Tag Archives: Doa

Membuka Mata Lahir dan Bathin

Setelah beberapa lamanya vakum dari petuah-petuah sakti mandraguna bos babeh, entah mengapa akhir-kahir ini setiap dipanggil untuk ngasih tugas jadi sering berbincang mengenai pemahaman Al-Hakim-nya beliau.
Pernah saya posting tentang takdir menurut beliau.
Yang kalau segala bentuk kejadian di dunia ini udah ditentukan oleh-Nya, tanpa bisa diganggugugat, bahkan oleh Doa sekalipun.

Sekarang prinsip berdoa.
Menurut beliau, Doa itu bukan sarana untuk berharap sesuatu kepada Allah.
Doa itu tidak berpahala.
loh? lalu untuk apa berdoa? (saya bertanya)
Beliau menjawab: berdoa aja ga dapet pahala, apalagi ga berdoa. bisa dihajar abis-abisan nanti kita di akhirat.
Doa itu hanya sarana untuk kita mendekatkan diri kepada Allah, pengingat kalau kita adalah manusia yang ga bisa apa-apa.
Prinsip berdoa itu adalah adanya pemahaman kalau yang diterima adalah yang terbaik.
Tapi bukan dalam bentuk materi atau hal-hal yang terlihat mata.
Minta uang, mobil, rumah, jabatan, pasangan yang menawan, dll. Itu semua kriteria duniawi.
Coba lihat walaupun kita ga mendapatkan materiil seperti itu, tapi dikasih kesehatan, kepintaran, keluangan waktu, kebebasan berbicara, kesempurnaan fisik, dll yang sifatnya non materiil.

Pemahaman tertinggi terhadap keberadaan Allah, ketika kita bisa ikhlas dan pasrah untuk semua yang terjadi.
Selalu melihat segala sesuatu dari sisi positifnya.
Misal: kecelakaan, harus amputasi kaki.
Mungkin bagi yang mengalami hal tersebut adalah sebuah kesedihan yang luar biasa. Ga bisa jalan dengan normal lagi. Serasa ga berguna dan lebih baik mati aja.
Tapi bagaimana kalau dengan diambilnya kaki orang tersebut malah membuat dia semakin mendekatkan diri pada Allah dan terhindar dari maksiat.
Bisa saja kalau dia punya kaki yang utuh dan normal, dia malah jalan-jalan ke tempat yang hanya membuat dia berdosa.

Membuka tidak hanya mata fisik, tetapi juga mata bathin.
Untuk memahami setiap kejadian dengan positif.
Menilai segala sesuatu tidak hanya secara materi, tetapi yang lebih daripada itu.

Advertisements

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, petuah si bos

Jangan Berdoa!

Oops! pindah haluan dari yakin akan kekuatan doa ke ga usah berdoa.
Maksudnya, jangan berdoa jika mengharapkan sesuatu yang bakalan kecewa kalau hasilnya ga sesuai.
Tapi berdoalah untuk mendapatkan pahala..

Berawal dari hari pertama interaksi dengan atasan.
Senior General Manager, yang udah 16 tahun lebih mengabdi di perusahaan, namanya Pak Lukman.
Awalnya belum bisa dapet instruksi dari beliau, karena ada bisnis trip ke Jakarta, jadi baru efektif hari senin ini.

Sebelumnya banyak denger tentang pola kerja beliau dari bawahan yang satu divisi dengan saya.
Katanya beliau ini hardworker dan workaholic banget!
Setiap hari dateng paling awal, pulang paling akhir, bahkan sampe nginep di kantor. Sabtu aja masuk kerja dong!
Udah kebayang ini orang macem orang Jepang aja yang emang workaholic, yah ga beda dong saya kerja di sono atau disini.. (lohm kerja kok mau nyantei :D)

Tapi, beliau ini sabar luar biasa.
Ga pernah marah, selalu ngebimbing dengan pelan-pelan sampai ngerti, dan suka ngasih motivasi yang sangat membangun untuk kemajuan para bawahannya.
Jangan takut salah dan gagal, asal jangan sok tau.

Akhirnya saya buktikan sendiri rumor tentang beliau ini.
Mulai hari efektif saya kerja, dipanggil ke meja kerjanya.
Lalu mulailah saya diterangkan tentang divisi businiess planning ini.
Apa yang dikerjain, bagaimana jobdesknya, siapa yang akan dihadapi, karakter kami harus seperti apa.
Yang ujung-ujungnya beliau ngasih wejangan, yang bagi saya tepat sekali dengan keadaan saya sekarang.

Beliau memberikan pandangannya tentang “Doa”.
Cukup kontroversial, karena pertama kali beliau berkata bahwa “berdoa itu ga akan ngerubah apa-apa, karena semuanya sudah ditakdirkan.”
Ketika menyampaikan hal itu, Pak Lukman bilang konsep yang dia yakinin emang banyak yang menentang.
Toh selama ini taunya kan dengan berdoa maka akan dikabulkan, ustadz-ustadz aja pada bilang begitu.
Saya pun banyak mengalami kejadian ketika udah berdoa banyak yang terwujud.
Tapi beliau menjelaskan, berdoa itu untuk mendapatkan pahala, sedangkan apa-apa yang sudah dan akan terjadi adalah takdir dari Allah.

