Senja, Bintang, Malam

Senja..
Mengapa begitu banyak manusia yang terkagum-kagum dengan senja?
Mengapa senja bisa membuat seorang manusia merangkai puisi, lagu, sajak yang begitu memukau sekaligus menyayat?
Mengapa seorang insan bisa merasakan indahnya jatuh cinta, sedangkan di sudut lainnya ada yang merasakan sakitnya patah hati hanya dengan menatap senja yang sama?

Senja..
Saya mengakui cantiknya semburat senja.
Saya pun termasuk pengagum lembutnya jingga senja.
Saya pernah sangat jatuh cinta pada senja di ufuk barat.
Saya pun pernah sangat tersiksa karena kenangan senja.

Mengapa senja?
Padahal setelah senja menghilang perlahan, muncullah gelap.
Gelap.. Yang ada hanya cahaya-cahaya fana buatan manusia,
yang semakin lama semakin memakan banyak energi dan menggoyahkan kestabilan alam.

Ah ya.. Ada Bintang dan Bulan.
Salah dua dari ciptaan Allah yang bisa bikin manusia lagi-lagi menjadi pujangga.
“jangan lihat pekatnya langit malam, tapi lihatlah ada sinar bintang dan temaram bulan yang membuat cantik.”
Begitu kata mereka yang (mungkin) berpikiran positif.
Bintang memang menghasilkan cahayanya sendiri, tapi Bulan? Sinarnya adalah pantulan dari Matahari.
Jujur, saya belum pernah memperhatikan bulan dengan seksama.

Bintang..
*play: yellow-coldplay*

Malam..
Di saat sepertinya romantisme itu hanya bisa dirasakan.
Entah bagaimana cara magisnya malam bisa membuat jutaan insan terlena dengan caranya masing-masing.
Terlena oleh cinta, terlena oleh luka, terlena oleh jalanan, terlena oleh lagu, terlena oleh makanan, terlena oleh buku, atau sekedar terlena oleh tontonan televisi.

Senja, bintang, dan malam.
Paduan yang sepertinya bisa membuat setiap insan manusia masuk ke dunia yang diimajinasikan sendiri.
Apakah itu baik, apakah itu buruk, apakah itu lembut, apakah itu kasar, apakah itu positif, apakah itu negatif.
Semua manusia bebas mengekspresikan keinginannya ketika paduan semesta itu datang.

Saya?
Layaknya manusia normal lainnya yang mudah terpengaruh 3 kekuatan alam tersebut.
Pernah Jatuh cinta pada indahnya senja, cantiknya bintang, dan tidak sabar menanti malam.
Begitu pun pernah bangun benci pada silaunya senja, abstraknya bintang, dan pekatnya malam.

In the end, I just wanna thank Allah..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s