Tag Archives: indonesia

Lebaran 1435 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
1 Syawal 1435 H, 28 Juli 2014.
Taqabballahu minna wa minkum.
Minal aidzhin wal faidzhin
, Mohon maaf lahir dan bathin.

Duh, telat amat yak, heuheu. Tapi masih bulan Syawal, masih aroma-aroma lebaran lah yaa. Di kantor aja masih banyak oleh-oleh dari yang mudik atau kue-kue kering lebaran yang belum abis.
Lebaran tahun ini bisa dibilang paling menyenangkan. Selain keputusan pemerintah sama lagi dengan keputusan organisasi Islam lainnya, selama hari ke-1 sampe seminggu libur lebaran, rumah selalu rame dengan kedatangan sodara-sodara dari luar kota yang sengaja pengen lebaran sekalian liburan di Bandung. Jadi di rumah kayak open house. Tetangga, kerabat, dan saudara-saudara banyak dateng bersilaturahim.

Sodara dari Bogor dan BSD, yang udah nambah bawa istri/suami dan anak-anak, makin nambah banyak kuantitas sodara yang dateng. Paling seru kalau malem terserah aja mau tidur dimana. Di sofa ruang tamu dan ruang tivi, pasang kasur juga depan tivi, kamar-kamar jelas udah penuh, sampe parkiran depan rumah aja semuanya diinvasi sama mobil-mobil sodara (maaf ya tetangga). Makanan di meja makan dan meja r. tamu selalu terhidang dan habis. Makan bareng sambil ngobrol-ngobrol, cerita-cerita, becanda-becanda. Apalagi ada tambahan baby yang jadi ‘mainan’ bersama.

Hari pertama silaturahim ke kakak-kakak ayah di Ciwaruga, yang sekalian semua kumpul disana untuk arisan keluarga dan ada acara nonton video jaman kami 18-19 tahun yang lalu. Hari kedua, silaturahim ke kakak mamah yang dateng dari Belitung, lebaran di rumah anaknya di Cijambe. Hari ketiga jalan-jalan ke Floating Market dan sekitarnya sampe sore. Hari keempat, udah mulai pada pulang sih, tapi sodara-sodara yang di Bandung masih dateng ke rumah. Ada dinner perdana halal bihalal dari keluarga Kircon. Sampe hari sabtu, rumah masih terbuka untuk sodara-sodara dari ayah atau mamah yang dateng silaturahim. Ayah ama mamah bukan anak tertua, tapi entah kenapa tahun ini, sodara-sodara yang lebih tua malah sengaja pengen dateng ke rumah, silaturahim sekalian main. Hari terakhir libur, hari minggu, giliran saya yang dianter ke Cikarang, sekalian silaturahim ke sodara yang tinggal di Bekasi. Pokoknya lebaran kali ini full rame kumpul dengan banyak sodara.

Yang terucap selalu ‘Alhamdulillah’. Ketika rumah ribut dengan suara-suara yang jarang terdengar, makanan selalu habis, tapi selalu ada lagi aja yang ngasih, salam-salaman sekalian berbagi amplop yang hanya jadi tradisi setahun sekali. Alhamdulillah, banyak silaturahim, mengumpulkan banyak doa, menambah kebahagiaan, dan rezeki.

Tapi ada beberapa tradisi yang ga dilakuin tahun ini:
1. Silaturahim ke Cibolerang. Ini ke rumah kakak mamah yang pertama. Keluarga besaarr dengan anak-anaknya yang banyak, biasa selalu berkumpul di Cibolerang. Tapi kali ini, karena kakak mamah tersebut udah meninggal dunia, jadinya mamah ga ada jadwal silaturahim ke Cibolerang. Malah anak-anaknya, keponakan mamah, yang jadinya dateng ke rumah.
2. Ga bikin kue kering lebaran. Pertama kalinya loohh. Biasanya selalu bikin, walau hanya setoples setiap jenisnya. Tapi tahun ini, kue-kue kering semua beli, huhuhu. Abisnya mamah ga mau repot juga. Malem i’tikaf, siang kerja, jadinya ga ada waktu bikin kue. Adik-adik mah kalau ga ada yang ngajak, ga akan mau. Lah saya, baru pulang 2 hari sebelum Lebaran, dan sama-sama lagi ga ada mood untuk bikin kue. Yasudah, tahun ini bener-bener ga bikin kue sendiri.
3. Mudik lebaran. Hmm, semenjak 2010 kan saya ngerasain mudik lebaran dari perantauan nun jauh disana, malah 2x lebaran ga pulang (tahun 2010 dan 2012). Kali ini, tiap minggu juga mudik, hihi.

Semoga lebaran tahun-tahun berikutnya juga selalu dipenuhi dengan hiruk pikuk keseruan berkumpul silaturahim dengan sodara dan kerabat. Tentunya setelah satu bulan puasa dengan ibadah yang maksimal juga.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, keluarga

Berita di Indonesia

Tadi pagi ketika apél, sebagai pemimpin apel, bos kecil ngasih pidato. Isinya tentang keprihatinan beliau melihat berita yang lagi marak saat-saat ini. Tentang pelecehan seksual, kekerasan orang tua, atau bullying di sekolah pada anak-anak. Udah jadi berita heboh tentang pelecehan seksual pada siswa di JIS. Baru-baru ini, berita sodomi pada 55 anak oleh seorang psycho. Ada juga berita anak SD sampe meninggal karena dihajar Bapaknya. Ada juga yang siswa meninggal karena di-bully teman-temannya. Di grup ibu-ibu atau status FB para ibu, sharing cerita tentang kelakuan bocah-bocah, yang umurnya masih dibawah 10 tahun, tapi udah bicara dan bahkan main-mainnya tentang seks. *puyeng*

Saya yang ga ada tivi di kosan, dan emang sengaja ga mau ada tivi, kurang dapet info-info berita diluaran sana *lagipula saya emang ga suka nonton berita di Indonesia. Isi kejahatannya yang ga bisa masuk akal saya* Kalau di rumah, sekalinya nonton tivi liat berita, yang ada saya shock ngelus-ngelus jantung. Minggu lalu waktu libur hari Rabu saya nonton berita di tivi, isinya tentang seorang pacar yang membunuh satu keluarga pacarnya, karena sakit hati ga dapet restu dari orangtua pacarnya. Lalu berita seorang pria anak SMA memenggal kepala pacarnya karena pacarnya hamil dan menuntut ingin dinikahi. Duh, nulis gini aja bikin saya merinding, saking ga pahamnya dunia dalam berita sekarang.

