Monthly Archives: January 2014

Hanya Ingin Mengetik Tulisan

Selama aktivitas Tumblr-ing, semenjak-saya-ga-sadar-kalau-ternyata-di-Indonesia-ada-sebutan-artis-Tumblr (karena pertama kali Tumblr-an, ga muncul itu para artis), saat si artis udah posting sesuatu, apapun, langsung yang nge-like atau nge-reblog itu bakalan buanyaaak banget. Meskipun sebenernya isinya ga begitu penting (seringnya emang posting keren sih). Tapi karena udah terkenal sebagai artis Tumblr yang eksis dan ingin dikenal juga sebagai pe-reblog eksis postingan si artis, kadang banyak followernya yang me-reblog begitu aja. Apakah termasuk saya? Well, untuk satu ini saya yakin pernah juga pengen ikut-ikutan eksis. Tapi, sekarang saya yakin udah back to track again seperti jaman dulu pertama kali Tumblr-an. Membaca dan merenungi isi dari postingannya dulu. Kalau sesuai dengan yang saya alami atau sepakat dengan hipotesanya atau sesuatu yang unik dan menarik buat saya, baru saya reblog. Jelek juga sih, karena saya jarang posting sesuatu original di Tumblr saya, dari awal lebih sering me-reblog. Karena masalah saya adalah saya kesulitan untuk ngetik tulisan apa yang di pikiran atau perasaan saya, dan fortunately, saya sering nemuin ketikan tulisan-tulisan yang sesuai banget dengan keadaan saya, jadi daripada saya menghabiskan waktu buat ngetik tulisan, ya saya reblog aja. Praktis.

Sebenernya banyak banget hal yang ingin dikeluarin dari pikiran. Karena setiap saya jalan kaki pulang kerja, selalu bermunculan topik-topik yang meeting di otak. Tapi selalu aja stuck ketika mau dituangkan dalam tulisan. Saya sangat sadar kalau gaya bahasa tulisan saya itu ga bisa sistematis, sering berbelit-belit, sulit dipahami poin utamanya, penggunaan kata dan pola kalimat yang ga beres, nyampurin seenaknya bahasa indonesia+sunda+jawa+inggris+jepang (saya seharusnya bikin bahasa sendiri aja kayak pengarang buku LOTR bikin bahasa Elf atau Orc atau bahasa ular di Harry Potter), akhir cerita cenderung menggantung, dan ga tau mau pake judul apa untuk tulisannya. Makanya, saya lebih suka nulis tentang pengalaman jalan-jalan saya. Udah ada buat judulnya, disana ngapain aja, lalu bisa ada tambahan info-info yang (semoga) bermanfaat.

Entah hal ini karena kebiasaan saya yang lebih memilih untuk mengamati, membaca, me-reblog, atau memahami di alam pikiran saya sendiri, tanpa mau membaginya lagi lewat sarana tulisan, dan kurang sarana diskusi dengan yang lain, jadi terbiasa untuk menyimpannya sendiri aja. Atau bisa jadi karena saya ga pede dengan apa yang saya tulis. Dan saya selalu iri dengan orang-orang yang bisa bagus merangkai kata dalam kalimat dan menjadi tulisan yang simpel tapi bermakna. Ditambah, sekarang saya udah ga pede banget bikin kalimat full dalam bahasa Inggris, kecuali laporan kerja. Hancur banget grammar resminya, yang ada grammariciosoalfredoagliolio *efek resep-resep spaghetti* suka-suka enaknya saya aja. Jadinya sekarang disela-sela waktu kerja saya (yang setiap saat bisa disela), saya baca-baca lagi tentang pelajaran grammar bahasa Inggris.

Saya ngerasa, otak saya terlalu penuh dengan berbagai hal. Mostly, remeh-temeh yang seharusnya ga perlu mengeram lama di otak. Sebagai wanita, saya benar-benar bisa multitasking mikirin banyak hal dalam satu waktu. Imbasnya, saya sangat sulit untuk fokus. Hasilnya, jarang ada subjek yang benar-benar saya pahami. Dangkal, sekedar tau, dan manut aja. Tanpa dikonfirmasi lebih detail mengenai kebenarannya. Sebagai wanita juga, saya ternyata normal karena ada saatnya lebih dikontrol perasaan daripada logika. Walau saya masih tahan untuk ga galau berlebihan. Tapi heeeyyy, selayaknya wanita, ingin juga dimengerti *apa pula maksudnya ini*.

