Monthly Archives: February 2014

Like Mommy, Like Daughty

Alkisah, ritual sabtu dan minggu pagi kalau saya sedang pulang mBandung adalah jalan kaki/jogging di lapangan Gasibu, yang udah semakin nyaman untuk olga, bersama mamah dan adik kecil saya.

Sama seperti wiken kemarin, kami pun pagi-pagi udah beranjak dari rumah menuju lapangan Gasibu. Abis muter-muter gasibu sekitaran 1 jam, sambil istirahat, mamah cerita:

Mam: Tadi pas mam lagi jalan, liat di pinggir lapangan ada gerombolan anak smp yang mau olahraga. Mereka lagi pada makan gorengan, trus mam liat plastik bekas gorengannya dibuang gitu aja sembarang. Mam tegur aja, “itu siapa yang buang sampah sembarang? Diambil lagi dan buang di tempat sampah ya. Inget, jaga kebersihan, tempat sampah udah banyak dimana-mana” Anak-anak smp itu langsung mungut sampahnya trus dibuang ke tempat sampah.

Sy: Iih, bagus Mam. Tth juga suka gitu kok. Klo ngeliat yang buang sampah sembarangan, diitegur aja. Suka kesel sendiri soalnya liat yang seenaknya buang sampah.

Mam: Kalo kita negur orang asing, apalagi masih semuran anak-anak smp itu, bakalan lebih kerasa dan diinget terus sampe mereka gede. Bisa aja jadi seterusnya mereka jaga kebersihan kan.

Sy: Setuju! *you go Mom!

Tipikal mamah yang orang Sumatera dan perantau memang cukup keras dan straight to the point. Cerdas, cerdik, dan bijak melihat hal-hal/kesempatan dalam kehidupan di keluarga. Saya paling suka kalau udah curhat sama mamah dan adik kecil saya. Yang biasanya dilakukan setiap kami berkumpul; olahraga bareng, di meja makan, depan tv, di mobil, pas jalan bareng ke mall/pengajian, dimana pun dan kapan pun kami bersama. Cerita sama mereka itu bener-bener bisa bebas berekspresi, jadi childish, dan terbuka banget tanpa perlu malu. I wanna be like my mommy (in a better way, of course). She’s the best Mom in the multiverse!

Image

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, keluarga

Empat Bulanan

Memasuki bulan ke-4 saya kerja di Cikarang, (Enggak, saya bukan mau syukuran 4 bulanan *elus-elus perut isinya kakap asam manis menu tadi siang), kalau flashback kerjaan saya sekarang dan waktu dulu di Pasuruan, sangat beda jauh. Terutama dari kondisi saya pribadi.

Dulu, waktu di Pasuruan, saya bener-bener jadi orang di belakang layar. Dengan atasan hebat yang low profile banget dan hampir selalu ada di kantor dari pagi sampe malem (kecuali kalau harus Business Trip), saya pun jadi orang yang menikmati stuck in my desk. Paling ga suka kalau udah harus keluar kantor ketemu customer. Saya pasti sebisa mungkin bersilat menghindari assignment buat pergi-pergi. Sampe ngancemin anak-anak development biar pergi gantiin saya. Ga terlalu suka aja harus showed up ketemu orang-orang baru. Bisa diitung sebelah jari pengalaman saya keluar kantor ketemu customer untuk produk baru, padahal posisi saya di bagian Business Planning yang seharusnya banyak survey keluar. Suka ‘dimarahin’ atasan karena saya orangnya ga percaya diri. I was an acute introvert(or a-cute-introvert-woman? mwehehe).

Sekarang, di Cikarang, malah kebalikan banget. Di bulan awal masuk masih kesana-kemari di dalam kantor atau pabrik aja. Kenalan sama orang-orang internal. Jreng-jreng, 2 bulan berikutnya hampir tiap minggu ditugasin keluar kantor untuk seminar, workshop, meeting, dan training yang biasanya di wilayah Jakarta. Ketemu dengan banyak orang baru, dari berbagai background (enggak juga sih, seringnya ketemu orang pemerintahan). Aktif berkontribusi ikutan ngabisin budget negara dengan makan makanan mewah dan pulang bawa goody-bag besar isi macem-macem. Dan saya merasa ga ’takut’ lagi. Entah mungkin karena dorongan (red: dipaksa) atasan yang dengan darah dinginnya nyuruh saya untuk keluar dari balik layar. Sekaligus yaa emang kerjaan saya sih yang ngurusin legal/regulasi untuk produk lighting.

Tentunya banyak hikmah yang saya dapet, antara lain:
1) Jadi kenal dengan supir-supir kantor yang menjemput saya di kosan, lalu mengantar ke tempat tujuan, lalu menunggu sampai acara selesai, lalu mengantar saya lagi ke kosan. Sampe beberapa supir udah tau kebiasaan saya kalau di mobil harus nyalain radio dan denger saya bersenandung fales.
2) Jadi mulai familiar dengan kota Jakarta, yang memang betul macet dimana-mana (pola trafficnya, keluar cikarang masih lancar sampe kebaca plang tulisan arah Jatiwaringin, lalu pasti mulai jalan merayap). Mulai tau nama-nama daerah di Jakarta dan estimasi harus berangkat jam berapa untuk bisa sampai tepat waktu. Tidak termasuk kalau kebagian hujan dan banjir. Bisa sampe kekenyangan tidur di mobil.
3) Jadi tau rasanya masuk ke gedung-gedung tinggi menjulang, hotel bintang 5, kantor-kantor kementrian, dan gedung pertemuan lainnya. Takjub deh, budget kementrian ini luar biasa sekali besarnya untuk acara pertemuan. (Apakah fakir miskin dan anak terlantar ada budgetnya juga? #eh)
4) Jadi kenal dengan orang-orang pemerintahan, terutama kementrian ESDM, Industri, dan Perdagangan. Yang kalau sesi ngobrol-ngobrol bebas (sambil menyantap hidangan), malah mereka curcol tentang ’kebobrokan’ birokrasi di pemerintahan.
5) Jadi lebih percaya diri. Entah kekuatan darimana yang sering bikin saya mendatangi pembicara atau partisipan lain, bertukar kartu nama, dan diskusi tentang banyak hal. Mmm, bukan diskusi juga sih, karena saya lebih sering dengerin mereka bercerita.
Thanks to them, saya yang awalnya punya cita-cita pengen banget jadi PNS, sekarang lebih bersyukur bisa beraktivitas di luar pemerintahan. Malah sekarang jadi tetep bisa ’masuk’ ke dunia PNS tanpa harus terlarut dengan aktivitas birokrasi internalnya. Walau sebenernya masih pengen sih jadi PNS, tapi di bagian penelitiannya aja, ga mau yang teknis-teknisannya. Hmm, guru TK aja gitu? #loh

Well, I am still an introvert, but not acute anymore, a-cool maybe *kenapa jadi narsis gini? membuktikan bahwa introvert (red: minder) saya sudah berkurang. Semoga pekerjaan saya ini membuat pikiran tetap melangit dengan hati terus membumi (quote by Pidi Baiq).

4 Comments

Filed under cerita-cerita, kerja, saya

Floating Market, Lembang

Late post.. takpapa lah yaa, daripada tidak sama sekali.
IMG_7818

Cerita Jumat, 31 Januari 2014
Hari libur Imlek ini udah direncanain cukup lama pengen ke Floating Market, Lembang. Tadinya kaan ada yang mau dateng liburan ke Bandung dari Surabaya gitu deh. Padahal mau ajak jalan-jalan ke Floating Market. Tapi keabisan tiket kereta jadinya ga jadi dateng (sebel to the max!) But the holiday must go on. Karena rencana awalnya juga mau bareng keluarga yang udah dijanjiin dari lama pengen pergi ke Floating Market. Jam 8 pagi (ngaret dari rencana jam 7 pagi), saya sekeluarga (minus adik saya yang pertama karena as I mentioned before bahwa dia ga mungkin mau bangun pagi-pagi di hari libur kalau ga bener-bener menurut dia penting banget) berangkat menuju Floating Market, Lembang. Sengaja dari pagi, karena mengantisipasi macet ke arah Lembang dan tujuannya sekalian sarapan disana. Alhamdulillah, cuaca lagi cerah pake banget. Jalanan masih lancar dan sampe dengan selamat walafiat di kawasan Floating Market.
IMG_7810
IMG_7811

Pertama kali masuk, kami bayar tiket per-orang IDR 10k dan parkir mobil IDR 5k. Tiket ini bisa dituker sama welcome drink, coffee latte/hot chocolate/lemon tea. Sistem pembayaran di Floating Market, kalau mau beli-beli makanan atau main wahana anak-anak, pake koin-koin gitu. Ada yang koin 5000 dan 10000. Harga-harga makanananya juga kelipatan bulat 5000 sih. Masuk ke dalam Floating Market, udah dikasih danau (buatan) yang luas. Ternyata udah banyak juga pelancong yang dateng dan main perahu. Ngerasa seger, karena tempatnya enak, terbuka, dibuat se-alami mungkin, bersih, cerah, dan tentunya bukan suasana kantor lah yaa. Setelah tukar uang jadi koin, saya dan keluarga menuju ke tempat kulinernya.
IMG_7809
IMG_7813
IMG_7812
IMG_7840

Di tempat kuliner ini, penjual-penjual makanan berjualan di atas perahu kecil yang terparkir berderet rapih di pinggir danau. Hampir semua jenis makanan ada. Terutama cemilan-cemilan tradisionalnya. Seru sih liatnya, saking banyaknya sampe bingung milih mau makan apaan, bolak-balik dari ujung ke ujung. Jadi, Floating Market disini konsepnya bukan pasar tradisional yang berjualan di atas perahu-perahu kayak di Kalimantan, tapi yang terapung disini ’warung-warung’ makanannya.
IMG_7832
IMG_7834
IMG_7837
IMG_7846
IMG_7864
*Semua jenis olahan makanan dibeli. Digoreng (pisang goreng), dibakar (ketan bakar), dikukus (dimsum), alami (lotek)*

Abis makan, kami ga lama-lama duduk di daerah kulinernya, karena pemandangannya seperti foodcourt. Kami keluar jalan ke tempat-tempat lain yang lebih terbuka dan bisa liat pemandangannya, sekalian Ayah mau jumatan juga. Sambil nungguin Ayah, kami duduk-duduk di kursi tenda yang menghadap ke danau. Cuaca cerah dipake foto-foto dan minum yang seger-seger. Lalu jalan-jalan ke toko-toko souvenir yang berderet di dalam kawasan wisata. Sempet liat perform angklung juga.
IMG_7894
IMG_7878
IMG_7895
IMG_7901
IMG_7909

Sehabis Ayah selesai jumatan, sekitar jam 13:30 kami akhirnya mutusin untuk selesai juga dari Floating Market dan pergi ke Pasar Sayur & Buah Lembang. Mata langsung ijo liat sayuran hijau segar berderet-deret.

Overall, imo, Floating Market is recommended family-holiday-place to visit. Apalagi kalau cuacanya lagi cerah. Tempatnya enak, seger, fasilitasnya bersih dan rapi, pelayanannya oke, beragam pilihan kuliner, dan banyak variasi jenis wisata lainnya.
IMG_7826
IMG_7825
IMG_7819
IMG_7824
IMG_7910

1 Comment

Filed under jalan-jalan, keluarga, tempat wisata