Rencana (niat) Berjangka

Apa yang didapatkan atau dinilai itu akan berdasarkan niatnya.

Bagi saya sepertinya udah cukup lama ga diingetin tentang perihal meluruskan niat ini.
Selama ini saya mengerjakan sesuatu, ya dikerjain aja.
Banyak niatan yang bersifat materi atau duniawi.
Tapi akhir-akhir dari media tulisan yang suka saya pantau, ada yang mengingatkan kembali mengenai niat.

Ketika saya beribadah pun, niatnya ga murni karena Allah, I admit that.
Pernah saya berniat ibadah dengan rajinnya karena ingin jodoh yang sesuai dengan kebiasaan ibadah saya; tahajud, tilawah, dhuha, rawatib, shaum.
Tapi mungkin karena niatnya hanya untuk itu, dan saya pun belum bisa istiqomah, akhirnya ibadah-ibadah saya menurun kuantitasnya, apalagi kualitas.
Malah semakin ngerasa kosong dan ga bermakna.
Apa mungkin karena niat saya yang kurang tepat?

Tapi bukankah pasanganmu adalah yang sesuai dengan sifat dan kebiasaan kita?
Mungkin ada yang maksudnya leksikal atau pun derivatif, tapi saya percaya akan hal itu.
Maka, ga ada salahnya kan emang beribadah karena ingin pasangan hidup nanti pun bisa sama kebiasaan ibadahnya?

Tapi memang tetap meluruskan niat beribadah karena ingin mengharap rahmat Allah itu yang paling utama.
Sambil jalan beribadah, sambil terus memperbaiki niat lagi.
Jadinya saya memiliki rencana (niat) berjangka untuk hidup saya.

1. Jangka pendek

Ya, saya tetap ingin pasangan hidup saya nanti memiliki kebiasaan ibadah yang sama.
Paling tidak untuk saat ini, saya udah rutin dhuha, rawatib, tilawah dan baca artinya. Tahajud masih bolong-bolong, tapi diusahakan untuk rutin.

2. Jangka Menengah

Saya tau, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, hasil bagaimana Allah. Siap-siap kecewa jika berharap pada manusia.
Untuk itu, saya juga harus menyiapkan diri jika Allah memberikan pasangan yang ga sesuai keinginan dan bayangan saya.
Jadi untuk jangka menengah, saya mempersiapkan diri untuk menjadi istri dan ibu yang terbaik.
Mulai mendisiplinkan diri; baik ibadahnya, belajarnya, mengontrol diri dari hal-hal yang kurang bermanfaat bagi jasmani maupun rohani.
Karena anak itu adalah cerminan orangtuanya, jadi kalau ingin anaknya baik, udah hal mutlak dari orangtuanya dulu yang harus baik.
*makanya saya selektif banget milih calon (Yaiyya,kayak yang ada ajee :p)*

3. Jangka Panjang

Sudah jelas, semua parameter duniawi itu hanya bisa diusahakan keterwujudannya, tentu dengan sokongan doa, dan paling utama tawakal yang ikhlas.
Yang namanya berharap materi di dunia ini, siap-siap harus kecewa.
Maka, untuk rencana/niat jangka panjang kenapa saya harus mendisiplinkan dan membaikkan diri, ya karena ingin bahagia di akhirat nanti.
Di Surga-Nya, mendapat Rahmat-Nya.
Untuk ini saya yakin kalau saya ga akan dikecewakan.
Saya yakin saya akan mendapatkan apa yang saya niatkan ini.
Jadi, sedikit demi sedikit saya mendisiplinkan diri untuk ibadah, belajar, bekerja, dan semua aktiivitas hidup lainnya untuk saya sendiri, untuk pasangan hidup, untuk anak-anak, dan untuk Allah.

Semoga bukan hanya sebatas di-niat saja.
Tapi memang benar-benar bisa direalisasikan.
Menjadi wanita yang berintegritas.

3 Comments

Filed under cerita-cerita, memoar jepang

3 responses to “Rencana (niat) Berjangka

  1. Faiz

    Kata-kata yang saya cari, terima kasih sudah mengingatkan.

  2. hamba Allah

    iklaskan jadi diri sendiri, serahkan pada Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s