Menumbuhkan Harapan

Si bos kecil lagi rajin dateng apél dan memimpin apél. Seperti tadi pagi, wejangan yang diberikan adalah tentang ‘Bagaimana Menumbuhkan Harapan’, khususnya bagi para lansia. Identiknya kalo udah lanjut usia itu hanya termenung seperti tanpa harapan, tinggal menunggu dipanggil Sang Pemilik Hidup. Katanya hal ini juga untuk tips memperpanjang usia (walau usia mah udah ditentukan batasnya ya). Tipsnya adalah dengan bercocok tanam.

Dari aktivitas bercocok tanam, pertama kita akan menanam benih. Lalu harus mengurusnya dengan menyiram dan memberi pupuk. Kita akan dibuat penasaran akan tumbuh bagaimana benih tersebut. Rasa penasaran dan ketertarikan untuk mengurus si tanaman setiap harinya, menjadi salah satu terapi untuk menumbuhkan harapan dan semangat hidup, karena kita akan tidak sabar menanti hari esok melihat perkembangan sang benih.

Bener sih.. semangat hidup itu akan ada kalau ada harapan yang ingin dicapai. Harapan terhadap apapun atau siapapun. Misal untuk anak-anak, menumbuhkan semangat untuk sekolah dengan menerapkan sistem pengajaran yang menyenangkan dan temen-temen yang asik. Untuk orangtua, harapan untuk melihat anak-anaknya tumbuh besar dan dewasa. Harapan untuk ngerjain suatu proyek hingga tuntas, nyelesain skripsi, bertemu dengan seseorang, nonton acara kesukaan, dan harapan/rencana esok hari lainnya. Tentu aja, harapan yang wajar, ga berlebihan sampe bikin terlalu kecewa kalau harapan itu ga bisa terwujud.

Saya sendiri selalu ada harapan untuk esok hari. Misal, menu makan siang besok di kantin adalah gado-gado kesukaan, jadi ga sabar untuk cepet-cepet besok siang. Atau baru hari senin, udah berharap segera Jumat, biar bisa pulang ke Bandung. Bahkan baru awal Mei aja udah ga sabar ingin akhir Mei, karena sepupu saya mau nikah dan dapet libur panjaaang dari kantor yang berencana (insyaAllah) dipake untuk jalan-jalan ke Jawa Tengah. Atau baru juga gajian bulan ini, udah mikir gajian bulan depan mau dipake apa aja, mwehehehe.

*Asal jangan menjadi pemberi harapan kosong aja ke orang lain…

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, sharing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s