Kantor Baru (lagi)

Yes, i was resigned and have moved again to another company. Antara stupid yet smart decision, hahaha. stupid karena kerjaan di kantor lama itu supperr santai, lingkungan dan rekan kerja yg supperrr nyaman, let’s say udah jd senior dan kenal sama semua staf lokal maupun ekspat (indonesia & singapur), pokoknya udah di zona nyaman deh. I enjoyed it very much.

Yatapi, karena terlalu supperr enjoy itu, merasa ga berkembang, merasa bosen dan feel stupid, hahaha. pas ada tawaran di perusahaan yang udah jauh lebih besar, stabil, dan keche, yaudah dicoba-coba lah untuk apply. Qodarullah singkat cerita setelah beberapa kali wawancara dan MCU, akhirnya saya keterima masuk di perusahaan ini. Yang dari segi scoop kerjaan suppeerrr ribet tapi bisa bikin pinter. and i chose to be smart anyway.

Dan beraaatt sekali untuk ninggalin kantor lama yang udah nyaman itu. Bisa makan seenaknya, bisa ngobrol seenaknya, bisa kabur gak seenaknya sih, haha. Tapi yaa, i have to move on to something bigger. konsekuensinya, perlu adaptasi lagi. kantor yang lebih besar, karyawan yang lebih banyak, peraturan yang lebih njelimet. hari pertama, masih orientasi lingkungan. nah, hari kedua, ketika udah depan pc dan nyalain email, jreng-jreng, udah banyak email meeting aja, wakakakaak.

Okeh, selain kerjaan yang masih butuh adaptasi dan bakalan learning by doing aja, yaitu rekan kerja, di kantor baru, literally saya hanya kerja sendiri. Di bagian baru, meja kubikel, ga ada temen kiri-kanan. Intinya, ga ada orang yang bisa nge-guide saya untuk cepet adaptasi. Bedaaa bgt sama waktu dulu di 3 kantor ketika saya kerja. Ada aja yang beberapa waktu jadi pendamping saya untuk beradaptasi. Sekarang? none. hiks.

baiklah, lagipula baru juga 2 hari masup, ga mungkin langsung bisa kenal sama lingkungan dan rekan-rekan yang udah tahunan bekerja. tapi, ganbarimasu!! bismillaahh

Advertisements

2 Comments

Filed under cerita-cerita, kerja

Drama Proses KPR (2)

Ternyata belum selesai yaaa drama proses KPR itu. Walau udah ketemu jodoh si Bank Syariahnya, udah akad, udah mulai nyicil juga. Ada satu part yang harus dijelaskan sebagai pertimbangan jaga-jaga kalau mau beli rumah secara KPR.

Yaitu, biaya-biaya KPRnya yang total kira-kira adalah 10% dari jumlah KPR dari Bank. Jadi misal, kalau kita pinjem 400juta ke Bank, nah kena biaya KPR itu ada 40juta. Lumayan kan yeeessss.

Apa aja sih biaya KPR itu? tiap-tiap Bank berbeda komponen dan harganya sih. Tapi in general terdiri dari ini:

  1. Biaya administrasi/provisi Bank
  2. Biaya Notaris
  3. Biaya pajak pembeli (pajak penjual biasanya ditanggung sendiri)
  4. Biaya Asuransi (kebakaran dan jiwa)
  5. Biaya materai (yang jumlahnya bisa sampe 40bh)

Jadi, selain menyediakan biaya DP 20-30% dari harga beli rumah, harus dibudgetkan biaya untuk KPR nya yang sebesar 10% dari harga KPR bank nya yaa.

.

.

.

.

.

Belum selesai.. perlu dibudgetin juga biaya-biaya perbaikan rumah (kalo diperlukan) dan ngisi furnitur rumah yang ga akan ada habisnya, hedeeuuuhhh, huhuhuhu.

Leave a comment

Filed under Baiti Jannati, cerita-cerita

Drama Proses KPR (1)

Akhirnya, Alhamdulillah, drama mencari jodoh rumah dan proses KPR bisa berlabuh juga. Dan per-1 Mei kami sudah menempati officially rumah sendiri.

