Berhati-hatilah

Saat ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan waktu dulu.
Jaman kuliah dulu, s1 maupun s2, bisa bebas mau main dengan siapa aja. Mau jalan-jalan, makan, nonton, sms-an, cetingan, telfonan, banyakan atau hanya berdua aja (terutama sama cowo), bakalan biasa aja. Karena berada di lingkungan yang sama cara pandangnya. Sama prinsipnya. Sama latar belakang pengetahuan sosial dan agamanya. Walau pada dasarnya sifat kami sangat heterogen.
Lingkungan yang bebas bergaul dan berteman dengan siapa aja, selama kami paham batasan interaksi antar lawan jenis. Yang ga sampe harus ada kontak fisik.

Lingkungan saya dulu, baik di rumah, kampus, maupun organisasi, sangat jarang mikir tentang berbagai kepentingan. Baik politik, karir, ekonomi, apalagi harus sibuk ngegosip tentang hubungan cinta seseorang.
Ya pasti ada juga kadang-kadang mendadak heboh kalo dapet berita yang langka. Tapi biasanya langsung dikonfirmasi dan ga berbuntut panjang. Lebih baik cari solusi daripada bikin capek dengan yang ga jelas.
(Beda cerita sih kalo udah urusan politik kampus. Udah persis miniaturnya politik Negara Indonesia).

Sekarang harus bisa lebih menjaga diri. Menjaga sikap dan terutama ucapan.
Berada di lingkungan yang mungkin sebenarnya ga baru, karena saya udah 7 bulan berada di budaya Timur ini, tapi sepertinya cukup berbeda dengan budaya di Barat sana. Atau apa karena dulu di lingkungan idealis mahasiswa sekarang udah di lingkungan realitas masyarakat?

Sekalinya pergi keluar sama seseorang, langsung dibikin geger. Padahal niatan cuman ingin jalan-jalan refreshing atau mumpung ada yang nemenin makan bareng, daripada sendirian.
Dari dulu saya terbiasa makan ga bisa sendirian. Kalo ga sama keluarga, di kampus pasti nyari temen untuk makan bareng. Begitu juga dengan temen-temen yang lain, lebih baik makan barengan atau minimal berdua.
Sekalinya saya makan sendiri, pasti serabutan ga jelas. Ga mood makan bener dan lebih milih ngemil aja seharian (seperti sekarang yang akhirnya bikin jadi gendut, fufufu).
Jadi klo ada yang ngajak makan bareng, saya biasanya oke-oke aja. Lebih enak makan ada temen ngobrolnya daripada sendirian culang-cileung.
Aah, jadi kangen sama Peto, yang suka nongol di lab untuk ngejemput saya nemenin dia makan.

Atau (katanya) kalau ada yang tau jalan-jalan sama makan bareng dengan ‘atasan’, bisa disangka ingin cari muka biar gampang naik karirnya.
Makanya sekarang harus hati-hati banget cerita atau bergaul dengan yang lain.
Bisa-bisa terlalu polos keceplosan cerita ini itu, ga beberapa lama kemudian beredar gosip-gosip ga enak.
Bisa ala bocah SMP yang malah diceng-cengin, atau ala pejabat yang malah nyinyir. kenapa orang-orang ini suka kepo aja sik??? Tapi mungkin beginilah realitas.

Harus lebih jaga sikap, jaga ucapan (baik lisan maupun tulisan). Karena lingkungan yang sekarang berbeda dengan lingkungan dulu. Berbeda cara pandang dan interaksinya. Ga bisa sebebas dulu mau jalan dengan siapapun tanpa khawatir ada yang mikir aneh. Ga bisa juga jadi diri saya yang dulu, suka ga mikir apa-apa nerima undangan yang ngajak jalan atau makan.
Harus sangat hati-hati, ga bisa egois mikir diri sendiri tapi mikirin juga lingkungan sekitar sekarang.
Lebih hati-hati, apalagi karena sebagai muslimah harus bisa jaga diri. Karena Islam sudah mengatur bagaimana interaksi antar lawan jenis yang sebaik-baiknya. Ya itu untuk menghindari dari segala macam gosip bahkan fitnah.

Selamat datang (lagi) di pertarungan realitas masyarakat.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s