Open Eyes, Open Mind, Open Heart

Belum sebulan saya tiba dan tinggal di kota kecil, Bangil, kab. Pasuruan, Jawa Timur.Selama ini pula, saya sudah bertemu dengan orang-orang luar biasa dengan cerita masing-masing.

Misal pertama kali dateng di kantor dan mulai merasakan dunia kerja, ditempatin di departemen yang jauuuuh banget dari bidang keilmuan.
Awalnya saya pikir bakalan di bagian pengembangan sirkuit modul lampu, tapi ternyata ditarik di departemen baru, yaitu Business Planning.
Hanya ada 3 orang di departemen ini; atasan saya, Senior GM yang dari awal berdirinya ini pabrik lampu udah ada (saya suka bikin panggilan buat beliau itu Babeh). Lalu ada adminnya, lulusan SMA yang lagi nerusin S1, orangnya baik banget, bersemangat, dan pekerja keras. Terakhir ada saya, yang ga tau apa2.

Beruntungnya, atasan saya dan partner admin saya ini orangnya luar biasa sabar dan ngajarin banget tentang dunia kerja. Walau salah berapa kali pun kalau ngerjain tugas, ga pernah dimarahin, tapi disuruh benerin lagi sampai perfect, berulang kali.
Dari situ tentunya saya banyak belajar. Kalau lagi diarahin suruh ngerjain tugas, Pakde Bos ini selalu tiba-tiba sambil kasih wejangan ‘spiritual’.
Saya banyak belajar tentang dunia bisnis profesional, strategi marketing, desain produk, tentunya keilmuan komponen lampu, dan banyak lagi. Jadi serasa belajar di Elektro, SBM, FSRD, dan Ekonomi sekaligus.

Selain mereka, saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa lainnya. Pemberi semangat dan banyak yang bikin saya tersentak malu karena kurang bersyukur.
Saya bertemu dengan Mba di departemen akunting, yang berbaik hati ngajak saya jalan-jalan ke NongkoJajar, kaki Gunung Bromo. Disana ada kebun apel, taman bunga, dan pasar buah sayur segar. Lalu nemenin saya yang penasaran ke Bakpao Telo, Malang. Semuanya ditemenin sama Mba tersebut.
Sambil di perjalanan yang menggunakan umum, sambil saya dengerin cerita kehidupan Mbaknya. Sudah berumur 35 tahun, tapi belum menikah. Dengan pengalaman kisah-kisah cintanya yang banyak kandas dan hanya bikin sakit hati, tapi masih semangat untuk mencari jodoh.
Aah, saya yang suka mengira punya pengalaman masa lalu paling menyedihkan, kalau dibandingin dengan kisah Mbaknya, masih kalah juga. Melalui Mbaknya, Allah membantu saya membesarkan hati untuk ga selalu menyesali dan mengutuk masa lalu.

Atau cerita tentang temen kosan yang kamarnya di depan kamar saya, dia sekarang kerja di perusahaan jepang juga yang mengekspor pintu untuk ke Jepang. Ternyata orangtuanya bercerai ketika dia masih sekolah dulu. Sekarang dia lebih sering berkunjung ke tempat ibunya yang punya usaha foto kopi. 
Ada lagi cerita kawan admin saya yang ibunya menikah dua kali. Dia anak dari suami kedua ibunya. Entah bagaimana ceritanya, tapi dia merasa baik-baik saja dan selalu ceria.

Di lain hari, ada temen baru dari departemen Procurement yang main ke kosan. Dia baru lulus kuliah dan langsung kerja di pabrik lampu ini. Dia ga pernah main kemana-mana kalau wiken, diem aja di kosan. Alasannya adalah masa lalunya. Ternyata dia udah ga punya orangtua semenjak kecil. Orangtua meninggal karena sakit, sehingga dia ga bisa merasakan kasih sayang orangtua dari kecil.
Semenjak orangtuanya ga ada, dia dan adiknya, tinggal bareng bibi. Tapi dia ga ngerasa nyaman karena perlakuan anak-anak bibinya yang kurang bisa nerima dia. Makanya semenjak sekolah dan kuliah, dia banyak menghabiskan waktunya di kampus, sisanya dia bekerja sebagai pengajar les atau solder barang2 elektronika. Bagaimana caranya dia bisa membiayai hidupnya dan adiknya tanpa ngerepotin bibi.
Dari dia, kembali saya sangat ditampar keras oleh Allah. Betapa saya kurang bersyukur masih memiliki kedua orangtua yang sehat dan selalu memberikan kasih sayang.
Saya ga tau, ga bisa bayangin juga, rasanya ga punya orangtua semenjak kecil. Bagaimana irinya melihat temen-temen yang lain bisa pergi dengan orangtuanya.

Masih banyak lagi cerita-cerita temen-temen saya di kantor. Perjuangan orang-orang yang membuat mereka seperti sekarang. Masih hidup dengan bersemangat dan terus optimis.
Ga bisa saya bandingin dengan cerita temen-temen di bagian Barat sana. Yang kebanyakan hidup sempurna secara materiil atau keluarga. But, don’t ever judge a person by the way they’re now. We don’t know what happened at their past time.

Subhanallah.. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk ke jalan-Nya.
Dibukakan selalu mata, pikiran, dan hati kita untuk peka terhadap sekeliling.
Menambah rasa syukur dan meningkatkan kesabaran.
Diberikan segala sesuatunya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat kita.
Aaamiin..

1 Comment

Filed under cerita-cerita

One response to “Open Eyes, Open Mind, Open Heart

  1. Kosnya di Bangil dimana ya mbak? Saya cari kos di daerah PIER kok susah cari yang enak, jadi mau cari di daerah Bangil atau Pasuruan dekat kotanya. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s