Sebelumnya sedikit review dari ikhtiar kami untuk menemukan jodoh kepemilikan rumah di sekitara BSD di cerita ini, yang ujungnya pake baper kesyel banget, akhirnya bisa diobati juga.

Untuk kali ini, pencarian rumah kami yang ketiga kalinya cukup berdebar-debar juga. Minggu sebelumnya kami muter-muter lagi cari rumah, dan liat-liat di online juga. Ketemu lah rumah yang dari fotonya sih cucok ya. Rapih, ukuran rumah sesuai (LT 72), desain rumahnya juga ok. Janjianlah kami dengan orang agennya untuk liat rumah tersebut. Pas masuk ke rumahnya sih OK sesuai foto. Mana desainnya itu sesuai keinginan kami (posisi pintu dan letak dapur/kamar). Lengkap dengan kanopi dan pgar yang masih bagus juga. Harga juga lumayan lah ya untuk ukuran dan kondisi masih bagus relatif dibawah harga pasaran. Pokoknya kami tinggal masuk aja.

Tapi, kami belum mau terburu-buru. Jadi kami masih mikir selama seminggu. Pas juga minggu berikutnya ortu dari Bandung dateng. Jadi bedol kampung bisa liat rumah tersebut. Janjian lagi lah sama agennya ke rumah tersebut sekaligus ajak Ortu dan sepupu. Mereka waktu liat rumahnya setuju banget. Katanya paling OK dibanding 2 rumah sebelumnya. Yasudah, bismillah, kami meng-iya-kan untuk mau proses rumahnya. Yang beberapa menit kemudian dateng juga agen lain bersama calon pembeli lain, yang katanya naksir si rumah itu juga. Yaudah, daripada keburu sama yang lain, kami beraniin untuk di UTJ (lagi), bismillaahh.. sebenernya masih serem ama UTJ karena 2x kemarin udah hangus, hiks.

Dimulailah usaha kami untuk mengajukan KPR. Kali ini, kami langsung pakai 5 bank syariah; Muamallat, Niaga, Permata, DKI, dan BNI. Begini ceritanya :

