Tag Archives: pengalaman

Sudah Sering…

Bahkan sudah sangat sering saya dikatain orang-orang untuk pindah kerja, disuruh cari perusahaan yang lebih bagus, baik dari segi manajemennya apalagi gajinya. Jangankan sama orang-orang yang satu kerjaan, sama orang asing yang baru kenal aja, saya pernah sampe dimarahin karena dianggap ‘bodoh’ dan ‘egois’ kerja di dunia manufakturing ini. Kalau sama mamah sih, udah setiap saat dikasih wejangan untuk cari kerja yang ‘lebih baik’. Mereka selalu bilang, dengan kualifikasi saya, bisa gampang dapet kerja yang lebih oke, dimana pun.

Ow, really? I don’t think so.. Lebih tepatnya I don’t know sih. Karena belum pernah jadi the real job hunter di Indonesia. Dari awal, dimudahin untuk kerja di perusahaan sekarang. Mau yang di Pasuruan atau yang sekarang di Cikarang. Walau di bawah nama Perusahaan yang sama, dulu statusnya saya resign dulu, lalu new hired di Cikarang. Dengan proses yang Alhamdulillah sangat mudah. Bukannya sama sekali ga pernah nyari dan apply ke perusahaan lain. Tentu aja pernah. Sampai sempet ikut interviewnya. Tapi yang dimudahin masuknya ya di perusahaan sekarang ini.

Kalau mau dibahasnya tentang gaji, mungkin memang terlihat ga ‘adil’ atau ga ‘sepadan’ dengan latar belakang pendidikan saya. Baik di Bangil (Pasuruan) maupun sekarang di Cikarang. Waktu di Bangil, jelas gaji ga usah diharapin deh, sama sekali ga bisa nabung atau invest ke barang. Tapi kalau itu yang jadi patokan, saya ga akan terima kerja di Bangil, ga ngerasain kekayaan alamnya, dan mungkin jadi pribadi yang menilai semuanya dari materi. Tapi ternyata, dengan saya menutup mata untuk soal gaji, dan melihat intangible assets-nya, saya merasa sangat kaya. Mendapat banyak ilmu luar biasa dari atasan, teman-teman, dan lingkungan yang luar biasa. Hingga saat ini, kalau ada yang tanya enakan mana kerja di Pasuruan atau Cikarang, saya masih menjawab lebih enak di Bangil. Hal yang sangat saya syukuri karena Allah menakdirkan saya untuk punya pengalaman di Bangil.

Di Cikarang, walau gaji 1.5x naik dari yang lalu, tapi tetep aja, sepadan dengan pengeluaran. Sama aja, ngerasa kurang karena masih banyak jajanan yang belum bisa dibeli lah, belum puas ngajak jalan-jalan keluarga lah, belum cukup untuk ini itu lah.. manusia lah yaa.. ga akan pernah puas untuk soal duniawi. Ditambah disini semakin banyak aja orang -selain atasan saya tentunya- yang ‘mamatahan’ untuk lebih baik cari kerja di tempat lain (red: gaji lebih gede). Bukannya ga pengen. Saya normal, tergiur dengan iming-iming gaji yang lebih besar, 2x bahkan 3x lipat sekarang pun bisa saya dapetin (katanya).

Tapi, Kenapa masih bertahan?
Alasan profesional; (1) karena saya dapet jobdesk yang harus saya selesaikan sendiri, (2) karena masih ingin belajar pola pikir atasan saya sekarang.
Alasan pribadi; (1) lokasi yang di Cikarang. Pas jaraknya dengan Bandung. Ga terlalu deket dan ga jauh di Jakarta yang macet. (2) kerjaan yang relatif ‘ringan’, ga sesibuk yang lain. (3) males. Yess, saya sangat malas untuk cari kerjaan lain. Karena dari awal ngerasa digampangin untuk kerja. Apalagi udah horor duluan aja kalau lokasinya di Jakarta. Padahal belum pernah nyobain. Allah spoils me a lot.

Sebenernya jelek banget alasan pribadinya. Karena keliatan ga mau usaha keras untuk dapet hasil yang lebih baik. Saya ngerasa selalu dimudahin, karena selalu dapet atasan yang ‘superior’, hingga posisi dan kerjaan yang selalu ‘enak banget’. Tapi, saat ini, hal itu yang lebih saya syukuri daripada melihat (kekurangan) gaji yang saya terima. Well, in this case, I’m not a warrior. Saya ga suka kompetisi dan tantangan. Terserah aja orang lain mau menilai pemikiran saya ini salah atau bagaimana. Saya udah sangat terlatih untuk ga mind other businesses.