Allah sangat sayang ke saya, selalu menempatkan saya di lingkungan yang baik, dengan orang-orang yang baik juga (insyaAllah). Jadinya, pas denger hal-hal yang ga baik, bahkan sangat ga baik seperti berita-berita sekarang, suka bikin saya lemes ga percaya dan ga bisa terima. Tapi kenyataannya sekarang adalah ya berita-berita itu. Ada apa dengan moral manusia sekarang? Ga bisa menutup mata dan telinga lalu menjadi naïf. Justru sebagai evaluasi dan pencarian ilmu supaya jadi bekal nanti ketika saya menjadi seorang ibu.

Kembali ke pidato bos kecil. Beliau menekankan pentingnya dua hal untuk anak-anak.
1. EQ; Emotional Quotient harus diajarkan ke anak-anak. Menurut beliau, lebih baik anak-anak itu punya banyak teman, pintar bersosialisasi, daripada jadi juara 1 tapi menjadi penyendiri. Karena dengan bersosialisasi, anak-anak bisa dapat khasanah sifat-sifat berbeda dari teman-temannya dan tau bagaimana berinteraksi dengan perbedaan sifat tersebut. Ketika ada teman yang berbuat nakal, balas dengan kebaikan. Misal, ada teman yang suka iseng berisik ketika pelajaran sekolah, negurnya dengan ngasih tau guru atau dkasih tau sambil kasih coklat. Tapi ga selamanya harus baik juga, kadang perlu juga ditegur jika perlakuan baik udah ga mempan terus. Kalau masih berisik juga sampe ga bisa fokus belajar, berarti harus dengan cara ‘dikerasin’ omongannya ke temen tersebut.
2. Protektif; walaupun menekankan pentingnya bersosialisasi, tapi harus ada batasnya. Harus diajarkan ke anak-anak, ketika ada orang lain atau teman yang memegang daerah pribadi, harus marah dan kalau sering harus dilaporin ke ortu. Jangankan orang asing, orangtua sendiri aja ketika memandikan anak-anak yang masih kecil, harus minta izin ke anaknya untuk membersihkan daerah pribadinya tersebut. Jadi anak-anak udah aware mengenai sex education.

Pidato si bos kecil, terutama untuk para orangtua, yang di departemen saya sekarang hanya saya yang belum berkeluarga sendiri *masih muda*, untuk mengajarkan anak-anaknya mengenai sex education yang baik dan benar. Dan beliau mengarah pada saya, supaya bisa jadi ilmu kelak ketika saya menjadi orangtua.

Buat saya, yang penting itu (nomor 0.) SQ; Spiritual Quotient-nya dulu. Ilmu dasar agama yang harus diajarkan orangtua dan dicontohkan langsung di kehidupan sehari-hari. Baru EQ dan IQ-nya. Kalau pemahaman yang benar tentang agama Islam-nya baik, insyaAllah, mau jaman se-sableng-edan-keblenger gimana juga, anak-anak dan orangtua tetep bisa menjaga diri. Semoga kelak bisa menjadi orangtua yang mengajarkan agama yang benar dengan aktualisasi di keluarga yang baik.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Yes, I’m Back Again, Ranu Kumbolo.

Untuk kedua kalinya saya bisa menapaki rute Semeru hingga ke Ranu Kumbolo, yang pertama kalinya pada bulan Juni lalu [check this]. Bisa kemping lagi di depan danau Ranu Kumbolo dan menikmati sunrisenya yang indah lagi. Kali ini bersama banyak teman, ada 17 orang yang ikut trip Ranu Kumbolo ini. Rencana kami memang hanya sampai Ranu Kumbolo, kemping semalam, ga sampe muncak. Waktu yang pertama kalinya kan sempet sampai kalimati, hingga bisa liat puncak Mahameru. Karena bulan Agustus sudah masuk kemarau, jadinya rute perjalanan berdebu dan terik. Tapi langitnya cerah dan bersih.
panas

Jumat, 23 Agustus 2013
Sesuai kesepakatan, kami akan berangkat menuju Ranu Pani dari Jumat malam, sehabis pulang kerja naik motor. Kami dibagi dua kelompok, ada yang dari rute Bangil dan rute Pasuruan, lalu berkumpul di Purwosari. Saya gabung rute Bangil dan jadwalnya berangkat jam 7PM, tapi yaa ga telat itu ga Indonesia banget, makanya baru berangkat menuju Purwosarinya jam 8PM, dan baru kumpul semua jam 9PM. Dengan konvoi 9 motor, kami menuju Arjosari (Malang) untuk jemput satu lagi kawan. Setelah itu langsung menuju pasar Tumpang untuk ganti kendaraan menjadi truk sayur.

Yep, kami semua diangkut truk sayur sampai ke Ranu Pani, karena medan jalan yang ga oke untuk boncengan motor. Motornya disimpen di rumah pemilik Truk. Perjalanan 2 jam menuju Ranu Pani ditemani angin dingin kaki gunung, ga kerasa ternyata udah jam 1AM kami sampai di Ranu Pani. Kami segera menuju mushola untuk istirahat, tapi udara super dingin sampai menusuk tulang bikin ga bisa tidur dengan benar.