  1. Bank Muamallat
    Tentunya kenapa pengen di Muamallat, karena dia kan Bank syariah pertama dan satu2nya yang ga ada konvensionalnya. Ga ada biaya appraisal, dan marginnya relatif masih masuk akal. Tapi sayang, kinerjanya lambat. Udah diajuin dari awal banget, tapi appraisalnya paling akhir. Dan keputusannya juga mepet-mepet. Kalau ga pake sedikit ‘ngancem’ biar bisa akad dengan Muamallat, mungkin akan lama lagi proses keputusannya. Walau, pada akhirnya, Alhamdulillah kami berjodoh dengan Muamallat untuk KPR nya selama 10tahun dengan margin 12.75%.
  2. Bank BNI Syariah
    Sebenernya ga kepikiran untuk ambil BNIS untuk bank calon KPR, karena katanya kan tinggi di marginnya. Tapi karena agen rumah kami ada kenalan orang BNIS dan free of charge appraisal dan administrasi, jadinya ya oke lah silakan, buat jaga2 juga. Secara profesionalitas, saya acungkan jempol buat si BNIS ini. Dari segi kecepatan appraisal dan analisa. Bagusnya, mereka nawarin opsi cicilan dengan kemampuan income kami; ada 15 tahun atau 20 tahun dengan 3 simulasi pembiayaan yang beragam tanpa harus bolak-balik analisa kalau kami mengajukan pembiayaan baru. Lalu, BNIS ini yang pertama kali ada keputusan dan ngeluarin surat offering/SPK. Sayangnya, marginnya tinggi euy (dan kami keukeuh pengen hanya di 10 tahun aja masa cicilannya), walau simulasi cicilannya itu per 2 tahun awal yang ringan, lalu tahun ke 3-5 agak ringan walau meningkat, terakhir tahun ke-6 s,d selesai yang dweng bgt langsung melonjak. Jadi kami hold dulu sampe ada keputusan dari Bank lain yang semoga bisa cepet dengan margin yang lebih rendah.
  3. Bank Niaga Syariah
    Ketika dikenalkan dengan pic nya Bank Niaga, dia pegang konvensional dan syariah (dengan tampilan konvensional). Dan ketika komunikasian sama agennya, dia ga paham tentang syariah. Padahal, margin fix Niaga ini lebih kecil dibanding lainnya. Awalnya kami menolak untuk di Niaga karena ada biaya appraisal yang cukup tinggi (Rp 1 juta, yang lain mah Rp 500 rb juga cukup) dan pic nya yang menurut kami ga paham konsep syariah (keukeuh nawarinnya yang rate floating setelah Fix 3 atau 5 tahun). Tapi karena untuk pembanding dengan BNI Syariah, jadinya kami putusin untuk coba di Niaga yang pake Fix 10 tahun di margin 11.75%.Udah bayar tuh di biaya appraisal 1 jt, dan dilanjut appraisal, lalu analisa KPR. Sampe kami di sampeurin langsung ke kantor di Jakarta untuk ambil berkas2 loh sama si pic-nya. Yang berujung keputusannya adalah kami lolos KPR, tapi fix 5 thn dan selanjutnya ikut floating SBIS+3,5% per tahunnya. Laah, kami kan menghindari di floating ini karena ga jelas akadnya. Mau ngajuin yang fix 10 tahun, katanya butuh 2 minggu lagi untuk menganalisa kalau mau ganti ke fix 10 tahun. Lah, kita udh mepet ya perjanjiannya. Yowes, tetot! hangus lagi 1 juta biaya appraisalnya…
  4. Bank DKI Syariah
    Kami bela-belain dateng langsung ke kantornya nih di Melati Mas. Sampe cuti setengah hari. Untuk tau prosedur KPR di DKI Syariah tuh gimana sih, karena ga bisa lewat telfon (we’ve tried). Dan karena ada rumor, margin DKI Syariah itu lagi promo, jadi relatif lebih rendah. 2 tahun awal sekitar 9,5%, lalu tahun ke 3-10 di 12.50%. Emang sih pas dikasih tau simulasinya untuk 10 tahun sedikit lebih rendah dibanding Bank syariah lain. Tapi mereka ga bisa janjiin bisa kasih keputusan dengan cepat karena katanya lagi ada perubahan struktur internal di DKI Syariah.
    Kami sudah OK nih mau coba di DKI Syariah, udah siap kalo mau appraisal juga ( ada biaya 500rb), tapi ga ada further response dari DKI Syariah. Karena pas ditanya, “gimana kalau kami lama keputusannya?” ya kami jawan jujur dong kalau kami ada ke Bank syariah lainnya juga. Jadi ya cepet-cepetan aja mana yang duluan. Udah deh, DKI Syariah dengan sendirinya mundur.. haish..
  5.  Bank Permata Syariah
    Ini mah dari awal komunikasian dibilang sama pic nya sendiri kalau Permata Syariah itu ga syariah-syariah banget. lah.. Mereka hanya ada di fix 5 tahun awal, selanjutnya ikut floating SBIS+4%an. Yaa tapi, kalau dari awal aja udah dipastikan syariahnya bukan syariah, ya kami mundur pilih si Permata ini. Walau mereka sempet keukeuh offer simulasi pembiayaan ringan tapi ga bisa kasih yang fix 10 tahun. yowes.

Begitulah lika-liku drama per-KPR-an kami untuk bisa bertemu dengan di Jodoh rumah. Dengan menguras rekening (total biaya ‘pengalaman’ sekitaran 11juta), waktu, dan tenaga. Tapi, insyaAllah in the end dapat yang terbaik. Rumahnya yang terbaik, lokasinya, tetangga2nya.. Alhamdulillah..

Tinggal menyicilnya saja, hohohoho.. bismillah, semoga Allah SWT selalu memudahkan kami untuk membayar hutang hingga disegerakan untuk tidak ada hutang lagi.

2 Comments

Filed under cerita-cerita

Sepulang kerja

Sepulang kerja beberapa hari lalu, seperti biasa saya akan menuju stasiun Tanah Abang dari stasiun Sudirman. Sesampainya di Tanah Abang, dari kejauhan peron sebrang arah Serpong udah bertumpuk orang. Alamat nih si KRL telat.. dan emang bener.. KRL peron 5 yang harusnya udah berangkat dari jam 5:25 sore, malah belum dateng -,- KRL di peron 6 masih ada dan udah penuh dengan orang.