Oke, apalagi persoalan agama. Selama saya tau sumbernya dari Al-Quran dan Al-Hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim (pokoknya ada keterangan shahih), lalu masuk nalar saya, saya telan mentah-mentah langsung masuk pencernaan dan diserap sebagai nutrisi untuk sel-sel. Padahal kan, tetap perlu ditelaah lagi maksud dibalik setiap ayat dan konteks hadistnya. Biar lebih paham maksud dan ga keliru pengaplikasiannya. Dulu sih waktu masih ikutan halaqah/liqo, bisa denger penjelasan tetehnya, dan diskusi. Sekarang, jarang banget bisa sharing seperti itu.

Kasih saya satu kalimat/bacaan untuk ditanggapin. Biasanya saya akan mikir cukup lama yang ujung-ujungnya ngasih tanggapan panjang lebar, luas berkeliling-keliling, dan bisa jadi don’t get the point. Mikirnya terlalu rumit, terlalu out of universe. Ga bisa gitu kasih tanggapan sederhana yang kena ke inti permasalahannya. Maka dari itu, kayaknya saya lebih memilih diam, menikmati tanggapan demi tanggapan di pikiran saya sendiri. Daripada sekalinya ngomong malah kepanjangan.

Seperti tulisan ini, yang saya ga tau judulnya mau apa dan akan berakhir seperti apa. Karena saya sulit untuk menemukan kalimat super seperti Pak MT disetiap akhir ceramahnya. Tapi saya akhiri saja dengan ”Sekian”.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

Kota Bunga Nusantara, Puncak

IMG_20140112_110734

(edisi narsis) Masih berlanjut kegiatan wiken kali ini. Hari minggunya, masih ada undangan makan-makan keluarga dari keluarga yang nikahan malam lalu. Tapi saya dan Boti (adik bungsu saya) diajak sama sepupu yang cewe pergi ke Kota Bunga Nusantara, di kawasan Puncak. Dia pergi nemenin calonnya untuk survey lokasi foto pre-wedding. Daripada ikutan makan-makan dan karaokean para pakde dan bukde, saya ama Boti sih mending ikutan ke Kota Bunga Nusantara, selain belum pernah kesana juga. (Adik saya pertama udah jelas ga akan mau pergi kemana-mana kalau kegiatannya pagi-pagi. Holiday? Sleeping is the most priority for her)
IMG-20140113-WA0019

    1. (*pertanyaan sepanjang jalan di taman: iklan apaan sih yang jinglenya ini?* bunga-bunga dimana-mana)
  • Rencananya kami berangkat itu jam 05:30. Guess what? of course impossible. Udah tau banget kebiasaan adik-adik saya dan sepupu-sepupu itu ga mungkin banget bisa bangun pagi kalau libur. Pengalaman dari kecil sampai sekarang, ga akan mungkin terwujud janji-janji berangkat kemana-mana pagi hari itu. Kecuali kalo Pakde udah teriak-teriak yang kedengeran seantero rumah. Apalagi malemnya kami tidur abis tengah malem. Kalau saya, karena udah biasa abis sholat subuh ga bisa tidur lagi, jadi selalu bertugas bangunin adik-adik dan sepupu-sepupu, sambil bantuin nyuci piring *teuteup hobi nyuci piring*. Aktualnya, kami pergi jam 7 pagi, setelah calonnya sepupu saya dateng ngejemput.
    1389612181735

