The Voice

Bukan mau bahas The Voice ajang pencarian suara berbakat itu, tapi cerita ajaib yang baru saya tau tentang suara saya.

Kemarin saya dan kawan-kawan dept. engineering pergi ke Malang untuk ngehadirin resepsi nikahan salah satu anggota engineering.
Saya numpang naik mobil temen dari Bangil. satu mobil diisi penuh oleh 8 orang.
Temen-temen yang lain seperti biasa selama perjalanan pasti ngobrol-ngobrol, yang tentang apanya saya ga terlalu ngerti karena mereka pake bahasa jawa gaul.
Ya saya juga biasanya cuman ikutan senyum-senyum atau nyengir-nyengir doang aja. Sesekali ikutan nyeletuk dan komentar kalau kira-kira saya ngerti topiknya.
Pas lagi ngomen itu, tiba-tiba ada seorang Bapak yang bilang:
” Saya tuh seneng kalau denger Mba Dita ngomong. Kayaknya tuh adem. Anggun ngomongnya, enak logatnya.”
Dan disetujui oleh seluruh penghuni mobil.
*ngek!* Baru pertama kali ada yang bilang ke saya secara langsung kalau suara saya ini enak didengar. Padahal nyanyi aja fales, hihi.

Sebelumnya, beberapa malem lalu, ada telfon aneh yang masuk ke hape. Ngakunya sih dari salah seorang anggota bagian timur di ofis. Cuman gelagatnya aneh, dan bukan ngomongin kerjaan.
Dia juga bilang kalo suara saya ini merdu.
Telfon yang aneh dan anomali, jadi segera diakhiri sajja.

Entahlah, apa emang beneran suara saya ini enak di denger, atau hanya karena saya berlogat sunda yang berada di tengah hiruk pikuk logat jawa.
Yang saya sadari, kenapa saya kalau ngomong pelan-pelan, karena peletakkan pola kalimat saya suka berantakan.
Ga jelas dimana Subjek, Predikat, Objek, Kata keterangan. Bisa dengan pola semau saya, yang saya aja kadang bingung apa yang saya omongin.
Makanya untuk ngehindarin hal itu, saya bicara pelan-pelan dan perlu mikir lama sebelum ngomong.
Kejadian ini bermula ketika saya tinggal di Jepang dan otak saya berantakan dengan vocab-vocab bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Malaysia.
Bisa dalam satu kalimat, semua bahasa disatuin, dengan pola grammar yang semau saya. Seperti nulis cerita ini yang banyak kata “saya”.

Tapi saya malah khawatir dan harus lebih hati-hati kalau ngomong. Suara wanita kan salah satu aurat juga. Saya lebih suka dikatakan bersuara tegas daripada bersuara merdu.
Suara merdu saya hanya khusus untuk suami saya kelak #eaaaa😀

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s