Tapi, mempertimbangkan waktu sholat maghrib, kalau nunggu di peron 5, tetep ga akan kebagian duduk juga karena orang-orang udah berjejalan di line pertama. Bisa aja nunggu di peron 6 kedatangan KRL yang baru, tapi bakalan sore banget. Nyampe rawa buntu curiganya ga akan keburu maghrib. Yasudah, walau udah rapet2 orang, maksain diri masuk ke KRL yang masih standby di peron 6. Terjepitlah diantara para pekerja lainnya yang keliatannya berasal dari Tanah Abang. Ga lama KRL pun berangkat.

Enaknya kejepit gitu, ga usah pegang handle atas, udah ‘ajeg’ sendiri. Bisa sambil ngutek hape, bahkan memejamkan mata. Ditambah, KRL sampai di Palmerah dan Kebayoran, orang-orang makin maksa masuk. Makin jadi penyet juga lah awak ini di tengah-tengah lautan orang.

Makin lama, kerasa badan makin rontok. Ditambah bawa tas ransel hadap depan yang berisikan ice gel beserta ASIP untuk Liva, dan perintilan bejibun khas emak2. Punggung ini makin lama makin pegel.. tapi tetep harus bertahan dong. Menikmati setiap jalannya KRL melewati stasiun-stasiun.. hingga sampai di Rawa Buntu. Selama di perjalanan, saya ngobrol di otak saya sendiri..

Begitu keluar KRL, masih banyak orang-orang di dalam KRL yang masih jauh tujuan utamanya. Saya berjalan diluar sambil lihat-lihat orang-orang tersebut. Semua sama, muka lelah. Saya berpikir, mereka berlelah-lelah untuk bekerja demi apapun alasan mereka. Harusnya kalau yang laki-laki sudah berkeluarga, mereka mencari nafkah sebagai kewajiban. Saya juga berpikir, alangkah indahnya kalau lelah2 ini bisa dijadikan pahala. Lalu saya berpikir, sebenernya saya ini, sebagai wanita, karena bukan kewajiban mencari nafkah, jadinya hanya menuh-menuhin KRL aja sih. Tapi ya wanita pun banyak yang bergelantungan di KRL, dengan whatever their reasons. Banyak juga yang sambil bawa gembolan tas ASIP. Banyak juga yang hamil (tapi klo hamil mah bisa dapet duduk, lah kita yang bawa ASIP, alasannya apa? padahal kan berat juga). Banyak juga yang usianya jauh diatas saya.. Tapi, semoga saya ga harus berlama-lama jadi anggota rombongan kereta..

Dengan badan udah rontok, dengan berjalan lunglai saya menuju mesjid untuk sholat maghrib. Sebenernya saya letiihh sekali, tapi belum ada makanan untuk MPASI Liva besoknya. Jadi saya mampir beli buah-buahan dulu. Bertambah beratlah gembolan saya, bertambah remuklah punggung badan saya..

Setelah saya order ojol, duduk di motornya pun rasanya ingin pingsan aja. Ga kuat punggung dan badan ini untuk tetap tegak duduk dengan tas di belakang. Jadi duduk dengan gelisah karena badan beneran berasa potong-potong. Selama perjalanan itu, saya sebagai emak, takjub juga dengan diri sendiri, hahahaha. Dan bukan saya aja, saya paham banyak juga ibu-ibu yang nasibnya sama, even worst maybe.. Tapi ya dinikmati toh. Tapi rasanya saya mau langsung ke IGD aja setelah membayangkan sesampainya di rumah, saya masih harus main monster-monsteran sama Miza dan nenenin Liva yang udah mulai gigit2 puting (lecet lagi cyiinn).

Tapi, bagaimanapun, all iz well. Semua akan berlalu tanpa terasa. lelah dan letihnya kita sekarang, bakalan dengan mudahnya dilupakan di masa mendatang. Mungkin setelah sudah bisa pensiun dini, setelah anak-anak besar, setelah tinggal memanjakan diri (untuk memanjakan suami, hihi). Untuk itu, ya semuanya harus dinikmati.. mau gimana lagi.

