Pak Paijo

Hari pertama saya datang ke kantor, langsung ketemu dengan staff HRDnya untuk pengisian biodata pegawai da nada pembahasan kontrak training dengan GM HRD.  Hari itu kebetulan lagi ada kedatangan banyak orang Jepang dari kantor pusat untuk meeting dan training. Jadinya, GM Dept. Engineering and Development sangat sibuk. Walhasil saya pun banyak nganggur setengah harian itu.

Siangnya setelah makan dan sholat, saya diajak tur keliling pabrik untuk ditunjukkan ada proses apa aja di pabrik lampu ini. Orang yang menjadi guide saya bernama Pak Paijo.

Pak Paijo, sudah berumur 68 tahun, tapi kelihatan banget masih muda dan sehat. Rambutnya hanya sedikit beruban, giginya pun masih lengkap. Beliau cerita, sudah 34 tahun bekerja di Ph*lips, setelah pension dan istirahat 4 tahun di rumah, pihak Pan*sonic mempekerjakan beliau sebagai tenaga ahli.Hingga sekarang Pak Paijo sudah 11 tahun mengabdi di perusahaan.

Tur pabrik memakan waktu sampai sore, mulai dari bagian pembuatan gelas lampu, cara kerja lampu hingga menyala, uji ketahanan lampu, rangkaian lampu, dll. Dijelaskan oleh Pak Paijo.

Keliatan sekali, beliau sangat meguasai segala seluk beluk di bidang perlampuan ini. Semua bagian beliau terangkan dengan cukup detail, baik dari segi fisika maupun kimiawinya. Walau beliau bilang hanya lulusan sekolah rendah, dari segi teorinya mungkin beliau ga terlalu paham, tapi dari segi praktikal di lapangan, Pak Paijo ini memang udah super masternya. Mungkin para enjiner lulusan perguruan tinggi terkenal dan cum laude pun kalah jauh dengan pengetahuan Pak Paijo.

Selagi diajak jalan-jalan di pabrik, melihat bagaimana produksi lampu, sambil Pak Paijo mengeluh bahwa banyak hal yang seharusnya diperbaiki pada system kerja di  pabrik. Jika dibandingkan dengan perusahaan lampu saingan Ph*lips, banyak sekali ketidakefektifitasan dalam menggunakan mesin atau tenaga pekerja di perusahaan ini.

Tapi, walau Pak Paijo sudah mencoba untuk menyampaikan ke pihak atasan, selalu saja ditolak dan tidak diacuhkan sarannya. Jadi beliau menyerah saja dan membiarkan gimana maunya pihak atasan dan berwenang.

Orang seperti Pak Paijo ini yang seharusnya lebih didengar saran-sarannya dan dicoba untuk direalisasikan di kawasan pabrik, jika perusahaan ingin menang bersaing dari perusahaan lampu yang sudah punya akar kuat di Indonesia seperti Ph*lips.

Orang seperti Pak Paijo ini, walau hanya bersekolah sangat rendah, tapi dengan pengalaman puluhan tahunnya, bikin saya kagum dan semakin sadar bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Memang kadang jadi mikir ga guna juga sekolah tinggi, mecahin rumus super ribet dan rumit, yang ujungnya hanya ngabisisn kertas setelah ujian langsung lupa, tapi dari segi aplikasinya malah ga kepake.

Mungkin udah sering dibahas perihal seperti ini. Ketika teori hanya seperti b*llsh*t saja ketika sudah dilapangan. Tapi memang tetap aja , dasar ilmu pengetahuan itu sangat penting dan sebagai landasan hipotesa untuk pengembangan aplikasi ke depannya.

Toh ilmu tanpa aksi sama aja dengan tong kosong, sedangkan aksi tanpa ilmu seperti ketololan. Sudah tertulis di ayat Al-Quran juga, bahwa “janganlah kamu melakukan hal yang tidak ada pengetahuan di dalamnya”

Perlu adanya sinergi antara orang teori dan lapangan. Para enjiner dan desainer yang duduk di depan komputer, perlu turun langsung ke pabrik mendengarkan saran para veteran seperti Pak Paijo.

Walau para pekerja pun belum tentu paham secara teori apa yang mereka kerjakan. Hanya cukup bekerja sesuai instruksi, mematuhi setiap langkah kerja, dan berusaha sejauh mungkin melakukan kesalahan kerja.

Alhamdulillah, hari pertama saja Allah sudah memperlihatkan saya alasan kenapa saya bisa ditempatkan di kota terpencil dan berurusan dengan dunia pabrik.
Untuk bertemu dengan orang-orang yang bekerja, seperti Pak Paijo dan kawan-kawan di kantor lainnya, juga dengan kawan-kawan yang bekerja langsung di pabrik.

Langsung diperlihatkan bagaimana sulitnya birokrasi perusahaan (gimana birokrasi pemerintah yak,hihi) dan cukup terlihat kesenjangan status pekerjaan.

Semoga Allah selalu membimbing dan membuka hati serta pikiran saya untuk melihat yang baik dan benar, sebagai ilmu dan pengalaman yang menjadikan saya wanita lebih baik dan benar lagi.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s