    1. (Ini dia bareng sepupu cantik *muka-muka yang masih ngantuk*)
  • Sebenernya cuaca lagi mendung. Prediksi bakalan hujan, jadinya kami dibekelin payung sebelum berangkat. Udah lama juga saya ga ke puncak, ada mungkin 5 tahun ga lewatin Puncak. Semenjak ada tol cipularang untuk akses ke Bogor, jadi ga pernah lewat Puncak lagi. Perjalanan Bogor kota sampai Puncak, masih lancar. Angin lagi sejuk-sejuknya, masih terlihat kabut tebal diatas pegunungan, udara masih seger. Ternyata akses kesana agak sulit, ga ada petunjuk jelas dari jalan utama Puncak yang kearah Cianjur. Sekitar 1,5 jam kemudian, kami sampai di kawasan Kota Bunga Nusantara. Sebelum masuk, kami sarapan dulu, jagung rebus :9
    IMG20140112001

    1. (Taman Perancis)
  • IMG-20140113-WA0007

    Masuk ke Kota Bunga Nusantara, kami harus beli tiket dulu, IDR 30k. Kalau mau naik Tram-nya, nambah lagi IDR 10k. Tapi kami mau jalan santai aja, menikmati bunga-bunganya. Karena masih pagi, jadi masih sepi, kami mulai jalan-jalan di kawasan Kota Bunga yang me liked it! Cuaca yang sejuk, pemandangan yang seger, bunga-bunga yang indah, lingkungan yang bersih dan rapih. Lagi kangen juga sama suasana alam, jadinya pergi ke Kota Bunga ini was a good idea. Konsep Kota Bunga Nusantara ini ada beberapa spot taman yang mengikuti gaya taman di negara-negara dunia. Ada taman Perancis, taman Amerika, taman Jepang, taman Indonesia (yang diwakili gaya Bali), rumah kaca, taman labirin, taman Mawar, taman Dahlia, taman bermain anak-anak, danau yang penuh dengan angsa, dan banyak spot untuk piknik keluarga. Rekomended banget untuk yang mau liburan dengan konsep fresh. Tapi perjalanan kami keliling taman ga lancar, beberapa kali terhenti harus meneduh karena hujan. Sampe sempet ketiduran di saung *ngantuk bangeeetts*.
    IMG_20140113_214719

      (saung yang sukses bikin saya ketiduran)

    IMG_20140113_162007

    1. (Taman Amerika)
  • IMG_20140113_161349

    1. (Rasanya tenang banget duduk di pinggiran kolam)
  • Perjalanan keliling taman sampai siang. Pas banget udah keluar gerbang, hujan turun deras. Puncak semakin dingin dan berkabut. Sebelum turun pulang, kami singgah dulu di pinggir warung di Puncak untuk makan siang dengan mi baso dan sekoteng. Widdiih, turun dari mobil, saking dinginnya Puncak, nafas kami pun sampe ikutan berkabut alias berasap. Makan baso kuah panas-panas, ditambah sekoteng jahe hangat, perfekto! Ga lama, abis makan kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Tapi rezeki banget kami harus kena tutup jalan Puncak, yang mengakibatkan kami stuck kena macet total selama 5 jam. Selama itu pula kami kedinginan parah di mobil (karena ga bawa jaket), ngantuk-ngantuk mati gaya, karaokean lagu-lagu jadul, semua plang tulisan dibacain dan dikomentarin, sampe edisi curhat kiat-kiat ‘move on’ #halah. Walhasil, yang seharusnya jadwal pulang ke Bandung itu siang hari, karena kami baru nyampe maghrib, jadi baru pulang ke Bandungnya jam 7 malem.
    IMG_20140113_161005

    1. (Taman Jepang yang memang Jepang banget)
  • IMG_20140113_161845

    1. (Ngumpet dari kelinci raksasa, hohoho *edisi narsis karena adik saya ga mau fotoin kalo saya ga difoto juga*)
  • Si hujan masih setia banget turun dengan derasnya. Mamah sampe heran, kok bisa di Bogor ini hujan turun full day, tanpa berhenti *namanya juga kota Hujan, Mom*. Baik banget deh Allah ngasih waktu untuk berdoa terus sepanjang hari. Sampai di Bandung tengah malem, karena ayah nyetirnya selow sekali. Alhamdulillah, sampai dengan aman dan selamat. Lalu, dua hari libur senin-selasa ini, dinikmati dengan ngulet di rumah aja. Cuaca Bandung lagi oke banget untuk berhibernasi, hihiy.
    IMG_20140113_162522

    1. (Siapa yang mau nemenin duduk?)
  • 5 Comments

    Filed under jalan-jalan, tempat wisata

    Cousinhood

    Minggu ini dapet loong wiken dari kantor *tumben*. Karena hari selasa ada libur nasional, jadi sekalian aja hari seninnya dibablasin libur juga, walau ada hari penggantinya sih nanti. Yeay, libur 4 hari itu sesuatu sekali, mwehehehe. Dan bakalan banyak libur panjaaang lagi kedepannya.
    Eniwei, wiken ini udah ada jadwal harus ke Bogor, karena ada undangan sepupunya sepupu nikah. Sama seperti minggu lalu, harus pulang Bandung, karena (lagi-lagi) sepupunya sepupu nikah juga. Karena sama keluarga besar sepupunya sepupu ini udah deket, jadinya kalo ga ada apa-apa, yaa ‘harus’ hadir.

    Cerita lagi tentang keluarga di Bogor (kalo ga salah pernah diceritain sih).
    Di Bogor ada kakak mamah, Bukde. Sebenernya Bukde dan Pakde ini asli orang Belitung, cuman karena ortu Pakde orang Jawa asli yang dulu bermigrasi ke Belitung, ga mau kehilangan kultur Jawanya, jadi maunya dipanggil Pakde dan (otomatis) Bukde. Sama keluarga Bogor ini yang paliiiing deket. Anak-anak Bukde, jadi sepupu-sepupu yang paling deket. Sama-sama 3 bersaudara. Hanya anak pertama dan kedua Bukde itu laki-laki, yang bungsu perempuan. Anak yang bungsu ini seumuran dengan saya. Dari bayi kami suka barengan. Entah saking deketnya, sifat-sifat kami 3 bersaudara ini mirip. Saya mirip sifatnya dengan Aa pertama. Adik saya mirip sifatnya dengan Aa kedua. Yang bungsu mirip sifatnya dengan yang bungsu lagi. Suka jadi kebiasaan juga kalau Lebaran gantian mengunjungi. Misal, kalau tahun sebelumnya keluarga Bogor ke Bandung, berarti tahun sekarang keluarga Bandung ke Bogor. Atau janjian lebaran di Belitung bareng.
    Aa pertama udah nikah, Maret 2011. Waktu itu pas banget saya lagi liburan kuliah pulang ke Indonesia, jadi sempet hadir di nikahan Aa, bahkan jadi saritilawah waktu Akadnya. Aa kedua udah nikah juga, Maret 2013. Sayangnya kali ini saya ga bisa hadir karena lagi di Pasuruan dan masih belum bisa ambil cuti. Nah, yang bungsu, sebentar lagi nikah, InsyaAllah Mei 2014. Since we’re growing old together, kalo ngobrol-ngobrol persiapan nikah dia, kayak ga percaya aja kalo kami udah ‘gede’ dan udah masuk ke dunia obrolan rumah tangga. *berdoa, semoga lancar persiapannyaa. Jadi sekarang kalo kumpul bareng, ada tambahan sepupu-sepupu ipar, yang (untungnya) sama-sama gokil, bisa nyambung.

    Kembali ke cerita wiken kali ini.
    Saya langsung berangkat dari Cikarang ke Bogor. Nge-Bis dari terminal Cikarang hari Sabtu pagi, sedangkan keluarga dari Bandung berangkat siang. Karena acara resepsinya malem minggu, jadinya kami nyantey berangkat ke Bogor. Ketemuan sama ortu dan adik-adik di rumah Pakde-Bukde pas sorenya. Baru sampe, langsung siap-siap untuk berangkat ke gedung, khawatir macetos. Acaranya dimulai jam 7 malem, langsung resepsi karena akad udah dilaksanakan pagi harinya di rumah pihak perempuan.
    Karena saya mah hanya memenuhi undangan untuk hadir, jadi sibuk sebagai tamu undangan. Ngapain lagi kalo bukan hunting makanan, hihi. Sesekali salaman sama sodara yang lain.
    fams

      (Ritual foto keluarga di Undangan)

