Ironis

Kompas/ Putu Fajar Arcana

Rumah seadanya menjadi lingkungan hidup para perempuan Lombok sehari-hari, seperti Rudiah (60), warga Dusun Banyumulek, Desa Banyumulek, Lombok Barat.
Hebatnya, kemiskinan dan realitas hidup yang keras justru membuat para janda ini terus menggeliat menyiasati hidup.
Mereka bekerja mengolah tanah dan tidak menyerah meski berjam-jam duduk demi menghasilkan Rp 400 untuk satu piring tempat sambal kecil. Bahkan, untuk vas bunga setinggi satu meter, mereka hanya menghasilkan Rp 15.000 dan itu dikerjakan selama lima hari.
Padahal, benda-benda yang diproduksi di gang-gang kumuh itu kemudian dijajakan di gerai-gerai seni di Bali dengan harga berkali-kali lipat.
Di mana keadilan? Seperti kompak, para janda itu menjawab, ”Hanya ini yang kami punya. Selebihnya silakan dinikmati hasilnya.” Ungkapan pasrah, tetapi tak menyerah…

Mereka miskin bukan karena mereka malas, tetapi karena mereka tidak dilindungi!

source: muhammadakhyar

Di sisi lain..

Simaklah sekilas sikap dan pola hidup kalangan ”menengah atas” Indonesia.
Apa yang tampak sebagai tujuan mereka?
Maaf, saya kasar: menjauh dari ”kampung” dengan cara apa pun, menciptakan jarak sosial yang sebesar-besarnya terhadap sang jelata dan memilih menutup mata terhadap gejala sosial tak enak.
Untuk itu, apa yang dilakukannya? Berlindung di belakang kaca mobil hitam, mengirim anak ke sekolah yang eksklusif, hidup di hunian elite, pergi ke restoran yang mahal—kalau bisa di mal tanpa akses bagi pejalan kaki di mana bakal disalami petugas satpam atau dilayani valet yang bungkuk-bungkuk.
Berwajah ramah terhadap sesama dan sombong terhadap bawahan.
Sekali-kali merogoh kantong untuk pengemis agar mendapat ”pahala” dan menyisipkan lembaran Rp 50.000 kepada sopir agar merasa ”dermawan”.
Mungkin ”mengomongkan” KPK dan toleransi agama, tetapi menutup mata terhadap mereka yang menggali lubang jalan di depan rumah dan tak mau tahu nasib rakyat tanpa tanah atau yang hilang hak ulayatnya di pulau nun jauh di sana.
Pendeknya, hidup di kapsul steril nan terproteksi di mana bisa mimpi enak-enakan tentang peringkat PNB dan meratapi kegagalan sepak bola.
Pokoknya buta.
Namun, kalau elitenya memang buta, bukankah Indonesia bisa menjadi negara gagal dengan begitu saja, hampir-hampir tanpa disadarinya?
Itulah memang masalahnya: bisa. Namun, itulah juga fungsi bagi LSM-LSM humanistis murni: membuka mata mereka yang ”buta” itu. -John Couteau-

Sehari-hari saya disini hanya berkutik di dunia maya, bergantung pada informasi melalui internet.
Baik itu kabar negara Tanah Air Tercinta, Indonesia, atau kabar dunia lainnya.
Sumber paling saya sukai dan pantengin setiap saatnya adalah media Tumblr.
Disana saya bertemu dengan komunitas kawan-kawan Tumblr yang sangat idealis, agamis, humanis, kritis, dan -is positif lainnya.
Contohnya berita tentang negara Indonesia diatas yang dikutip salah satu kawan Tumblr yang sangat humanis, politis,  dan cinta sastra.ye

Ironisnya, ketika saya bosan dengan sepinya telinga dan membuka saluran tivi Indonesia via streaming,
Saya disuguhin infotainment-infotainment, show-show, audisi-audisi, iklan-iklan, yang menjunjung tinggi high class life style.
Seperti pernikahan mewah, rumah dan mobil baru, jalan-jalan ke luar negeri, fashion eropa dan korea, produk-produk kosmetik yang menuntut wanitanya untuk tampil sempurna dengan berwajah putih dan bertubuh langsing, dll.
tsk.. saya yang manusia hanya bisa mengeluh dan mencibir ini, selalu dibuat bingungdengan itu semua.
Keadaan yang dimana ada orang tinggal dirumah bermilyar-milyar sampai hanya beralaskan dus bekas air kemasan di kolong jembatan, padahal mereka hidup di satu kota.

Ya, sangat ironis bagi saya.
Walau permasalahan kesenjangan sosial ini sudah ada dari jaman dulu, tapi semakin kesini semakin terlihat jauhnya jarak itu.
Ditambah harus saya akui kalau saya pun terkena imbasnya.
Masih mengukur sesuatu berdasarkan materi keduniawian dan bagaimana tanggapan orang lain.
Terpengaruh harus berapa nilai materi dunia fana ini.

Huft..
Astaghfirullahal’adzhiim..

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, memoar jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s