Setelah Negatif Terbitlah Positif

Ingatan kita akan suatu peristiwa kadang dipengaruhi peristiwa setelahnya.
Jadi buat kamu yang lagi sedih karena patah hati, karena banyak utang, atau apapun, tenang ajah, nanti juga kalau udah lewat masa galaunya, bakal diingetnya ngga akan separah yang dialami sekarang.

Kata seorang kawan yang mendalami ilmu psikologi di blognya. Saya langsung inget tentang pengalaman saya dan temen-temen se-program S2 dulu yang setiap saat kayaknya kami nangis darah-jungkir balik-gelindingan jurang-manjat tebing-cakarin gedung kampus-gigitin kursi kelas-rontokin pohon sakura-mulut berbusa-busa buat mencak-mencakin orang-orang program dan tugas-tugas para sensei program-sampe pengen loncat ke rel kereta api pas kereta mau lewat di stasiun.. waktu kuliah di Jepang. Pernah saya ceritain masalahnya disini.

Tapi setelah semua terlewati, kejadian demi kejadian dialami, seperti melihat terang sehabis gelap. Saat kelulusan itu tiba-tiba seperti semua cerita masa lalu yang kelam terlupakan. Semuanya senang, semuanya terasa ringan. Begitupun dengan banyaknya pengalaman pahit masa lalu, bisa terlupakan dengan peristiwa demi peristiwa yang dilewati hingga masa sekarang. Tapi menurut saya, tentu saja kalau dari diri sendiri mau mengambil hikmah positif dari kejadian tersebut dan tetap memiliki visi masa depan.

Menurut beliau, segala sesuatu itu berdasarkan mind set dan keterhubungan antara satu kejadian demi kejadian. Lalu bagaimana pikiran kita akan mengolahnya. Apakah itu sedih, senang, baik, buruk, semuanya bagaimana kita ingin memutuskan.

Sulit bukan? lagi-lagi tergantung pemahaman dan keberanian kita untuk memutuskan. Ketika rasa-rasa negatif itu lebih mudah dan masuk akal diputuskan, maka kita akan terus menilai diri kita dengan kenegativan; putus asa, gelisah, galau, stress, bahkan depresi. Kalau mau melihatnya dari sisi positif, semua akan terlihat sederhana dan meringankan pikiran kita sendiri.

Terkadang pengaruh opini masyarakat juga yang dengan mudahnya kita terima daripada fakta diri sendiri yang sebenarnya mampu untuk memutuskan hal yang positif. Toh Allah kan menciptakan manusia, lalu membuat manusia hidup di bumi ini dengan pedoman yang terbaik; Al-Quran dan As-Sunnah. Yang selalu menuntun di pemikiran dan jalan yang baik. Manusianya aja yang ngeyel dan gampang dihasut sama setan untuk terus memikirkan yang susah. Jadinya budaya susah itu yang malah jadi gampang untuk dilakukan.

Hnah, jadi ada dua faktor yang menentukan keputusan kita dalam berbagai aspek. Ada faktor internal dan eksternal. Faktor internal, mau kesimpulan apa yang diri sendiri putuskan. Faktor eksternal, gimana tanggapan orang lain, lalu bagaimana tanggapan luar itu mau diartikan ke dalam pemikiran sendiri. Jadilah kesimpulan yang akan kita pikirkan dan lakukan untuk menjadi manusia yang bagaimana. Positif kah atau Negatif kah.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s