Beliau bagi-bagi ilmunya, katanya manusia itu terbagi dalam 2 golongan;
1. Golongan Asdad; yaitu golongan manusia yang sangat mempercayai dan meyakini hubungan sebab akibat.
Golongan ini yang biasanya para intelek, yang sekarang hampir semua manusia menganut prinsip sebab akibat ini.
Kalau sukses karena kerja keras, kalau kaya karena sedekah, kalau naik pangkat karena kinerja, dll.
Golongan yang pamrih, beramal karena sebenarnya ingin sesuatu, padahal tidak demikian.
Hasil dari golongan ini adalah mental mudah kecewa dan putus asa ketika yang didapatkan ga sesuai dengan permintaan atau harapan.

Padahal menurut beliau, segala sesuatu yang kita alami dan dapatkan itu adalah sudah ditakdirkan Allah.
Kita mau sukses atau gagal, proyek pekerjaan kita mau lancar atau tersendat, mau banyak customer atau sedikit, itu semua sudah ditakdirkan Allah.

2. Golongan Tadjrid; golongan para soleh. Paling patuh dengan perintah Allah, yang beramal benar-benar hanya karena Allah.
Golongan tingkat paling tinggi, yang pasrah sepasrah-pasrahnya dengan segala keputusan Allah.

Bukan berarti malah menjadikan hal ini pemikiran untuk gak usah berdoa aja, justru tetap harus berdoa dengan niat untuk mendapatkan pahala.
Karena ketika nanti di akhirat, hanya Rahmat Allah saja yang bisa menyelamatkan kita dari api neraka.
Kita berdoa karena perintah Allah, karena Allah suka hamba-Nya yang meminta.
Tapi bukan berarti menagih doa tersebut, justru membuat diri kita pasrah total akan keputusan yang Allah tetapkan.
Yang harus dilakukan adalah berusaha sebaik mungkin, belajar dan bekerja sekeras mungkin, karena itu adalah perintah Allah.
Untuk hasilnya, pasrahkan saja sama Allah. Sehingga ga ada itu istilah kecewa dan putus asa karena ga sesuai dengan keinginan atau doa kita.

Kata beliau, manusia memang aneh.
Banyak sekali meminta yang sebenarnya berbenturan dengan keinginan.
Misal, berdoa ingin masuk surga, tapi minta diberikan istri cantik atau jabatan tinggi, yang mungkin aja hal itu malah menjerumuskan ke dalam neraka.
Manusia itu banyak angan-angan, pengharapan yang malah menyulitkan untuk melihat takdir Allah.
*saya angguk-angguk juga*

Lalu saya bertanya, jadi doa yang gimana biasanya beliau panjatkan.
Pak Lukman bilang, induk doa saja, Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina ‘adzaabannaar.
Mohon ampunan kepada Allah dan mohon dijauhkan dari api neraka.
Itu saja…
Selebihnya mencoba memasrahkan kepada Allah, yang penting udah usaha paling keras dan terbaik.

Intinya, jadi nanti di divisi saya bakalan banyak berhubungan dengan dunia luar, dengan “customer”.
Kami harus sekreatif mungkin untuk mendesign produk baru yang bermanfaat, dan mencoba menawarkannya ke relasi.
Tapi jika hasilnya ga ada kata deal, ya udah ga usah kecewa dan putus asa.
Terus lanjut bikin konsep lainnya, menghubungi pihak lainnya, begitu saja terus.
Biarlah hasilnya pasrahin aja sama Allah.
Makanya Pak Lukman ini ga pernah marah dan selalu sabar ke bawahannya ketika ngasih tugas atau gagal dalam proyeknya.
Karena semua itu sudah ditakdirkan Allah.

Aah, setelah dikasih wejangan seperti itu, saya jadi sadar.
Bahwa selama ini saya berdoa yang pamrih.
Memang saya berdoa ini itu karena ingin dikabulkan yang sesuai permintaan saya.
Saya memaksa pada Allah agar mengabulkan doa-doa saya.
Padahal belum tentu apakah saya akan ‘beruntung’ atau ‘merugi’, apakah saya akan keewa dan putus asa jika hasilnya ga sesuai permintaan saya.

Jadi bikin saya semangat untuk kerja dan semakin yakin pada Allah.
Saya ditempatkan disini karena takdirNya, agar saya banyak menerima rezeki seperti diingatkannya tentang hidup dari atasan saya ini.
Bahwa Allah itu Maha Sayang.
Allah ga ingin hamba-Nya terjerat dilematis duniawi, Allah ingin hamba-Nya hidup tenang dan damai, Allah ingin hamba-Nya ga khawatir dengan hidup.
Semuanya sudah ditetapkan, dan Allah pasti menetapkan yang paling baik untuk hamba-Nya yang berpasrah.