Saya jadi berpikir sama anak-anak yang durhaka sama emaknya. Kurang ajar beneerr itu anak yak. Udah mah mengandung kepayahan, melahirkan menyakitkan, menyusui lecet2, kerja berlelah-lelah (kerja sebagai pekerja kantor atau irt, sama aja capeknya!). Pantes aja emaknya Malin Kundang ngutuk sampe jadi batu.. mungkin saya juga bakalan keras ke anak-anak kalau mereka berlebihan yang negatif (amit-amit ya Allah jangan sampe), walau insyaAllah sih ngutuknya jadi anak sholeh/sholehah aja. Tapi saya ga akan manjain anak-anak dengan memenuhi permintaan mereka yang berlebihan. Jadi kepikiran aja gitu anak-anak di berita yang berani gugat ibunya, atau berani pukul ibunya, atau sampe berani bunuh ibunya. Naudzubillahimindzaliik…

Yaa, alhamdulillah, ga usah nunggu sampe suatu saat nanti anak-anak besar, bisa tidur malem aja, besoknya bangun udah segeran dan siap untuk hadir jadi anggota roker lagi. Dan berulang setiap hari kerja (tapi jadwal KRLnya jangan sering-sering telat dong -,-) Yang pasti, sebisa mungkin setiap pulang kerja saya harus duduk di KRL, kalau tetep masih mau waras…

4 Comments

Filed under Uncategorized

Pengalaman

Pengalaman 5 tahun bekerja semenjak lulus kuliah (yang selalu) di perusahaan Jepang, belum membuat saya memiliki wawasan 2 ragam kultur kerja. Walau udah 3x pindah perusahaan, tapi karena masih sama-sama berlatar kultur Jepang-Indonesia, jadinya ya sama aja.

Tapi, di perusahaan yang sekarang, ada campuran juga dengan kultur Singapura karena kantor kami di Jakarta masih di bawah perusahaan Singapura (parent company still in Japan sih).

Kultur Jepang itu menurut saya masih mirip dengan kultur budaya Indonesia yang mementingkan kesopanan. Kalau manggil nama itu masih pake Pak/Bu/Mbak/Mas, sama dengan Jepang yang manggil nama dilanjut San/Kun/Chan. Kayaknya masih agak risih manggil nama doang ke temen se-kantor yang garis hirarki kerjanya masih tegas, alias belum sobatan banget.

Yaa, kalau saya sih sama temen-temen lokal di kantor, karena udah asik-asik aja, jadi santai manggil nama doang ke yang lebih muda atau sepantaran. Ke yang lebih senior, kalau cowok panggil ‘Pak’, kalau cewek panggil ‘Teh/Mbak/Bu’, tapi tetep ber-gue-elu-an.

Nah, sekarang, kalau komunikasian sama orang Singapura nya, karena mereka juga kalau manggil pake nama doang, jadinya saya juga ga terlalu harus sungkan manggil nama doang ke mereka juga. Walau, kalau sama orang Jepang yang di Singapura, masih tetep pake embel-embel itu. Mungkin kalau kerja di perusahaan base-nya non-Jepang (amrik atau yurop) santai aja kali ya manggil-manggil nama doang walau ke atasan juga.

Tentunya yang kentara jelas adalah di peraturan waktu kerja. Kalau Jepang kan harus sesuai jadwal kerja banget, ngikutin rules banget. Kalau perusahaan amrik/yurop (setau saya dari temen yang kerja di perusahaan amrik), waktu kerjanya fleksibel asalkan sehari 8 jam kerja atau seminggu 40 jam kerja. Terserah mau masuk jam berapa, asal pulangnya di sesuaikan aja ama jam masuknya.

Pengen juga kerja di perusahaan non-Jepang, biar makin tau kulturnya. Mana mah ribet pula ya kalau laporan pake bahasa Jepang, yang ujung-ujungnya kalau udah njelimet mah pake bahasa inggris. Masih mending kalau orang Jepangnya bisa ngerti bahasa inggris juga, lah kalau enggak, yang makin repot kan semuanya.

Tapi ya tapi, kalau sok-sok an ada basic bahasa Jepang gini, ujung-ujung terdampar di perusahaan Jepang terus.. hiks.. kapan dong saya bisa apply ke perusahaan non-Jepang? *lah, haha

 

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, kerja