Setahun

Memang ‘waktu’ itu relatif ya?

Setahun pertama ketika baru sampai Jepang, terasa lamaaaa sekali.
Menunggu waktu untuk pulang pertama kali itu terasa lambat.
Ingin segera di hari kepulangan.
Bertemu keluarga, dan berkumpul lagi dengan kawan-kawan dekat.

Setahun terakhir, malah terasa cepat.
Tau-tau udah berakhir aja.
Tau-tau udah pada lulus aja.
Tau-tau udah pada nikah aja.
Tau-tau udah pada ngelahirin aja.
Tau-tau udah banyak berubah.
Kekeluargaan, persahabatan, kebersamaan, sudah kurang terasa.
Mungkin karena masing-masing udah ada ‘lahan’ menyemai kebersamaan yang lebih real.
Sehingga akan pulang terus itu terasa sangat biasa saja.

Yep, Waktu benar-benar akan terlewati.
Tinggal bagaimana menyikapinya.
Bisakah memilih dengan bijak dari banyaknya pilihan, sehingga meminimalisir penyesalan dan keluhan?
Bisakah berpikir lebih jauh untuk masa depan, untuk keluarga dan masyarakat, tanpa mementingkan perasaan diri sendiri semata?

memang wanita selalu disibukkan dengan perasaannya sendiri

Begitu kata Azzam di PPT.
Padahal, memilih banyaknya bukan berdasarkan perasaan, tapi logika!

Waktu berlalu, semoga waktu yang terlewati itu bisa menjadikan diri lebih dewasa dan bijak.
Mungkin suatu saat, banyak hikmah yang bukan untuk diri sendiri, tapi untuk generasi selanjutnya.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, memoar jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s