Tag Archives: camping

Yes, I’m Back Again, Ranu Kumbolo.

Untuk kedua kalinya saya bisa menapaki rute Semeru hingga ke Ranu Kumbolo, yang pertama kalinya pada bulan Juni lalu [check this]. Bisa kemping lagi di depan danau Ranu Kumbolo dan menikmati sunrisenya yang indah lagi. Kali ini bersama banyak teman, ada 17 orang yang ikut trip Ranu Kumbolo ini. Rencana kami memang hanya sampai Ranu Kumbolo, kemping semalam, ga sampe muncak. Waktu yang pertama kalinya kan sempet sampai kalimati, hingga bisa liat puncak Mahameru. Karena bulan Agustus sudah masuk kemarau, jadinya rute perjalanan berdebu dan terik. Tapi langitnya cerah dan bersih.
panas

Jumat, 23 Agustus 2013
Sesuai kesepakatan, kami akan berangkat menuju Ranu Pani dari Jumat malam, sehabis pulang kerja naik motor. Kami dibagi dua kelompok, ada yang dari rute Bangil dan rute Pasuruan, lalu berkumpul di Purwosari. Saya gabung rute Bangil dan jadwalnya berangkat jam 7PM, tapi yaa ga telat itu ga Indonesia banget, makanya baru berangkat menuju Purwosarinya jam 8PM, dan baru kumpul semua jam 9PM. Dengan konvoi 9 motor, kami menuju Arjosari (Malang) untuk jemput satu lagi kawan. Setelah itu langsung menuju pasar Tumpang untuk ganti kendaraan menjadi truk sayur.

Yep, kami semua diangkut truk sayur sampai ke Ranu Pani, karena medan jalan yang ga oke untuk boncengan motor. Motornya disimpen di rumah pemilik Truk. Perjalanan 2 jam menuju Ranu Pani ditemani angin dingin kaki gunung, ga kerasa ternyata udah jam 1AM kami sampai di Ranu Pani. Kami segera menuju mushola untuk istirahat, tapi udara super dingin sampai menusuk tulang bikin ga bisa tidur dengan benar.

Sabtu, 24 Agustus 2013
Pkl 04.00, saya udah ga kuat lagi kedinginan, jadinya memilih untuk keluar sleeping bag dan mulai bergerak. Ternyata beberapa temen juga sama, akhirnya kami wudhu dan bersiap untuk subuh. Setelah subuh dan semua orang bangun, kami siap-siap untuk mulai treking. Tapi karena pos lapor baru buka jam 8 pagi, jadinya kami masih harus nunggu dulu. Selagi nunggu kami foto-foto di Danau Ranu Pani yang penuh kabut dan es.
danau ranu pani

menjadi es
[Karena dingin, bahkan rumputnya aja jadi es]

Pkl 08.00, kami laporan untuk mulai naik Semeru. Pada saat itu juga, ternyata kami bisa menyaksikan pemecahan rekor MURI mendaki puncak Mahameru dengan jalan mundur, sekalian kampanye untuk melindungi Gn. Semeru dari kerusakan akibat sampah. Jadi sekalian kami memberikan semangat untuk cak Tarpim “Gimbal Alas” yang dari awal hingga puncak Mahameru berjalan mundur (don’t imagine how he did that).
cak tarpim
[Cak Tarpim Lagi persiapan untuk berjalan mundur ke Mahameru. Pakai spion di kiri dan kanan, ditemani guide depan belakangnya]

berdoa
[Berdoa sebelum berangkat]

Pkl 08.30 akhirnya perjalanan kami dimulai. Masih semangat berjalan di pagi hari dengan rombongan yang lain. Tapi lama kelamaan udah ngos-ngosan juga. Bawa barang-barang yang berat dan rute menanjak, beberapa kali istirahat, sampailah kami di Pos 1 dengan waktu tempuh 75 menit.
pos 1

Setelah istirahat dan udah oke untuk mulai jalan lagi, kami meneruskan perjalanan. Dari pos 2 ke pos 2 relatif jaraknya lebih singkat, hanya 30 menit saja, jadi ga perlu istirahat lama-lama. Tapi dari pos 2 ke pos 3 yang jauh dan berat, ditempuh 60 menit, sampai di pos 3 kami istirahat 30 menit sampai ketiduran.
pos 4
[terkapar di pos 3]

Tepat jam 12 siang, kami mengumpulkan semangat lagi untuk rute sangat menanjak dari pos 3 ke pos 4. Tapi semakin mendekati pos 4, akhirnya pemandangan danau Ranu Kumbolo itu terlihat juga, semakin menyemangati kami untuk terus berjalan dan ga sabar pengen sampai tempat tujuannya. 45 menit perjalanan menuju pos 4, kami istirahat sambil foto-foto dulu, dan touchdown spot kemping Ranu Kumbolo tepat pkl 14.30, jadi sekitar 6 jam perjalanan yang ditempuh. Lebih cepat 2 jam dibanding perjalanan kesini waktu pertama kali, mungkin karena waktu itu malam dan musim hujan, jadi harus super hati-hati jalan karena licin.
pos 4
[pemandangan danau dari pos 4]

Yuhuu, sampai di danau Ranu Kumbolo. kami mendirikan tenda dan beristirahat sambil makan. Foto-foto udah pasti, ga mau melewatkan setiap spot untuk diabadikan. Walau jauh lebih indah liat langsung dengan mata sendiri sih, hihihi. Udara udah mulai dingin aja, padahal masih sore, gimana nanti malam apalagi nanti subuh? itu ga bisa kami bayangin. Pkl 16.00 Saya dan 3 orang lainnya memilih untuk naik ke ‘tanjakan cinta’ hingga oro-oro ombo setelah sholat ashar. Sedangkan yang lainnya memilih untuk masak-masak dan beristirahat. Cukup sejam aja menikmati pemandangan oro-oro ombo dan foto-foto, kami turun balik menuju tenda.
CIMG3414

CIMG3439
[karena musim panas, lavendernya ga mekar di oro oro ombo. Beda waktu bulan Juni pas musim hujan, sepanjang jalan itu padang lavender]

CIMG3466

CIMG3485

Menjelang maghrib, matahari mulai tenggelam, udara semakin dingin. Bergegas kami wudhu dan sholat. Lalu setelah itu kami berkumpul dengan pusat lingkaran adalah kompor yang menyala memanaskan air kopi. Lumayan untuk menghangatkan badan sambil ngobrol-ngobrol dan nyanyi-nyanyi heboh. Mungkin cuman kami yang ketawa-ketawa sambil ngobrol keras seantero area kemping. Kami main tebak-tebakan alfabet; mulai dari nama buah, kota, hewan, tempat wisata, hingga nerusin cerita bersambung yang ga nyambung.
kedinginan malem2

main games

_DSC5333

Momen seperti inilah yang paling saya sukai ketika kemping, malam-malam berkumpul mengelilingi api unggun, bercerita hingga curhat sambil ngemil kacang dan minum kopi panas. Puas banget ketawa dan curhatnya. Ditambah malam itu pas ketika langit cerah, melihat keatas, langit serasa dekat sekali dengan taburan jutaan bintang yang super indah. Sayangnya ga ada kamera canggih untuk mengabadikan pemandanan samudera bintang itu, tapi cukup mata ini yang menyaksikan langsung dan hanya bisa terus berucap “subhanallah”.

Semakin malam, semakin dingin, semakin aneh-aneh acara kumpulnya. Tetapi sempat kami teralihkan oleh cahaya sangat terang diujung bukit. Apakah itu? Oh ternyata Bulan sudah mulai menyapa. Walau bukan purnama, tapi terang bulan malam itu sangat terlihat jelas, sampai ga perlu senter untuk menerangi jalan dan sekitar tempat kemping. lagi-lagi “subhanallah”.
padang bulan

Satu per satu kawan udah nyerah karena dingin dan capek, akhirnya masuk tenda masing-masing. Saya dan yang tersisa 3 temen lainnya masih berusaha untuk menghidupkan api unggun dengan mencari ranting dan kayu. Pukul 22.00 akhirnya saya masuk tenda dan sleeping bag, mencoba untuk tidur dan berharap ga kedinginan.

Minggu, 25 Agustus 2013
Tepat perkiraan saya, ga akan mungkin bisa tidur! semakin dingin menusuk sampai menggigil dan ga karuan mencoba posisi meringkuk di dalam sleeping bag. Apalagi ini musim panas, yang udara di gunung bakalan jauh lebih dingin dibanding musim hujan. Udah deh, dari sekitaran jam 3 kurang sampai subuh itu saya seperti cacing kepanasan versi dita kedinginan di dalam sleeping bag, mwehehehe.

Akhirnyaa, inilah yang ditunggu-tunggu. Sunrise di danau Ranu Kumbolo. Setelah sholat, kami udah excited aja menanti sunrise dan siap-siap dengan kamera. Berbagai momen dan pose ga boleh dilewati. Hingga cahaya itu semakin terang dan kabut di danau semakin terlihat jelas. Walau super dingin, tapi tetep ga bisa ngalahin semangat untuk foto-foto dan liat langsung kuasa Allah SWT.
sunrise

_DSC5405

_DSC5407

_DSC5408

_DSC5410

Pkl 06.00 teman-teman yang belum naik ke ‘tanjakan cinta’ mencoba untuk kesana. Sedangkan saya dan yang sudah kemarin, bikin sarapan ala anak kemping, yaitu mie goreng. Ditemani cahaya mentari pagi yang menghangatkan, saya dan yang tersisa sibuk di dapur alami untuk masak mi dan air panas. Pas temen-temen turun dari ‘tanjakan cinta’, sarapan udah siap dan langsung habis hingga masak berkali-kali mi goreng lagi.

Jadwalnya kami berkemas dan berangkat untuk pulang pkl 09.00, tapi dengan banyak gaya dan spot Ranu Kumbolo yang ga boleh dilewatin, jadinya kami baru mulai bergerak itu pkl 09.30. Sampai ada yang ga cuci muka dan gosok gigi gara-gara sibuk foto (suer, bukan saya!). Tapi hasutan saya: Ya kan gosok gigi dan cuci muka bisa sehari 2x, ke Ranu Kumbolo belum tentu seumur hidup 2x, hihihi. Perasaan temen-temen sama semua.. ga pengen pulang lagi. Ingin berlama-lama di Ranu Kumbolo. Rasanya tenang dan damai banget. Jadi dengan perasaan berat, plus jalan nanjak juga sih, jadinya kami berjalan perlahan sambil menikmati lagi pemandangan Danau untuk terakhir kali.
pamit rakum
[berkumpul semuanya untuk perpisahan dengan ranu kumbolo]

Perjalanan pulang tentu saja lebih ringan dan cepat. Yang waktu berangkat itu boro-boro ada yang ngobrol karena kecapean, perjalanan pulang sambil ngobrol seru dan menyapa setiap pendaki yang papasan. Pkl 12.30 kami sampai di Ranu Pani. Total waktu tempuh, hanya 3 jam saja! diskon 50% dari waktu tempuh berangkat. Karena masih siang dan janjian dengan truk sayur itu jam 3, jadinya kami bisa istirahat bersih-bersih, makan, dan foto-foto dulu.
_DSC5606

_DSC5693

Pkl 15.00 setelah semua barang dan orang masuk truk sayur, kami harus meninggalkan Ranu Pani menuju kenyataan hidup lagi (halah..). Tapi kami masih disuguhi pemandangan bukit-bukit bromo sepanjang jalan menuju Tumpang. Walau berkabut tebal, tapi masih ciamik sekali. Pkl 17.00 sampai di Tumpang dan berganti motor untuk meneruskan perjalanan balik ke Bangil. Saya sendiri sampai di kosan pkl 20.00, setelah mampir makan dan belanja dulu.
_DSC5766

_DSC5769

_DSC5770

_DSC5792
[capek, tapi senang sekali]

Haah.. pesona Ranu Kumbolo emang ga pernah abis. Pengen lagi saya kesana. Tapi kalau ada rezeki lagi ingin sampai puncak Mahamerunya.

