Takdir 1 Muharram 1434 H

Seharusnya hari ini libur kerja, karena tanggal merah, Tahun Baru Hijriyah.
Tapi entah kenapa saya kerajinan malah masuk kantor, gara-gara temen2 engineering lainnya pada masuk juga.
Selagi nyicil ngerjain kerjaan saya di Business Planning, sambil email-emailan sama sobat yang di Jepang.
Untungnya di Jepang ga ikutan liburan juga, jadi saya ada yang nemenin ga jelas selagi dia lagi eksperimen,hihi.

Abis ngalor-ngidul ngomongin topik yang biasanya seputaran yangsei dan gansei dia, tiba-tiba beralih topik ke yang berat.
Tentang “Takdir”.
Topik yang suka tiba-tiba dibahas ama pakde Bos disini juga.
Saya nanya tanggapan dia tentang “Takdir”.

Ini jawabannya:

Manusia dilahirkan dengan segala ketentuannya itu pasti. Saya ga pernah tau apa yang Allah rencanakan untuk saya. Yang jelas saya ga mau ribet mikirin itu,, karna logika ga pernah bisa sampai pada satu kesimpulan :))). Cuman yang jelas saya punya keinginan dan cita-cita. Bersyukur ketika kita berada ditengah lingkungan yang bisa mensuport kita dan mengarahkan kita jangan sampai salah melangkah. Nah dari situ saya hanya meyakini bahwa tugas saya adalah berusaha keras. Dan doa adalah salah satu penghubung saya dengan Allah SWT supaya bisa lebih mengarahkan. Pastinya kita ga bisa liat dia atau mendengar dia bicara kalo apa yg sy lakukan itu salah atau benar. Dia bicara dengan cara yang sering banget ga pernah bisa dimengerti.

Kalo bicara takdir bisa dirubah apa engga,, saya ga bisa jawab karna kita sendiri ga tau takdir kita yang sesungguhnya apa. Iyakan??

Contohnya aja dari dulu sy pengen ke eropa,, ga pernah kepikiran sedikitpun lanjut kuliah di jepang. Usaha saya ya eropa. Browsing sana-sini,, email sana-sini,, submit ini-itu. Tapi hasilnya?? Nihil!! Tiba-tiba ada tawaran kejepang dan jalannya begitu dimuluskan tanpa hambatan yang berarti dengan segala persiapan yang amat sangat minim. Maka saya yakini bahwa takdir saya memang harus ke jepang, ituteh disebut qadar atau takdir bukan?? Ssesuatu yang harus kita lewati sebelum ahirnya menuju satu titik yang mungkin memang itulah kita seharusnya.


Terus apa bedanya orang islam sama non?? Kalo gitu sama ajadong?? Kalo sayasih meyakininya orang yang bekerja keras dan doa,, pastinya akan tetap ounya nilai plus tersendiri :))

Ya kalo bicara keinginan,, mungkin tanpa kita sadari nafsu kita lebih menguasai. Jadi di saat gagal,, seolah-olah takdir kita begitu buruk. Padahal mungkin saja itu petunjuk kalo sebenernya itu bukan takdir kita. Iya ga sih??? Malah bisa-bisa kita memikirkan takdir berdasarkan opini publik?? Aaah ribet!!

Terus gimana,, kenapa ada orang miskin,, kaya,, item,, ganteng,, gendut dsb?? Apakah dia memang ditakdirkan untuk menjadi miskin?? Jahat bangetya kalo gitu yang bikin takdir :))

Saya berpendapat bahwa sebenernya hukum keseimbangan itu harus berlaku disemua hal. Artinya akan ada yang negatif dan positif. Walopun sebenernya negatif atau positif itu untuk beberapa hal itu didefinisikan oleh manusia itu sendiri. Orang utem dipandang jelek,, orang miskin dipandang jelek,, irang gendut dipandang jelek,,itukam definisi manusia ya??

Lalu apakah pelacur atau koruptor itu takdir dari allah,, kata sayamah itu pilihan dia sendiri. Mungkin takdir dia bukan itu,, hanya saja mereka terlalu cepat berputus asa.

Yaaaaa kalo saya pribadi sih meyakini bahwa saya dipilih untuk lahir kebumi ini dengan menjadi pemenang dari jutaan sperma lainnya karna satu alasan. Yaitu Allah ingin saya menjadi SESUATU. Sesuatu itu apa?? Wallahualam,, saya hanya mencoba mengikuti kata hati dan berdoa semoga kata hati itu benar😀

So takdir bisa dirubah apa engga?? Saya hanya bisa bilang:
“apa yang terjadi dengan saya yaaa itulah takdir saya”

saya ga tau apakah saya sudah mengubah takdir apa belum. Karna sekali lagi,, saya ga tau qada saya seperti apa😀

Yaa, memang seharusnya seperti itu kan definisi Takdir itu…
Berpikir tentang Takdir. Sebenernya indikasi kalau saya masih belum percaya sepenuhnya sama ketentuan Allah.. astaghfirullah.
Kadang masih suka bertanya, kenapa? Kenapa? Kenapa?
Hal yang jawabannya sudah pasti, karena Allah menghendakinya begitu untuk kebaikan saya.
Sekarang setiap berdoa hanya bisa meminta ampunan.
Dari sholat yang ga khusyu’, dari sedekah yang masih berat, dari pikiran yang masih su’udzhon, dari harapan terhadap manusia.

Astaghfirullahal’adzhiim…

Btw, Selamat Tahun Baru HIjriyah.
Semoga kita bisa Hijrah ke hati yang lebih baik.🙂

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s