Terima Kasih Allah,
melalui Pak Lukman saya banyak belajar dan diingatkan lagi…

 

 

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, petuah si bos

Berdoa

Sepertinya cukup sering saya bercerita tentang Doa.
Apapun itu selalu saya hubungkan dan usahakan dengan Doa.
Karena memang saya sebagai manusia yang lemah ini, hanya bisa merasa kuat dan berani dari backingan Doa kepada Allah.
Sudah banyak juga kejadian yang saya alami sesuai dengan doa-doa yang saya pinta.
Walau sebagian besar bukan hal yang tepat sesuai keinginan, tapi saya yakin semuanya itu Allah berikan sesuai dengan kebutuhan saya.

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS. 2:186)

Allah pasti akan mendengar dan mengabulkan doa semua manusia.
tidak terlepas apakah dia muslim, nasrani, yahudi.
Hanya diakhir nanti, apakah dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beruntung atau merugi.

Tapi akhir-akhir ini, saya rasa berkurang kualitas doa saya.
Karena mungkin ga saya perkuat di tahajud.
Padahal belum dikatakan benar-benar ingin sesuatu itu jika tidak berdoa pada tahajud.
Karena saat tahajud itu Allah turun lebih dekat dengan hamba-hamba-Nya.

Hyosh!
‘Audzubillahiminassyaithoonirrajiiimm..’

Menyegerakan terwujudnya keinginan dengan sholat (doa), sedekah, dan sabar..

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Waktu Paling Mustajab Untuk Berdoa

Berikut adalah waktu paling baik untuk berdoa dan dilipatkan pahalanya:
1) 10 hari akhir bulan Ramadhan, pada malam hari.
2) 10 hari awal bulan Dzulhijjah, pada siang hari.
3) Hari tasyrik; 11, 12, 13 Dzulhijjah.
4) Malam jum’at hingga hari jum’at; dari ashar hingga maghrib.
5) Sepertiga malam terakhir.
6) Setiap pagi dan petang.

Adapun orang-orang yang paling didengar dan dikabulkan doanya adalah:
1) orang yang dianiaya/didzolimi; tidak ada hijab antara orang yang didzolimi dengan Allah.
2) orang yang beriman/dekat dengan Allah; orang-orang yang ikhlas dalam mengerjakan ibadah-ibadahnya.
3) orang yang menjaga makanan dan minumannya hanya dari yang halal.

Berdo’alah dengan penuh keyakinan dan pengharapan hanya pada Allah SWT.
Allah akan mengabulkan setiap hamba yang berdoa, selama tidak minta untuk tergesa-gesa.
Jangan sekali-kali mengatakan “saya sudah berdoa tapi Allah belum penuhi”, karena hal itulah yang menghalangi tidak dikabulkannya doa.

Ust. Muhammad Zaitun,Lc.
Mabit KMII-Jepang, 27 Ramadhan 1433 H @ SRIT Meguro, Tokyo.

Leave a comment

Filed under memoar jepang, tausyiyah

Berdoalah

Setiap hari minggu selalu ada buka puasa dan tarawih di SRIT dari KMII Jepang.
Selesai tarawih biasanya jam stgh10 malem, dan perjalanan menuju kosan saya masih 2 jam.
Biasa dapet kereta pulang dari Shinjuku ke stasiun daerah kosan itu sekitaran jam stgh11 lebih.
Hari ini karena malas nunggu kereta selanjutnya, yang artinya saya harus berdiri. Kalau beruntung, ada penumpang dekat yang duduk depan atau dekat saya berdiri turun di stasiun terdekat, saya bisa dapet duduk.
Lumayan, perjalanan sejam euy.
Tapi udah sekitaran 20menit, ga ada juga yang turun.
Lalu saya teringat “berdoa sama Allah, minta apapun itu sama Allah”.
Dan saya pun berdoa minta tempat duduk.
Subhanallah walhamdulillah, setelah selesai berdoa, ada penumpang duduk yang turun juga.
Ya Allah.. Memang Engkau Maha Pengabul Doa.

Jadi malu banget.. Karena sering ga percaya dengan ketentuan Allah.
Pernah mikir, dengan berbagai kejadian yang terjadi, kalau saya berdoa itu malah dikasihnya yang berkebalikan. Ya udah, minta yang buruk-buruk aja, nanti dikasihnya yang baik.
Astaghfirullah.. Padahal yang baik menurut kita belum tentu Allah ridho, belum tentu itu memang yang terbaik untuk kebaikan hidup dunia akhirat kita.

Sungguh, tawakal itu sangat berat, karena Menunjukkan seberapa kuatnya Iman ini.
Sungguh, ikhlas itu sangat sulit, karena Menunjukkan kualitas bersihnya hati ini.
Sungguh, sabar itu sangat rumit, karena menunjukkan seterbuka apa untuk melihat hal yang positif.
Ya, Sungguh, Surga itu memang bukan untuk yang lemah, yang kotor, dan yang pesimis.

Leave a comment

Filed under memoar jepang