    OOTD nikah bogor

      (ceritanya OOTD *outfit of the day* yang dibikinin fotonya sama Boti :D)

    Pulang dari resepsi setelah semua acara selesei, sekitar jam 9 malem. Sampai di rumah Pakde, pada ganti baju dengan yang lebih santai untuk tidur, lalu masih kumpul lagi sambil makan sekoteng yang lagi pas lewat rumah. Udah lama banget kayaknya bisa kumpul full sama sepupu-sepupu. Setiap kumpul, selalu heboh cerita sampe ga berhenti ketawa-ketawa. Kali ini Pakde yang cerita bangga, karena sebagai ketua panitia nikahan tadi, acaranya berjalan sukses. Sebenernya masih dalam rangkaian nikah sodara-sodaranya Pakde. Dimulai dari bulan November 2013, nikahin sepupunya sepupu di Bangka. Mamah juga waktu itu ikut, sekalian dari Bangka lanjut mudik ke Belitung. Dilanjut bulan Desember 2013 di Surabaya, sekalian Pakde-Bukde jalan-jalan ke Bromo, dan ada di Bandung. Lalu bulan Januari ini ada 2 sepupunya sepupu yang nikah, di Bandung dan Bogor. Jadinya waktu kumpul malam itu, Pakde cerita kesan-kesannya dari setiap nikahan ke nikahan.

    Yang nikah ini ada yang dari umur 40 tahun baru nikah, umur-umur standar, sampai yang umur 21 tahun udah nikah. Dari yang paling terharu dan terkhidmat, karena pas nikah umurnya udah 40 tahun, dikirain ga bakalan nikah tapi alhamdulillah dapet juga jodohnya. Dari yang ter-sederhana sampai yang ter-mewah. Ada yang ter-Islami, pake nasyid dan dipisah untuk tamunya. Ada yang ter-profesional EO-nya, karena bagus dan rapih waktu ngurusin acaranya. Sampai yang terkocak dan terpolos waktu acara akadnya. Dan yang standar paling dikomentarin adalah makanannya. Mana yang enak, mana yang biasa. Semuaa dikomentarin dan dibandingin. Next, tinggal nikahan si bungsu anak Pakde. Penutup dari rangkaian nikah dari keluarga Pakde. Tapi pada intinya, pernikahan yang utama adalah ketika pengucapan akadnya. Dipahami artinya, sebagai tanggung jawab selama-lamanya, dunia dan akhirat. Ketika waktunya sudah datang, mau berumur 40 tahun, 27 tahun, atau 21 tahun, mau caranya dikenalin atau dari sahabatan, mau hanya ketemu sekali atau udah pacaran tahunan, ga perlu pake lama dan ribet, pasti yang namanya jodoh itu akan dilancarin semuanya.

    Ngobrol-ngobrol malam itu, paling ngakak abis waktu cerita sejarah Aa-Aa ketemuan sama istrinya, mempertanyakan heran kenapa mau sama Aa-Aa yang ‘gila’ ini, menjuluki diri sendiri dengan julukan “Pangeran komplek” ala si Aa. Dan tingkah konyol Aa kedua yang emang orangnya konyol banget. Saya udah paling diem pas kumpul kemarin, cuman berkontribusi ikutan ketawa aja. Tapi akhirnya kena juga jadi yang disorot. Okay, cuman bisa mesem-mesem nyengir. Biarlah mereka yang ribut sendiri bikin skenario dan penerawangan untuk saya. Tenang, kata Afgan juga “Jodoh pasti bertamu (bersama keluarganya)”, ahaha. Meng-Aminkan saja doanya, semoga saya juga bisa segera diboyong sang Pangeran ke depan penghulu #eaaaa. Harus segera diakhiri bincang-bincang malamnya, karena udah jam 12 malem juga sih. And case to be continued…

    Leave a comment

    Filed under cerita-cerita, keluarga

    Page 1 of 365

    Mengisi halaman blog di tanggal 1 Januari 2014.
    Resolusi? honestly, I don’t have. Bukan berarti ga ada target atau tujuan. Ya pasti ada, tujuan seumur hidup, setiap tahun, setiap saat, yaitu masuk surga *Aamin* ehehe. Jadi apapun yang tahun ini akan dihadapi, lebih meluruskan niat, lebih melihat positifnya, banyak belajar ambil hikmahnya, banyak bersyukur, dan tentu saja bersabar.

    Tahun 2013 kemarin, diawali dengan tahun baruan di Jogjakarta bareng keluarga Mbokdhe. Dapet libur dari kantor 4 hari, langsung dijadwalin main ke Jogja. Malam tahun baru, hujan deraaass. Kami melewatinya dengan ikutan kajian Islam di mesjid deket rumah Mbokdhe. Pas sekalian ada bazaar angkringan gratisan. Lumayan, sambil dengerin ceramah, sambil sekalian comot-comot nasi kucing, gorengan, wedang jahe, dan cemilan khas Jogja lainnya dengan gratis, mwehehe. Malam kemarin sms-an sama Mbokdhe, ga kerasa ternyata udah setahun lewat. Malam tahun baru sekarang, cukup di kosan sajja, karena libur kantor cukup sehari tanggal 1-nya sajja.

    Sebelumnya, menutup 2013, tanggal 31 Desember, dengan berdarah-darah. Alias ikutan donor darah di kantor. Yeay! akhirnya donor darah lagi, setelah terakhir waktu di Jepang tahun 2012 awal (kayaknya). Padahal belum sarapan, pas dicek, alhamdulillah HB 13.9, tekanan darah 100/60 (seperti biasa, rendah), jadi bisa ikutan donor. Dulu waktu di kampus Gajah, rutin donor darah setiap ada acara donor darah kolaborasi 4 Labtek, biasanya di Selasar IF diadainnya. Saking rajinnya, udah 10X donor, sengaja ke PMI Bandung di depan Graha Siliwangi untuk minta sertifikat donor. Sayangnya no added value untuk dimasukin di CV πŸ˜€

    Selama tahun 2013, seinget saya, diawal tahun ga ada resolusi apa-apa, ga ada ‘keharusan’ apa-apa. Tapi ternyata dikasih banyak banget rezeki. Bisa bertemu temen-temen ngeluyur di Pasuruan, bisa jalan-jalan ke berbagai tempat wisata alam Jawa Timur, bisa belajar banyak tentang kesederhanaan dan hangatnya orang-orang Jawa Timur, dapet atasan dan kerjaan yang nyaman, bisa ngundang keluarga liburan di Surabaya-Bromo-Malang, merantau ke Cikarang, ε›γ«ε‡ΊδΌšγ£γ¦.. semua pengalaman yang ‘memperkaya’ sisi psikologis dan banyak mengubah diri saya. Alhamdulillah, semua rezeki di tahun 2013, bisa membantu saya untuk ‘move on‘ dari kejadian-kejadian di tahun-tahun sebelumnya. Belajar untuk memberanikan diri mengambil kesempatan-kesempatan yang terlihat menakutkan, tapi ternyata ketika dijalanin, sangat mudah dan banyak hikmah yang bisa didapat. Alhamdulillah πŸ™‚

    Tahun 2014, tetap berdoa semoga Allah SWT memberikan yang terbaik. Mempertemukan saya dengan orang-orang dan kejadian-kejadian yang memperkaya ilmu duniawi dan akhirat. Ingin lebih banyak bersedekah, lebih sering silaturahim, rajin ikut kajian agama, merutinkan lagi shaum sunnah, banyak berdoa untuk ortu, adik-adik, keluarga besar, dan kawan-kawan lain, makan yang sehat dan benar, belajar lagi bahasa Jepang dan Inggris, fokus kalo kerja (bukan tumblr-an aja #eh), terus berpikir positif aja dan bersyukur, maintaining high expectation to human, dan apapun itu bisa membuat saya lebih baik.

    2014εΉ΄γ«δ½•γŒθͺ°γŒζ₯るかをζ₯½γ—みにしています。
    γΎγŸη΄ ζ™΄γ—γ„δΈ€εΉ΄γ«γͺγ‚ŠγΎγ™γ‚ˆγ†γ«γ€‚:)

    6 Comments

    Filed under saya