Sabtu, 24 Agustus 2013
Pkl 04.00, saya udah ga kuat lagi kedinginan, jadinya memilih untuk keluar sleeping bag dan mulai bergerak. Ternyata beberapa temen juga sama, akhirnya kami wudhu dan bersiap untuk subuh. Setelah subuh dan semua orang bangun, kami siap-siap untuk mulai treking. Tapi karena pos lapor baru buka jam 8 pagi, jadinya kami masih harus nunggu dulu. Selagi nunggu kami foto-foto di Danau Ranu Pani yang penuh kabut dan es.
danau ranu pani

menjadi es
[Karena dingin, bahkan rumputnya aja jadi es]

Pkl 08.00, kami laporan untuk mulai naik Semeru. Pada saat itu juga, ternyata kami bisa menyaksikan pemecahan rekor MURI mendaki puncak Mahameru dengan jalan mundur, sekalian kampanye untuk melindungi Gn. Semeru dari kerusakan akibat sampah. Jadi sekalian kami memberikan semangat untuk cak Tarpim “Gimbal Alas” yang dari awal hingga puncak Mahameru berjalan mundur (don’t imagine how he did that).
cak tarpim
[Cak Tarpim Lagi persiapan untuk berjalan mundur ke Mahameru. Pakai spion di kiri dan kanan, ditemani guide depan belakangnya]

berdoa
[Berdoa sebelum berangkat]

Pkl 08.30 akhirnya perjalanan kami dimulai. Masih semangat berjalan di pagi hari dengan rombongan yang lain. Tapi lama kelamaan udah ngos-ngosan juga. Bawa barang-barang yang berat dan rute menanjak, beberapa kali istirahat, sampailah kami di Pos 1 dengan waktu tempuh 75 menit.
pos 1

Setelah istirahat dan udah oke untuk mulai jalan lagi, kami meneruskan perjalanan. Dari pos 2 ke pos 2 relatif jaraknya lebih singkat, hanya 30 menit saja, jadi ga perlu istirahat lama-lama. Tapi dari pos 2 ke pos 3 yang jauh dan berat, ditempuh 60 menit, sampai di pos 3 kami istirahat 30 menit sampai ketiduran.
pos 4
[terkapar di pos 3]

Tepat jam 12 siang, kami mengumpulkan semangat lagi untuk rute sangat menanjak dari pos 3 ke pos 4. Tapi semakin mendekati pos 4, akhirnya pemandangan danau Ranu Kumbolo itu terlihat juga, semakin menyemangati kami untuk terus berjalan dan ga sabar pengen sampai tempat tujuannya. 45 menit perjalanan menuju pos 4, kami istirahat sambil foto-foto dulu, dan touchdown spot kemping Ranu Kumbolo tepat pkl 14.30, jadi sekitar 6 jam perjalanan yang ditempuh. Lebih cepat 2 jam dibanding perjalanan kesini waktu pertama kali, mungkin karena waktu itu malam dan musim hujan, jadi harus super hati-hati jalan karena licin.
pos 4
[pemandangan danau dari pos 4]

Yuhuu, sampai di danau Ranu Kumbolo. kami mendirikan tenda dan beristirahat sambil makan. Foto-foto udah pasti, ga mau melewatkan setiap spot untuk diabadikan. Walau jauh lebih indah liat langsung dengan mata sendiri sih, hihihi. Udara udah mulai dingin aja, padahal masih sore, gimana nanti malam apalagi nanti subuh? itu ga bisa kami bayangin. Pkl 16.00 Saya dan 3 orang lainnya memilih untuk naik ke ‘tanjakan cinta’ hingga oro-oro ombo setelah sholat ashar. Sedangkan yang lainnya memilih untuk masak-masak dan beristirahat. Cukup sejam aja menikmati pemandangan oro-oro ombo dan foto-foto, kami turun balik menuju tenda.
CIMG3414

CIMG3439
[karena musim panas, lavendernya ga mekar di oro oro ombo. Beda waktu bulan Juni pas musim hujan, sepanjang jalan itu padang lavender]

CIMG3466

CIMG3485

Menjelang maghrib, matahari mulai tenggelam, udara semakin dingin. Bergegas kami wudhu dan sholat. Lalu setelah itu kami berkumpul dengan pusat lingkaran adalah kompor yang menyala memanaskan air kopi. Lumayan untuk menghangatkan badan sambil ngobrol-ngobrol dan nyanyi-nyanyi heboh. Mungkin cuman kami yang ketawa-ketawa sambil ngobrol keras seantero area kemping. Kami main tebak-tebakan alfabet; mulai dari nama buah, kota, hewan, tempat wisata, hingga nerusin cerita bersambung yang ga nyambung.
kedinginan malem2

main games

_DSC5333

Momen seperti inilah yang paling saya sukai ketika kemping, malam-malam berkumpul mengelilingi api unggun, bercerita hingga curhat sambil ngemil kacang dan minum kopi panas. Puas banget ketawa dan curhatnya. Ditambah malam itu pas ketika langit cerah, melihat keatas, langit serasa dekat sekali dengan taburan jutaan bintang yang super indah. Sayangnya ga ada kamera canggih untuk mengabadikan pemandanan samudera bintang itu, tapi cukup mata ini yang menyaksikan langsung dan hanya bisa terus berucap “subhanallah”.

Semakin malam, semakin dingin, semakin aneh-aneh acara kumpulnya. Tetapi sempat kami teralihkan oleh cahaya sangat terang diujung bukit. Apakah itu? Oh ternyata Bulan sudah mulai menyapa. Walau bukan purnama, tapi terang bulan malam itu sangat terlihat jelas, sampai ga perlu senter untuk menerangi jalan dan sekitar tempat kemping. lagi-lagi “subhanallah”.
padang bulan

Satu per satu kawan udah nyerah karena dingin dan capek, akhirnya masuk tenda masing-masing. Saya dan yang tersisa 3 temen lainnya masih berusaha untuk menghidupkan api unggun dengan mencari ranting dan kayu. Pukul 22.00 akhirnya saya masuk tenda dan sleeping bag, mencoba untuk tidur dan berharap ga kedinginan.

