[9/31] My Worst Habits

Aaah, banyak sekali kebiasaan buruk saya. Ini the worst from the worst aja lah ya..

1. Lazy. Saya ini pemalas sekali kalo udah di rumah, the coziest place ever! Malas keluar rumah kalo ga ada hal yang urgent, seperti kuliah dan rapat (waktu dulu), kerja (sekarang), janji ketemuan sama temen, atau jemput mamah. Malas mandinya itu sih, karena ngerasa masih bersih #ups. Kalau mau ngurusin dokumen-dokumen, seperti SKCK, atau ke bank, suka mepet sampai bener-bener ga ada waktu lagi untuk harus segera diurusin dan ga ada pilihan lain untuk segera keluar rumah. Makanya, ada bagusnya sih saya ini merantau, jauh dari rumah. Biar bersosialisasi dan mengenal dunia luar rumah.

2. Unconfident. Saya orangnya ga percaya diri. Dari dulu harus memaksakan diri untuk mau tampil di depan orang banyak dan pasti degdegan luar biasa sebelumnya, how clumsy I am. Atasan saya di kantor dulu selalu bilang, ‘kamu punya potensi, tinggal lebih percaya diri aja!’, tapi tetep ga pede. Atau ortu saya bahkan temen-temen semua selalu bilang kalo lebih baik saya jadi dosen aja, tapi saya selalu berat mengiyakan. Saya lebih suka jadi guru privat seperti dulu pas kuliah daripada harus ngajar di depan kelas besar dan mahasiswa yang banyak. Alasannya? mungkin karena saya khawatir apa yang saya katakan itu ga tepat, kurang fakta, kurang ilmunya. Mau ketemu dengan orang-orang baru juga suka ga pede. Lebih suka di balik layar, yang memprovokasi orang-orang yang berpotensi untuk maju ke depan layar😀

3. Not eating properly. Teuteup tentang makan lagi. Walau saya selalu milih makanan sehat semacam sayur dan buah, tapi untuk makan dengan benar itu kadang sangaaaattt malas, ketika makan sendiri di kosan. Makanya saya ga suka makan sendirian. Udah deh, mendingan makan biskuit atau kacang aja sambil nonton, daripada makan sepiring makanan sehat yang benar. Well, I always going nuts about nuts!! Karena sekalinya nemu kacang dan termakan, bisa ga berhenti! Saya bisa hanya makan malam dengan semangkok kacang kulit aja (mungkin lebih). Di kantor dulu kalo ada yang minta tolong translate bahasa jepang, dengan murahnya saya bisa dikasih upah dengan kacang doang! cih, apa2an ituuu?? *ya doyan juga sih, :p

4. Multitasking. Saya ga bisa fokus dalam satu kerjaan dalam jangka waktu yang lama. Mungkin paling lama 30 menit aja #sigh. Pikiran saya bisa bercabang-cabang atau ngelakuin banyak kerjaan dalam satu waktu. Misal sambil masak, ya cuci piring, ya main hape, ya nonton. Atau sambil blogging, ya browsing, ya nonton, ya nyanyi, ya beres-beres. Mengapa sulit sekali untuk bisa fokuuusss??

5. Shopping at the bookstore. Apalagi pas dulu klo udah ke Wilis di Malang, tempat buku murah meriah. Bisa menggila liat buku/novel, lalu tanpa pikir panjang main beli aja, lalu pulang menatap setumpuk buku baru yang sebenernya segunung buku lama belum pada dibaca *merasa bersalah*.

Hari ini dapet cerita dari Mgr. HR tentang ‘Work not for bread‘. Ceritanya: Ada 3 pekerja yang sedang mengadon bahan untuk membuat roti. Mereka semua ditanya dengan pertanyaan yang sama: ‘Apa yang sedang kamu kerjakan?’ Pekerja-1 menjawab: Saya lagi mengadon (ga liat lo?). Pekerja-2 menjawab: Saya lagi membuat roti. Pekerja-3 menjawab: Saya sedang membuat makanan bergizi yang dengan memakannya orang-orang akan sehat. Dari ketiga jawaban itu, mana yang akan kamu pilih untuk makanan rotimu? (si bapak tau aja saya suka roti :p) Pekerja 1, 2, dan 3, secara duniawi akan mendapatkan gaji yang sama, fasilitas yang sama, dari pekerjaan mereka. Tapi, yang membedakan adalah nilai keberkahannya yang jauh berbeda. Tentunya si pekerja-3, dengan niatnya yang untuk memberikan makanan bergizi baik untuk konsumen, akan membuat adonan yang higienis dan terjamin mutunya. Setiap roti yang dia buat, lalu sampai ke konsumen dan dimakan oleh mereka, setiap serat gigitannya akan memberikan pahala dan berkah yang jauh lebih besar bagi si pekerja-3 itu.

Jadi, ketika ada yang bertanya untuk apa kamu bekerja, berikanlah alasan yang lebih luas dan mulia. Bukan sekedar kerja untuk makan. Itu terlalu dangkal dan sempit. Bekerjalah dengan niat yang lebih luas, lebih mulia, lebih ke depan. Karena dengan niat yang lebih besar lagi, kita pun akan bekerja dengan kemampuan terbaik, memberikan yang terbaik. Mungkin yang didapat secara materiil akan sama dengan rekan-rekan lain, tapi untuk setiap hasil karya kita yang digunakan oleh masyarakat akan memberikan nilai pahala dan berkah yang akan berbeda-beda, sesuai dengan niat kita bekerja. Dengan niat seperti itu juga, kita jadi tidak akan bosan dengan rutinitas pekerjaan.

Hyosh! luruskan niat lagi. Niat untuk beribadah, bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Karena setiap hal yang kita buat untuk mereka, akan menjadi air terjun pahala untuk kita sendiri.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s