Best Place, Best Journey, Best Friends, Best Shot, Best Story!
this place again
[this place again]

the crew
Ranu Kumbolo’s Crew:
Female: Saya, Fitriatun, Tatik, Mery, Mbak Nana, Elok, Airin, Eni
Male: Mas Heru, Hanafi, Haqi, Bayu, Arga, Yakin, Umar, Arie, Hajir

4 Comments

Filed under gunung, jalan-jalan

Pulau Sempu, Laguna Segara Anakan

cagar alam pulau sempu
Akhir Bulan Juni ditutup dengan trip ke Pulau Sempu bareng 14 orang temen-temen kantor dari berbagai departemen. 6 orang cewe, 8 orang cowo.
Sekaligus sebagai akhir dari reli trip saya sebelum bulan Ramadhan (hihi), dan sebagai pembuktian kata orang-orang tentang keindahan wisata Pulau Sempu ini.

Jumat, 28 Juni 2013
Kali ini jadwal berangkat juga sehabis pulang kerja, seperti minggu lalu yang ke Jogja.
Tapi lebih santay, karena berangkat jam 10 malem dari Lumpang Bolong (salah satu kawasan kos).
Jadinya pulang kerja masih bisa santay-santay makan lalapan mujaer dulu, ke mini market beli tambahan perlengkapan trip dulu, dan packing ga buru-buru.
Tetep sih ya, jadwalnya jam 10 malem, tapi aktualnya berangkat jam 11 malem.
Pakai mobil ELF berkapasitas full 14 orang.

Sabtu, 29 Juni 2013
Perjalanan menuju Malang selatan, ke Pantai Sendang Biru, pemberhentian pertama sebelum nyebrang ke Pulau Sempu, sekitar 5 jam. Ditemani hujan sangat deras dan kabut tebal, akhirnya mendekati subuh kami sampai.
Setelah sholat subuh, kami menunggu munculnya matahari sambil siap-siap. Udah ga hujan, hanya gerimis-gerimis kecil.
Matahari mulai terbit, langit mulai terang, kami dikasih hadiah alam yang indah.. Pelangi dan suasana pantai yang tenang.
pelangi
Beberapa temen mulai cari perahu nelayan untuk disewa menyebrang ke Pulau Sempu dan guide untuk nemenin perjalanan menembus hutan hujan tropis.
Sisanya ke tempat sewa sepatu anti slip, karena sangat ga direkomendasiin pakai sepatu biasa. Jalanannya super licin dan berlumpur. Apalagi malemnya abis diguyur hujan, bakalan tambah licin aja nanti.
Setelah dapet perahu dengan harga Rp 130.000 (PP), sewa guide Rp 200.000 (PP), dan sewa sepatu Rp 10.000, kami harus berenergi dulu sebelum menempuh perjalanan 2.5-3 jam berjalan kaki.
Kami sarapan di warung nasi sekitar pantai, dengan menu pecel, rames, atau soto.

Lalu, dimulailah pertualangan kami di The (so called) Amazing Sempu Island.
Hyosh! bawa carrier berat berisikan survival things untuk 2 hari 1 malam. Plus air minum dan air bersih berliter-liter, karena di Laguna nanti ga ada sumber air tawar sama sekali.
Kami naik perahu nelayan, menyebrang sekitar 15 menit hingga sampai di Pulau Sempu, lalu tepat jam 8 pagi kami mulai jalan masuk ke hutan hujan tropis.
DSC_0113

Jreng.jreng.. baru mulai aja udah keliatan sangat jelas gimana berlumpurnya jalan. Totally muddy, tanpa ada jalan bagus sama sekali.
Mengertilah saya, kenapa kalau baca testimoni orang-orang yang udah pernah ke Sempu bilangnya “The Hell” moment.
Harus rasain sendiri gimana sensasi super seru menembus hutan yang naik turun, apalagi setelah hujan.
Saya sampai jatuh kepleset 4 kali, saking licinnya :”)
treking hutan tropis 1

treking hutan tropis 2

treking hutan tropis 3

CIMG3072

CIMG3065

Perjalanan ekstrim melewati hutan memang tepat sekitaran 2.5-3 jam.
Setelah sering bertanya ke guide berapa lama perjalanan lagi (yang baru aja jalan 10 menit udah ga sabaran ingin nyampe), terdengarlah deru ombak dan suara-suara seru orang-orang yang lain (sepertinya) berenang.
Ga sabar ingin ingin segimana amazingnya sih Laguna Segara Anakan.
Yang dibilang “The Heaven”nya itu katanya bisa ngobatin puas setelah penderitaan perjalanan.

Okay, mungkin menurut orang-orang yang cinta pantai bisa bilang seperti itu.
Tapi buat saya yang lebih suka gunung ini, sampai di Laguna ternyata.. biasa aja.
Ga sampe bikin saya seterpesona Ranu Kumbolo-nya Semeru.
Setelah menurunkan carrier yang bikin punggung saya encok dan bahu saya bengkak, saya berjalan datar menuju air laut di Laguna untuk bersihin sepatu dan baju yang udah penuh lumpur semua.
Dan mencoba menikmati sekeliling Laguna yang udah penuh dengan beberapa grup yang datang duluan.

arrived @ segara anakan

IMG_6862

CIMG3090

Ada yang seru waktu baru dateng di Laguna.
TIba-tiba dari kanan pantai ada yang teriak-teriak minta tolong.
“tolong! Tolong!” dan “Help! Help!”, “seriusan ini, tolong! help!”
Suara cowo dan cewe. Lalu beberapa orang ada yang berlari bak pemain baywatch untuk nolongin mereka.
Saya masih mengamati sambil beres-beres untuk ngediriin tenda. Bukan apatis sih, tapi daripada ikutan heboh ga jelas, mending ngerjain yang lebih jelas untuk kelangsungan hidup di Laguna yang jauh dari peradaban luar.
Pas udah keliatan aman, barulah saya denger-denger kisahnya.
Jadi, ada sekelompok cewe dan cowo yang lagi main-main air di pinggir sebelah kanan Laguna itu.
Kok lama kelamaan mereka jadi ke tengah laut, taunya mereka keseret ombak, ditambah kaki kram.
Jadi aja mereka teriak-teriak minta tolong karena udah ga sanggup ngelawan arus dan mereka terus keseret ke tempat yang dalam.
Alhamdulillah, guide kami itu yang bisa nolongin mereka. Disaat banyak yang nolongin tapi malah ikut-ikutan keseret. Ya tau kapasitas diri dong seharusnya, kalo ga bisa berenang jangan terlalu heboh di pantainya. Atau kalo bisa berenang tapi untuk diri sendiri aja, ga usah ikut-ikutan ingin nolongin orang tenggelam.