Hingga beberapa waktu lalu saya bertemu seorang pengusaha wanita. Entah kenapa perkataan beliau yang sebenernya standar dikatakan oleh yang lain, bahkan mamah saya aja udah sering ngomong ke saya hal yang sama, tapi dari beliau bisa bikin saya ‘tersadar’. Beliau bilang, selama masih muda, lebih baik banyak mencoba tempat lain. Jangan terlena di zona nyaman. Beliau aja pernah sampe 10x ganti perusahaan swasta, sampe akhirnya berbisnis ekspor-impor. Ditambah, beliau ngomongnya di depan mamah, makin menjadilah ‘wejangan’ dari mamah. Saya teringat aja ketika mutusin untuk keluar zona nyaman di Bandung; memberanikan diri untuk ke Jepang dan Pasuruan, berani menerima ajakan hiking atau kemping dengan fasilitas ‘alami’, dan keberanian lainnya untuk memutuskan keluar dari zona nyaman, ternyata saya dapat hal-hal yang luar biasa sebagai pewarna hidup saya. Maybe, the way she told me about comfort zone and her experiences were more acceptable rather than salary that most people have been emphasizing.

Lalu, apakah akhirnya saya mau resign dari tempat sekarang? masih belum sih.. masih ada alasan profesional yang harus saya tuntaskan dulu. Hingga mungkin saatnya nanti, saya berusaha dengan cara yang sudah ditentukan, saya dijodohkan dengan tempat kerja lain, yang insyaAllah (harus) lebih baik dari yang sekarang. We’ll see..

2 Comments

Filed under cerita-cerita, kerja, saya

Setelah Negatif Terbitlah Positif

Ingatan kita akan suatu peristiwa kadang dipengaruhi peristiwa setelahnya.
Jadi buat kamu yang lagi sedih karena patah hati, karena banyak utang, atau apapun, tenang ajah, nanti juga kalau udah lewat masa galaunya, bakal diingetnya ngga akan separah yang dialami sekarang.

Kata seorang kawan yang mendalami ilmu psikologi di blognya. Saya langsung inget tentang pengalaman saya dan temen-temen se-program S2 dulu yang setiap saat kayaknya kami nangis darah-jungkir balik-gelindingan jurang-manjat tebing-cakarin gedung kampus-gigitin kursi kelas-rontokin pohon sakura-mulut berbusa-busa buat mencak-mencakin orang-orang program dan tugas-tugas para sensei program-sampe pengen loncat ke rel kereta api pas kereta mau lewat di stasiun.. waktu kuliah di Jepang. Pernah saya ceritain masalahnya disini.

Tapi setelah semua terlewati, kejadian demi kejadian dialami, seperti melihat terang sehabis gelap. Saat kelulusan itu tiba-tiba seperti semua cerita masa lalu yang kelam terlupakan. Semuanya senang, semuanya terasa ringan. Begitupun dengan banyaknya pengalaman pahit masa lalu, bisa terlupakan dengan peristiwa demi peristiwa yang dilewati hingga masa sekarang. Tapi menurut saya, tentu saja kalau dari diri sendiri mau mengambil hikmah positif dari kejadian tersebut dan tetap memiliki visi masa depan.

Menurut beliau, segala sesuatu itu berdasarkan mind set dan keterhubungan antara satu kejadian demi kejadian. Lalu bagaimana pikiran kita akan mengolahnya. Apakah itu sedih, senang, baik, buruk, semuanya bagaimana kita ingin memutuskan.

Sulit bukan? lagi-lagi tergantung pemahaman dan keberanian kita untuk memutuskan. Ketika rasa-rasa negatif itu lebih mudah dan masuk akal diputuskan, maka kita akan terus menilai diri kita dengan kenegativan; putus asa, gelisah, galau, stress, bahkan depresi. Kalau mau melihatnya dari sisi positif, semua akan terlihat sederhana dan meringankan pikiran kita sendiri.

Terkadang pengaruh opini masyarakat juga yang dengan mudahnya kita terima daripada fakta diri sendiri yang sebenarnya mampu untuk memutuskan hal yang positif. Toh Allah kan menciptakan manusia, lalu membuat manusia hidup di bumi ini dengan pedoman yang terbaik; Al-Quran dan As-Sunnah. Yang selalu menuntun di pemikiran dan jalan yang baik. Manusianya aja yang ngeyel dan gampang dihasut sama setan untuk terus memikirkan yang susah. Jadinya budaya susah itu yang malah jadi gampang untuk dilakukan.

Hnah, jadi ada dua faktor yang menentukan keputusan kita dalam berbagai aspek. Ada faktor internal dan eksternal. Faktor internal, mau kesimpulan apa yang diri sendiri putuskan. Faktor eksternal, gimana tanggapan orang lain, lalu bagaimana tanggapan luar itu mau diartikan ke dalam pemikiran sendiri. Jadilah kesimpulan yang akan kita pikirkan dan lakukan untuk menjadi manusia yang bagaimana. Positif kah atau Negatif kah.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Pak Paijo

Hari pertama saya datang ke kantor, langsung ketemu dengan staff HRDnya untuk pengisian biodata pegawai da nada pembahasan kontrak training dengan GM HRD.  Hari itu kebetulan lagi ada kedatangan banyak orang Jepang dari kantor pusat untuk meeting dan training. Jadinya, GM Dept. Engineering and Development sangat sibuk. Walhasil saya pun banyak nganggur setengah harian itu.

