Kisah Jumat Dan Tema Keputrian

Udah lama nih saya ga berkisah di hari Jumat. Biasanya kalau udah Jumat, saya akan menceritakan kejadian-kejadian yang dialamin. Kenapa Jumat? udah sering saya sebutin, kalau Jumat (apalagi kalau hujan) itu adalah salah satu terfavorit saya. Karena keberkahannya berdobel-dobel lipat. Dan biasanya di hari Jumat pun saya suka dapat banyak hikmah sebagai pengingat diri.

Kisah Jumat kali ini, dimulai dari pagi hari saya beraktivitas di kantor. Biasanya, kalau saya ga ikutan sarapan di kantin, maka saya akan sarapan di pantry setelah apèl pagi. Sarapan praktis aja, roti dan kopi susu. Sama temen-temen yang suka sarapan di pantry juga, sarapan saya ini tergolong aneh, bukan rotinya, tapi karena susu yang digunakan pada kopi saya adalah susu kedelai. Tiap pagi saya suka beli 1-2 plastik (± 200 ml kali ya) susu kedelai di kantin. Susu kedelainya masih anget dan fresh. Nah, biasanya saya suka sedia kopi instan item (no sugar, no cream). Tiap pagi, saya seduh kopi instan dengan sedikit air panas, lalu saya campur susu kedelai. Jadilah kopi susu (kedelai). Menurut saya sih oke aja rasanya, tapi temen-temen yang liat malah mengernyit aneh.

Siangnya, ketika saya makan bareng di kantin sama temen-temen, mereka aneh juga. Kali ini karena cara makan saya yang mencampur semua lauk jadi satu. Emang saya suka campur sayur, lauk, dan nasi jadi satu. Biar ga ribet harus ambil satu-satu; nasi dulu, baru pilih lauk 1, ambil lauk 2, lalu sayurnya. Kalau modelnya nasi campur gitu, ya sekalian aja dicampur semuanya. Jadi dalam satu sendok udah semua ada😀 Tapi ada temen yang liat malah kayak jijik ;( ditanya, “kamu beneran mau makan kayak gitu? kirain saya itu untuk dibuang”. Padahal kan di dalam perut semua makanan akan bercampur juga. Biarlah.. saya memang ga mainstream tuh :p

Setelah makan siang, saya dateng ke kajian keputrian yang diadain rutin setiap Jumat siang, dengan mengundang Ustadzah-ustadzah. Biasanya beberapa Jumat lalu, saya selalu datang telat. Ditengah-tengah ulasan baru dateng, karena kelamaan makan dan ngobrol di kantin. Untuk Jumat ini saya dateng on time ketika kajian dibuka. Karena pas makan, bareng sama ibu yang jadi kordinator keputriannya sih, ehehe. Hnah, pas sampai di Training Room, tempat kajian biasanya, karena baru dibuka sekalian dikasih tau tema kajian siang ini. Guess What? temanya: Persiapan Menikah. Saya dan temen-temen yang belum nikah langsung nyengir-nyengir (karena dikisruhin sama ibu-ibunya juga siih). Berikut notulensinya (disimak yaa mbakbro-mbakbro, hihi):

Bercita-citalah untuk menikah. Karena itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Ketika bercita-cita untuk menikah, harus dilandasi hal-hal berikut:
1. Niat. Ketika menikah, bukan karena dasar suka sama suka. Tapi karena dasar ingin beribadah. Jadi, luruskan niat agar dari awal berkah jalannya. Bercita-citalah yang baik, dengan memohon yang terbaik. Menikah bukan sekedar status, tapi akan membangun peradaban islam dengan generasi penerus yang sholeh-sholehah.
2. Setelah dari niat, gambarkan ingin pasangan seperti apa dan membangun keluarga yang bagaimana. Ga ada salahnya kita punya kriteria. Ingin yang fisiknya gimana, ingin yang pekerjaannya apa, ingin nanti punya anak berapa, rumah dimana, kendaraan apa. Pokoknya coba dibayangkan akan seperti apa nanti pasangan yang akan membangun rumah tangga bersama.
3. Memiliki strategi untuk memilih suami. Sama halnya dengan seorang pria ketika akan memilih istri; dari parasnya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Utamakan dengan memilih agamanya. Begitu juga dengan wanita, pilihlah dari rupanya, kaya-nya, kesehatannya, dan agamanya. Lebih utamakan memilih agamanya. Untuk harta disini, bukan terlihat dari memadainya ia dari rumah, mobil, tabungan. Tetapi, kesiapan ia untuk bekerja dan mampu menafkahi keluarga.
4. Setelah bertemu dengan calon suami, milikilah visi bersama ketika menikah. Visi paling akhir, yaitu ingin kembali berkumpul sekeluarga di surga kelak. Jika memiliki visi akhirat ini, maka segala hal yang dilakukan di dunia akan selalu mendukung pencapaian visi tersebut.
Kecocokan bahasa, kesamaan tingkah laku yang baik, dan keselarasan aktivitas sehari-hari. Suami yang sholeh, tidak akan menyia-nyiakan istrinya. Istri yang sholehah, tidak akan membantah suaminya. Anak-anak yang sholeh-sholehah, tidak akan menyakiti hati orangtuanya. Apapun yang dilakukan di dunia, adalah bertujuan untuk berkumpul kembali di surga nanti.
5. Setelah menikah, desainlah keluarga yang ideal bersama-sama suami. Komunikasikan semuanya, dan capai kesepakatan yang sama-sama bikin nyaman dan bahagia. Lalu ingat, “Istrimu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian baginya” [QS. Al-Baqarah:187] Jadi, haram bagi istri untuk menceritakan aib suaminya pada orang lain, begitupun sebaliknya.
6. Tambahan. Ketaatan istri pada suami menjadi nomor satu, dan ketaatan pada orangtua menjadi setelahnya. Apapun yang orangtua katakan/minta, tetap harus melalui persetujuan suami.
7. Untuk memahami hal-hal diatas, memiliki visi yang baik tersebut, maka perbanyaklah ilmu mengenai menikah dan berumahtangga. Banyak baca, cari pengetahuannya.

Semoga bermanfaat. Dan menjadi pengingat lagi bagi kita agar mempersiapkan diri. Karena Allah masih memberi waktu untuk kita bisa lebih siap menjadi istri dan ibu yang baik di dunia, demi berkumpul kembali di surga nanti. Aamin.

Terima kasih ya Allah, diingatkan lagi melalui kajian Jumat siang ini🙂

Oke, berlanjut setelah kajian dan sholat dzuhur, masih ada waktu sebelum bel mulai kerja lagi. Lalu saya menuju tempat koran-koran berada, dan mengambil salah satu koran berbahasa Inggris. Bukan sok bisa bahasa Inggris, tapi sekalian untuk belajar kata dan tenses bahasa Inggrisnya. Saya ambil duduk di kursi lobi, dan menggelar koran di meja. Ga lama, berdatangan juga temen-temen lain sambil bawa koran. Sambil ngobrol, sambil buka-buka lembaran koran. Tiba pada topik tentang nuklir, karena seorang senior bertanya latar belakang pendidikan saya dulu. Lalu saya bilang dulu spesifikasinya tentang nuklir, reaktor dan aplikasinya. Dibahaslah sedikit tentang dasar-dasar tentang nuklir yang masih saya inget (dan selalu bikin saya semangat bicara tentang dunia nuklir itu). Kebetulan pas ada bahasan tentang nuklir juga di koran yang saya baca-baca. what a nuclear day😀 Tapi hanya saya yang excited, yang mendengarkan malah berkerut ga ngerti dan jadi ngeri -,-‘

Masuk kerja lagi, hingga sore, saya hanya merangkum apa yang saya dapatkan hasil obrolan sebelum istirahat siang tentang produksi barang. Sesekali ngobrol tentang sepeda sama bapak-bapak yang hobi gowes juga. Lalu saya ke tempat temen-temen lain. Ada satu temen yang pake sepatu high heels. Ga tinggi sih, paling sekitar 3 cm. Dia lagi copot sepatunya, lalu saya iseng nyoba sepatu dia. Ada temen lain yang liat, lalu dia berkomentar, “Saya ga bisa bayangin Teh Dita pake sepatu kayak gitu. Sekarang pake sepatu yang teplek gitu aja, kurang pantes. Pantesnya pake sepatu kets”. Dunia seakan runtuh diatas kepala saya.. why oh why? saya kan udah mencoba lebih anggun, tapi masih terlihat macho? *pundung,langsung-ke-sudut-kantor-main-debu-dilantainya*

Begitulah kisah Jumat saya kali ini. Selalu penuh hikmah dari setiap kejadian dan pertemuan yang dialami. Dan Jumat ini saya ga pulang ke Bandung (maaf ya mamah sayang). Kangen akut, ingin gowes wiken ini disini😀

Leave a comment

Filed under buku, kisah jumat, sharing, tausyiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s