Setelah kejadian itu, sama temen-temen malah dibecandain.
Kan yang keseret arus itu bilang: “Help! Help! Tolong!”
Dijawab sama temen-temen: “ciyuus? miapah?”
Dan ngakak lah kami semua diatas ketraumaan orang-orang itu, ahaha.

Singkirkan iklannya, kami harus mendirikan tenda untuk tidur nanti malam.
Kami sewa 3 tenda; (literally) 1 tenda ukuran untuk 6 orang, 1 tenda ukuran untuk 4 orang, dan 1 tenda kecil ukuran untuk 2 orang.
Jadi 1 tenda gede untuk semua cewenya, lalu 2 tenda sisanya dibagi-bagi gimana maunya para cowo.
Setelah tenda berdiri, kami mengeluarkan persenjataan pelindung perut kami, makanan.
Dan ternyata… itu sih udah kayak mau buka warung aja.
Mie instan berbungkus-bungkus-bungkus dan snacks yang bejibun.
DSC_0123

DSC_0124
Lalu kami mulai masak mie untuk makan siang.
Sambil nunggu, ngeringin baju, dan kami bergiliran sholat dzuhur.. Ini yang saya suka, jalan bareng geng satu ini selalu inget waktu sholat. Karena kalau jalan-jalan dengan geng lain, kadang sholat ya inget masing-masing aja, atau bahkan pada ga sholat.
Bahkan karena kami sholat jamaahan, tetangga-tetangga tenda sekitar ada yang ikutan sholat juga.
DSC_0129

Jadwal siang-sore itu bebas.
Ada yang mulai naik tebing untuk liat samudera (masih siang bolong, terik banget, saya skip aja untuk jadwal nanti sorenya), ada yang berenang di pantainya (saya skip juga, karena berenang di air asin yang ga ada fasilitas air tawar untuk mandinya itu ga saya bangetnya kebangetan. Ada fasilitas mandinya aja, kayak Papuma, saya ga ikutan nyemplung, ini apalagi..).
Jadi saya sendiri yang masuk ke tenda dan tidur, ahaha.. tapi emang kepala saya pusing banget sih. heat attack i guess.

Masuk sore, saya bangun dan mulai segeran. Temen-temen masih menghilang dengan aktivitas narsis dan renangnya.
Tapi ga lama udah pada dateng ke tenda dan ngumpul lagi.
Saya bersiap untuk naik ke tebing, bareng temen-temen yang belum naik ke tebing sebelumnya.
Melihat pemandangan luasnya samudera…
samudra 1

CIMG3097

DSC_0179
Wohooo,, that was the awesome part.

Ini yang saya paling suka dari Pulau Sempu. Pemandangan ini. Momen ini.
Samudera luas, cipratan air laut dari ombak yang menghantam karang, langit..
Ciptaan Allah yang Maha Luar Biasa..
IMG_6776

samudera
(picture taken by me when Hq stood alone with those ocean as his background, stunning! *muji karya sendiri gini,hihi*)

DSC_0163

Yang saya lakukan, hanya cari spot paling pewe untuk nikmatin view samudera, dan duduk diam.
Memejamkan mata, mendengar suara laut, menghirup udara segar. that’s it and I’m satisfied!
Pemandangan Laguna dari atas tebingnya juga keren.
saya

Menjelang maghrib, baru saya turun, dan ikut bantu nyiapin makan malem.
Menu kali ini, selain tentu saja mie instan, masak nasi dan sarden.
Makan apapun selama bisa bareng temen-temen yang asik sih bakalan kerasa nikmat.
Abis sholat maghrib, kami berkumpul melingkar diatas terpal untuk menyantap makan malam kami di tengah Pulau Sempu.
IMG_6793

IMG_6796

Jadwal abis makan adalah main UNO.
Tapi sayangnya baru aja mau mulai, udah gerimis, dan ga lama hujan.
IMG_6797

Ga sesuai harapan banget sih hujan di malam harinya.
Karena kami kan ngebayanginnya ngabisin malam sambil main UNO, bakar-bakaran, berpayungkan bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Tapi jadinya kami habiskan malam di dalam tenda, berpanas-panasan, dan tidur.
Hujan semakin deras, bahkan lebat. Suara guntur dan kilatan petir udah bersahut-sahutan.
Ditambah tenda bocor, bikin makin ga oke untuk tidur. Tapi kami ber-6 sih nikmatin aja.
Dengan berbagai gaya di dalam tenda yang sempit, kami nyoba posisi paling pol untuk istirahat.
Padahal baru jam 8 malem, tapi kami terkurung di dalam tenda.

Lalu tanda-tanda hujan lebat segera berakhir mulai terdengar.
JREEENNGG… kedengeran suara gitar dan nyanyi-nyanyi keras dari tenda depan. sounds so fun.
Mereka tetep tau caranya nikmatin pantai malam hari walau hujan.
Temen-temen cewe lain udah pada tidur, tapi karena panas dan gerah, saya memilih untuk keluar tenda.
Seger banget kena angin laut di malam hari. Masih gerimis jadi saya pake payung beneran.
Ada 2 orang temen cowo yang ga tidur juga, arga dan pingpung masih diluar tenda. jadi sambil denger teriakan-teriakan yang nyanyi, kami ngobrol-ngobrol.
Menjelang tengah malem, udah ga gerimis, kami masak air panas untuk seduh kopi.
Bintang mulai terlihat, suara-suara teriakan nyanyian mulai redup, hanya terdengar suara-suara samar orang-orang yang masih ngobrol dari tenda sekitaran, dan suara ombak.

Minggu, 30 Juni 2013
Saya nanya ke temen sekarang udah jam berapa. Dijawabnya kalau ternyata baru jam 1 dini hari.
Malam terasa panjaaang.. ingin segera subuh dan hunting sunrise dari atas tebing.
Jam setengah 2 pagi, saya mutusin untuk masuk tenda dan mulai tidur-tidur ayam hingga mungkin jam setengah 5.

Walau ga tau tepatnya jam berapa, tapi harusnya udah masuk waktu subuh.
malah langit udah mulai beranjak terang.
Kami semua bangun dan sholat subuh bergiliran.
Saya udah ga sabar untuk segera naik ke tebing dan liat sunrise.
Tapi ternyata, sunrisenya ketutupan sama bukit ;(
Hanya bisa menimati siluet horizonnya aja. Tapi tetap bisa bikin dunia saya serasa berhenti.
IMG_6808

IMG_6799
Hingga langit benar-benar sudah terang, saya baru turun dan bantu siapin sarapan, dengan melihat yang masak dan ngabisin stok cemilan, ehehe.

Sesuai perjanjian dengan mamang guide, kami akan dijemput jam setengah 9 pagi.
Jadinya setelah sarapan, dengan mie instan lagi, kami bongkar tenda dan bersiap untuk packing pulang.
IMG_6820

IMG_6815

Sambil nunggu dijemput guide, kami mulai beraksi lagi, foto-foto.
Sok-sok lupa kalo perjalanan pulang nanti bakalan lewat rute “The Hell” hutan hujan tropis seperti kemarin.
Nyeseknya, Kali ini ga ada suguhan pelepas lelah indahnya Laguna, tapi langsung pantai menuju sendang biru.
Pas lagi hari ini adik saya ulang tahun.
bea

DSC_0312

DSC_0322

Jam 9 akhirnya guide kami datang dan kami langsung berangkat perjalanan pulang.
OK! Kali ini bener-bener “HELL” (astaghfirullah ;p).
Efek hujan lebat tadi malem bikin treknya makin “HELL” (astaghfirullaaah ;D).
Makin lama, makin berat sama lumpur di sepatu dan celana. Udah ga pilih-pilih jalan lagi, nyemplung aja di kubangan lumpur. Jatuh kepleset cuman sekali, tapi buat saya perjalanan pulang 3 jam paling “HELL” yang pernah saya alamin.
IMG_6865

IMG_6869

IMG_6871

IMG_6872

IMG_6874

IMG_6875

Kaki lecyet, tanah becyek, ga ada ojyek. Sendi betis mulai bermasalah yang bikin jalan saya makin pelan karena sakit dan tertinggal paling belakang. Ditambah bengkak di bahu akibat gendong carrier berat mulai kerasa. perfekto.
Bikin saya berazzam, perjalanan ke Sempu ini cukup sekali seumur hidup aja.
Ga lagi-lagi mau dateng karena penasarannya udah terselesaikan tuntas.
Saya lebih milih naik Semeru berkali-kali dan kemping kedinginan di Ranu Kumbolo.

Dengan langkah gontay karena betis sakit dan kaki lecet, akhirnya tertatih-tatih sampai di tempat start yang sekarang jadi tempat finish perbatasan Pulau Sempu. Ga saya banget pokoknya >.<
Perahu kami sudah menjemput dan sebagai orang yang ditunggu karena berada di paling akhir, saya langsung naik ke perahu.
Saya hanya duduk di tepi perahu, menikmati perjalanan menuju pantai sendang biru sambil melepas letih, yang sebelumnya melepas sepatu yang bikin lecyet.

Sampai di Sendang Biru jam 12an, saya langsung turun, nyeker menuju toilet untuk bersih-bersih.
Disusul temen-temen yang lain.
ELF sudah menjemput, dan kami skip makan siang karena akan disuguhin makan di rumah Hq, di Malang.
Setengah 2 siang kami berangkat meninggalkan Sendang Biru dan setengah 4 sampai di rumah Hq.
Istirahat makan dengan tahu telur bikinan ibunya Hq, sambil ngobrol-ngobrol dan nonton bola (PERSIB euy).
Jam setengah 6 kami pamitan untuk kembali ke Bangil.
Perjalanan cukup lama karena lalu lintas padat, akhirnya baru sampai Bangil setengah 11 malam.
Saya langsung beres-beres ngeluarin yang kotor dan bersih-bersih diri lagi dengan lebih baik dan benar.

Cukup sudah perjalanan ke Sempu ini. Cukup jadi pengalaman sekali seumur hidup.
Tapi tetep harus dicoba, biar tau serunya menembus hutan tropis, main di laguna di tengah Pulau Sempu, dan sensasi melihat samudera dari atas tebing 🙂

DSC_0318
Genng Sempu kali ini:
(the Females) Mak Atun, Tatik cilik, Mba Inne, Mery, Mba Nana, Sayaa
(the Males) Haqi, Hanafi, Habibil, Husni, Arga, Yakin, Fendrian, Bayu

6 Comments

Filed under jalan-jalan, pantai

Ekspedisi Gn. Semeru (3), I will be Back

Sabtu, 8 Juni 2013
Malamnya udah bisa guling-guling sendirian dengan tenang di tenda.
Tapi tetep aja, menjelang dini hari, suhu udara yang mulai beranjak turun bikin guling-guling meringkuk di dalam sleeping bag. Sepertinya lebih dingin daripada malam kemarin.
Beberapa kali saya kebangun karena posisi tidur yang ga nyaman dan saking dinginnya.
Bahkan menjelang subuh saya udah ga bisa tidur karena kedinginan. Yang ada cuman duduk dalam sleeping bag dan memeluk lutut sambil gigi gemerutukan.

Pkl 04.25 saya beranjak untuk sholat subuh.
Ah memang bener, kalo dipaksain bergerak jadinya ga terlalu kerasa dingin.
Walau masih gelap, tapi saya udah siap-siap buka tenda menyambut sunrise.
Pagi ini Danau Ranu Kumbolo lebih indah, walau langitnya lebih mendung. Karena kabut yang turun dari gunung memenuhi danau lebih terlihat jelas. Indah sekali.
IMG_6495

Pkl 05.00 perlahan terlihat juga cahaya pagi yang tertutupi mendung.
Tapi orang-orang udah bersiap dengan kameranya untuk mengabadikan momen keren ini.
Begitu pun dengan Bapak Fotografer yang emang sengaja ikutan ke Semeru hanya ingin ambil gambar Ranu Kumbolonya.

