Jangan Berdoa!

Oops! pindah haluan dari yakin akan kekuatan doa ke ga usah berdoa.
Maksudnya, jangan berdoa jika mengharapkan sesuatu yang bakalan kecewa kalau hasilnya ga sesuai.
Tapi berdoalah untuk mendapatkan pahala..

Berawal dari hari pertama interaksi dengan atasan.
Senior General Manager, yang udah 16 tahun lebih mengabdi di perusahaan, namanya Pak Lukman.
Awalnya belum bisa dapet instruksi dari beliau, karena ada bisnis trip ke Jakarta, jadi baru efektif hari senin ini.

Sebelumnya banyak denger tentang pola kerja beliau dari bawahan yang satu divisi dengan saya.
Katanya beliau ini hardworker dan workaholic banget!
Setiap hari dateng paling awal, pulang paling akhir, bahkan sampe nginep di kantor. Sabtu aja masuk kerja dong!
Udah kebayang ini orang macem orang Jepang aja yang emang workaholic, yah ga beda dong saya kerja di sono atau disini.. (lohm kerja kok mau nyantei :D)

Tapi, beliau ini sabar luar biasa.
Ga pernah marah, selalu ngebimbing dengan pelan-pelan sampai ngerti, dan suka ngasih motivasi yang sangat membangun untuk kemajuan para bawahannya.
Jangan takut salah dan gagal, asal jangan sok tau.

Akhirnya saya buktikan sendiri rumor tentang beliau ini.
Mulai hari efektif saya kerja, dipanggil ke meja kerjanya.
Lalu mulailah saya diterangkan tentang divisi businiess planning ini.
Apa yang dikerjain, bagaimana jobdesknya, siapa yang akan dihadapi, karakter kami harus seperti apa.
Yang ujung-ujungnya beliau ngasih wejangan, yang bagi saya tepat sekali dengan keadaan saya sekarang.

Beliau memberikan pandangannya tentang “Doa”.
Cukup kontroversial, karena pertama kali beliau berkata bahwa “berdoa itu ga akan ngerubah apa-apa, karena semuanya sudah ditakdirkan.”
Ketika menyampaikan hal itu, Pak Lukman bilang konsep yang dia yakinin emang banyak yang menentang.
Toh selama ini taunya kan dengan berdoa maka akan dikabulkan, ustadz-ustadz aja pada bilang begitu.
Saya pun banyak mengalami kejadian ketika udah berdoa banyak yang terwujud.
Tapi beliau menjelaskan, berdoa itu untuk mendapatkan pahala, sedangkan apa-apa yang sudah dan akan terjadi adalah takdir dari Allah.

Beliau bagi-bagi ilmunya, katanya manusia itu terbagi dalam 2 golongan;
1. Golongan Asdad; yaitu golongan manusia yang sangat mempercayai dan meyakini hubungan sebab akibat.
Golongan ini yang biasanya para intelek, yang sekarang hampir semua manusia menganut prinsip sebab akibat ini.
Kalau sukses karena kerja keras, kalau kaya karena sedekah, kalau naik pangkat karena kinerja, dll.
Golongan yang pamrih, beramal karena sebenarnya ingin sesuatu, padahal tidak demikian.
Hasil dari golongan ini adalah mental mudah kecewa dan putus asa ketika yang didapatkan ga sesuai dengan permintaan atau harapan.

Padahal menurut beliau, segala sesuatu yang kita alami dan dapatkan itu adalah sudah ditakdirkan Allah.
Kita mau sukses atau gagal, proyek pekerjaan kita mau lancar atau tersendat, mau banyak customer atau sedikit, itu semua sudah ditakdirkan Allah.

2. Golongan Tadjrid; golongan para soleh. Paling patuh dengan perintah Allah, yang beramal benar-benar hanya karena Allah.
Golongan tingkat paling tinggi, yang pasrah sepasrah-pasrahnya dengan segala keputusan Allah.

Bukan berarti malah menjadikan hal ini pemikiran untuk gak usah berdoa aja, justru tetap harus berdoa dengan niat untuk mendapatkan pahala.
Karena ketika nanti di akhirat, hanya Rahmat Allah saja yang bisa menyelamatkan kita dari api neraka.
Kita berdoa karena perintah Allah, karena Allah suka hamba-Nya yang meminta.
Tapi bukan berarti menagih doa tersebut, justru membuat diri kita pasrah total akan keputusan yang Allah tetapkan.
Yang harus dilakukan adalah berusaha sebaik mungkin, belajar dan bekerja sekeras mungkin, karena itu adalah perintah Allah.
Untuk hasilnya, pasrahkan saja sama Allah. Sehingga ga ada itu istilah kecewa dan putus asa karena ga sesuai dengan keinginan atau doa kita.

Kata beliau, manusia memang aneh.
Banyak sekali meminta yang sebenarnya berbenturan dengan keinginan.
Misal, berdoa ingin masuk surga, tapi minta diberikan istri cantik atau jabatan tinggi, yang mungkin aja hal itu malah menjerumuskan ke dalam neraka.
Manusia itu banyak angan-angan, pengharapan yang malah menyulitkan untuk melihat takdir Allah.
*saya angguk-angguk juga*

Lalu saya bertanya, jadi doa yang gimana biasanya beliau panjatkan.
Pak Lukman bilang, induk doa saja, Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina ‘adzaabannaar.
Mohon ampunan kepada Allah dan mohon dijauhkan dari api neraka.
Itu saja…
Selebihnya mencoba memasrahkan kepada Allah, yang penting udah usaha paling keras dan terbaik.

Intinya, jadi nanti di divisi saya bakalan banyak berhubungan dengan dunia luar, dengan “customer”.
Kami harus sekreatif mungkin untuk mendesign produk baru yang bermanfaat, dan mencoba menawarkannya ke relasi.
Tapi jika hasilnya ga ada kata deal, ya udah ga usah kecewa dan putus asa.
Terus lanjut bikin konsep lainnya, menghubungi pihak lainnya, begitu saja terus.
Biarlah hasilnya pasrahin aja sama Allah.
Makanya Pak Lukman ini ga pernah marah dan selalu sabar ke bawahannya ketika ngasih tugas atau gagal dalam proyeknya.
Karena semua itu sudah ditakdirkan Allah.

Aah, setelah dikasih wejangan seperti itu, saya jadi sadar.
Bahwa selama ini saya berdoa yang pamrih.
Memang saya berdoa ini itu karena ingin dikabulkan yang sesuai permintaan saya.
Saya memaksa pada Allah agar mengabulkan doa-doa saya.
Padahal belum tentu apakah saya akan ‘beruntung’ atau ‘merugi’, apakah saya akan keewa dan putus asa jika hasilnya ga sesuai permintaan saya.

Jadi bikin saya semangat untuk kerja dan semakin yakin pada Allah.
Saya ditempatkan disini karena takdirNya, agar saya banyak menerima rezeki seperti diingatkannya tentang hidup dari atasan saya ini.
Bahwa Allah itu Maha Sayang.
Allah ga ingin hamba-Nya terjerat dilematis duniawi, Allah ingin hamba-Nya hidup tenang dan damai, Allah ingin hamba-Nya ga khawatir dengan hidup.
Semuanya sudah ditetapkan, dan Allah pasti menetapkan yang paling baik untuk hamba-Nya yang berpasrah.

Terima Kasih Allah,
melalui Pak Lukman saya banyak belajar dan diingatkan lagi…

 

 

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, petuah si bos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s