Minggu, 25 Agustus 2013
Tepat perkiraan saya, ga akan mungkin bisa tidur! semakin dingin menusuk sampai menggigil dan ga karuan mencoba posisi meringkuk di dalam sleeping bag. Apalagi ini musim panas, yang udara di gunung bakalan jauh lebih dingin dibanding musim hujan. Udah deh, dari sekitaran jam 3 kurang sampai subuh itu saya seperti cacing kepanasan versi dita kedinginan di dalam sleeping bag, mwehehehe.

Akhirnyaa, inilah yang ditunggu-tunggu. Sunrise di danau Ranu Kumbolo. Setelah sholat, kami udah excited aja menanti sunrise dan siap-siap dengan kamera. Berbagai momen dan pose ga boleh dilewati. Hingga cahaya itu semakin terang dan kabut di danau semakin terlihat jelas. Walau super dingin, tapi tetep ga bisa ngalahin semangat untuk foto-foto dan liat langsung kuasa Allah SWT.
sunrise

_DSC5405

_DSC5407

_DSC5408

_DSC5410

Pkl 06.00 teman-teman yang belum naik ke ‘tanjakan cinta’ mencoba untuk kesana. Sedangkan saya dan yang sudah kemarin, bikin sarapan ala anak kemping, yaitu mie goreng. Ditemani cahaya mentari pagi yang menghangatkan, saya dan yang tersisa sibuk di dapur alami untuk masak mi dan air panas. Pas temen-temen turun dari ‘tanjakan cinta’, sarapan udah siap dan langsung habis hingga masak berkali-kali mi goreng lagi.

Jadwalnya kami berkemas dan berangkat untuk pulang pkl 09.00, tapi dengan banyak gaya dan spot Ranu Kumbolo yang ga boleh dilewatin, jadinya kami baru mulai bergerak itu pkl 09.30. Sampai ada yang ga cuci muka dan gosok gigi gara-gara sibuk foto (suer, bukan saya!). Tapi hasutan saya: Ya kan gosok gigi dan cuci muka bisa sehari 2x, ke Ranu Kumbolo belum tentu seumur hidup 2x, hihihi. Perasaan temen-temen sama semua.. ga pengen pulang lagi. Ingin berlama-lama di Ranu Kumbolo. Rasanya tenang dan damai banget. Jadi dengan perasaan berat, plus jalan nanjak juga sih, jadinya kami berjalan perlahan sambil menikmati lagi pemandangan Danau untuk terakhir kali.
pamit rakum
[berkumpul semuanya untuk perpisahan dengan ranu kumbolo]

Perjalanan pulang tentu saja lebih ringan dan cepat. Yang waktu berangkat itu boro-boro ada yang ngobrol karena kecapean, perjalanan pulang sambil ngobrol seru dan menyapa setiap pendaki yang papasan. Pkl 12.30 kami sampai di Ranu Pani. Total waktu tempuh, hanya 3 jam saja! diskon 50% dari waktu tempuh berangkat. Karena masih siang dan janjian dengan truk sayur itu jam 3, jadinya kami bisa istirahat bersih-bersih, makan, dan foto-foto dulu.
_DSC5606

_DSC5693

Pkl 15.00 setelah semua barang dan orang masuk truk sayur, kami harus meninggalkan Ranu Pani menuju kenyataan hidup lagi (halah..). Tapi kami masih disuguhi pemandangan bukit-bukit bromo sepanjang jalan menuju Tumpang. Walau berkabut tebal, tapi masih ciamik sekali. Pkl 17.00 sampai di Tumpang dan berganti motor untuk meneruskan perjalanan balik ke Bangil. Saya sendiri sampai di kosan pkl 20.00, setelah mampir makan dan belanja dulu.
_DSC5766

_DSC5769

_DSC5770

_DSC5792
[capek, tapi senang sekali]

Haah.. pesona Ranu Kumbolo emang ga pernah abis. Pengen lagi saya kesana. Tapi kalau ada rezeki lagi ingin sampai puncak Mahamerunya.

Best Place, Best Journey, Best Friends, Best Shot, Best Story!
this place again
[this place again]

the crew
Ranu Kumbolo’s Crew:
Female: Saya, Fitriatun, Tatik, Mery, Mbak Nana, Elok, Airin, Eni
Male: Mas Heru, Hanafi, Haqi, Bayu, Arga, Yakin, Umar, Arie, Hajir

4 Comments

Filed under gunung, jalan-jalan

Pulau Sempu, Laguna Segara Anakan

cagar alam pulau sempu
Akhir Bulan Juni ditutup dengan trip ke Pulau Sempu bareng 14 orang temen-temen kantor dari berbagai departemen. 6 orang cewe, 8 orang cowo.
Sekaligus sebagai akhir dari reli trip saya sebelum bulan Ramadhan (hihi), dan sebagai pembuktian kata orang-orang tentang keindahan wisata Pulau Sempu ini.

Jumat, 28 Juni 2013
Kali ini jadwal berangkat juga sehabis pulang kerja, seperti minggu lalu yang ke Jogja.
Tapi lebih santay, karena berangkat jam 10 malem dari Lumpang Bolong (salah satu kawasan kos).
Jadinya pulang kerja masih bisa santay-santay makan lalapan mujaer dulu, ke mini market beli tambahan perlengkapan trip dulu, dan packing ga buru-buru.
Tetep sih ya, jadwalnya jam 10 malem, tapi aktualnya berangkat jam 11 malem.
Pakai mobil ELF berkapasitas full 14 orang.

