Meluruskan Niat

Kemarin sambil diskusi sama Babeh tentang penempatan bagan Market Analysis di Itakona Room kantor, seperti biasa selalu tiba-tiba berceloteh tentang pemikiran Al-Hikamnya.

Kali ini Babeh nanya: “menurutmu kenapa ada orang berkulit hitam? sedangkan sekarang banyak yang ingin memutihkan kulit.”
Dengan entengnya saya jawab aja: “Takdir Pak” heuheuheu. “kalo orang putih semua, nanti produk pemutih kulit ga akan laku, hehehe”
Babeh: “Haha, Tapi apa maksudnya coba? Bumi ini berputar sesuai porosnya terhadap Matahari. Ada keberagaman cuaca dan musim di setiap bagian Bumi. Ada yang banyak terpapar sinar Matahari, ada yang kurang.”
Saya : “Hooo,, ya ya. Bagian Bumi yang banyak kena sinar Matahari, relatif penduduknya berkulit gelap. Karena pigmen kulit yang banyak itu bakalan memprotek mereka dari bahaya sinar Matahari, dan sebaliknya.”
Babeh: “Betul sekali!”
Saya : “Itu kan secara ilmiahnya begitu Pak.”
Babeh: “Iya tapi ada maksud dari setiap ciptaan Allah kan. Kita mau dikasih kulit gelap atau terang, hidung mancung atau pesek, jari pendek atau panjang, itu semua ada maknanya untuk kebaikan kita. Kecuali kalo gemuk karena pola makan ga sehat sih itu salah orangnya sendiri. Tapi yang kita dapatkan semua ini adalah yang terbaik. Toh ujung-ujungnya kita semua akan berakhir sama, tulang belulang. Jasad ini akan hancur ketika dikubur nanti. Jasad ini ga ada apa-apanya, akan mati. Dan yang tetap hidup adalah Ruh kita. Ruh yang dari alam gaib akan kembali ke alam gaib lagi. Jadi buat apa mempermasalahkan fisik. Tapi sekarang ini orang-orang udah disibukkan dengan duniawi, lupa akan hakikat kembali sebenarnya.”
Saya : -Seperti biasa mengangguk-angguk dan senyum-senyum-

Merenungkan celotehan Babeh yang selalu bikin pencerahan. Karena memang hakikatnya bukan masalah fisik yang harus dipusingkan, tapi bagaimana kualitas kesehatan jiwa kita. Meluruskan niat.. dari setiap keputusan yang diambil untuk melalukan perbuatan dan perkataan. Karena itu semua yang akan dipertanggungjawabkan kelak.

Terkesan sangat simple tentang niat ini, tapi implementasinya begitu sulit. Untuk selalu ingat akan meluruskan niat hanya lillahita’ala semata. Banyak sekali faktor duniawi yang menggoda dan sulit untuk dilawan. Dipusingkan dengan apa kata orang, apa yang dilihat orang, apa yang ideal menurut orang. Inilah resiko bersosial di negeri dengan budaya kepo dan adat istiadat berdasarkan mufakat keduniawian. Padahal orang-orang itu adalah orang lain yang ga akan ada hubungan tanggungjawabnya dengan kehidupan kita jalani di dunia apalagi di akhirat. Jadi, saya perlu sekali untuk selalu merecharge niatan. Meluruskan niat semuanya hanya untuk Allah, melakukan perbuatan dan perkataan yang baik, dengan tetap bermuamalah dengan baik.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, petuah si bos, saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s