Silly Saturday

Entah karena emang faktor disini jauh dari komunitas, lalu hanya bisa semuanya diserahin ke Allah.
Kalau galau larinya cuma bisa ke Allah dan berusaha menguatkan diri sendiri.
Semuanya serba sendiri, memahamkan bahwa “apa yang terjadi pasti yang terbaik, everything happens for a reasons, (dan segala kalimat-kalimat yang bikin optimis)”
Atau emang Allah sayang ke saya makanya saya ngerasa dijaga perasaannya?

Apa mungkin beda ceritanya kalau saya tinggal di lingkungan yang deket dengan keluarga dan kawan-kawan?
Kalau lg galaw dan melow, larinya ke mereka aja.. ngajak jalan-jalan ke gunung, atau nonton bioskop, atau nginep sambil curhat, dll. seperti dulu sebelum saya ke Jepang.

Ketika itu saya ngerasain apa itu bahagia.
Bahagia berada di lingkungan yang bikin saya nyaman.
Saya bisa bebas berekspresi apapun.
Ga pernah ngerasa sendirian sekali pun, selalu ada mereka yang siap nemenin.
Ga pernah ada hari kosong tanpa ada interaksi dengan mereka.
Dari bangun sampai mau tidur, selalu ada mereka.
Entah emang bertatap muka, atau sekedar lewat mesej sms/twitter.

Sekarang, ketika sendiri, mereka ga ada, dan mereka pun udah punya dunia masing-masing.
Jujur, Saya ngerasa down banget.
Seperti udah lupa apa itu bahagia, bahkan gimana rasanya bisa tertawa lepas.
Walau tau pasti ada Allah, serahin semuanya ke Allah, Maha pengatur segala urusan yang terbaik.
Tapi saya belum bisa aja ngerasa cukup dengan hanya ada Allah.
Masih suka ngeluh butuh kehadiran fisik seseorang/komunitas yang bikin nyaman.
Apa itu berarti saya belum bisa ikhlas dan paham tentang iman kepada Allah?
Kadang masih bingung antara apakah perasaan-perasaan yang datang itu karena petunjuk Allah atau malah godaan setan.

Ya, memang secara keilmuan agama saya sangat dangkal.
Hanya paham secara sederhana, berdasarkan Al-Quran, Sunnah yang diriwiyatkan shahih, dan denger ceramah-ceramah para ustadz yang mengartis.
Saya bukan seperti akhwat-akhwat berjilbab lebar, bergamis, yang rajin dateng liqo, ngapalin al-Quran, hafal muwasshofat, dll.
Saya masih suka pake celana jeans, kadang ikut fashion busana, minum berdiri, becanda sama cowo, itungan, masih mengukur secara keduniawian, dll.
Yang saya ga suka, saya masih kepengaruh dengan pandangan orang lain.
Belum bisa punya prinsip sendiri dan bangga dengan hal itu.
Udah tau jelek, tapi susah ngilanginnya! *fyuh*

Tapi, baiklah.. hanya masalah waktu.
5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, entah sampai kapan Allah kasih jatah umur untuk saya,
semua ini pasti akan berharga.
Semua ini pasti bermanfaat untuk saya, keluarga, dan lingkungan sekitar nanti.

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, memoar jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s