Cerita Kopi

Agenda hari sabtu lalu, saya dan Pak Dj udah janjian dengan Mba Iv untuk “menggalau” bersama di salah satu cafe Tunjungan Plaza, Surabaya.
Mba Iv ini anggota keluarga ofis PLI baru. Lulusan S2 Manajemen di Jepang.
Sekarang lagi ditempatin di posisi asistennya Sugegaya san (intrepreter) dan Cak Mat a.k.a Matsumoto san di cost control.
Tinggal di Jepang selama 5 tahun, dengan biaya sendiri.
Makanya selama 5 tahun itu kegiatan dia kuliah dan kerja (baito), salah satu tempat baitonya adalah di Starbucks.
Mba Ivan ini orangnya sangaaaaatttt lincah dan aktif. Hobinya travelling ke tempat alami, seperti naik gunung atau jelajah Pantai.
Seru banget kalau udah cerita. Padahal dari segi umur jauh lebih tua, tapi saya ngerasa jauh lebih muda dia dibanding saya *hiks*.
Karena pernah baito di Starbucks, jadinya sekalian ngopi-ngopi itu kami ingin belajar tentang Kopi.

Dari jam 8 pagi, Pak Dj udah jemput saya di kosan.
Karena memang rencananya kami mau nyari sarapan dulu di Sidoarjo.
Rencananya sih mau nyari sego welut atau kuliner belut, tapi pas lewat tempatnya masih tutup.
Jadinya saya pilih makan salad aja di Pizza Hut. Selain ga pengen kekenyangan sarapan, udah lama banget ga nongkrong di Pizut.
Tapi tetep aja, pas pesen menu sarapan salad, saya tergiur menu pancake oreo Jack-nya.
Jadi saya makan semangkok sereal, sepiring pancake, dan salad. FULL sekali.

Setelah sarapan, duduk-duduk sebentar menikmati suasana kenangan Pizza Hut.
Dulu waktu jaman kuliah, saya sama sahabat saya, linceu, suka pergi makan di Pizut hanya untuk duduk dan ngobrol berjam-jam.
Atau sehabis gajian asisten semesteran, saya dan kawan-kawan asisten Fisika lainnya mendelight di Pizut.
Waktu perpisahan saya mau ke Jepang dulu juga, ngedate sama ceu ur di Pizut.
Atau kalau saya pulang ke Bandung, minta traktiran ke Bang Oki psti di Pizut.
Entah kenapa, suasana di Pizut itu enak banget untuk dijadiin tempat ngobrol lama, padahal mesennya sih menu irit ala mahasiswa aja.

Baiklah, kembali ke topik awal, abis santay-santay sarapan itu, jam 11an kami angkat kaki dan menuju Tunjungan Plaza, Surabaya.
Jalanan Surabaya macet, dan yang ga nahan itu panasnya.
Semakin mengukuhkan saya ga mau berdomisili di Jakarta. gambaran yang mirip dengan Surabaya, bahkan mungkin lebih semrawutan.
Jam setengah 1 siang kami sampai di TP. langsung menuju mushola untuk sholat.
Ternyata Mba Iv udah nunggu di foodcourt.
Abis sholat dan ketemu Mba Ivan, kami ngobrol sebentar sambil mutusin mau makan siang apaan.
Haduuh, padahal perut masih penuh dengan sarapan tadi, tapi kesempatan bisa makan di mall kota itu ga bisa disia-siakan juga (maklum, di dusun Bangil ga ada makanan ‘aneh’ ala kota)

Setelah makan, masih ngobrol-ngobrol yang didominasi seputaran kantor dan kerjaan, sambil menunggu menuju acara ngopi, kami berkunjung ke Gramedia.
Heavenly books! kuat deh lama-lama kalau udah di Gramedia, walalu sekedar ngeceng buku-bukunya dan baca sekedarnya kalau ada buku yang ga disampul.
Belinya sih bisa di Wilis nanti, hihi.

Akhirnya tibalah saatnya kami ngopi.
Cafe yang dipilih adalah Excelso, karena kami belum pernah nyoba kopi ala Excelso yang cukup terkenal enak itu.
Sebelum pesan, saya dan Pak Dj yang awam tentang kopi, minta Mba Iv untuk milihin kopi yang enak.
Dijelasinlah kalau kopi itu bermacam-macam jenisnya sesuai dimana kopi ditanam dan beapa ketinggian perkebunannya dari atas laut.
Semakin tinggi kopi ditanam, semakin baik biji kopi yang dihasilkan.
Perkebunan kopi juga biasanya hanya ada di sepanjang garis katulistiwa. Makanya, kopi Indonesia terkenal juga dengan kenikmatannya.

Kopi yang paling enak, katanya yang berasal dari Kenya.
Kopi Starbucks itu pasti menggunakan jenis Arabica. Karena memiliki rasa bervariasi dan ditanam di ketinggian hingga 2000m.
Prosesnya cukup rumit dibanding kopi jenis lain, sehingga hasilnya juga kopi yang lebih lezat.
Kopi juga berbeda-beda berdasarkan jenis keasamannya (acid).
Misal, Kopi Sumatra lebih rendah asam, sedangkan kopi Jawa cukup asam, dan kalau dibiarkan lama akan bertambah asamnya.
Ternyata cafe latte, cappucino, dan caramel machiato itu sama aja bahannya.
Yang beda hanya dari ketinggian busa dari susu yang paling atas di gelasnya (ngek).

Dari penjelasan dan rekomendasi kopi, saya memilih kopi hitam dari Jawa yang relatif kadar asamnya tinggi.
Sedangkan Pak Dj pilih kopi sumatra yang lebih ramah ke lambung.
Mba Iv sendiri lebih suka latte.
Kalau di cafe khusus profesional kopi gitu, saya lebih suka pesan kopi hitam, semacam espresso.
Lebih enak ke kepala, bisa ngilangin pusing.
Walau cukup penggemar kopi, tapi saya ga pernah ngeh bedanya jenis-jenis kopi yg ada.
Arabica, robusta, sumatera, jawa, dll. Tapi setelah kemarin diicip antara yang Jawa dan Sumatera, ternyata memang beda rasanya.
Saya pernah dikasih kopi Luwak, rasanya lebih lite dibanding kopi lainnya.
Saya paling suka aroma kopi yang keluar dari coffee maker, bikin seger.
Tapi anehnya, kalau saya minum kopi itu ga bikin melek, malah mudah ngantuk.
Kecuali kopi rembah khas Pasuruan sini, kopi hitam yang dicampur cinnamon, jahe, kapulaga, dan rempah lainnya.
Bisa bikin saya minimalisir kantuk di kantor.
Seru juga belajar tentang kopi.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, jalan-jalan, kawan-kawan, kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s