elapsed, Half to Go

15 Ramadhan 1433 H

I think this Ramadhan is worse than several past years.
Saya merasa sangat kurang pemahaman pentingnya bulan Ramadhan. Kurang di re-charge lagi tentang keutamaan-keutamaan ibadah di bulan Ramadhan. Sangat rendah secara kuantitas apalagi kualitas. Plain.. datar.. Kenapa?

Awalnya, waktu pulang kerja yang mepet waktu maghrib itu jadi bikin saya keburu-buru. Secara disini lebih Timur, jadi jam setengah 6 udah maghrib, sedangkan pulang kerja jam 5, yang mana ga mungkin banget langsung bisa pulang kerja. Tapi sekarang hal itu udah bisa jadi kebiasaan. Ya buka dulu aja di kantor, sholat maghrib, baru pulang. Toh, sholat tarawihnya juga sendiri. Selama disini ga pernah dengerin ceramah Ramadhan. Pernah sekali waktu buka bersama Mesjid kantor, tapi ya tentu saja kurang banget. Dua kali jumat di Bulan Ramadhan ini saya pasti keluar kantor mulu. Jumat pertama ke customer di Mojokerto, Jumat lalu ke Jakarta. Dan ada kemungkinan Jumat sekarang pun saya ke Cikarang. Jadi ga bisa ikutan kajian siang setiap Jumat di kantor.

Ah, excuse! Seharusnya alasan bekerja ga bisa jadi pembenaran. Walau aktivitas kerja yang sudah terjadwal ini agak bikin Ramadhan saya keteteran. Terutama ngajinya, yang biasanya kalo Ramadhan sehari itu lebih dari 1 juz, sekarang harus kejar-kejaran untuk bisa 1 juz. Bahkan artinya aja sama sekali ga dibaca. Tarawih, tetep dilakuin tapi sendirian, soalnya kurang sreg dengan metode 23 rakaat yang super cepat itu. Tahajud, masih bisa dilakuin juga sebelum sahur. Sejauh ini masih aman ga sampe bablas ketinggalan sahur walau secapek apapun. Dhuha dan rawatib, masih sama seperti hari-hari diluar Ramadhan, yang seharusnya ga boleh sama minimal di kuantitasnya.

Yang paling bikin ngerasa worse itu adalah kualitas dari ibadah-ibadah yang dilakukan. Seperti ga ada feel-nya. Ibadah banyak ga konsentrasinya. Berdoa pun jarang sekali. Entah karena doktrin c babeh yang selalu bilang berdoa itu ga terlalu ngaruh terhadap Takdir yang udah ditetapkan, atau karena tahun-tahun lalu di bulan Ramadhan saya berdoa sangat keras dan terlalu berharap tapi belum juga doa saya dikabulkan hingga akhirnya sekarang saya pasrah aja gimana Allah. Atau karena ketidakjelasan visi hidup, sehingga ga ada tujuan yang jadi motivasi saya untuk berusaha. Above all, it should be no excuses.

I understood that No one can help beside Allah and myself…
Astaghfirullah
any enlightment, please?

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

1 Ramadhan 1434 H

Tahun ini keempat kalinya saya menjalankan shaum Ramadhan di perantauan. Sebelumnya 3x nyobain suasana Ramadhan di luar negeri, Jepang. Kali ini walau udah berada di dalam negeri, tapi tetep merantau pergi jauh dari keluarga di Bandung, sekarang Ramadhan di Pasuruan. Tahun ini pun ada beda waktu mulainya 1 Ramadhan. Ada yang 9 Juli dan ada yang 10 Juli. Kalau yang mulai 9 Juli itu menggunakan metode hisab (penentuan tanggal), dan biasanya Muhammadiyah yang tetep pake metode ini. Jadinya muslim yang percaya metode hisab udah mulai puasa dari kemarin. Sedangkan pemerintah menggunakan penentuan rukyat melalui sidang itsbat. Ada yang ikut pemerintah puasa hari ini karena ayat Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kalian” QS. An-Nisa:59.

Ada pun dengan golongan penganut ulama salafusshalih yang menggunakan dalil hilal sebagai penentuan awal dan akhir Ramadhan.

“Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh.” (HR Muslim)

“Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) , maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal ), maka berbukalah.” (HR Muslim).