Sabtu, 29 Juni 2013
Perjalanan menuju Malang selatan, ke Pantai Sendang Biru, pemberhentian pertama sebelum nyebrang ke Pulau Sempu, sekitar 5 jam. Ditemani hujan sangat deras dan kabut tebal, akhirnya mendekati subuh kami sampai.
Setelah sholat subuh, kami menunggu munculnya matahari sambil siap-siap. Udah ga hujan, hanya gerimis-gerimis kecil.
Matahari mulai terbit, langit mulai terang, kami dikasih hadiah alam yang indah.. Pelangi dan suasana pantai yang tenang.
pelangi
Beberapa temen mulai cari perahu nelayan untuk disewa menyebrang ke Pulau Sempu dan guide untuk nemenin perjalanan menembus hutan hujan tropis.
Sisanya ke tempat sewa sepatu anti slip, karena sangat ga direkomendasiin pakai sepatu biasa. Jalanannya super licin dan berlumpur. Apalagi malemnya abis diguyur hujan, bakalan tambah licin aja nanti.
Setelah dapet perahu dengan harga Rp 130.000 (PP), sewa guide Rp 200.000 (PP), dan sewa sepatu Rp 10.000, kami harus berenergi dulu sebelum menempuh perjalanan 2.5-3 jam berjalan kaki.
Kami sarapan di warung nasi sekitar pantai, dengan menu pecel, rames, atau soto.

Lalu, dimulailah pertualangan kami di The (so called) Amazing Sempu Island.
Hyosh! bawa carrier berat berisikan survival things untuk 2 hari 1 malam. Plus air minum dan air bersih berliter-liter, karena di Laguna nanti ga ada sumber air tawar sama sekali.
Kami naik perahu nelayan, menyebrang sekitar 15 menit hingga sampai di Pulau Sempu, lalu tepat jam 8 pagi kami mulai jalan masuk ke hutan hujan tropis.
DSC_0113

Jreng.jreng.. baru mulai aja udah keliatan sangat jelas gimana berlumpurnya jalan. Totally muddy, tanpa ada jalan bagus sama sekali.
Mengertilah saya, kenapa kalau baca testimoni orang-orang yang udah pernah ke Sempu bilangnya “The Hell” moment.
Harus rasain sendiri gimana sensasi super seru menembus hutan yang naik turun, apalagi setelah hujan.
Saya sampai jatuh kepleset 4 kali, saking licinnya :”)
treking hutan tropis 1

treking hutan tropis 2

treking hutan tropis 3

CIMG3072

CIMG3065

Perjalanan ekstrim melewati hutan memang tepat sekitaran 2.5-3 jam.
Setelah sering bertanya ke guide berapa lama perjalanan lagi (yang baru aja jalan 10 menit udah ga sabaran ingin nyampe), terdengarlah deru ombak dan suara-suara seru orang-orang yang lain (sepertinya) berenang.
Ga sabar ingin ingin segimana amazingnya sih Laguna Segara Anakan.
Yang dibilang “The Heaven”nya itu katanya bisa ngobatin puas setelah penderitaan perjalanan.

Okay, mungkin menurut orang-orang yang cinta pantai bisa bilang seperti itu.
Tapi buat saya yang lebih suka gunung ini, sampai di Laguna ternyata.. biasa aja.
Ga sampe bikin saya seterpesona Ranu Kumbolo-nya Semeru.
Setelah menurunkan carrier yang bikin punggung saya encok dan bahu saya bengkak, saya berjalan datar menuju air laut di Laguna untuk bersihin sepatu dan baju yang udah penuh lumpur semua.
Dan mencoba menikmati sekeliling Laguna yang udah penuh dengan beberapa grup yang datang duluan.

arrived @ segara anakan

IMG_6862

CIMG3090

Ada yang seru waktu baru dateng di Laguna.
TIba-tiba dari kanan pantai ada yang teriak-teriak minta tolong.
“tolong! Tolong!” dan “Help! Help!”, “seriusan ini, tolong! help!”
Suara cowo dan cewe. Lalu beberapa orang ada yang berlari bak pemain baywatch untuk nolongin mereka.
Saya masih mengamati sambil beres-beres untuk ngediriin tenda. Bukan apatis sih, tapi daripada ikutan heboh ga jelas, mending ngerjain yang lebih jelas untuk kelangsungan hidup di Laguna yang jauh dari peradaban luar.
Pas udah keliatan aman, barulah saya denger-denger kisahnya.
Jadi, ada sekelompok cewe dan cowo yang lagi main-main air di pinggir sebelah kanan Laguna itu.
Kok lama kelamaan mereka jadi ke tengah laut, taunya mereka keseret ombak, ditambah kaki kram.
Jadi aja mereka teriak-teriak minta tolong karena udah ga sanggup ngelawan arus dan mereka terus keseret ke tempat yang dalam.
Alhamdulillah, guide kami itu yang bisa nolongin mereka. Disaat banyak yang nolongin tapi malah ikut-ikutan keseret. Ya tau kapasitas diri dong seharusnya, kalo ga bisa berenang jangan terlalu heboh di pantainya. Atau kalo bisa berenang tapi untuk diri sendiri aja, ga usah ikut-ikutan ingin nolongin orang tenggelam.

Setelah kejadian itu, sama temen-temen malah dibecandain.
Kan yang keseret arus itu bilang: “Help! Help! Tolong!”
Dijawab sama temen-temen: “ciyuus? miapah?”
Dan ngakak lah kami semua diatas ketraumaan orang-orang itu, ahaha.