Setelah agak terang, Pkl 06.00, kami berkumpul diluar tenda untuk ngopi-ngopi, masak mie untuk sarapan, makan roti, ngemil-ngemil, ngobrol-ngobrol, dan foto-foto.
Merupakan momen yang berharga juga ketika berkumpul dengan satu tim pendakian.
Yang awalnya ga kenal akhirnya bisa akrab.
IMG_6332
(ki-ka bawah lanjut atas: Saya (sebagai wanita yang anggun sendirian ;p)
Andik (yang angkut sleeping bag dan persediaan yakitate pan)
Rudi (Artis of the Hiking! yang susah ngomong bahasa Indonesia)
Mas Fajar (dedengkot munggah a.k.a pendaki gunung sejati)
Rendy (gegedog Enginnering yang hobi travelling murmer)
Pak Aulia (sang fotografer profesional)
Santo (si Bolang dengan badan paling besar, makan paling banyak ,wajah paling imut)
Audi (bocah gunung sejati! walau badan cilik tapi tenaga raksasa, yang bawa-bawa tenda dan perlengkapan camp)

Pkl. 07.00 kami siap-siap untuk beresin tenda dan packing pulang.
Pkl. 08.00 kami meninggalkan tempat kemping depan danau Ranu Kumbolo.
Berjalan pulang menyusuri bukit yang menngitari Ranu Kumbolo.
Mengcapture setiap lokasinya, sayang banget batre kamera saya abis, padahal sekelilingnya itu keren, huks.
Tapi keindahan alam itu hanya bisa dinikmati mata sambil terus kagum dengan ciptaan Allah.
Pkl 09.00 kami tiba di Pos 4, menyelesaikan foto-foto, dan perjalanan pulang pun dimulai.
IMG_6314

Karena siang, jadi akhirnya tau track yang dilalui dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo 2 malam lalu.
Ternyata kanan jalan pulang itu adalah jurang. Jalan setapak kecil yang bertanah licin.
Banyak batang pohon dan batu-batu menghalangi jalan.
Tapi pemandangannya tetap keren.

Selama jalan, kami ketemu dengan beberapa rombongan. Ada yang pulang juga, ada yang baru naik.
Kami ketemu dengan satu grup Bapak-bapak dan Ibu-ibu kisaran 50 tahunan.
Ternyata mereka mengadakan reunian kampus dengan kemping di Ranu Kumbolo, kereenn!
Banyak juga pendaki yang dari luar Jawa Timur.
Dari Semarang, Jakarta, bahkan Balikpapan.
Yang lucu, banyak pendaki cewe yang bawa serta boneka kesayangannya untuk ikut kemping.
Di tengah perjalanan dan istirahat, ketemu dengan pendaki yang bawa semangka dan kami kebagian makan bareng semangkanya. Hihi, niat banget pokoknya.

Satu koor kami yang bikin semangat untuk berjalan pulang, adalah “Warung”.
Jadi, ada satu warung di Ranu Pani yang nyediain all you can eat seharga Rp 10.000.
Kebayang udah hampirr 3 hari ga ketemu nasi dan lauk pauk, gimana ngilernya kami untuk bisa makan sepuasnya Nasi campur ambil sendiri seharga 10.000 itu.
Jadi yang cowo teriak-teriakan “Warung! Warung!” sebagai penyemangat biar cepet sampe di Ranu Pani.

Pkl. 13.00 akhirnya kami sampai juga di Ranu Pani.
Total jalan dengan beberapa kali istirahat di tiap pos adalah 4 jam. Setengahnya dari perjalanan pergi lalu.
Setelah melapor ke pihak pengelola kalau kami masih utuh ketika turun, kami langsung menuju Warung.
Masuk warung, makanan yang disediain udah menggiurkan.
Pas banget nasinya baru matang dan asapnya masih mengepul.
Kebayang dong lagi dingin, hujan, kelaparan, liat nasi panas mengepul, sayur kubis kentang hasil tanam daerah Ranu Pani, sambal pedas paprika merah, ayam goreng, tempe goreng dan tahu goreng yang tebel-tebel, telor dadar, dan kerupuk. All You Can Eat!
Udah kalap aja ngeliatnya, bahkan ada yang ngambil makanan udah ngalahin Gunung Semeru, ahaha.
Semuanya hening, khusyuk makan. Alhamdulillah, nikmat banget.

Abis makan, kami bersih-bersih dan bersiap untuk pulang.
Ada 2 teman yang berangkat duluan sambi angkut tas ikut truk sayur.
Sisanya dan saya, naik motor.
Pulang menuju rumah/kosan masing-masing.

Selama perjalanan pulang dari pos tempat parkir mobil sampai Japanan, saya cuman bisa memandangan sekeliling perkebunan dan sinar matahari yang bersinar diantara awan mendung.
Ingin lagi mendaki Semeru dan kemping di Ranu Kumbolo. Ingin pas lagi cerah-cerahnya.
Ingin sekali.. someday, I will come to Semeru and camp in Ranu Kumbolo again.
Starring those Gallant Mahameru.
DSCN1585

Pkl 20.00 akhirnya saya tiba di kosan, Bangil.
Dengan hati dan pikiran yang masih tertinggal di Ranu Kumbolo.
IMG_6501

Leave a comment

Filed under gunung, jalan-jalan

Ekspedisi Gn. Semeru (2), Menatap Mahameru di Kalimati

(masih) Jumat, 7 Juni 2013
Setelah puas melihat bentuk Ranu Kumbolo, kami bersiap untuk berjalan lagi ke Kalimati.
Awalnya kami berniat untuk naik hingga ke Puncak, tapi karena ada yang linu kakinya dan bapak yang staminanya kurang, akhirnya kami memutuskan untuk sampai Kalimati aja.
Saya ga tau Kalimati itu tempat seperti apa. Karena baru pertama kali juga tau. Ya dicoba aja, mumpung udah di Semeru.
Perjalanan dimulai Pkl 08.30 dengan mendaki jalur terkenal, Tanjakan Cinta.
DSCN1402
Yang katanya sebelum mendaki, make a wish, lalu selama mendaki ga boleh berhenti dan menoleh ke belakang, akan terkabul permintaannya.
Saya sih yang seperti itu ga percaya, jadi ya tanpa repot make a wish segala, saya berjalan terus mendaki tanjakan cinta.

