Hello May

Memulai bulan Mei dengan berita duka dari kakak ipar mamah yang tertua. Setelah bertahun-tahun mengidap kanker prostat, tepat jam 5 subuh tanggal 1 Mei 2014, Pak Long (kami menyebutnya) meninggal dunia.. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Keadaan Pak Long semakin memburuk semenjak ditinggal oleh Mak Long, yang duluan meninggal pada tahun 2012. Padahal sebelumnya, ketika masih ada Mak Long, Pak Long masih terlihat sehat. Kayaknya penyakitnya ditambah dari penyakit pikiran, kehilangan Mak Long *sweet banget ga siih* Lalu semakin lama, semakin kritis. Makanya dari sehari sebelumnya, mamah udah nginep di rumah Pak Long, untuk nemenin, bareng sodara-sodara yang lain. Sebenernya saya dan adik kecil saya ada rencana mau trekking di THR Juanda sampe Maribaya sama beberapa temen. Pas subuh lagi siap-siap mau berangkat, tapi dapet kabar Pak Long, akhirnya saya ngabarin temen-temen kalo ga bisa trekking-nya dan siap-siap untuk melayat. Karena nunggu sodara yang dateng dari Belitung, jadinya Pak Long baru dikuburin setelah Dzuhur.

Saya dan adik-adik baru agak siangan menyusul mamah dan ayah yang udah duluan ada di rumah duka. Sesampainya disana udah banyak berkumpul sodara-sodara dan kerabat lainnya. [Kadang suka mikir, kalau ada ‘special event’ seperti ini, baru sodara-sodara bisa kumpul. Etapi beda dengan keluarga dari mamah sih. Mereka solid banget. Suka silaturahim ga harus ada acara khusus dulu. Walau jauh, tapi tetep didatengin. Makanya mamah selalu nekanin tentang silaturahim, terutama ke sodara sendiri. Berbeda dengan keluarga dari Ayah yang lebih cuek dan masing-masing] Tepat sehabis Dzuhur, sekitar jam 12:30 sodara dari Belitung dan BSD dateng. Setelah liat wajah Pak Long sebentar, bergegas orang-orang membantu untuk mengangkat jenazah ke Ambulance.

Berangkatlah kami rombongan ke pemakaman keluarga di daerah Kopo. Saya udah lama ga menghadiri orang yang meninggal. Melihat jenazah, dikubur, dan melihat anak-anaknya menangis dengan ucapan permohonan maaf, menjadi muhasabah (introspeksi diri) lagi. Ada yang pernah bilang, (kira-kira begini quote-nya):

Place will always be there, but people, sometimes we only can meet them by chance

Jika datang kesempatannya, lebih baik mengutamakan silaturahim dengan kawan, sodara, kerabat, daripada travelling *ups. Sangat terasa ketika sadar orang tersebut ga akan bisa kita temui lagi untuk selamanya.

Pulang dari menguburkan, saya dan adik saya ngobrol. Kami sepemikiran, ketika melihat sepetak kuburan, hanya dengan seukuran badan saja tempat paling akhir manusia di dunia ini, tanpa apa-apa. Bukan seluas rumah dengan barang-barang seisinya. Jadi, untuk apa mengejar ‘segitunya’ untuk duniawi? Merasa selalu kurang dan ingin terus mendapatkan yang lebih. Toh yang jelas akan ditanya hanya bagaimana ibadah kita yang berkualitas dan seberapa banyak sedekah ikhlas kita. Sebenarnya, selama kita bisa merasa cukup dengan setiap rezeki yang Allah kasih, hal itu udah bisa bikin ketenangan hidup di dunia. Hanya sajja, tantangannya manusia yaa selalu merasa tidak cukup. Ketika dikasih 1 gunung emas, masih ingin 2 gunung emas, dan begitu seterusnya. Tapi buat apa sih?? Ga akan kepake di kehidupan akhirat…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s