Singkirkan iklannya, kami harus mendirikan tenda untuk tidur nanti malam.
Kami sewa 3 tenda; (literally) 1 tenda ukuran untuk 6 orang, 1 tenda ukuran untuk 4 orang, dan 1 tenda kecil ukuran untuk 2 orang.
Jadi 1 tenda gede untuk semua cewenya, lalu 2 tenda sisanya dibagi-bagi gimana maunya para cowo.
Setelah tenda berdiri, kami mengeluarkan persenjataan pelindung perut kami, makanan.
Dan ternyata… itu sih udah kayak mau buka warung aja.
Mie instan berbungkus-bungkus-bungkus dan snacks yang bejibun.
DSC_0123

DSC_0124
Lalu kami mulai masak mie untuk makan siang.
Sambil nunggu, ngeringin baju, dan kami bergiliran sholat dzuhur.. Ini yang saya suka, jalan bareng geng satu ini selalu inget waktu sholat. Karena kalau jalan-jalan dengan geng lain, kadang sholat ya inget masing-masing aja, atau bahkan pada ga sholat.
Bahkan karena kami sholat jamaahan, tetangga-tetangga tenda sekitar ada yang ikutan sholat juga.
DSC_0129

Jadwal siang-sore itu bebas.
Ada yang mulai naik tebing untuk liat samudera (masih siang bolong, terik banget, saya skip aja untuk jadwal nanti sorenya), ada yang berenang di pantainya (saya skip juga, karena berenang di air asin yang ga ada fasilitas air tawar untuk mandinya itu ga saya bangetnya kebangetan. Ada fasilitas mandinya aja, kayak Papuma, saya ga ikutan nyemplung, ini apalagi..).
Jadi saya sendiri yang masuk ke tenda dan tidur, ahaha.. tapi emang kepala saya pusing banget sih. heat attack i guess.

Masuk sore, saya bangun dan mulai segeran. Temen-temen masih menghilang dengan aktivitas narsis dan renangnya.
Tapi ga lama udah pada dateng ke tenda dan ngumpul lagi.
Saya bersiap untuk naik ke tebing, bareng temen-temen yang belum naik ke tebing sebelumnya.
Melihat pemandangan luasnya samudera…
samudra 1

CIMG3097

DSC_0179
Wohooo,, that was the awesome part.

Ini yang saya paling suka dari Pulau Sempu. Pemandangan ini. Momen ini.
Samudera luas, cipratan air laut dari ombak yang menghantam karang, langit..
Ciptaan Allah yang Maha Luar Biasa..
IMG_6776

samudera
(picture taken by me when Hq stood alone with those ocean as his background, stunning! *muji karya sendiri gini,hihi*)

DSC_0163

Yang saya lakukan, hanya cari spot paling pewe untuk nikmatin view samudera, dan duduk diam.
Memejamkan mata, mendengar suara laut, menghirup udara segar. that’s it and I’m satisfied!
Pemandangan Laguna dari atas tebingnya juga keren.
saya

Menjelang maghrib, baru saya turun, dan ikut bantu nyiapin makan malem.
Menu kali ini, selain tentu saja mie instan, masak nasi dan sarden.
Makan apapun selama bisa bareng temen-temen yang asik sih bakalan kerasa nikmat.
Abis sholat maghrib, kami berkumpul melingkar diatas terpal untuk menyantap makan malam kami di tengah Pulau Sempu.
IMG_6793

IMG_6796

Jadwal abis makan adalah main UNO.
Tapi sayangnya baru aja mau mulai, udah gerimis, dan ga lama hujan.
IMG_6797

Ga sesuai harapan banget sih hujan di malam harinya.
Karena kami kan ngebayanginnya ngabisin malam sambil main UNO, bakar-bakaran, berpayungkan bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Tapi jadinya kami habiskan malam di dalam tenda, berpanas-panasan, dan tidur.
Hujan semakin deras, bahkan lebat. Suara guntur dan kilatan petir udah bersahut-sahutan.
Ditambah tenda bocor, bikin makin ga oke untuk tidur. Tapi kami ber-6 sih nikmatin aja.
Dengan berbagai gaya di dalam tenda yang sempit, kami nyoba posisi paling pol untuk istirahat.
Padahal baru jam 8 malem, tapi kami terkurung di dalam tenda.

Lalu tanda-tanda hujan lebat segera berakhir mulai terdengar.
JREEENNGG… kedengeran suara gitar dan nyanyi-nyanyi keras dari tenda depan. sounds so fun.
Mereka tetep tau caranya nikmatin pantai malam hari walau hujan.
Temen-temen cewe lain udah pada tidur, tapi karena panas dan gerah, saya memilih untuk keluar tenda.
Seger banget kena angin laut di malam hari. Masih gerimis jadi saya pake payung beneran.
Ada 2 orang temen cowo yang ga tidur juga, arga dan pingpung masih diluar tenda. jadi sambil denger teriakan-teriakan yang nyanyi, kami ngobrol-ngobrol.
Menjelang tengah malem, udah ga gerimis, kami masak air panas untuk seduh kopi.
Bintang mulai terlihat, suara-suara teriakan nyanyian mulai redup, hanya terdengar suara-suara samar orang-orang yang masih ngobrol dari tenda sekitaran, dan suara ombak.

Minggu, 30 Juni 2013
Saya nanya ke temen sekarang udah jam berapa. Dijawabnya kalau ternyata baru jam 1 dini hari.
Malam terasa panjaaang.. ingin segera subuh dan hunting sunrise dari atas tebing.
Jam setengah 2 pagi, saya mutusin untuk masuk tenda dan mulai tidur-tidur ayam hingga mungkin jam setengah 5.

Walau ga tau tepatnya jam berapa, tapi harusnya udah masuk waktu subuh.
malah langit udah mulai beranjak terang.
Kami semua bangun dan sholat subuh bergiliran.
Saya udah ga sabar untuk segera naik ke tebing dan liat sunrise.
Tapi ternyata, sunrisenya ketutupan sama bukit ;(
Hanya bisa menimati siluet horizonnya aja. Tapi tetap bisa bikin dunia saya serasa berhenti.
IMG_6808

IMG_6799
Hingga langit benar-benar sudah terang, saya baru turun dan bantu siapin sarapan, dengan melihat yang masak dan ngabisin stok cemilan, ehehe.

Sesuai perjanjian dengan mamang guide, kami akan dijemput jam setengah 9 pagi.
Jadinya setelah sarapan, dengan mie instan lagi, kami bongkar tenda dan bersiap untuk packing pulang.
IMG_6820

IMG_6815

Sambil nunggu dijemput guide, kami mulai beraksi lagi, foto-foto.
Sok-sok lupa kalo perjalanan pulang nanti bakalan lewat rute “The Hell” hutan hujan tropis seperti kemarin.
Nyeseknya, Kali ini ga ada suguhan pelepas lelah indahnya Laguna, tapi langsung pantai menuju sendang biru.
Pas lagi hari ini adik saya ulang tahun.
bea

DSC_0312

DSC_0322

Jam 9 akhirnya guide kami datang dan kami langsung berangkat perjalanan pulang.
OK! Kali ini bener-bener “HELL” (astaghfirullah ;p).
Efek hujan lebat tadi malem bikin treknya makin “HELL” (astaghfirullaaah ;D).
Makin lama, makin berat sama lumpur di sepatu dan celana. Udah ga pilih-pilih jalan lagi, nyemplung aja di kubangan lumpur. Jatuh kepleset cuman sekali, tapi buat saya perjalanan pulang 3 jam paling “HELL” yang pernah saya alamin.
IMG_6865

IMG_6869

IMG_6871

IMG_6872

IMG_6874

IMG_6875

Kaki lecyet, tanah becyek, ga ada ojyek. Sendi betis mulai bermasalah yang bikin jalan saya makin pelan karena sakit dan tertinggal paling belakang. Ditambah bengkak di bahu akibat gendong carrier berat mulai kerasa. perfekto.
Bikin saya berazzam, perjalanan ke Sempu ini cukup sekali seumur hidup aja.
Ga lagi-lagi mau dateng karena penasarannya udah terselesaikan tuntas.
Saya lebih milih naik Semeru berkali-kali dan kemping kedinginan di Ranu Kumbolo.

Dengan langkah gontay karena betis sakit dan kaki lecet, akhirnya tertatih-tatih sampai di tempat start yang sekarang jadi tempat finish perbatasan Pulau Sempu. Ga saya banget pokoknya >.<
Perahu kami sudah menjemput dan sebagai orang yang ditunggu karena berada di paling akhir, saya langsung naik ke perahu.
Saya hanya duduk di tepi perahu, menikmati perjalanan menuju pantai sendang biru sambil melepas letih, yang sebelumnya melepas sepatu yang bikin lecyet.

Sampai di Sendang Biru jam 12an, saya langsung turun, nyeker menuju toilet untuk bersih-bersih.
Disusul temen-temen yang lain.
ELF sudah menjemput, dan kami skip makan siang karena akan disuguhin makan di rumah Hq, di Malang.
Setengah 2 siang kami berangkat meninggalkan Sendang Biru dan setengah 4 sampai di rumah Hq.
Istirahat makan dengan tahu telur bikinan ibunya Hq, sambil ngobrol-ngobrol dan nonton bola (PERSIB euy).
Jam setengah 6 kami pamitan untuk kembali ke Bangil.
Perjalanan cukup lama karena lalu lintas padat, akhirnya baru sampai Bangil setengah 11 malam.
Saya langsung beres-beres ngeluarin yang kotor dan bersih-bersih diri lagi dengan lebih baik dan benar.

Cukup sudah perjalanan ke Sempu ini. Cukup jadi pengalaman sekali seumur hidup.
Tapi tetep harus dicoba, biar tau serunya menembus hutan tropis, main di laguna di tengah Pulau Sempu, dan sensasi melihat samudera dari atas tebing 🙂

DSC_0318
Genng Sempu kali ini:
(the Females) Mak Atun, Tatik cilik, Mba Inne, Mery, Mba Nana, Sayaa
(the Males) Haqi, Hanafi, Habibil, Husni, Arga, Yakin, Fendrian, Bayu

6 Comments

Filed under jalan-jalan, pantai

Serunya Pulang

Sepertinya saya udah jadi pelanggan tetap maskapai Air Asia.
Awal naik Air Asia waktu pertama kali pulang ke Indonesia setelah setahun di Jepang.
Waktu itu pas banget baru buka rute ke Jepang, jadinya lagi promo murah-murahnya.
¥5000 (sekitar Rp 700rb) aja gitu loh one way..
Kalau naik maskapai lain mana mungkin bisa.
Jadi berbondong-bondonglah kami yang sekolah di Jepang booking tiket pulang Air Asia.

Pertama kali naik, bareng sama temen se-program.
Kalau saya dari Kuala Lumpur, dia ke Jakarta.
Pas udah masuk dan duduk, dapet kursi di tengah, kanan saya temen, kiri saya orang Jepang.
eugh! Sempit dan ga enak banget duduknya, bikin sakit badan.
Nyampe Bandung langsung pengen massage.
Dari situ saya kapok ga mau naik Air Asia lagi.

Tapi ternyata saya berjodoh lagi dengan Air Asia.
Ramadhan tahun 2011, awalnya saya mutusin ga akan mudik.
Tapi roommate saya mudik (karena mau tunangan), dan pas dipikir lebaran di Jepang itu ga rame banget, lalu lebaran tahun depan pasti ga akan pulang (nanggung udah lulus sekalian), jadinya saya mutusin mudik 2 minggu sebelum lebaran.