Lumayan ternyata bikin ngos-ngosam karena tingginya.
Cuman itulah kepuasan mendaki. Setelah lelah dan capek berjalan, mendaki, ketika sampai di puncak disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Bikin semua letih hilang seketika.
DSCN1463

Setelah beristirahat sejenak dari tanjakan cinta, kami meneruskan perjalanan menuju Oro-Oro Ombo.
Dibalik bukit terdapat pemandangan yang ga kalah kerennya. Pemandangan bukit hutan pinus dan cemara.
DSCN1465

Turun ke Oro-oro Ombo. kami melewati padang rumput tinggi dengan hiasan bunga bertebaran berwarna ungu, menuju hutan Pinus.
IMG_6389
Jalannya masih enteng, karena datar dan landai. dikelilingi juga bunga edelweis.
DSCN1511
Tapi setelah masuk hutannya, dimulailah perjalanan yang menanjak kembali.

Beberapa kali istirahat di batang-batang pohon yang tumbang.
Cukup melelahkan. Karena medan tanjak lebih tinggi daripada rute Ranu Pani – ranu Kumbolo.
IMG_6427

Tapi kami ga bawa carrier atau tenda yang berat. Hanya bawa tas seadanya untuk minum dan makan.
Padahal banyak yang menuju Kalimati bawa carrier seberat-beratnya berat. Kebayang gimana capek dan pegelnya.
IMG_6419

Pkl. 11.00 kami tiba Jambangan.
IMG_6430
Dari sini mulai bisa melihat sang Mahameru yang terkenal ganas gitu.
Gunung lautan pasir yang jauh lebih ekstrim lagi pendakiannya karena hampir vertikal.
Istirahat sebentar untuk mengisi energi dan foto-foto.
Ga lama lagi kami akan tiba di Kalimati.
IMG_6435

Kalimati adalah tempat peristirahatan kedua setelah Ranu Kumbolo untuk para climber yang ingin terus sampai ke Puncak Mahameru.
Biasanya di Kalimati mendirikan tenda lagi, dan mulai mendaki hingga ke Puncak dari sebelum tengah malam, agar dapat sunrise-nya ketika sampai di Puncak.
Rute dari Jambangan ke Kalimati relatif lebih ramah, karena menurun dan pijakan tanah yang enak.
Sampai juga kami di Kalimati Pkl 12.00
Total berjalan 7.5 km dalam 3.5 jam.
IMG_6460

Yang kami lakukan ketika sampai, hanya duduk dan memandang Mahameru.
Cuaca lagi berkabut, sehingga sering menutupi puncaknya.
Tapi kami hanya duduk dan memandang kegagahan Mahameru.
Hingga Pkl 13.00
IMG_6465

Karena ga berniat untuk kemping dan naik sampai puncak, jadinya kami balik lagi ke Ranu Kumbolo.
Perjalanan pulang lebih cepat, karena menurun dan ringan.
Sampai di Ranu Kumbolo lagi, tepat ketika akan hujan, Pkl 14.45
Total turunnya hanya 2 jam kurang.

Sore di Ranu Kumbolo, disaat udah sepi ga seramai kemarin.
Sehabis ganti baju karena basah dan harus bersih untuk sholat, saya merebahkan badan.
Hujan, sore, lelah, posisi tenda yang udah nyaman, tepat di depan Danau Ranu Kumbolo.
Tapi ga lama.. karena ada ngeloyor lagi masuk seenaknya.
Saya beranjak dan keluar tenda menikmati senja di Ranu Kumbolo.
IMG_6477

Yang kocak, saya duduk tepat di sebelah tenda besar khusus para cowo.
Mereka lagi ngobrol-ngobrol tentang kerjaan, tentang ini itu, sampai bikin fantasi tentang tenda depan mereka (yaitu tenda saya).
Ngomongin orang pas orangnya ada di sebelah mereka. Saya cuman diem aja dengerin, ga mau ikut-ikutan mikir kayak mereka.
Seharusnya satu tenda kecil itu untuk saya sendiri, tapi kenapa tiba-tiba ada yang seenaknya masuk aje.
Akhirnya pas topik berpindah ke tentang kamera, saya tiba-tiba nimbrung dan bikin mereka kaget.
ahahaha, pengalaman yang kocak.

Menanti malam, saya akhirnya bergabung juga ngobrol ngalor-ngidul bersama para pria dudul.
Ketawa-ketawa karena tingkah artis Kediri yang susah banget kalau ngomong bahasa Indonesia.
Saya tawarin roti gandum, pas dia makan langsung bisa pake bahasa Inggris. Ahahaha.
Ini saya ketawa sampe ngeluarin air mata.
Saya diajarin kosa kata bahasa Jawa, main tebak-tebakan, dan ngobrol ini itu.
Bener-bener senja yang kocak di Ranu Kumbolo..
Yang awalnya ga pernah kenal, akhirnya merasakan semakin dekatnya kami sebagai satu tim.

Malam menjelang, kami memasak air panas untuk ngopi-ngopi.
Bakar-bakar batang pohon untuk menghangatkan badan karena cuaca udah mulai dingin.
Pkl 21.00 saya pamit duluan ke tenda karena ingin istirahat, dengan sebelumnya menekankan kalau mau ada yang ke tenda harus izin saya dulu dan gantian tendanya.
Tapi akhirnya saya bisa tenang di tenda sendiri.

Mencoba tidur lebih benar dibanding malam kemarin.
Tapi tetep aja, karena tanah yang masih kurang datar dan mulai dingin menusuk hingga tulang.
Yang ada saya hanya guling-guling dalam sleeping bag menghangatkan badan.
Malam serasa lama, ingin segera subuh dan memandang lagi sunrise.
Kali ini tenda saya tepat sekali menghadap spot sunrisenya. Semakin ga sabar menanti fajar.