Bagi saya, setelah belajar mengenai ilmu penentuan waktu tahun Hijriyah ini Ramadhan tahun lalu, saya lebih meyakini yang menggunakan metode Hilal karena based on hadist-hadist yang shahih dan kuat. Jadi saya mulai berpuasa hari ini bukan ngikut pemerintah, tapi karena ada informasi (insyaAllah) shahih waktu tanggal 8 malem itu belum terlihat Hilal. Jadinya bulan Sya’ban digenapkan 30 hari, dan mulai 1 Ramadhan pada 10 Juli 2013. Untungnya taun ini pengumuman pemerintah sama dengan para golongan pengikut shalafusshalih, jadi ga bikin dilema ke saya-nya kalo harus dadakan puasa di tanggal 9 Juli. Kalau keluarga di Bandung sih udah puasa dari tanggal 9 Juli, secara Muhammadiyah-ers gitu yaa kepala rumah tangganya. Tapi tetep saling menghormati keputusan masing-masing muslim, mau meyakini yang mana untuk memulai shaum 1 Ramadhannya.

Eniwei, tarawih pertama kemarin malem di mesjid tepat samping kosan yang tepat di pinggir jalan raya juga, jadinya berisik sama suara lalu lalang mobil, truk, bus, dan motor. Walau pak mic, tetep aja suara imam-nya ga terlalu kedengeran. Metode sholat tarawihnya 23 rakaat, @ 2 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir, yang merupakan pertama kalinya buat saya ikut yang 23 rakaat. Bener kata rumor, klo tarawih 23 rakaat itu bacaan dan gerakan sholatnya wush, kilat. dan Setiap rakaat kedua bacaan sholat pendeknya itu pasti Al-Ikhlas. Total waktu sholat isya dan tarawih 23 rakaat itu 1 jam. Abis witir ada ceramah singkat sih, tapi saya langsung hengkang karena ga kedengeran plus pake boso jowo.

Sahur hari pertama dibangunin sama temen kosan jam 3 lebih. Temen-temen kosan udah pada makan jam segitu, sedangkan udah kebiasaan saya klo sahur pasti mepet subuh. Jadi ritual sebelum sahur itu biasanya Tahajud dulu baru sahur. Kebiasaan juga klo sahur ga pernah makan nasi atau heavy meal. Biasanya cuman minum susu, jus buah, atau bahkan air putih doang. Paling tambahan makan biskuit atau roti yang dicocol ke susu. Seperti sahur kali ini, sambil nelfon rumah, dibuka dengan makan buah pir, minum susu yang dicampur kopi berempah, dan roti gandum. Jadi ga perlu waktu lama untuk sahur. Jadwal Subuh disini lebih awal looh. Kan letaknya juga lebih ke timur. Jadwal subuh Pasuruan Pkl 04.22, sedangkan di Bandung Pkl 04.42 (beda 20 menit itu rasanyaa…) Tapi ya otomatis maghrib disini lebih awal, fufufu.

Ada salah satu target Ramadhan saya kali ini untuk latihan fisik, yaitu tetep rutin jalan pagi sehabis subuh, jam 5 s.d 6 pagi. Asiknya kali ini ada yang nemenin, vroh Molly, yang bisa menghalau rasa malas dan kantuk untuk gerak olga pagi lagi. Pas banget akhir-akhir ini cuaca lagi bagus dan cerah. Langit pagi itu pinky and cool blue-ish. Perfect time to inhaling some fresh morning air, feeding skin and bone, and indulging eyes.

morning ramadhan day1

Memulai kebiasaan baik itu memang sulit, tetapi menghentikan kebiasaan buruk itu jauh lebih sulit. Lakukan! hingga bisa ditaklukan, dan hasilnya akan sangat memuaskan.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Waktu Paling Mustajab Untuk Berdoa

Berikut adalah waktu paling baik untuk berdoa dan dilipatkan pahalanya:
1) 10 hari akhir bulan Ramadhan, pada malam hari.
2) 10 hari awal bulan Dzulhijjah, pada siang hari.
3) Hari tasyrik; 11, 12, 13 Dzulhijjah.
4) Malam jum’at hingga hari jum’at; dari ashar hingga maghrib.
5) Sepertiga malam terakhir.
6) Setiap pagi dan petang.

Adapun orang-orang yang paling didengar dan dikabulkan doanya adalah:
1) orang yang dianiaya/didzolimi; tidak ada hijab antara orang yang didzolimi dengan Allah.
2) orang yang beriman/dekat dengan Allah; orang-orang yang ikhlas dalam mengerjakan ibadah-ibadahnya.
3) orang yang menjaga makanan dan minumannya hanya dari yang halal.

Berdo’alah dengan penuh keyakinan dan pengharapan hanya pada Allah SWT.
Allah akan mengabulkan setiap hamba yang berdoa, selama tidak minta untuk tergesa-gesa.
Jangan sekali-kali mengatakan “saya sudah berdoa tapi Allah belum penuhi”, karena hal itulah yang menghalangi tidak dikabulkannya doa.

Ust. Muhammad Zaitun,Lc.
Mabit KMII-Jepang, 27 Ramadhan 1433 H @ SRIT Meguro, Tokyo.

Leave a comment

Filed under memoar jepang, tausyiyah