Ramadhan di Jepang

Suasana Ramadhan di negara yang mayoritas bukan muslim tentu beda jauh dengan Indonesia dan negara-negara muslim lainnya.
Terutama Jepang yang awam banget tentang Islam.
Dari awal menjelang Ramadhan aja, ga ada iklan-iklan sirup pelepas dahaga, obat maag, berita artis2 pake kerudung, dan euforia lainnya untuk menyambut Ramadhan.
Hari-hari di jalani dengan biasa saja, sangat biasa.. dengan aktivitas masing-masing; pergi ke kampus, ke kantor, sekolah, part time, dll.
Jadi emang cukup sedih kalau inget waktu di Indonesia udah heboh nyiapin untuk shaum dengan keluarga dan kawan-kawan, tapi disini kurang banget kerasanya.Memang harus dari kitanya sendiri yang mau menghadirkan Ramadhan di hati, biar tetep semangat untuk menyambut dan melaksanakan shaum Ramadhan.
Berat sih.. apalagi kalau sendirian dan ga ada yang bisa sama-sama ingetin juga, tapi itulah tantangannya.

Sebagai anak kosan, kalau sahur sendirian.
Biar ga terlalu sepi, paling pasang lagu islami atau murattal Quran.
Karena perbedaan waktu juga, ga bisa nelfon keluarga karena pastinya masih tidur.
Seharian aktivitas seperti biasa.. Yang ngenesnya kalau dapet Ramadhan lagi musim panas.
Dengan temperatur dan kelembapan yang tinggi, jalan sedikit aja keringat udah mengucur deras.
Siang-siang, orang-orang berjalan sambil makan eskrim atau bawa air botol dingin.
Godaan ruaaarrr biasa.
Untuk berbuka sendiri, biasanya berkumpul dengan komunitas muslim lainnya, bisa yang sama-sama dari Indonesia atau gabung dengan negara-negara lainnya.
Saat berbuka inilah terasa banget Alhamdulillah-nya.. subhanallah, bisa melewati puasa di hari yang terik.

Sarana mesjid sangat minim.
Di daerah saya aja, mesjid paling dekat harus naik kereta 20 menit dilanjutkan jalan kaki 30 menit.
Jadi ga ada itu suara-suara orang mengaji menjelang berbuka, apalagi suara adzan.
Manfaatin teknologi aja, denger adzan dari internet.
Biasanya kalau wiken suka ada kajian Islam dan buka bersama di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT).
Saat-saat begini baru bisa ngerasa lebih Ramadhannya, karena berkumpul dengan kawan-kawan muslim Indonesia lainnya, ada kajian seputar Ramadhan, ifthar dan berbuka dengan makanan khas Indonesia.

Memang mungkin banyak kurang sukanya dibanding sukanya ngejalanin shaum Ramadhan di negara Jepang ini.
Tapi menyenangkan.. karena kita dituntut untuk bisa menikmati setiap perjuangan menghadirkan suasana Ramadhan dari dalam diri sendiri disaat lingkungan sekitar tidak mendukung.
Apalagi kalau ditanya tentang Ramadhan dari orang-orang Jepang yang biasanya langsung shock kalau dibilang ga boleh makan dan minum seharian.
Mikirnya, “bisa mati dong?”
Saya sih suka jawabnya, “ini masih hidup dari kecil menjalankan puasa, dan Tuhan kasih kekuatan untuk bisa melalui hari puasa dengan sehat.”

Pastinya akan jadi pengalaman dan cerita yang sangat menarik dan berkesan di masa depan nanti.

Leave a comment

Filed under memoar jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s