Keluar Zona Nyaman (lagi)

Sebenarnya saya ini termasuk tipe yang suka berada di zona nyaman. Dengan lingkungan yang sudah saya kenali lokasi dan tata letaknya, dengan orang-orang yang sudah bisa nyambung dan ga bikin ilfil, dan dengan pola hidup pribadi yang udah jadi rutinitas.

Misal, semenjak saya lahir hingga lulus kuliah S1, saya terus berada di Bandung. Saya sudah paham kondisi lingkungan Bandung. Saya akan belanja di satu supermarket yang udah tau penempatan produk-produknya dimana aja. Saya akan beraktivitas di tempat-tempat yang saya sudah familiar. Saya bergaul dengan teman dekat yang udah tau sifat-sifatnya seperti apa. Tentu saja semuanya itu butuh proses yang panjang. Karena saya bukan termasuk orang yang mudah akrab dan nyaman dengan lingkungan baru atau teman baru. Justru karena dengan proses yang sangat lama itu, seperti terseleksi lingkungan dan orang-orang mana aja yang punya pengaruh baik untuk saya dan bisa bikin saya nyaman.

Tapi, kecenderungan untuk cari aman di zona nyaman itu ga berlangsung selamanya. Ternyata ada kalanya saya bosan, bahkan sangat bosan, dengan lingkungan dan rutinitas yang begitu-begitu saja. Saya ingin keluar dari zona nyaman. Dan pertama kali saya memberanikan diri mendobrak kenyamanan itu ketika saya sekolah S2 di Jepang. Pertama kalinya seumur hidup saya benar-benar langsung ke lingkungan baru, bahkan di luar Indonesia. Tidak setahun, tapi butuh 2 tahun buat saya akhirnya bisa merasakan nyaman hidup di Jepang. Tersisa 6 bulan terakhir yang malah bisa bikin saya jatuh hati dengan lingkungan Jepang; udah tau trek jogging yang oke, tempat belanja yang murmer, tempat makan yang enak, dan kawan-kawan dekat yang sefrekuensi. Tapi harus saya tinggalkan.

Saat-saat awal saya tinggal di lingkungan baru, saya akui bisa sampai bikin saya stres berat. Harus adaptasi dengan kondisi sekitar yang masih asing. Harus mengamati sifat orang-orang baru yang akan jadi teman. Apalagi harus penyesuaian bahasa dan budayanya. Sangat tidak mudah sekali bagi saya yang kurang ke-sanguinis-annya ini. Seiring waktu, ketika kebisaan hadir karena kebiasaan, maka saya mulai mengenal lingkungan dengan orang-orang baru dan akhirnya bisa menyamankan diri lagi. Ada faktor dari dalam diri juga sih yang harus berani membuka ‘mata dan hati’ untuk mau menerima keadaan sekarang.

Keluar lagi dari zona nyaman yang susah payah dibangun, ada rasa exciting sekaligus was-was. Seperti siklus yang berulang lagi. Kedua kalinya saya memberanikan diri tinggal di tempat yang sangat baru. Walau sama-sama Indonesia dan di Pulau yang sama, tapi beda budaya dan bahasa Barat dan Timur itu sama seperti jaraknya yang jauh. Namun, kali ini hanya butuh beberapa bulan di awal saja untuk bisa menyamankan diri. Lebih karena faktor kawan-kawan disini yang sangat baik membantu saya adaptasi dan mengidentifikasi lingkungan dengan pekerjaan yang totally new. Sekarang pola hidup saya udah bisa teratur; tau trek jogging yang oke, tempat belanja yang murmer, tempat makan yang enak, dan kawan-kawan dekat yang sefrekuensi.

Tapi, saya harus meninggalkan lagi lingkungan dan komunitas yang nyaman ini. Berpindah lagi ke tempat baru yang (sepertinya) butuh perjuangan ekstra untuk bisa pada zona nyaman. Melatih lagi kemampuan pikiran dan hati untuk bisa menyamankan diri di tempat yang (mungkin) belum nyaman. Semoga ga perlu waktu lama untuk saya tau trek jogging yang oke, tempat belanja yang murmer, tempat makan yang enak, dan kawan-kawan dekat yang sefrekuensi lagi. (adaptasi kerjaannya dilupakan, ahahaha)

But, we will never know until we try, kan?
Do not need worry cause where ever we go, who ever we meet, when ever we need, Allah always there for us.

Hanya keyakinan kalau Allah akan selalu memberikan yang terbaik, maka saya percaya, dimana pun berada dengan orang-orang seperti apa, adalah yang terbaik untuk saya. as long as we try to be the best person.

(H-1 merasakan duduk di kursi kantor, menghadap komputer kantor, dan melihat kawan-kawan kantor di kota Bangil)

1 Comment

Filed under cerita-cerita, saya

One response to “Keluar Zona Nyaman (lagi)

  1. duh kaaaahh..aku benci baca postingan ini..aku tau rasanyaa…dan skrg kamu yg pergi kak😦😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s