Hanya Ingin Mengetik Tulisan

Selama aktivitas Tumblr-ing, semenjak-saya-ga-sadar-kalau-ternyata-di-Indonesia-ada-sebutan-artis-Tumblr (karena pertama kali Tumblr-an, ga muncul itu para artis), saat si artis udah posting sesuatu, apapun, langsung yang nge-like atau nge-reblog itu bakalan buanyaaak banget. Meskipun sebenernya isinya ga begitu penting (seringnya emang posting keren sih). Tapi karena udah terkenal sebagai artis Tumblr yang eksis dan ingin dikenal juga sebagai pe-reblog eksis postingan si artis, kadang banyak followernya yang me-reblog begitu aja. Apakah termasuk saya? Well, untuk satu ini saya yakin pernah juga pengen ikut-ikutan eksis. Tapi, sekarang saya yakin udah back to track again seperti jaman dulu pertama kali Tumblr-an. Membaca dan merenungi isi dari postingannya dulu. Kalau sesuai dengan yang saya alami atau sepakat dengan hipotesanya atau sesuatu yang unik dan menarik buat saya, baru saya reblog. Jelek juga sih, karena saya jarang posting sesuatu original di Tumblr saya, dari awal lebih sering me-reblog. Karena masalah saya adalah saya kesulitan untuk ngetik tulisan apa yang di pikiran atau perasaan saya, dan fortunately, saya sering nemuin ketikan tulisan-tulisan yang sesuai banget dengan keadaan saya, jadi daripada saya menghabiskan waktu buat ngetik tulisan, ya saya reblog aja. Praktis.

Sebenernya banyak banget hal yang ingin dikeluarin dari pikiran. Karena setiap saya jalan kaki pulang kerja, selalu bermunculan topik-topik yang meeting di otak. Tapi selalu aja stuck ketika mau dituangkan dalam tulisan. Saya sangat sadar kalau gaya bahasa tulisan saya itu ga bisa sistematis, sering berbelit-belit, sulit dipahami poin utamanya, penggunaan kata dan pola kalimat yang ga beres, nyampurin seenaknya bahasa indonesia+sunda+jawa+inggris+jepang (saya seharusnya bikin bahasa sendiri aja kayak pengarang buku LOTR bikin bahasa Elf atau Orc atau bahasa ular di Harry Potter), akhir cerita cenderung menggantung, dan ga tau mau pake judul apa untuk tulisannya. Makanya, saya lebih suka nulis tentang pengalaman jalan-jalan saya. Udah ada buat judulnya, disana ngapain aja, lalu bisa ada tambahan info-info yang (semoga) bermanfaat.

Entah hal ini karena kebiasaan saya yang lebih memilih untuk mengamati, membaca, me-reblog, atau memahami di alam pikiran saya sendiri, tanpa mau membaginya lagi lewat sarana tulisan, dan kurang sarana diskusi dengan yang lain, jadi terbiasa untuk menyimpannya sendiri aja. Atau bisa jadi karena saya ga pede dengan apa yang saya tulis. Dan saya selalu iri dengan orang-orang yang bisa bagus merangkai kata dalam kalimat dan menjadi tulisan yang simpel tapi bermakna. Ditambah, sekarang saya udah ga pede banget bikin kalimat full dalam bahasa Inggris, kecuali laporan kerja. Hancur banget grammar resminya, yang ada grammariciosoalfredoagliolio *efek resep-resep spaghetti* suka-suka enaknya saya aja. Jadinya sekarang disela-sela waktu kerja saya (yang setiap saat bisa disela), saya baca-baca lagi tentang pelajaran grammar bahasa Inggris.

Saya ngerasa, otak saya terlalu penuh dengan berbagai hal. Mostly, remeh-temeh yang seharusnya ga perlu mengeram lama di otak. Sebagai wanita, saya benar-benar bisa multitasking mikirin banyak hal dalam satu waktu. Imbasnya, saya sangat sulit untuk fokus. Hasilnya, jarang ada subjek yang benar-benar saya pahami. Dangkal, sekedar tau, dan manut aja. Tanpa dikonfirmasi lebih detail mengenai kebenarannya. Sebagai wanita juga, saya ternyata normal karena ada saatnya lebih dikontrol perasaan daripada logika. Walau saya masih tahan untuk ga galau berlebihan. Tapi heeeyyy, selayaknya wanita, ingin juga dimengerti *apa pula maksudnya ini*.

Oke, apalagi persoalan agama. Selama saya tau sumbernya dari Al-Quran dan Al-Hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim (pokoknya ada keterangan shahih), lalu masuk nalar saya, saya telan mentah-mentah langsung masuk pencernaan dan diserap sebagai nutrisi untuk sel-sel. Padahal kan, tetap perlu ditelaah lagi maksud dibalik setiap ayat dan konteks hadistnya. Biar lebih paham maksud dan ga keliru pengaplikasiannya. Dulu sih waktu masih ikutan halaqah/liqo, bisa denger penjelasan tetehnya, dan diskusi. Sekarang, jarang banget bisa sharing seperti itu.

Kasih saya satu kalimat/bacaan untuk ditanggapin. Biasanya saya akan mikir cukup lama yang ujung-ujungnya ngasih tanggapan panjang lebar, luas berkeliling-keliling, dan bisa jadi don’t get the point. Mikirnya terlalu rumit, terlalu out of universe. Ga bisa gitu kasih tanggapan sederhana yang kena ke inti permasalahannya. Maka dari itu, kayaknya saya lebih memilih diam, menikmati tanggapan demi tanggapan di pikiran saya sendiri. Daripada sekalinya ngomong malah kepanjangan.

Seperti tulisan ini, yang saya ga tau judulnya mau apa dan akan berakhir seperti apa. Karena saya sulit untuk menemukan kalimat super seperti Pak MT disetiap akhir ceramahnya. Tapi saya akhiri saja dengan ”Sekian”.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s