Sepatu dan Kamu*

Beberapa hari ini, kalau pulang kantor saya lebih suka jalan kaki dulu dari kantor ke daerah Pasar Central, tempat mangkal emang-emang ojek. Jaraknya lumayan, kalau jalan kaki sekitar 30 menit. Walau bisa naik ojek dari depan kantor, tapi dengan jalan kaki dulu, saya bisa sekalian olahraga ringan sambil dengerin musik dan menikmati jalanan sore kawasan industri EJIP.

Untuk berjalan kaki dengan nyaman, tentu saja perlu support sepatu yang nyaman juga. Fortunately, saya bisa kerja di perusahaan yang membebaskan pakai sepatu jenis apa aja (asal bukan sepatu terbang kayak di film “Percy Jackson and The Olympians”) dan saya prefer untuk memakai sepatu kets, karena bisa leluasa dipakai jalan kemana pun. Sepatu yang biasa saya pakai ke kantor ini, ukurannya pas di kaki. Sebenernya waktu beli saya suka dengan model dan warnanya, tapi ukuran yang saya pengen itu ga ada. Biasanya saya pakai ukuran sepatu yang gak terlalu pas banget, ukuran 8 (USA)/ 24 (JPG)/ 38 (IDN) adalah ukuran yang nyaman banget ke kaki saya. Tapi, karena saya udah suka dengan model dan warna sepatu kets ini, dan yang ada tinggal nomor 37 (IDN), saya tetap membelinya. walau jadinya pas di kaki.

Kalau dipakai jalan biasa sih ga ada masalah. Hanya saja, kalau udah dipake jalan jauh, mulai terasa lecet di ujung jari manis. Tapi tetep saya pake aja, soalnya mikir juga lama-kelamaan ini sepatu bakalan melar (cem emak-emak yang makin tua makin melar #eh) dan biasanya kan sepatu itu makin lama makin enak dipake. Mulai keliatan sih penampakan melarnya, tapi tetep kadang masih lecet di jari manis kalau dipake jalan jauh. Memperhatikan sepatu kets saya ini, jadi teringat quote dibawah:
sepatu

Lalu disambung-sambungin, memilih sepatu seperti memilih pasangan hidup.
Memilih sepatu itu awalnya dari kebutuhan kita akan alas kaki yang menunjang aktivitas. Lalu mencari di toko sepatu, dan mulai lihat model dan warnanya. Kalau udah ada yang disuka, dicoba ukurannya. Ini yang paling penting, karena kalau ukurannya ga sesuai, sepatu tersebut ga akan bisa dipakai. terlalu kecil, jelas ga akan masuk. Maksain ukuran yang terlalu pas, akan bikin sakit dan lecet aja. Pake yang kebesaran juga, jadinya ga akan enak dipakai. Jadi harus yang “Pas”, ga pas banget ke kaki sehingga tetap ada ruang untuk kaki ‘bernafas’. Sehingga, selama dipakai berjalan, mau mulus atau berbatu, menanjak atau menurun, kering atau basah, ke kota atau ke gunung, berjalan santai atau berlari, tetap bisa nyaman melindungi dipakai. Terakhir, apakah harganya sesuai atau tidak. Kalau oke, bisa langsung dibeli dan sepatu tersebut jadi milik kita. Kalau harganya masih belum sesuai budget, bisa kita nabung dulu sampai bisa dibeli (kalau beneran mau banget itu sepatu). Tapi, kalau selama menabung itu ternyata udah ada orang lain yang membelinya, berarti belum rezeki kita dan mulai mencari lagi model yang baru.

Sama halnya dengan memilih pasangan hidup.
Berawal dari niat karena kebutuhan dan keinginan, lalu mulai ‘mencari-cari’. Banyak tipe dan kriteria, tapi hanya ada beberapa atau satu saja yang menarik mata dan hati. Lalu, dicoba untuk meng’klik’an diri. Apakah nyaman, nyambung, enak, sreg, atau sebaliknya. Kalau udah ga ‘klik’, yasudah, sekedar tau saja, mengakhiri dengan penjelasan yang baik, dan mulai mencari yang lain. Kalau kira-kira bisa ‘klik’ juga, jangan sampai dipaksakan, karena selama perjalanan hidup bersama bisa saja malah menahan sakit karena sering mengalah dan membiarkan. Tapi kalau udah cocok semuanya, tanpa keraguan lagi, bisa tetap ‘berjalan dan bernafas’ dengan nyaman, ya tinggal pinang saja (ini untuk cowo kali ya, cewe yang menunggu). Kalau kelamaan nunggu ‘siap’nya, yaa siap-siap aja ada yang lain datang duluan meminang. Kalau sudah begitu, tinggal mengikhlaskan dan berdoa semoga ga jadi ke pelaminan *looh kook?? haha*. Enggak lah, mendoakan kebaikan dia dan berdoa agar kita dibukakan lagi untuk jodoh yang sebenarnya.

Karena pasangan hidup itu seperti sepasang sepatu (yang berkualitas). Tidak sama persis kanan dan kirinya, punya fungsi masing-masing, tapi saling melengkapi. Tidak juga selalu berjalan beriringan, tapi disimpan selalu sejajar, dan memiliki satu tujuan yang sama. Semakin lama dipakai, semakin lama bersama, akan semakin memahami dan saling nyaman. Dan apalah arti sepatu sebagus dan semahal apapun, kalau hanya ada sebelah? Sama seperti apalah artinya saya tanpa kamu*?
(siapa pula?) :p

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s