Monthly Archives: December 2013

Iya, Saya Buruh Pabrik

Suatu ketika saya ngobrol dengan teman sepermainan dulu di organisasi kampus. Dia nanya dimana saya kerja sekarang dan sebelumnya. Lalu saya bilang kalau sekarang dan sebelumnya saya kerja di manufakturing, atau istilah umumnya pabrik. Teman saya langsung bilang:”Ooh, jadi buruh pabrik dong”. Yang entah saya lagi PMS, saya nangkep intonasinya itu merendahkan pekerja pabrik.
Saya: “Iya, buruh pabrik. Memangnya kenapa?”
Teman: “Oh, gak apa-apa sih. Yang penting halal kan ya. Asal jangan ikutan demo buruh aja loh, hehe”
cepat-cepat dia meralat pandangannya tentang bekerja di pabrik.

Bukan dari cerita teman saya diatas aja, ga sedikit juga orang-orang yang saya temui (bahkan yang satu kantor/pabrik), kalo tau latar belakang pendidikan saya, mereka suka bilang “kenapa kerja di manufakturing? kenapa ga yang lain? atau kenapa ga jadi dosen?” -,-

Apa stereotype masyarakat Indonesia yang hidup dan bekerja di lingkungan elit, kesannya suatu yang memalukan gitu ya bekerja di pabrik itu, jadi buruh. Kesannya pekerjaan yang rendah dan hanya untuk kalangan menengah ke bawah, pekerja kasar dan kurang berpendidikan. Menganggap kerja di bangunan tinggi di pusat ibu kota lebih prestis dan membanggakan. Padahal geraknya roda perekonomian kan dari industri pabrik ini. Para pekerja yang seharian, bahkan semalaman, terus bekerja menghasilkan produk-produk untuk dijual dan jadi devisa negara (mau negara sendiri atau asing kek, dua-duanya dapet).

Memang sama sekali bukan cita-cita saya, tapi saya sendiri ga masalah kerja di manufakturing (Walau ga langsung di bagian produksinya). Justru saya bisa lihat sendiri gimana susahnya memproduksi barang, baik dari mentah ke barang jadi atau tinggal assembly. Bagian tim engineering dan development yang muter otak dan fisik untuk menghasilkan barang yang bisa semurah mungkin tapi dengan kualitas yang tetap terjaga. Pihak sales company, yang ada di gedung-gedung tinggi ibu kota sana, biasanya tinggal menagih agar produk dikirimkan sesuai jadwal, sesuai kuantitas, sesuai kualitas, tapi harga harus semurah mungkin, agar harga end user tetap masuk akal walau sudah ditambah profit yang berkali-kali lipat untuk internal sales company sendiri. Yaa, mereka juga kerja keras untuk mencari customer. Tapi saya jadi lebih menghargai dunia manufakturing, terutama para penggeraknya. Pernah suatu ketika saya bantuin di bagian produksi karena lagi belum ada tugas dari atasan. Seharian berdiri untuk ngerjain barang, hanya duduk ketika istirahat aja. Pegel kaki, iya, tapi seru juga karena bergerak dan jadinya ga kerasa waktu bekerjanya. Beda dengan tugas saya yang banyak duduk di depan komputer.

Selain itu, kerja di pabrik banyak keuntungannya buat saya. Dikasih seragam, jadi ga perlu repot nyari baju tiap harinya, cucian baju jadi ga menggunung. Pakai kerudung yang polos aja, ga usah ribet nyocokin warna kerudung sama baju atau ngikutin trend hijab fashion. Sepatu cukup pakai kets, ga usah susah-susah jalan karena pake heels. Ga perlu berlama-lama bermake-up juga, tinggal pake bedak dan pelembab bibir, udah jadi. Setiap pagi dan siang dikasih makan di kantin, menunya juga layak banget (kadang berlebihan malah), ga usah pusing mikir mau makan apa dan dimana. Tetep ngadem kena AC dan fasilitas komputer ber-inet (karena di main office sih, hehe). Ga risau masalah korupsi dan dapet ‘aset siluman’, karena terjaga banget birokrasinya (apa karena Japan corp ya?). Uang jalan, uang makan, uang diluar gaji, sesuai dengan ketentuan, ga kurang, ga lebih. Buat saya jadi lebih tenang.

