Individualis

Ngerasa jadi sangat individualis.
Perlahan, lama-lama, akhirnya terbiasa dengan kesendirian.
Beda banget rasanya waktu awal dateng kesini, yang bisa tiap malem nangis dan nelfon rumah, tiap saat bertukar kabar dengan temen-temen di Indonesia.
Ngerasain kangen yang luar biasa; sama keluarga, temen-temen, Bandung, dll.

Sekarang, mungkin karena sengaja juga maksain menerima kondisi, capek dengan keluhan dan galauan, jadinya malah ngerasa plain, datar.
Nelfon rumah sesekali aja, bahkan seminggu sekali juga engga, kalau nelfon pun hanya sekedarnya bertukar kabar.
Temen-temen, karena udah sibuk masing-masing dengan keluarga baru dan kegiatan-kegiatan barunya juga, jadinya udah jarang banget cetingan atau skypean.
Saya pun sibuk dengan dunia sendiri yang super ga jelas, ga produktif.

Lalu, mulailah sekarang semakin ngerasa flat.
Seakan ga butuh keluarga, ga butuh kawan, ga butuh komunitas.
Lupa rasanya berada di keramaian.
Lupa rasanya bebas tertawa lepas.
Lupa rasanya bersosialisasi.
Lupa rasanya berorganisasi.
Lupa rasanya berpelukan.
Lupa rasanya kangen.
Lupa rasanya jatuh cinta.

time really heals and changes everything

Leave a comment

Filed under cerita-cerita, memoar jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s