The ‘Rainy’ Wedding

Minggu, 23 November 2014

Hari paling bersejarah di hidup saya. Tepat pukul 07:30, acara akad nikah antara saya dan akgmas dimulai. Saya ga merhatiin jam kapan saya dipanggil keluar ruangan rias menuju tempat berlangsungnya akad, sepertinya jam 8an. Semenjak h-1 akad nikah, j-sekian sebelum dimulai prosesi akad, sampai dipanggilnya saya ke ruang akad, jujur saya ga deg-degan. Alhamdulillah, tenang banget. Deg-degan baru dirasa waktu udah duduk bersanding sama akgmas di kursi akad nikah. Saya ga sempet liat mukanya, liat sekeliling siapa aja yang dateng, hanya bisa tertunduk dan melihat wajah sang penghulu. Kurang senyum, keliatan tegang, itu komentar orang-orang waktu liat saya.

Sebelum bagian paling sakral dan paling penting, yaitu pengucapan ijab qabul, kami mendengar khutbah nikah dulu. Lalu pemeriksaan kelengkapan dokumen, dan akhirnya pengucapan ijab qabul. Alhamdulillah, akgmas ngucapinnya lancar jaya. Dan,,, resmilah saya menjadi istrinya. Selalu takjub dengan proses akad nikah. Hanya dengan mengucapkan Ijab Qabul yang terhitung detik, bisa merubah segalanya seumur hidup. Yang haram menjadi halal, yang tidak boleh menjadi boleh, yang bebas menjadi terbatas, dan sebaliknya. Mulai saat ini, saya sudah ada Pemimpin yang harus ditaati.

Proses Ijab Qabul telah selesai. Pertama kalinya saya mencium tangannya. Pertama kali juga bagi kami untuk bersentuhan satu sama lain. Lalu dia mencium kening saya. Seharusnya prosesi selanjutnya adalah tukar cincin dan pemberian mahar. Tapi, entah kenapa akgmas minta izin untuk melakukan sesuatu. Ternyata,, dia memberikan ‘surprise’ kado buat saya, yaitu Muraja’ah surat Ar-Rahman. Speechless to the max!!! dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman di lafalkan diluar kepalanya. Semua hadirin yang dateng pun seperti terpana dengannya. Mommi sampe terisak-isak nangis, ayah juga terlihat terharu. Saya… masih ga bisa mendeskripsikan perasaan saya. Apalagi di tengah-tengah surat ketika dia membacanya, dia meraih tangan saya dan menggenggamnya erat.. Huhuhuhuhuhu.. super sweeeeettttt! Thank you a lot my hubby :* Thank you for the greatest ‘surprise’ present.

Alhamdulillah, semua proses akad nikah berjalan lancar dan sesuai jadwal. Alhamdulillah, yang dateng pun diluar perkiraan. Ternyata banyaaakkk. Terima kasih untuk doa restunya J lalu ada acara sungkeman yang diiringi shalawat dari adik-adik Rumah Yatim. Kami memang sengaja mengundang anak-anak Yatim untuk datang di akad nikah kami. Kami ingin meminta doa mereka yang Allah mengutamakan menjabah doa anak-anak yatim. Alhamdulillah, segala puji hanya pada Allah SWT. Semuanya berjalan lancar, hingga kami harus ganti baju untuk prosesi resepsi.

Acara resepsi yang dimulai dengan ‘Mapag Panganten’ oleh ‘Lengser Rama-Shinta’ berlangsung sesuai jadwal, yaitu Pkl 10:45. Tepat ketika hujan turun dengan derasnya. Kami yang menjadi Raja dan Ratu sehari, diiringi penari tradisional menyambut kami menuju Pelaminan. Saya ga nyangka bakalan se-meriah itu prosesi ‘Lengser’nya. Oiya, untuk acara nikah kami ini, saya minta untuk ga ribet dengan acara adat. Saweran, nginjek telor, dll. Yang menurut saya ngabisin waktu dan kurang esensinya. Lebih baik waktunya diefektifkan untuk foto-foto dengan keluarga, sodara, dan kawan-kawan yang datang. Tapi, memang gimana orang dan keluarganya. Alhamdulillah, keinginan saya, keluarga saya, akgmas, dan keluarganya bisa matching. Ga perlu banyak pake adat, langsung acara inti saja. Dengan ‘lengser’ yang meriah juga sudah cukup. Acara lengser selesai, kami sudah stenbay di Pelaminan, dan hujan pun berhenti. Kata atasan saya yang di Cikarang, tadi dapet berkah hujan pernikahannya, Alhamdulillaahh. Tamu-tamu pun berdatangan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat serta doa restu.

