Jumat dan Purnama

Jumat subuh ini, seperti biasa saya bangun sebelum adzan. Ritual rutin setiap bangun, matiin alarm hape dan olahraga jempol liat-liat timeline twitter atau facebook.
Ada satu berita yang bikin cukup kaget. Tertulis “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..” dan berita kalau salah satu Ustadz muda dengan klaim gaul itu meninggal dunia.
Dengan otak yang masih pemanasan, saya ga begitu mantengin juga beritanya. Lebih baik saya beranjak untuk ke kamar mandi, wudhu dan olahraga sendi-sendi badan dengan sholat.

Setelah sholat subuh dan tilawah, jam 5 saya keluar kosan menuju pematang sawah.
Bukan mau macul atau menyiangi padi-padi yang mulai menguning siap di panen, tapi membersihkan paru-paru dari polusi debu, membersihkan otak dari penat kerjaan, dan membersihkan otot dari tegangnya aktivitas duduk depan komputer seharian.

Pas banget, hari ini masuk hari ketiga purnama. Bulan di ufuk Barat masih terlihat bulat sempurna dan memantulkan cahaya yang terang. Disisi lain ufuk Timur, langit mulai perlahan terang berwarna jingga dan merah.
Saat berjalan dengan atmosfer sekeliling masih sangat segar, melihat dua fenomena alam, Bulan yang sempurna cantiknya di langit barat dan ufuk jingga merah yang tak kalah cantiknya di langit timur.
Melihat itu semua, saya hanya bisa menangis.

“Nikmat Tuhanmu yang manakah akan kau dustakan?”
Setiap melihat langit yang begitu indahnya, saya selalu bersyukur Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menghirup oksigen, kesempatan hidup, melihat keindahan-keindahan alam.
Di saat berita mendadaknya meninggal seorang ustadz artis. Umur manusia benar-benar misteri langit.

Kalau sudah begitu, yang ada sepertinya hanya rasa bersalah karena belum bisa maksimal menjalankan hidup ini.
Belum bisa jadi hamba-Nya yang benar-benar bersyukur dan bersabar. Ikhlas dengan segala ketentuan-Nya yang sudah terjadi dan terus berusaha yang terbaik untuk hidup.

Hari Jumat selalu penuh keberkahan. Semoga bisa menjadi manusia yang berpikir, melihat, dan memahami banyaknya tanda-tanda kekuasan Allah di sekeliling kita. Selalu siap kapan pun jiwa ini pergi dari raga dunia.

Leave a comment

Filed under kisah jumat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s