Alhamdulillah lagi, saya dapet atasan dan kawan-kawan yang luar biasa baik. Kalau untuk atasan waktu di Pasuruan, udah sering saya cerita tentang beliau melalui wejangan-wejangan Al-Hikamnya. Kalau atasan sekarang disini, wejangannya Al-ipoleksosbudhankam, hehe. Beda jauh sifat dan sikapnya, tapi dua atasan saya itu orang-orang yang bener-bener hebat, inovatif, jenius, dan pekerja keras. Saya banyak belajar dari mereka. Kerjaan saya dari semenjak pertama kali kerja, selalu ga mainstream, alias selalu masuk ke bagian baru yang isinya cuman saya, heuheu (Paling ga enak kalau udah riweuh harus ngurusin kerjaan sendirian, ga ada yang bantuin). Waktu di Pasuruan, masuk ke dept. baru ‘Business Planning’, isinya cuman saya dan atasan. Sekalinya dipindah, jadi yang pertama sebagai person in charge for intellectual property rights. Sekarang di Cikarang, walau masuknya ke HR Dept. tapi posisi saya sebagai bagian baru di perusahaan. Langsung dibawah atasan; ngurusin asosiasi, legal, pemerintahan, regulasi, jalan-jalan, seminar-seminar, dll. Pekerjaan yang (sampai saat ini masih) menyenangkan, belajar hal-hal baru, dan saya enjoy (karena ga monoton dengan rutinitas).

Yaa, saya belum pernah ngerasain kerja di perkantoran gedung-gedung elit nan tinggi sih, jadi seharusnya ga bisa ngebandingin. Tapi, yang bisa saya amati (dari temen-temen seangkatan yang rata-rata kerja di perkantoran Jakarta), dengan bekerja di lingkungan pabrik, buat saya ga melulu melihat yang ‘kinclong’. Ga bikin saya konsumtif dengan harus nongkrong di mall mewah sepulang kerja, makan di resto-resto high class, nyetarbak, pake gadget keluaran terbaru, dan lifestyle pegawai metropolitan lainnya (sebenernya gimana individunya sih ya). Jadi, bagi saya, dapet kerja di lingkungan pabrik itu suatu rezeki dan pengalaman yang tak ternilai. Mungkin, saat ini yang Allah kasih tepat untuk keadaan dan tipikal orang seperti saya.

Advertisements

15 Comments

Filed under cerita-cerita, kerja

Untitled

Semenjak udahan 31 days blog challenge, saya pun jadi ikut-ikutan udahan ngeblog begini. Padahal challenge tersebut kan biar membiasakan menulis. Cuman kalo ga ada tema-nya itu jadi ga kepikiran apa-apa buat nulis. Ditambah kalo saya udah nulis, suka bingung mau kasih judul apaan. Dan ga bagusnya saya nulis gimana mood -,-

Padahal banyak peristiwa yang udah dilalui (laporan sekilas info). Mulai dari ngilangin stnk motor temen, fun bike di hotel sahid, curhatan pakle Bos tentang kehidupan dan keluarganya, akhirnya ngerasain ‘kerja’ sebagai penghubung asosiasi luminer, ngangkut-ngangkut power supply DC yang beratnya > 20 kg buat training (lumayan latihan beban mengecilkan otot lengan), janjian nonton ‘Desolation of the Smaug’ sama sodara-sodara yang secara tidak janjian ketemu dengan sodara-sodara lain di bioskop (bingung kan? Intinya sodara-sodara berkumpul di bioskop), dateng ke nikahan sepupu yang seharian diisi dengan icip-icip makanan lalu tidur di mobil (elus-elus perut), dan terakhir ikut training alat spectrometer untuk perhitungan lumen lampu di Jakarta dan Bandung.

Seminggu ini pakle Bos ga dateng ke kantor, sibuk meeting disana-sini. Saya pun menunggu instruksi saja via email atau whatsapp (Bos aye paling mengerti bagaimana menghemat pulsa). Baiklah, tinggal menghabiskan sisa 2 hari di kantor dengan tumblr-ing #loh.

Sekian.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sepatu dan Kamu*

Beberapa hari ini, kalau pulang kantor saya lebih suka jalan kaki dulu dari kantor ke daerah Pasar Central, tempat mangkal emang-emang ojek. Jaraknya lumayan, kalau jalan kaki sekitar 30 menit. Walau bisa naik ojek dari depan kantor, tapi dengan jalan kaki dulu, saya bisa sekalian olahraga ringan sambil dengerin musik dan menikmati jalanan sore kawasan industri EJIP.

Untuk berjalan kaki dengan nyaman, tentu saja perlu support sepatu yang nyaman juga. Fortunately, saya bisa kerja di perusahaan yang membebaskan pakai sepatu jenis apa aja (asal bukan sepatu terbang kayak di film “Percy Jackson and The Olympians”) dan saya prefer untuk memakai sepatu kets, karena bisa leluasa dipakai jalan kemana pun. Sepatu yang biasa saya pakai ke kantor ini, ukurannya pas di kaki. Sebenernya waktu beli saya suka dengan model dan warnanya, tapi ukuran yang saya pengen itu ga ada. Biasanya saya pakai ukuran sepatu yang gak terlalu pas banget, ukuran 8 (USA)/ 24 (JPG)/ 38 (IDN) adalah ukuran yang nyaman banget ke kaki saya. Tapi, karena saya udah suka dengan model dan warna sepatu kets ini, dan yang ada tinggal nomor 37 (IDN), saya tetap membelinya. walau jadinya pas di kaki.

Kalau dipakai jalan biasa sih ga ada masalah. Hanya saja, kalau udah dipake jalan jauh, mulai terasa lecet di ujung jari manis. Tapi tetep saya pake aja, soalnya mikir juga lama-kelamaan ini sepatu bakalan melar (cem emak-emak yang makin tua makin melar #eh) dan biasanya kan sepatu itu makin lama makin enak dipake. Mulai keliatan sih penampakan melarnya, tapi tetep kadang masih lecet di jari manis kalau dipake jalan jauh. Memperhatikan sepatu kets saya ini, jadi teringat quote dibawah:
sepatu

Lalu disambung-sambungin, memilih sepatu seperti memilih pasangan hidup.
Memilih sepatu itu awalnya dari kebutuhan kita akan alas kaki yang menunjang aktivitas. Lalu mencari di toko sepatu, dan mulai lihat model dan warnanya. Kalau udah ada yang disuka, dicoba ukurannya. Ini yang paling penting, karena kalau ukurannya ga sesuai, sepatu tersebut ga akan bisa dipakai. terlalu kecil, jelas ga akan masuk. Maksain ukuran yang terlalu pas, akan bikin sakit dan lecet aja. Pake yang kebesaran juga, jadinya ga akan enak dipakai. Jadi harus yang “Pas”, ga pas banget ke kaki sehingga tetap ada ruang untuk kaki ‘bernafas’. Sehingga, selama dipakai berjalan, mau mulus atau berbatu, menanjak atau menurun, kering atau basah, ke kota atau ke gunung, berjalan santai atau berlari, tetap bisa nyaman melindungi dipakai. Terakhir, apakah harganya sesuai atau tidak. Kalau oke, bisa langsung dibeli dan sepatu tersebut jadi milik kita. Kalau harganya masih belum sesuai budget, bisa kita nabung dulu sampai bisa dibeli (kalau beneran mau banget itu sepatu). Tapi, kalau selama menabung itu ternyata udah ada orang lain yang membelinya, berarti belum rezeki kita dan mulai mencari lagi model yang baru.

Sama halnya dengan memilih pasangan hidup.
Berawal dari niat karena kebutuhan dan keinginan, lalu mulai ‘mencari-cari’. Banyak tipe dan kriteria, tapi hanya ada beberapa atau satu saja yang menarik mata dan hati. Lalu, dicoba untuk meng’klik’an diri. Apakah nyaman, nyambung, enak, sreg, atau sebaliknya. Kalau udah ga ‘klik’, yasudah, sekedar tau saja, mengakhiri dengan penjelasan yang baik, dan mulai mencari yang lain. Kalau kira-kira bisa ‘klik’ juga, jangan sampai dipaksakan, karena selama perjalanan hidup bersama bisa saja malah menahan sakit karena sering mengalah dan membiarkan. Tapi kalau udah cocok semuanya, tanpa keraguan lagi, bisa tetap ‘berjalan dan bernafas’ dengan nyaman, ya tinggal pinang saja (ini untuk cowo kali ya, cewe yang menunggu). Kalau kelamaan nunggu ‘siap’nya, yaa siap-siap aja ada yang lain datang duluan meminang. Kalau sudah begitu, tinggal mengikhlaskan dan berdoa semoga ga jadi ke pelaminan *looh kook?? haha*. Enggak lah, mendoakan kebaikan dia dan berdoa agar kita dibukakan lagi untuk jodoh yang sebenarnya.

Karena pasangan hidup itu seperti sepasang sepatu (yang berkualitas). Tidak sama persis kanan dan kirinya, punya fungsi masing-masing, tapi saling melengkapi. Tidak juga selalu berjalan beriringan, tapi disimpan selalu sejajar, dan memiliki satu tujuan yang sama. Semakin lama dipakai, semakin lama bersama, akan semakin memahami dan saling nyaman. Dan apalah arti sepatu sebagus dan semahal apapun, kalau hanya ada sebelah? Sama seperti apalah artinya saya tanpa kamu*?
(siapa pula?) :p

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

[31/31] Why I Blog

(Waa.. the last theme of this challenge)

Pertama kali bikin blog di WordPress ini karena alasan standar, ngikut trend. Temen-temen yang lain pada punya blog, mereka sering cerita/curhat di blog. Jadi sekalian untuk tau kondisi update mereka, dan kondisi saya juga, maka saya buat blog. Sharing informasi apapun, cerita tentang apapun, komentar apapun, bisa semua dipantau di blog. Sempet pindah di multiply, karena temen-temen juga banyaknya di multiply. Tapi karena udah ditutup (dan isinya juga kenangan yang harus dilupakan, haha), jadi kembali lagi ke WordPress.

I found that a Blog as a frienemy of mine. It can be my friend or an enemy at the same time. Blog mulai sangat kerasa manfaat baiknya ketika saya di Jepang. Cerita pengalaman, kegiatan, hal-hal yang baru, sampai sampah otak super ga penting semuanya bisa saya tulis di Blog. Ada yang bilang, Tulisan adalah kata-kata kesepian. Dan ketika saya sendiri dan sepi, teman saya adalah blog dengan menulis. Tapi, pernah juga blog kasih pengaruh buruk pada saya. Blog bisa juga jadi sesuatu yang ‘berbahaya’. Ketika kesal atau marah yang ga bisa dikeluarkan oleh lisan, bisa membludak di tulisan. Yang paling berbahaya, ketika saya membaca blog orang lain, kadang ga dicerna dulu, bisa dengan mudahnya saya terpengaruh dengan opininya.

Semakin kesini, semakin merasa kalau dengan menulis, saya bisa bebas berekspresi apapun yang saya mau. Dulu masih suka mikir pendapat orang dengan apa yang saya tulis di Blog. Masih suka memilah-milih kata dan kalimat. Masih suka memfilter cerita. Masih khawatir gimana pikiran orang setelah baca blog saya. Tapi sekarang, ketika menulis, hampir saya ga peduli dengan apa yang akan dipikirin orang lain. Blog gue ini, ya semau gue mau nulis apaan. Ga suka ya ga usah dibaca, gue nulis untuk kenang-kenangan gue sendiri ini, begitu pikir saya sekarang. Sudah terlalu capek kalau apa-apa yang ingin dilakukan/ditulis tapi harus mikir dulu “menurut pendapat orang lain gimana yaa?”, yang bahkan sepertinya orang lain ga akan capek-capek mikirin isi blog saya, haha.

So,
Why I blog? Because I want to tell the stories
. Saya suka bercerita (walau lebih suka dengerin cerita sih). Kadang ingin juga saya bercerita pengalaman yang udah saya lalui, di hari itu atau setelah ada kejadian di luar kebiasaan. Kadang curhat yang ga bisa diceritain langsung ke keluarga atau temen-temen deket (kecuali kalo udah ada suami, ceritanya bisa bebas ke suami aja, hihi). Kalau udah ingin cerita dan blog sebagai satu-satunya sarana yang mau menampung, ya saya akan cerita dengan bebasnya.

Why I Blog? Because I want to share the experiences. Pengalaman traveling, cooking/baking, ketemu orang hebat, dapet wejangan/ilmu yang bagus, dll. Pengalaman yang ingin dibagi juga kepada yang lain. Karena kebaikan akan belipat pahalanya jika disebar. Siapa tau dari pengalaman-pengalaman yang saya share bisa membantu orang lain juga.

Why I blog? Because I want to collect the memories. Kejadian-kejadian, baik yang dijalanin atau dirasain, ketika dituliskan lagi, suatu saat bisa saya kembali baca dan jadi bahan renungan. Jaman dulu saya orangnya begini, jaman sekarang saya begini. Ada perubahan lebih baik kah, atau malah memburuk kah. Gaya tulisan saya dulu begitu, sekarang begini. Apa aja sih yang udah pernah saya alami. Semua hal itu kadang ingin saya simpan dan bisa jadi bahan bacaan ringan ketika saya 5 thn, 10 thn, 15 thn lagi (kalau ada umurnya dan blognya masih eksis loh).

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

[30/31] Inside My Makeup Bag

There’s no make up in my make up bag.
It just contains of:
1. ‘Wardah’ Compact Powder
2. ‘Wardah’ Lip Balm
3. ‘Vitacid’ anti acne cream
4. ‘Parasol’ UV Protection moisturizer
(gambar menyusul gan)

That’s all 😀

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya