Iya, Saya Buruh Pabrik

Suatu ketika saya ngobrol dengan teman sepermainan dulu di organisasi kampus. Dia nanya dimana saya kerja sekarang dan sebelumnya. Lalu saya bilang kalau sekarang dan sebelumnya saya kerja di manufakturing, atau istilah umumnya pabrik. Teman saya langsung bilang:”Ooh, jadi buruh pabrik dong”. Yang entah saya lagi PMS, saya nangkep intonasinya itu merendahkan pekerja pabrik.
Saya: “Iya, buruh pabrik. Memangnya kenapa?”
Teman: “Oh, gak apa-apa sih. Yang penting halal kan ya. Asal jangan ikutan demo buruh aja loh, hehe”
cepat-cepat dia meralat pandangannya tentang bekerja di pabrik.

Bukan dari cerita teman saya diatas aja, ga sedikit juga orang-orang yang saya temui (bahkan yang satu kantor/pabrik), kalo tau latar belakang pendidikan saya, mereka suka bilang “kenapa kerja di manufakturing? kenapa ga yang lain? atau kenapa ga jadi dosen?” -,-

Apa stereotype masyarakat Indonesia yang hidup dan bekerja di lingkungan elit, kesannya suatu yang memalukan gitu ya bekerja di pabrik itu, jadi buruh. Kesannya pekerjaan yang rendah dan hanya untuk kalangan menengah ke bawah, pekerja kasar dan kurang berpendidikan. Menganggap kerja di bangunan tinggi di pusat ibu kota lebih prestis dan membanggakan. Padahal geraknya roda perekonomian kan dari industri pabrik ini. Para pekerja yang seharian, bahkan semalaman, terus bekerja menghasilkan produk-produk untuk dijual dan jadi devisa negara (mau negara sendiri atau asing kek, dua-duanya dapet).

Memang sama sekali bukan cita-cita saya, tapi saya sendiri ga masalah kerja di manufakturing (Walau ga langsung di bagian produksinya). Justru saya bisa lihat sendiri gimana susahnya memproduksi barang, baik dari mentah ke barang jadi atau tinggal assembly. Bagian tim engineering dan development yang muter otak dan fisik untuk menghasilkan barang yang bisa semurah mungkin tapi dengan kualitas yang tetap terjaga. Pihak sales company, yang ada di gedung-gedung tinggi ibu kota sana, biasanya tinggal menagih agar produk dikirimkan sesuai jadwal, sesuai kuantitas, sesuai kualitas, tapi harga harus semurah mungkin, agar harga end user tetap masuk akal walau sudah ditambah profit yang berkali-kali lipat untuk internal sales company sendiri. Yaa, mereka juga kerja keras untuk mencari customer. Tapi saya jadi lebih menghargai dunia manufakturing, terutama para penggeraknya. Pernah suatu ketika saya bantuin di bagian produksi karena lagi belum ada tugas dari atasan. Seharian berdiri untuk ngerjain barang, hanya duduk ketika istirahat aja. Pegel kaki, iya, tapi seru juga karena bergerak dan jadinya ga kerasa waktu bekerjanya. Beda dengan tugas saya yang banyak duduk di depan komputer.

Selain itu, kerja di pabrik banyak keuntungannya buat saya. Dikasih seragam, jadi ga perlu repot nyari baju tiap harinya, cucian baju jadi ga menggunung. Pakai kerudung yang polos aja, ga usah ribet nyocokin warna kerudung sama baju atau ngikutin trend hijab fashion. Sepatu cukup pakai kets, ga usah susah-susah jalan karena pake heels. Ga perlu berlama-lama bermake-up juga, tinggal pake bedak dan pelembab bibir, udah jadi. Setiap pagi dan siang dikasih makan di kantin, menunya juga layak banget (kadang berlebihan malah), ga usah pusing mikir mau makan apa dan dimana. Tetep ngadem kena AC dan fasilitas komputer ber-inet (karena di main office sih, hehe). Ga risau masalah korupsi dan dapet ‘aset siluman’, karena terjaga banget birokrasinya (apa karena Japan corp ya?). Uang jalan, uang makan, uang diluar gaji, sesuai dengan ketentuan, ga kurang, ga lebih. Buat saya jadi lebih tenang.

Alhamdulillah lagi, saya dapet atasan dan kawan-kawan yang luar biasa baik. Kalau untuk atasan waktu di Pasuruan, udah sering saya cerita tentang beliau melalui wejangan-wejangan Al-Hikamnya. Kalau atasan sekarang disini, wejangannya Al-ipoleksosbudhankam, hehe. Beda jauh sifat dan sikapnya, tapi dua atasan saya itu orang-orang yang bener-bener hebat, inovatif, jenius, dan pekerja keras. Saya banyak belajar dari mereka. Kerjaan saya dari semenjak pertama kali kerja, selalu ga mainstream, alias selalu masuk ke bagian baru yang isinya cuman saya, heuheu (Paling ga enak kalau udah riweuh harus ngurusin kerjaan sendirian, ga ada yang bantuin). Waktu di Pasuruan, masuk ke dept. baru ‘Business Planning’, isinya cuman saya dan atasan. Sekalinya dipindah, jadi yang pertama sebagai person in charge for intellectual property rights. Sekarang di Cikarang, walau masuknya ke HR Dept. tapi posisi saya sebagai bagian baru di perusahaan. Langsung dibawah atasan; ngurusin asosiasi, legal, pemerintahan, regulasi, jalan-jalan, seminar-seminar, dll. Pekerjaan yang (sampai saat ini masih) menyenangkan, belajar hal-hal baru, dan saya enjoy (karena ga monoton dengan rutinitas).

Yaa, saya belum pernah ngerasain kerja di perkantoran gedung-gedung elit nan tinggi sih, jadi seharusnya ga bisa ngebandingin. Tapi, yang bisa saya amati (dari temen-temen seangkatan yang rata-rata kerja di perkantoran Jakarta), dengan bekerja di lingkungan pabrik, buat saya ga melulu melihat yang ‘kinclong’. Ga bikin saya konsumtif dengan harus nongkrong di mall mewah sepulang kerja, makan di resto-resto high class, nyetarbak, pake gadget keluaran terbaru, dan lifestyle pegawai metropolitan lainnya (sebenernya gimana individunya sih ya). Jadi, bagi saya, dapet kerja di lingkungan pabrik itu suatu rezeki dan pengalaman yang tak ternilai. Mungkin, saat ini yang Allah kasih tepat untuk keadaan dan tipikal orang seperti saya.

15 Comments

Filed under cerita-cerita, kerja

15 responses to “Iya, Saya Buruh Pabrik

  1. nden

    saya mau lah ngelamar kawan…

    pengen kerjaan yg cape2 nya jelas😀

    • arditafanisa

      hlaah.. skrg aja nden udah cape dengan sangat jelas.. yang penting cepat kembali dan jangan kebetahan disana😀

  2. enak krj dpabrik mbak,,,, bnyk tmen e,,,,

  3. Madan bradleyy

    mau dong mba jadi operator produksi dipabrik yg tempat mba kerja hehee

  4. Rudi

    saya kepengen banget jadi operator produksi di pabrik apalagi cikarang tapi ijazah saya cuman smk gimana dong.

    • arditafanisa

      Kalau jadi operator produksi di pabrik, setau saya ijazah SMK udah cukup. Bisa jd karyawan produksinya dulu, kalau dpt kinerja bagus naik jd operator. dicoba aja🙂

      • fara annora

        bedanya karyawan sama operatornya apa ya? mohon infonya soalnya saya dapet panggilan lowongan operator tp departemen packaging. tp rasanya ga sesuai sama backgroung smknya.

      • arditafanisa

        BIasanya operator yang bekerja di line produksi. packaging barang, assembly material hingga produk, cek barang di warehouse, dll, Kalau karyawan di produksi, yg lebih ke pengawasan, atau sebagai atasan operator. Kalau karyawan kantornya, lebih ke administrasi, seperti urusan human resource, akunting, IT, surat menyurat expor impor, dll. -cmiiw-🙂

  5. kuliah saya gagal nih mbak… rencananya saya mau melamar aja di pabrik… tapi ijazah sma bukan smk? gimana nih?

    • arditafanisa

      dicoba lagi dong kuliahnya, baru sekali gagal kan? kedepannya minimal ijazah D3 diperlukan kalau ingin lebih ada posisi di pekerjaan (terutama gaji). kecuali kalau ingin jadi pengusaha aja. Setau saya gak apa2 ijazah SMA juga ngelamar di pabrik. asalkan lolos tahap seleksi penerimaannya (dokumen, wawancara, cek kesehatan) Dicoba dulu aja ya🙂

  6. Ratuwarda

    Mbak saya mau tanya dong, pendidikan terakhir mbak apa ya? Terus pekerjaan di manufakturing sebelum dan sesudahnya bekerja di bagian apa ya? Mohon bantuannya ya mbak, buat tugas skripsi tentang mobilitas sosial. Makasih ya mbak.

    • arditafanisa

      Haii,, pendidikan terakhir s2. Di manufacturing kerja di bagian business planning, pindah patent development, terakhir di external affair HR/GA😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s