Singkat cerita, Alhamdulillah acara resepsi kami pun berjalan lancar. Alhamdulillah, tamu banyak yang datang. Alhamdulillah, makanan pun sampai akhir acara masih tersedia banyak. Padahal jalanan macet parah karena hari itu bertepatan dengan ‘Pasar Seni ITB’ 4 tahunan sekali. Kalau ga macet parah, mungkin tamu lebih banyak lagi yang datang. Temen-temen dari kantor, kampus, dan sekolah lumayan juga yang datangnya. Paling terharu adalah ketika atasan saya dulu di Panasonic Surabaya, bela-belain dateng ke nikahan saya. Huhuhu, Babeh, terima kasih banyaaaakkkkk! Orang yang sangat berjasa membantu saya untuk lebih bersyukur dan menikmati hidup ini. Membantu saya untuk sukses ‘move on’. Dan di hari pernikahahan saya, beliau datang. Alhamdulillaaahhh.

Acara resepsi yang sampai Pkl 13:30 itu terasa lamaaa. Pasalnya, kaki udah pegel berdiri, bibir udah kering tersenyum lebar, perut keroncongan, dan masih ada sesi pemotretan khusus kami berdua. Saya merasa didandanin seperti lenong. Abisnya kerasa tebel banget. Walau banyak yang bilang rias-nya bagus. Saya jadi terlihat cantiikkk, huehuehue, Alhamdulillah. Ooh, begini rasanya menjadi pengantin. Berdiri di panggung utama. Berias dengan memakai pakaian anggun. Alhamdulillah, bisa dikasih kesempatan merasakannya juga.

Pkl 13:30 acara selesai, kami meneruskan foto-foto sendiri, lalu makan di tempat khusus Pengantin. Tamu sudah tidak ada. Tinggal tim dekorasi yang beres-beres dan tim catering yang masih menunggu kami selesai makan. Sejam kemudian kami benar-benar selesai dari gedung dan menuju rumah. Mertua pulang ke rumahnya sendiri di Kircon, saya dan akgmas pulang ke rumah di Garunggang. Sepanjang jalan, saya tidur bersandar di bahu akgmas (#cieeeee #uhuk). Karena malam sebelumnya saya ga bisa tidur sodarah-sodarah! Tapi karena acaar udah selesei, udah plong, bisa tidur deh. Lumayan, tidur di mobil pengantin saat jalanan macet parah. Makasih yaa akgmas udah disenderin istrinya, hihi.

Alhamdulillah wa syukurilah. Semuanya berjalan lancar dan mudah. Semuanya terjadi pada saat yang paling tepat. Semuanya karena Allah membuat skenario yang paling indah dan tepat. Hanya Alhamdulillah yang bisa saya ucapkan terus menerus. Dengan keajaiban semua ini.

Saya sadari, bahwa hari diucapkannya Ijab Qabul ini adalah langkah pertama kami untuk berjalan di kehidupan yang baru. Tidak akan selalu indah, penuh bunga dan kupu-kupu, dinaungi pelangi. Mungkin ada saatnya mendung, dengan gemuruh dan kilat, banyak nyamuk dengan suaranya yang berdengung-dengung berisik. Tapi, kami jalanin aja semaksimal kami memberikan yang terbaik untuk masing-masing. Selalu mendukung dan mengingatkan yang baik. Melarang yang tidak baik. Berkomunikasi dengan terbuka, apa yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan. Mencoba untuk selalu meluruskan niat kembali.. apa tujuan kami menikah.

Semoga Allah SWT selalu melindungi kami dari penyakit hati duniawi. Menjadikan keluarga kami sebenar-benarnya keluarga sakinah mawaddah warahmah. Aaamin.

Bismillah, Are you ready my Captain ayangmaass?😀

1 Comment

Filed under cerita-cerita, menikah, saya

One response to “The ‘Rainy’ Wedding

  1. Owob

    pengen dateng kesana… menikahnya jauh sich… di ujung barat pulau java… haduhhh… but congrats…. (OwoB=> mujair Hunter….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s