Nyari-nyari tiket pesawat, Garuda dan penerbangan lain, mahalnya minta ampun.
Yaa, karena musimnya pada mudik juga dan udah mepet belinya.
Balik lagi lah ke pilihan terakhir, yaitu Air Asia.
Bisa dibilang tetep paling murah harganya, udah sampe Bandung pula.
Dipikir-pikir, kalau naik Air Asia itu berangkat dari Haneda Airport (bandara yang paling saya suka), lalu bisa langsung ke Bandung ga perlu nunggu lagi di Jakarta.
Akhirnya beli lah tiket Air Asia lagi untuk mudik lebaran 2011 itu.

Kedua kalinya naik Air Asia, eh kok nyaman-nyaman aja duduknya.
Apa karena saya dapet kursi di ujung deket lorong dan sebelah saya ga ada orang?
Asik-asik aja selama penerbangan itu, bisa tidur enak, ga kayak awal tidur aja sulit.

Lalu ketiga kali, pulang setelah lulus.
Sebenernya udah diniatin mau naik Garuda.
Terakhir gitu dari Jepang ke Indonesia dan bagasi bisa sampe 40kg.
Udah sempet pesen tiketnya juga ke agen Garuda di Jepang.
Tapi pas liat-liat Air Asia, tadinya mau transit main dulu ah ke Singapura, eh temen yang di Singapura malah balik Bandung.
Taunya Air Asia sekarang bagasi sampe 40kg!
Bingung lah sayah…

Biasalaahh.. Mikir harganya juga.
Pake Air Asia bisa lebih murah.
Masalah transit Kuala lumpur dulu udah bisalah, dan mikirnya juga karena barang bawaan ga akan banyak.
Sebagian udah dibawa ke Indonesia ini.

Eh, taunya, entah mengapa barang bawaannya saya jadi luar biasa banyak.
1 koper besar, 1 koper kecil, 1 tas besar, 1 ransel, 1 tas tangan besar, 1 tas laptop, dan 1 tas selempang.
Repot luar biasa waktu bawanya.
Apalagi hand-carry cuman bisa 1 aja.
Alhamdulillahnya pas di Haneda ketemu kawan baru dari Malaysia, karena bagasi dia masih banyak kosong jadi 1 tas saya bisa dititipin ke dia.

Berpikir.. Salah nih!
I’m not a smart traveller! Duduuulll!!
Seharusnya naik Garuda aja.
Ga usah transit, lebih nyaman.
Pas transit pula saya kira bisa keluar dulu ambil barang saya yang di kawan Malaysia itu, ternyata ga bisa.
Saya mohon-mohon lah sama petugas bandara untuk bisa keluar imigrasi dengan alasan mau ketemu kawan ada barang tertinggal.
Alhamdulillah, diizinin, walau rada maksa.

Pas mau ambil barang, kawannya belum keluar gate pula.
Sedangkan saya sama sekali ga boleh masuk ke bagian bagasi karena udah keluar gate.
Bingung lagi, sinyal wifi lagi jelek abis jadi ga bisa ngehubungin dia.
Alhamdulillah lagi, kawan saya akhirnya keluar juga dan barang saya bisa diambil.

Ini agak tipu-tipu sih.
Soalnya tas ransel dan tas tangan saya dititipin ke pasangan orangtua yang menunggu boarding ke Jakarta juga.
Jadi pas saya ambil 1 tas tangan lagi, dibolehin lewat.
Sebelumnya, saya dimarahin dulu dooong di imigrasi karena ga ada cap imigrasi pas keluar itu.
Saya kan mana tau, waktu dapet izin boleh keluar abis check-in transit, saya langsung aja keluar pintu imigrasi lari tanpa bilang dulu.
Pas balik imigrasi, saya laporan, karena ga ada capnya, saya dimarahin lah.
Itu ada 3 petugas yang marahin saya karena seenaknya keluar gate imigrasi tanpa izin dulu, sampe bilang kalau kelakuan saya ini bisa ditindak dan masukin penjara (waks!!)
Tapi pas tau saya dari Jepang, mahasiswa, akhirnya dibolehin juga lolos di imigrasi.
(Lagian insyaAllah ga akan lagi2 deh :p)

Seru juga..
Direnungin, kalau saya ga naik maskapai murah meriah gini, ga mungkin bisa ngalamin hal-hal menegangkan dan bertemu dengan orang-orang baru.
Mungkin aja kalau naik Garuda atau penerbangan first class gitu, nyaman banget sih pastinya, tapi ga akan bisa ngalamin seru dan horornya kejadian-kejadian selama transit.

Tapi memang Allah Maha Baik.
Adaaa aja yang bantuin saya.
Pas kelebihan tas tangan, eh taunya ada kawan Malaysia (padahal baru ketemu di Haneda) yang sukarela bantuin masuk bagasi dia.
Pas mau ambil barang di dia abis sampai kuala lumpur, ketemu pasangan orangtua baik yang bisa dititipin tas ransel dan laptop saya, jadi dikiranya saya belum bawa tas tangan kan (hihi).
Subhanallah walhamdulillah..

Padahal udah mikir itu satu tas tangan di kawan Malaysia apa direlain aja.
Atau kalau harus check-in dan kelebihan tas tangan, tetep aja harus ada yang dilepas satu.
Tapi Allah mudahin..
Bisa lolos keluar imigrasi (walau pas masuknya dimarahin,hehe), ambil barang (jadi ga ada satu pun tas yang ga kebawa), ketemu kawan Malaysia baru yang nolongin, dan pasangan orangtua yang baik hati.
Subhanallah walhamdulillah..
Bener-bener deh pengalaman pulang naik Air Asia kali ini.
Walau tetep nyesel ga naik Garuda, tapi luar biasa kejadian, pertemuan, dan hikmah di balik semuanya.

*ya Allah, tolong berikan saya kepintaran dalam packing barang dan merencanakan bepergian*

1 Comment

Filed under cerita-cerita, memoar jepang