Ooh, begini rasanya..

Wedding Invitation Dita & Agung

Sering saya tanya ke temen-temen deket yang sedang mempersiapkan pernikahan, ‘gimana sih rasanya yakin untuk nikah sama dia?’ Jawaban pun beragam, tapi intinya satu : rasanya tenang aja.

Ketika itu saya masih penasaran dengan rasa ‘yakin’ untuk menikah dengan seseorang. Agak horror saya bayangin kalau nikah dengan orang yang baru dikenal atau yang sebenernya ga terlalu sreg. Kenyataannya, selama ini banyak cowo yang ngedeketin. Dengan berbagai caranya. Ada yang frontal langsung bilang suka. Ada yang pake flirting dulu. Ada yang kirim-kirim hadiah. Ada yang bahkan langsung ajak nikah. Macam-macam metodenya, dari yang standar sampe freak.

Tapi, perihal menikah bukan sesuatu yang main-main kan. Saya ga mungkin terima orang yang hati saya ga nyaman dengan dia. Bagaimana pun, untuk kasus saya, hati yang memilih. Walau dengan seumuran saya, temen-temen lain udah menikah dan punya anak, saya pun ditanya terus ‘kapan nikah? Kapan nikah?’, toh urusan jodoh benar-benar kuasa Allah. Setiap orang punya waktunya masing-masing, caranya masing-masing, dengan jodohnya masing-masing. Setiap orang berbeda prosesnya. Cepat, lambat, sakit hati, jatuh hati, proses move on, proses menikmati kesendirian, bertemu dengan orang-orang yang banyak memberikan pelajaran. Hingga tahap bisa merasa yakin, tenang, dan tanpa ragu sedikit pun untuk menikah dengan si dia.

Rasa itu akhirnya saya rasakan. Merasa yakin, ga ada beban sama sekali, merasa tenang, merasa excited, merasa siap untuk hidup selamanya dengan dia. Rasa yang sulit juga sebenernya diungkapin. Sepertinya inilah sensasi rasa bertemu jodoh yang (insyaaAllah) tepat dan terbaik. Pada waktu yang tepat dan terbaik. Tepat setahun semenjak kenalan, hingga ga kerasa 4 hari lagi dia akan jadi orang yang paling dekat lahir bathin, seumur hidup. Dari seseorang yang ga pernah ketemu selama di kampus, padahal sekampus dan depan-depan jurusannya, lalu tidak hanya kenal pribadinya tapi juga keluarganya, hingga akan menjadi seseorang yang harus saya taati.

Waktu saya bilang ke temen-temen deket tentang pernikahan saya, Alhamdulillah, mereka malah lebih seneng dan excited daripada saya, hihi. Langsung diberondong pertanyaan siapa dia, kenal dimana, orang mana, kok bisa.. Bahkan ada yang nanya, kamu jatuh cinta sama dia?

Untuk semua yang bertanya serupa tentang perasaan saya ke dia.. saya jawab, ‘yang penting sekarang buat saya, saya ga ilfil sama dia’. buat temen-temen deket saya yang tau sejarah saya ini paling susah untuk deket sama cowo, kalo ada yang deketin dan ga sreg pasti langsung bikin tameng, makanya suka greget dan orang-orang nge-cap pemilih. Hellooo, urusan nikah seumur hidup ya pastinya harus milih dooong. Plis deh. Tapi untuk dia, dengan segala tingkah pdkt-nya yang super absurd, gayanya yang kadang bikin saya melongo, sifatnya yang suka bikin gemes, dan lain sebagainya, semuanya bisa saya terima. Sama sekali ga ilfil. Tentunya, yakin mau menikah dengan dia, karena dasar agamanya yang (insyaaAllah) sudah paham. Bagaimana harus bertanggungjawab sebagai suami, kepala rumah tangga, dan kelak jadi ayah.

Sepanjang perjalanan setahun ini, ga ada rasa berat, tangis sesak, ngambek berlebihan, rasa kangen juga masih seperlunya. Yang saya suka, ga perlu laporan setiap saat, lagi apa, makan apa, dimana, ama siapa.. komunikasinya lebih dari sekedar harus laporan seperti itu. Yaa, secara persiapan lamaran, menikah, jadi ngobrol tentang hal itu. Ngobrol tentang keluarga, tentang masa depan. Menyamakan visi misi. Menyiapkan diri tidak hanya untuk keindahan dan kebahagiaan menikah, tapi juga untuk cobaan, rintangan, masalah berumahtangga. Namanya juga ibadah, pasti digoda terus sama syetan kan.

Bismillah.. beberapa hari lagi, insyaaAllah, bisa nyanyi-nyanyi :

Ketika kau ada disampingku
Hidupku pun terasa damai
Seperti yang tlah terbayangkan dalam benakku
Disaat hatiku ada dihatimu
Dunia pun menjadi indah
Karena hatimulah yang aku inginkan

(Samsons – Dengan Nafasmu)

#eeeaaaaaaa

6 Comments

Filed under cerita-cerita, menikah, saya

6 responses to “Ooh, begini rasanya..

  1. Indah

    Komen ga ya komen ga ya,, hahaha, dari tulisan aja, udah keliatan tuh bunga bunga di sekitar kepalamu ta, ada burungnya segala lagi.
    Barakallah, pokonya bener bener bahagiamu, bahagia kami juga. Dan untuk pertama kali nya juga merasakan dita yang sok sweet dengan kalimat jatuh cinta nya *ga berenti ketawa inih*. Jinsei wa kore kara yo ne?!

    • arditafanisa

      Lieur ath ada keleyengan burung2 di atas kepala mah, mwehehe.
      Aaamiin. Hatur nuhuunn neng iin. Walau aselinya sy sedih dirimu dan dirinya (osay) ga bs dtg. Ga bs poto bareng momen sekali seumur idup ateuh, huhu.
      Sou da yo ne.. mada mada. Jinsei wa kore kara da mon.. bismillah saja😀

  2. Semoga lancar ya Dita segala sesuatunya..tante ikut bahagia

  3. It’s very sweet to put your feelings here, dear🙂 I appreciate this a lot. I’ll write you back in my blog…hopefully no later than this month😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s