8 Comments

Filed under gunung, jalan-jalan

Ekspedisi Gn. Semeru (1), Pesona Ranu Kumbolo

Sewaktu ada kabar kalau gegedog travelling-nya Engineering mau ke Semeru, saya langsung ngehubungin dan daftar ikutan.
Gn. Semeru, Ranu Kumbolo, alasan kuat saya untuk berada di Jawa Timur ini. Bukan karena film-nya, tapi memang udah jadi cita-cita semenjak baca novel 5 cm tahun 2005. Dari Novel 5 cm itu saya langsung jatuh cinta dengan Bromo dan Ranu Kumbolo, walau belum pernah melihat langsung.
Akhirnya saat itu tiba juga.
Setelah Bromo terwujudkan, sekarang saatnya mendatangi Ranu Kumbolo.

Jadwal pergi mulai tanggal 6 Juni (kamis) pagi hingga 8 Juni (sabtu) malam.
Jadi selama 3 hari 2 malam kami akan mengunjungi Semeru dan menginap kemping di Ranu Kumbolo.
Dari 2 hari sebelum keberangkatan, saya udah ngerasa so excited. ga bisa fokus kerja, hanya terus-terusan nulis list keperluan kemping 3 hari 2 malam tersebut.

Akhirnya saat yang ditunggu datang juga.

Kamis, 6 Juni 2013
Rencana awal berangkat dari Bangil menuju Malang itu pkl. 06.00 menggunakan motor.
Tapi karena ada kerjaan ini itu dulu, jadinya baru berangkat pkl. 09.00 dengan beberapa kali berhenti untuk nunggu temen yang lain gabung.
Di Malang, kami mampir ke tempat sewa tenda dan alat-alat kemping.
Baru sekitaran pkl 13.30, setelah semua personil lengkap 8 orang, kami menuju Ranu Pani, tempat start untuk hiking Semeru.
Perjalanan ke Ranu Pani sudah disuguhi pemandangan Bromo yang indah. Bukit-bukit hijau dengan lekukan aliran sungai dan pohon-pohon cemara.
DSCN1365
Kendaraan yang dipake bisa motor, Jeep, atau numpang truk sayur. Kalau mobil biasa kurang rekomended karena jalannya banyak yang ancur.
Awalnya saya dan 3 teman lainnya pake mobil Jazz, tapi karena udah ga mungkin lagi dibawa dengan medan jalan yang rusak begitu, akhirnya kami naik truk sayur. Sedangkan keempat teman lain udah duluan naik motor dan sampai di desa Ranu Pani.

Sampailah kami semua di Ranu Pani sekitaran pkl 16.00
Kami siap-siap untuk memulai perjalanan yang hanya bisa dilalui oleh kaki ini saja.
Ada yang makan dulu, ke toilet dulu, packing-packing dulu.
Baru setelah sholat dan berdoa bersama, pkl 18.00 kami memulai perjalanan.
IMG_6243
Sudah mulai gelap, masing-masing kami pake headlamp. kecuali saya yang hanya pake senter kecil biasa.
Walhasil sempet beberapa kali kepleset, bahkan dari pos 3 ke pos 4 itu jalannya nanjak banget dan licin, saya sempet meluncur balik ke bawah. Pipi udah baret-baret kena ranting-ranting yang menjuntai ke jalan.
Tapi asik-asik aja. Namanya juga hiking di Gunung. Nikmati segala perjalanan tapi tetap hati-hati.

Perjalanan memang cukup berat. Ya berat karena bawa carrier yang isinya untuk 3 hari 2 malam. Ya berat karena habis ujan jadi jalannya yang tanah makin becyek dan licin. Ya berat karena namanya naik gunung, rutenya pasti menanjak.
Beberapa kali kami istirahat di tengah perjalanan, karena kecapean. Karena leader-nya kena serangan linu di persendian lutut kanannya. Karena yang paling senior (udah bapak-bapak) sering ga kuat jalan.
Sampai bisa tidur ditengah berhenti istirahat saking udah malam dan capeknya.
Akhirnya kami sampai di Pos 4 tepat pkl. 24.00

Jumat, 7 Juni 2013
Perjalanan belum berakhir.
Dari pos 4, kami udah bisa liat kelap-kelip cahaya senter dari kemah-kemah yang datang duluan di Ranu Kumbolo.
Saya masih belum kebayang, Ranu Kumbolo seperti apa karena keadaan masih gelap banget.
Perjalanan diteruskan lagi menuju tempat mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.
Sengaja kami ingin memilih spot persis tengah view sunrise-nya. Jadi kami masih menanjak dan jalan lagi.
Pkl 01.00 akhirnya kami tiba di tempat untuk beristirahat dan mendirikan tenda.
Total 7 jam kami berjalan dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo.

Setelah tenda siap, barang-barang keperluan udah sedia, saya coba untuk istirahat dengan masuk ke sleeping bag.
Pkl 02.30 saya cari posisi yang enak untuk meluruskan punggung, tapi ternyata tanah tempat tenda saya itu ga rata. Berlekuk banget yang menghasilkan saya ga bisa tidur tenang karena melorot terus ke bawah.
Ditambah ada yang ngeloyor aje masuk tenda tanpa permisi dan tidur.
Saya mau keluar tapi udara udah mulai dingin banget.

Pkl 04.30 saya memaksakan diri bergerak keluar sleeping bag karena harus sholat subuh.
Dengan udara super dingin, sambil menggigil saya sholat.
Setelah itu keluar tenda untuk siap-siap liat sunrise.
Ternyata kalau bergerak itu jadi berkurang dinginnya.
Perlahan-lahan, akhirnya cahaya matahari keluar dari sela-sela dua bukit yang membentengi danau Ranu Kumbolo.
IMG_6262

Selamat datang di Ranu Kumbolo…
IMG_6297

Semakin terang, semakin terlihat jelas bentuk rupa Ranu Kumbolo.
Danau jernih di tengah-tengah pegunungan.
Pantulan cahaya matahari pagi semakin membuat berkilau air danau.
Dikelilingi bukit hijau dan langit cerah.
IMG_6328
Hanya bisa terpana.. subhanallah..

DSCN1448

14 Comments

Filed under gunung, jalan-jalan