Siangnya setelah makan dan sholat, saya diajak tur keliling pabrik untuk ditunjukkan ada proses apa aja di pabrik lampu ini. Orang yang menjadi guide saya bernama Pak Paijo.

Pak Paijo, sudah berumur 68 tahun, tapi kelihatan banget masih muda dan sehat. Rambutnya hanya sedikit beruban, giginya pun masih lengkap. Beliau cerita, sudah 34 tahun bekerja di Ph*lips, setelah pension dan istirahat 4 tahun di rumah, pihak Pan*sonic mempekerjakan beliau sebagai tenaga ahli.Hingga sekarang Pak Paijo sudah 11 tahun mengabdi di perusahaan.

Tur pabrik memakan waktu sampai sore, mulai dari bagian pembuatan gelas lampu, cara kerja lampu hingga menyala, uji ketahanan lampu, rangkaian lampu, dll. Dijelaskan oleh Pak Paijo.

Keliatan sekali, beliau sangat meguasai segala seluk beluk di bidang perlampuan ini. Semua bagian beliau terangkan dengan cukup detail, baik dari segi fisika maupun kimiawinya. Walau beliau bilang hanya lulusan sekolah rendah, dari segi teorinya mungkin beliau ga terlalu paham, tapi dari segi praktikal di lapangan, Pak Paijo ini memang udah super masternya. Mungkin para enjiner lulusan perguruan tinggi terkenal dan cum laude pun kalah jauh dengan pengetahuan Pak Paijo.

Selagi diajak jalan-jalan di pabrik, melihat bagaimana produksi lampu, sambil Pak Paijo mengeluh bahwa banyak hal yang seharusnya diperbaiki pada system kerja di  pabrik. Jika dibandingkan dengan perusahaan lampu saingan Ph*lips, banyak sekali ketidakefektifitasan dalam menggunakan mesin atau tenaga pekerja di perusahaan ini.

Tapi, walau Pak Paijo sudah mencoba untuk menyampaikan ke pihak atasan, selalu saja ditolak dan tidak diacuhkan sarannya. Jadi beliau menyerah saja dan membiarkan gimana maunya pihak atasan dan berwenang.

Orang seperti Pak Paijo ini yang seharusnya lebih didengar saran-sarannya dan dicoba untuk direalisasikan di kawasan pabrik, jika perusahaan ingin menang bersaing dari perusahaan lampu yang sudah punya akar kuat di Indonesia seperti Ph*lips.

Orang seperti Pak Paijo ini, walau hanya bersekolah sangat rendah, tapi dengan pengalaman puluhan tahunnya, bikin saya kagum dan semakin sadar bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Memang kadang jadi mikir ga guna juga sekolah tinggi, mecahin rumus super ribet dan rumit, yang ujungnya hanya ngabisisn kertas setelah ujian langsung lupa, tapi dari segi aplikasinya malah ga kepake.

Mungkin udah sering dibahas perihal seperti ini. Ketika teori hanya seperti b*llsh*t saja ketika sudah dilapangan. Tapi memang tetap aja , dasar ilmu pengetahuan itu sangat penting dan sebagai landasan hipotesa untuk pengembangan aplikasi ke depannya.

Toh ilmu tanpa aksi sama aja dengan tong kosong, sedangkan aksi tanpa ilmu seperti ketololan. Sudah tertulis di ayat Al-Quran juga, bahwa “janganlah kamu melakukan hal yang tidak ada pengetahuan di dalamnya”

Perlu adanya sinergi antara orang teori dan lapangan. Para enjiner dan desainer yang duduk di depan komputer, perlu turun langsung ke pabrik mendengarkan saran para veteran seperti Pak Paijo.

Walau para pekerja pun belum tentu paham secara teori apa yang mereka kerjakan. Hanya cukup bekerja sesuai instruksi, mematuhi setiap langkah kerja, dan berusaha sejauh mungkin melakukan kesalahan kerja.

Alhamdulillah, hari pertama saja Allah sudah memperlihatkan saya alasan kenapa saya bisa ditempatkan di kota terpencil dan berurusan dengan dunia pabrik.
Untuk bertemu dengan orang-orang yang bekerja, seperti Pak Paijo dan kawan-kawan di kantor lainnya, juga dengan kawan-kawan yang bekerja langsung di pabrik.

Langsung diperlihatkan bagaimana sulitnya birokrasi perusahaan (gimana birokrasi pemerintah yak,hihi) dan cukup terlihat kesenjangan status pekerjaan.

Semoga Allah selalu membimbing dan membuka hati serta pikiran saya untuk melihat yang baik dan benar, sebagai ilmu dan pengalaman yang menjadikan saya wanita lebih baik dan benar lagi.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita